Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
tiga puluh satu


__ADS_3

Happy reading semua...


* * *


"Ikut aku."


Camelia mendongak, ia terkejut saat tangan laki-laki itu menariknya secara tiba-tiba.


"Kamu? ngapain ada disini?"


"Jangan banyak tanya."


Camelia meringis menahan sakit saat dengan kerasnya Davin menarik tangannya. "Lepas, sakit Kak."


"Masuk?" titahnya kembali saat sudah berada di depan pintu mobilnya.


"Kamu apa-apaan sih?" ia masuk ke dalam mobil itu seraya menggerutu kesal. Camelia duduk dengan wajah yang menekuk.


Davin sedikit melirik, "Harusnya kamu berterima kasih sama aku, bukannya marah-marah gak jelas." tuturnya santai sambil mengemudikan mobilnya di atas rata-rata.


Camelia memicik tajam. "Buat apa?"


"Buat nyelamatin kamu dari semua orang."


Camelia terdiam, ia menekuk wajahnya sambil cemberut.


"Apa kamu gak malu nangis di hadapan semua orang?"


"Kenapa kamu bisa tau aku ada disana?" bukannya menjawab Camelia malah balik bertanya.


Davin berdecak. "Kebetulan ja lewat."


Davin berbohong, padahal ia juga mengetahui kejadian yang sebenarnya. Setelah Davin mengantarkan Yuanita pulang, ia kembali lagi ke kafe itu, dan benar saja Camelia masih berada disana sedang menangis dan menjadi tontonan banyak orang.


"Kenapa kamu menangis?"


Camelia tidak menjawab, ia malah menatap ke luar kaca mobilnya.


"Dasar anak manja."


Camelia menoleh, ia menatap Davin tajam. "Apa kamu bilang?"


Davin menarik sedikit bibirnya ke atas, ia hanya mengedikan bahunya acuh.


"Ya bener kan yang aku bilang, kalau kamu itu cewek manja yang masih suka menangis, kayak anak kecil ja."


"Kamu itu ngeselin ya?"


"Makanya jangan nangis lagi."


"Kamu gak tau perasaan aku kayak gimana? kamu gak usah ngomong karena kamu juga gak tau apa masalahnya kan?"


"Memang apa masalahnya.?" tanyanya datar.


"Ish ... Bukan urusan kamu."


"Sekarang jadi urusanku."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena aku suamimu." jelas Davin menatap dingin pada Camelia.


Camelia menohok dengan mulut yang menganga, rasanya ada sesuatu yang berbeda di hatinya ketika ia mendengar Davin menyebutkan kata suami.


"Suami?"


Davin melirik, "Ya, apa kamu lupa kalau aku ini suamimu?"


Camelia berdecak. "Suami pura-pura?"


"Hmm ... "


Sesak, itulah yang di rasa Camelia saat ini. Kenapa tiba-tiba saja dadanya terasa sesak saat ini.


Ada apa dengan perasaannya sekarang?


Apa mungkin sekarang di hatinya telah tumbuh perasaan buat laki-laki yang sudah lebih dari satu bulan ini hidup bersama, hidup sebagai pasangan suami istri.


Camelia menggeleng pelan, ia menutup matanya erat.


"Kenapa diam?" tiba-tiba saja pertanyaan itu membuat Camelia membuka matanya kembali.


"Kak?"


"Kenapa?" jawab Davin tanpa menoleh, ia sedang fokus mengendarai mobilnya itu.


"Apa aku boleh minta sesuatu sama kamu?"


Davin melirik Camelia dengan alis yang menaut.


Camelia menggeleng, "Bukan."


"Terus?"


"Sebelum nanti kita berpisah, apa kamu bisa menganggap aku sebagai seorang istri yang sesungguhnya buat kamu?"


Deg


Davin sangat terkejut, ia menginjak remnya mobilnya secara mendadak.


"Apa maksud kamu?" tanya Davin heran.


Camelia menoleh, ia segera memiringkan badannya untuk menghadap ke arah Davin, dan sekarang mereka saling bertatapan. Camelia menatap Davin lamat, ia memperhatikan raut wajah Davin yang sangat terkejut.


"Selama kita masih terikat, aku mau kamu nganggap aku sebagai seorang istri." ucap Camelia lirih.


