
Happy reading... ❤
* * *
Camelia sedikit terkejut dan bingung saat ia merasakan ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya. Matanya mengerjap beberapa kali saat ia mendapati wajah Davin yang sangat dekat dan sedang terlelap dengan memeluk tubuhnya.
Kejadian semalam masih ada dalam kepalanya. Camelia dan Davin berciuman. Bahkan sampai sekarang saja ia merasakan bibir tipis itu sedang memanggut bibirnya. Camelia masih ingat saat bibir mereka menyatu, seharusnya Camelia mencegah atau bahkan mendorong dadanya, tapi semua itu tidak ia lakukan, ia malah diam mematung dan memejamkan matanya semakin erat.
Davin menciumnya dengan sangat lembut, memberi sentuhan-sentuhan dan menggigit kecil bibir ramumnya, ciuman itu semakin menuntut ketika Camelia membuka bibirnya hingga dengan mudahnya lelaki itu memainkan lidahnya dengan penuh nafsu. Ciumanpun semakin memanas ketika Camelia mulai membalasnya, bibir mereka saling bertaut dengan lidah saling membelit di rongga mulutnya. Davin ******* bibir ranum itu dengan penuh hasrat, mereka saling berbalas.
"Kak... " Camelia melenguh pelan saat Davin mulai mencium leher jenjangnya, menggigit kecil-kecil hingga menyisakan tanda kemerahan. Tidak sampai disitu, Davin juga kembali ******* bibir ranum itu, Davin menciumnya dengan sangat lama. Sehingga membuat Camelia mulai kehabisan nafasnya, mereka menghentikan ciuman itu dengan dahi saling menempel dan mata yang masih terpejam.
Camelia mendorong dada Davin membuat tubuh mereka terpisah. Camelia bahkan melihat sorot mata Davin yang masih menggebu dan berkabut. Camelia tahu betul, jika mereka tidak menghentikan kegiatannya mungkin saja mereka berdua akan kebablasan. Dan itu yang di takutkan olehnya, Camelia tidak ingin jika hal itu sampai terjadi di antara mereka berdua tanpa adanya rasa cinta.
"Maaf, aku mau tidur." Ucap Camelia, ia buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Davin menggusar wajahnya kasar, ia segera menjauh dan kembali duduk di atas ranjang. Awalnya hanya ingin menggoda saja, tetapi kenyataannya malah berbeda, lelaki itu justru tergoda saat Camelia menatapnya dengan tatapan menyendu.
Argghhh.....!!!
Davin sadar, kalau tadi dirinya sudah kelewat batas. Dan entah kenapa saat sedang berciuman dengan Camelia, Davin tidak mengingat kekasihnya sama sekali. Yang ada di pikirannya saat itu hanyalah Camelia.
"Sorry, kamu marah sama aku.?" ujarnya setelah berhasil menenangkan diri
"Kenapa minta maaf.?"
"Aku udah kelewat batas sama kamu, gak seharusnya aku berbuat itu kan.?"
"Jadi kamu nyesel.?"
Davin menoleh ia menatap Camelia yang sedang menekuk wajahnya. "Apa maksud kamu.?"
"Sudah lupakan saja, sebaiknya kita tidur ini sudah malam." dengan segera Camelia membalik tubuhnya dan membelakangi Davin.
Davin ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Camelia dengan posisi yang sama, mereka saling membelakangi, ada hening sesaat sebelum akhirnya Davin membuka suaranya lagi.
"Mel..."
"Hmm... "
"Kamu gak marah kan?"
"Aku gak marah kok, lagipula itu bukan salah kamu juga Kak."
__ADS_1
Davin menghela nafasnya tenang, ada desiran aneh yang menyerang di hatinya sekarang. Bahkan debaran jantungnya belum kembali normal seperti semula. Davin membalikan badannya, ia menatap Camelia yang masih membelakanginya.
"Mel...?"
"Hmm..."
"Mel...??"
"Kenapa?"
"Camelia...??
Camelia tersentak saat dengan kerasnya Davin memanggil namanya, ia langsung membalikan badannya dan sekarang mereka saling beradu tatapan.
"Apa?"
