Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
empat puluh enam


__ADS_3

Apa yang sedang dia lakukan saat ini? Apa dia masih berada disana? menemaninya?


Gerutu Camelia dalam hatinya teringat akan Davin suaminya itu. Hatinya kembali mencelos, mengingat dimana saat itu Davin meninggalkannya sendiri di apartemen miliknya tanpa memberi kabar padanya.


"Mel... Kamu kenapa?" tanya Nayra secara tiba-tiba.


Camelia menggeleng pelan. "Nay ... Pulang yuk?"


Nayra tersenyum. "Ya udah hayo."


Camelia dan Nayra beranjak dari duduknya, mereka pergi meninggalkan kafe tersebut. Selama kurang lebih setengah jam lamanya akhirnya Camelia sampai ke rumah yang sudah dua hari ia tinggalkan, langkah Camelia berhenti sesaat saat ia mendapati sebuah mobil terparkir tepat di halaman rumahnya.


Davin ... Ternyata itu adalah mobil milik lelaki yang sedari kemarin tidak ia temui. Camelia terpaku berdiam diri sejenak sebelum akhirnya ia merogoh ponsel yang berada di dalam tasnya. Ia menatap layar ponsel yang menyalah, dan itu adalah panggilan telepon dari suaminya sendiri.


Camelia menghiraukan panggilan teleponnya, kenapa rasanya sangat sulit untuk melangkahkan kakinya menuju pintu rumah itu, Camelia enggan bertemu atau berhadapan dengan lelaki yang sudah membuat hatinya terlanjur kecewa.


Camelia berdiri tepat di depan pintu itu, ia memegang handle pintu masuk, tetapi sebelum ia membukanya Camelia terlebih dulu menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan, ia menutup matanya erat sesaat.


Camelia masuk ke dalam rumahnya dan langkah kakinya berhenti ketika ia melihat sosok laki-laki itu sedang berdiri dengan wajah kusut dan rambut yang acak-acakan.


"Ya Tuhan ... Mel, kemana ja kamu? kenapa kamu gak pernah angkat telpon dan balas pesan dari aku? aku khawatir sama kamu." ujar Davin seraya memegang kedua bahu istrinya itu.


Camelia diam membisu, untuk pertama kalinya ia melihat raut wajah Davin yang penuh dengan kecemasan. Di tatapnya dalam mata itu mata yang selalu membuatnya rindu.


"Kamu kemana ja?" tanya Davin kembali.


Camelia menarik nafasnya dalam, "Aku dari kampus." jawabnya ketus.


"Kenapa kamu gak angkat telpon dari aku.?"


"Aku gak tau kalau kamu nelpon."


"Dari kemarin aku nelpon dan kamu gak tau?"


"Aku capek, aku mau mandi dulu." Camelia berujar sembari meninggalkan Davin yang masih diam mematung di tempatnya berdiri saat ini.


Davin menatap kepergian Camelia yang begitu saja, mengusap wajahnya kasar dan mengusak rambutnya gusar. Davin tahu mengapa Camelia bersikap seperti itu, ia mengetahui jika saat ini Camelia sedang dalam keadaan marah.


Davin menyadari semua kesalahan yang telah ia buat, meninggalkan gadis itu sendirian setelah puas menikmati malam yang panjang dengan Camelia. Davin lebih memilih untuk menemani sang kekasih daripada istrinya itu yang ia tinggalkan sendirian di apartemennya sendiri.


Davin menatap dalam pada sosok gadis yang sekarang sedang berjalan menuruni anak tangga. Ia melihat Camelia sudah mengenakan pakaian tidurnya. Davin terpaku saat melihat betapa seksinya Camelia saat ini, ia hanya mengenakan kaos putih berbahan tipis dan celana pendek sepaha. Rambutnya di kuncir berantakan membuat dirinya semakin kelihatan seksi.


Camelia tersenyum tipis saat ia perpandangan dengan Davin, dengan segera melangkahkan kakinya menuju dapur. Camelia duduk di kursi meja makan sambil meminum air dingin yang ia ambil di dalam lemari pendingin.

__ADS_1


"Mel..." suara Davin membuka keheningan di antara keduanya.


"Kenapa?" jawab Camelia tanpa menoleh.


"Maafkan aku."


"Untuk?"


"Kemarin aku ninggalin kamu di apartemen."