"Bukankah selama ini aku juga nganggap kamu sebagai istri." jawabnya ketus.


"Tapi aku gak mau kita cuma pura-pura." timpal Camelia kembali.


"Maksud kamu?" dengan masih penasarannya.


"Aku ingin menjadi istri kamu yang sesungguhnya Kak." balas Camelia dengan menundukkan wajahnya.


Davin melongo tidak percaya, ia bingung kenapa dengan tiba-tiba saja Camelia bicara seperti itu. Padahal seingatnya dia dan Camelia sudah Menyepakati rencana pernikahan yang mereka buat. Dan itu hanyalah pernikahan sementara selama satu tahu lamanya. Kenapa sekarang gadis yang selalu di anggapnya manja ini bisa mengatakan hal yang menurutnya tidak masuk akal sama sekali. Davin berpikir dalam hatinya, ia menatap wajah polos perempuan yang kini sedang menatapnya.

__ADS_1


"Aku ingin selama kita menikah, kamu tinggalin pacar kamu Kak? Aku ingin menjadi wanita satu-satunya buat kamu."


"Aku gak ngerti sama ucapan kamu." ucap Davin dingin.


"Aku tau, mungkin gak seharusnya aku bilang ini sama kamu. Aku gak tau ada apa dengan diriku, yang aku inginkan sekarang hanyalah... "


"Hanya apa?" potong Davin cepat.


"Hanya ingin menjadi istri kamu."


Davin menarik nafas dan membuangnya kasar, ia mengusap wajahnya gusar, ia menatap tajam Camelia.


"Ada apa dengan kamu? kenapa kamu jadi seperti ini?"


"Satu tahun Kak, cuma satu tahun sebelum kita berpisah. Selama satu tahun itu aku ingin kamu memberikan kesempatan buat aku untuk menjadi istri sesungguhnya."


"Apa yakin dengan ucapan mu?"


Camelia mengangguk, "Ya, aku yakin."


"Kamu mau menjadi istriku yang sesungguhnya?"


Lagi-lagi Camelia mengangguk.


"Apa kamu siap?"


"Aku siap."


"Termasuk untuk melayani tidurku?"


Camelia mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk, sekarang bola mata keduanya saling beradu tatapan dalam satu garis lurus. Camelia begitu lekatnya menatap wajah Davin, menatap inten kedua bola mata itu. Camelia menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan, ia mencoba untuk menenangkan pikirannya kembali.


"Jika kamu menginginkannya."


Davin berdecak, ia menarik sedikit ujung bibirnya ke atas sehingga tampaklah seperti sebuah seringai di wajahnya.


"Gadis bodoh." gumamnya pelan.


"Kita bahas ini nanti. Sekarang kita pulang." ucap Davin seraya melajukan kembali mobilnya yang sempat berhenti di pinggir jalan itu.


Hening, itulah yang terjadi di dalam mobil itu, tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka, keduanya memilih untuk diam, Davin berusaha terlihat tenang saat mengendarai mobilnya, ia mencoba untuk menenangkan pikirannya yang tadi sempat kacau.


Berbeda dengan Camelia, ia masih merutuki kebodohannya. Ia meremat jari-jari tangannya. Camelia memejamkan matanya sesaat, ia mengingat kembali semuanya, ingat semua yang telah di ucapkannya kepada lelaki yang kini berada di sampingnya.


"Sampai kapan kamu diam di mobil?" ucap Davin saat mobil itu sudah terparkir tepat di halaman rumah mereka.


Camelia sedikit terkejut, ia baru menyadari kalau sekarang mereka sudah sampai di rumahnya. Camelia segera membuka pintu mobil itu, ia keluar dan menutup kembali pintunya. Davin lebih dulu berjalan di ikuti Camelia dari belakang, mereka masuk ke dalam rumah yang sudah dua hari ini mereka tinggalkan. Saat Davin hendak melangkahkan kakinya ke arah tangga, tiba-tiba saja terdengar suara dari Camelia.


"Kak... "


Davin diam masih pada posisinya.


"Untuk yang tadi ... Anggap saja aku tidak mengatakan apapun. Lupakan semuanya.."


Davin sedikit melirik, kemudian ia membalikan badannya. Ia menatap dalam mata bulat gadis itu.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku minta maaf...!!!"


* * *


__ADS_2