
Happy reading... ❤
* * *
Yuanita tersenyum begitu ia melihat sosok laki-laki tampan bertubuh tinggi dan kekar itu ada di hadapannya saat ini. Tetapi senyumannya itu hanya sementara, ketika ia melihat bahwa ada orang lain yang berada di balik punggung lelaki itu. Yuan terkejut saat wanita itu tersenyum dan menyapa dirinya.
"Hai ... Bagaimana kabarnya?" suara lembut itu terdengar sangat jelas di telinga.
Yuan diam, dan langsung membuang pandangan matanya itu. Terlihat jelas raut kecewa dalam wajahnya.
Sementara Camelia, ia terlihat biasa saja ketika Yuanita tidak mau menjawab pertanyaannya. Camelia mengerti, mungkin saat ini yang wanita itu butuhkan hanyalah Davin.
"Vin ... Sorry tadi aku nelpon kamu, soalnya Yuan minta aku buat ngehubungin kamu. Tadi dia sempat ngedrop, dia gak mau minum obat." ujar Reni asistennya itu.
Davin menoleh dan tersenyum. "Gak pa-pa Ren, apa kamu udah menghubungi keluarganya?"
Kepala Reni menggeleng. "Dia larang aku untuk menghubungi keluarganya. Katanya sakitnya gak seberapa, dia gak mau bikin orang tuanya khawatir." tutur Reni menjelaskan.
Menghela nafas. "Yuan ...?" panggil Davin dengan lembut.
Yuanita menoleh, menatap Davin dengan dalam.
"Apa kamu sudah makan? kenapa tidak mau minum obat?"
Yuanita tersenyum miris, ia berdecak. "Kamu bilang kamu mau jagain aku? tapi nyatanya kamu pergi ninggalin aku." Dengan suara yang sedikit bergetar Yuan berujar.
"Maaf, tapi Reni ada disini, dia jagain kamu."
"Tapi aku maunya kamu Vin .." sentak Yuan dengan mata sudah berkaca-kaca. "Kamu udah janji sama aku, kamu mau jagain aku Vin.?"
Davin menutup matanya sesaat, sedangkan Camelia ia hanya terdiam dan menatap iba pada gadis yang sedang menangis itu.
"Maafkan aku Yuan? sekarang kamu makan dan minum obatnya ya?" pinta Davin dengan lembut.
"Aku gak mau." jawabnya ketus.
"Tapi kamu harus makan dan minum obat.?"
"Kalau aku gak makan dan minum obat memangnya kenapa?" Yuanita berujar sinis.
"Nanti kamu sakit lagi."
"Apa peduli kamu?"
"Aku peduli sama kamu, karena kamu adalah teman aku sekarang."
Yuan kembali berdecak. "Teman?"
"Ya, kamu sahabat aku sekarang."
"Gak ... Vin."
"Yuan pliss..!"
"Aku masih cinta sama kamu Vin."
"Yuan...!!"
__ADS_1
"Kenapa? kamu juga cinta sama aku kan Vin?"
"Yuan, aku sudah menikah."
"Bukannya kamu gak cinta sama dia? kamu menikahi dia karna terpaksa kan?"
"Yuan cukup."
"Kak ... "
Davin menoleh saat Camelia memegang lengannya. Menatap dalam mata sang istri yang mengisyaratkan agar dirinya tetap tenang. Davin tersenyum, dan mengangguk pelan.
"Yuan ... Aku __ "
"Cukup ...!!" Dengan sorot mata tajam Yuan memandang sinis Camelia.
"Gara-gara kamu, aku kehilangan kekasihku, kenapa kamu mau menikah sama dia?"
Camelia begitu tersentak saat Yuanita berkata seperti itu.
"Aku __ aku minta maaf."
"Kamu udah nyakitin perasaan aku, kamu juga nyakitin kekasihmu itu kan?" Dengan sorot mata tajam Yuanita terus berujar menatap sinis Camelia. "Aku gak nyangka perempuan yang di kenal baik dan polos ternyata seperti kamu munafik.."
"Yuan aku bilang cukup.." Suara Davin terdengar meninggi, membuat Camelia dan Yuanita berjengit kaget.
"Dengarkan aku..." Menghela nafas. "Camelia tidak tau apa-apa, jangan salahkan dia."
"Kenapa?" Matanya sudah mulai mengeluarkan air mata.