Davin menatapnya dalam, ia sedikit menarik ujung bibirnya ke atas. "Kenapa kamu putusin Rakha.?"
Camelia terkejut, ia sedikit bingung kenapa tiba-tiba Davin bertanya seperti itu.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Apa alasannya? bukannya kamu cinta sama dia?"
Davin tertegun, ia menatap Camelia dengan lamat. "Apa salahnya jika kamu menikah sama aku, di antara kita gak ada perasaan apa-apa, jadi kamu bebas kalau mau terus berhubungan dengan Rakha." ucapnya kembali dengan santainya.
Hatinya mencelos, kenapa dadanya terasa sesak saat mendengar ucapan Davin barusan. Camelia memicik tajam, "Karena aku bukan kamu Davin Ardian Wijaya..." ucap Camelia bersungut-sungut.
Davin tersenyum tipis, ia menatapnya dalam diam, "Apa kamu masih mencintainya?"
"Bukan urusan kamu." Camelia melengos saat mengucapkan itu.
Lagi-lagi Davin hanya menarik sedikit ujung bibirnya ke atas.
"Oh iya, apa aku juga boleh nanya sama kamu.?" Tiba-tiba saja Camelia kembali bersuara, ia memiringkan badannya menghadap ke arah dimana laki-laki itu masih dalam posisi yang sama.
"Nanya apa? serius banget."
"Kak...?"
"Hmm.. "
"Bagaimana kabarnya dia?"
__ADS_1
Davin mengerutkan keningnya, "Maksud kamu?"
Camelia tersenyum tipis. "Maksud aku bagaimana kabarnya pacar kamu.?"
Ya ampun ada apa dengan diriku? kenapa rasanya sangat sulit untuk mengucapkan nama wanita itu.
"Baik."
"Apa kamu sangat mencintainya.?" ucap Camelia ragu, karena ia takut jika Davin akan marah dengan pertanyaannya. "Ya udah gak usah di ja___"
"Aku sangat mencintainya, dia wanita yang sangat aku cintai. Aku dan dia, kami berdua sama-sama punya kesamaan dalam hal apapun. Dia adalah wanita yang selalu membuat hari-hariku menjadi terasa sangat berharga. Apa kamu tau, sebelum aku menikah sama kamu, aku telah melamarnya terlebih dulu."
Camelia menggeleng, entah kenapa dadanya semakin terasa sesak.
"Aku memintanya untuk menjadi istriku, aku mau menikah dengannya, dan di hari itu juga dia menolakku. Dia memberi waktu selama dua tahun, Aku bisa menerima alasan kenapa dia menolak, mungkin karena aku sangat mencintainya. Dan pada akhirnya aku menikahimu."
Davin menoleh, ia menatap Camelia dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. "Suatu hari nanti aku akan menikah dengannya, setelah semuanya selesai. Setelah aku dan kamu tidak terikat lagi."
Camelia mencoba untuk tersenyum meski kini hatinya sangat sakit, Camelia segera mengalihkan pandangannya, ia tidak ingin jika Davin menatap wajahnya.
"Kalau begitu, apa sebaiknya kita percepat perjanjian pernikahan kita?"
"Maksudnya?"
"Tidak usah menunggu satu tahun, aku siap jika kamu ingin mempercepat waktunya, dengan begitu kita tidak akan terikat lagi, dan kamu akan segera menikah dengannya." ujar Camelia dengan menundukkan wajahnya, ia mencoba untuk menutupi rasa sedihnya.
Davin tertegun, ia menatap Camelia dengan mata yang menyipit. Ada rasa tidak enak dalam hatinya, dan entah apa itu. Tetapi saat Camelia ingin segera mempercepat pernikahannya kenapa Davin merasa tidak suka. Selama satu bulan mereka hidup bersama, Davin sudah terbiasa hidup dengan Camelia meski di antara mereka berdua belum ada rasa cinta.
Ada apa ini?
Kenapa rasanya seperti ini.?
* * *
Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan vote-nya juga buat aku..
Semoga kalian suka sama ceritanya..
Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan atau kata-katanya yang berantakan..
Harap di maklum ya...
Salam saya untuk semua.... ❤
__ADS_1