"Gak perlu minta maaf kok."


"Maafkan aku, hape aku mati waktu itu, jadi aku gak bisa hubungi kamu."


Camelia terdiam, menutup matanya erat dan memberanikan dirinya menatap wajah laki-laki itu.


"Kak... " menghela nafas panjang. "Kapan kita akan berpisah?"


Deg


Davin menohok, ia sangat terkejut saat Camelia bertanya seperti itu.


"Apa maksud kamu?"


"Tinggal beberapa bulan lagi kesepakatan kita akan berakhir, dan aku tidak mau menunggu sampai waktu itu tiba. Aku mau kita berpisah sekarang saja."


"Kalau kamu gak berani bilang sama Kakek, biar aku yang bilang."


"Camelia..!!"


"Aku juga yang akan bilang sama keluarga kita."


"Ya Tuhan... Mel..!!!"


"Lebih cepat lebih baik."


"CAMELIA....!!!" bentak Davin yang tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya.


Camelia menutup matanya erat saat Davin membentak dirinya.


"Kenapa Kak? apa salahnya? bukankah nanti juga kita akan berpisah, lebih baik sekarang saja."


"Aku bilang diam?"

__ADS_1


"Untuk apa aku diam?"


"Karena aku gak mau bahas itu."


"Kenapa kak? lebih bagus kan kalau kita berpisah sekarang. Biar kamu bisa kembali lagi sama pacar kamu."


Davin menutup erat matanya, nafasnya memburu dan mengepalkan kedua tangan nya kuat.


"Kamu gak cinta kan sama aku. Untuk apa kita masih bersama? aku gak mau kalau aku jadi penghalang buat kamu dan dia." air bening yang ia tahan supaya tidak tumpah itu akhirnya turun juga membasahi pipinya yang mulus.


Camelia menangis saat ia melihat tatapan Davin yang penuh dengan amarah. Camelia sudah memikirkan hal ini dari kemarin, saat ia di tinggalkan sendirian di apartemen itu. Camelia tahu jika sampai kapanpun ia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Yuan di hatinya Davin. Untuk itu ia mengambil keputusan dan sudah di pikirkannya matang-matang.


Davin menatap Camelia dengan tatapan tajamnya, ada sedikit nyeri di hatinya saat Camelia berkata seperti itu.


Sumpah demi apapun saat ini ia ingin sekali mengusap air mata itu, menarik tubuhnya dan memeluknya erat dalam dekapannya. Tetapi semua itu ia tahan, karena ia masih sangat kesal terhadap istrinya itu. Davin tidak pernah mengira bahwa ia akan mendengar kata-kata seperti itu. Kata-kata yang tidak ingin ia dengar sampai kapanpun.


Davin mengakui kalau saat ini perasaan cintanya telah tumbuh untuk gadis yang beberapa bulan ini hidup bersama dengannya. Ia juga sadar kalau Camelia sudah benar-benar masuk dalam hatinya, gadis yang dulu ia kenal sebagai kekasih dari sahabatnya, gadis yang selalu bersikap manja, dan gadis yang dulu tidak ia inginkan sama sekali.


Perasaan cintanya untuk gadis itu telah tumbuh begitu saja, saat untuk yang pertama kalinya ia mencium Camelia. Davin semakin yakin akan cintanya ketika ia berhasil menerobos selaput keperawanan Camelia.


Davin menyadari kalau Camelia adalah gadis yang sangat berharga di hidupnya saat ini. Ia tidak ingin kehilangan gadis yang sedang menangis saat ini.


"Mel... Aku mohon dengar kan aku."


"Aku ingin kita berpisah secepatnya."


"Gak bisa."


"Kenapa?"


"Aku gak mau kita berpisah."


"Sudahlah Kak, aku gak mau kita kayak gini terus."


"Terus kamu maunya seperti apa?"


"Aku hanya ingin kita berpisah."


"Apa kamu yakin?" tanyanya dengan sinis.


Camelia mengangguk pelan, menundukkan wajahnya yang masih terus mengeluarkan air bening itu.


"Jika itu yang kamu mau." menghela nafas berat. "Baiklah, kita akan berpisah secepatnya seperti yang kamu inginkan."

__ADS_1


Mungkin ini jalan untuk kita berdua.


* * *


__ADS_2