"Karena dia istriku, dan aku mencintainya." Davin berujar dengan sangat tegas.
"Jadi aku mohon jangan salahkan Camelia lagi."
Yuanita semakin menangis histeris, membuat dirinya semakin terlihat lemah, dan tanpa di duga Yuanita kembali tidak sadarkan diri membuat semua orang yang berada disana terkejut.
Davin, Camelia beserta sang managernya berlari menghampiri dimana saat ini Yuan terbaring lemah.
"Vin ... Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang.?" Dengan panik Reni berkata.
Davin mengangguk dan segera mengangkat tubuh lemah itu keluar dari dalam apartemen. Davin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit mereka semua sangat terlihat panik.
Reni yang menjaga Yuanita di belakang dengan setianya terus mengusap keringat yang terus keluar dari pelipis serta seluruh tubuhnya. Badan Yuan terlihat gemetar, dan mukanya terlihat sangat pucat sekali.
"Vin ... Bisa cepetan dikit gak?" Reni berujar khawatir. "Badannya gemetar, dan seluruh tubuhnya berkeringat."
Davin menoleh dan mengangguk. "Ya Ren ..."
Tiba di rumah sakit, akhirnya Yuanita segera di larikan menuju ruang UGD. Beruntung saat itu Dokter pribadi yang menanganinya juga sedang bertugas.
Davin dan Camelia duduk di kursi penunggu, sedangkan Reni asisten sekaligus managernya itu terlihat sangat panik, ia tidak bisa diam dengan terus berdoa Reni bolak-balik kesana dan kemari berharap kalau Yuan akan baik-baik saja.
"Ren ... Ini minum dulu." ujar Davin menghampiri seraya menyodorkan minuman dingin untuknya.
"Makasih Vin.."
"Sebaiknya kamu tenang.?"
__ADS_1
"Aku khawatir banget Vin, sebenarnya Yuan itu sakit apa?"
Davin terdiam sesaat. "Kita tunggu apa Dokter nanti."
"Kenapa kondisi Yuan seperti ini? padahal sebelumnya dia baik-baik saja Vin.?"
"Aku tau Ren, lebih baik kamu tenang dulu."
Reni mengangguk, dan duduk bersebelahan dengan Camelia. Semua sangat panik, hampir satu jam mereka menunggu Yuanita yang sedang di tangani di dalam sana, belum ada yang keluar dari ruangan itu baik Dokter ataupun perawat. Dan itu sangat membuat semuanya semakin cemas. Begitu pintu ruangan itu terbuka, Davin, Camelia beserta Reni segera menghampiri.
"Gimana keadaannya Dok?" Hal pertama yang di tanyakan oleh Reni.
"Keadaannya sangat lemah." Ujar sang Dokter pribadinya itu.
"Sebenarnya dia sakit apa Dok?"
Dokter menatap wajah Reni. "Anda siapanya?"
"Saya managernya Dok."
Dokter-pun mengangguk, dan pandangan matanya kini beralih menatap Davin.
"Apa kamu belum cerita sama dia?"
Davin mengangguk, dan Reni menatapnya bingung.
"Cerita apa?"
"Baiklah, kalau begitu kamu ikut keruangan saya."
Dokter pun pergi, di ikuti Reni dari belakang. Saat sudah berada di ruangannya, Reni segera duduk berhadapan dengan sang Dokter.
"Baiklah saya akan mengatakan kepada anda tentang penyakit yang di derita oleh ibu Yuanita."
"Sebenarnya dia sakit apa Dok?"
Dokter-pun menghela, menarik nafas dalam. "Sebenarnya ibu Yuanita terkena penyakit leukemia."
"Apa Dok?" Reni terkejut bukan main, matanya membulat sempurna.
"Ya, dan penyakitnya itu sudah sangat parah."
"Gak mungkin Dok. Apa dia bisa sembuh?"
"Kita hanya bisa berdoa dan berusaha."
"Lakukan yang terbaik untuk dia Dok." ucap Reni dengan mata berkaca-kaca.
"Saya pasti akan melakukan yang terbaik."
"Kalau begitu saya permisi dulu Dok."
"Silahkan."
Perasaannya hancur benar-benar hancur, Reni tidak pernah membayangkan kalau Yuanita yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri bisa sakit parah seperti ini.
Kemana saja aku selama ini?
__ADS_1
Kenapa aku tidak bisa tahu kalau dia sakit seperti ini...
* * *