Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
lima puluh enam


__ADS_3

Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen, dan vote-nya juga ya??


Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan atau ada kata-katanya yang salah..


Semoga kalian suka sama ceritanya aku..


Happy reading...


* * *


"Maafkan aku.. "


Yuanita menangis, air bening itu terus menetes ke luar dari matanya yang bulat. Kepalanya menggeleng, tidak terima dengan semua ini.


"Aku cinta sama kamu Davin, aku masih mencintaimu." dengan suaranya yang lirih Yuanita berujar.


"Yuan... "


"Kamu jahat."


"Maafkan aku."


"Kenapa kamu tega sama aku?"


"Yuan, aku mohon."


Yuanita mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap laki-laki itu. Pandangan matanya mulai buram, dan kepalanya mulai terasa sedikit pusing.


"Ak __ aku masih cinta sama kamu Davin." itulah yang terakhir ia ucapkan sebelum Yuanita jatuh tidak sadarkan diri.


Davin kaget saat tiba-tiba saja ia melihat Yuan terjatuh "Ya Tuhan ... Yuan?" dengan segera ia menangkap tubuh itu ke ke dalam pelukannya.


Yuanita terjatuh, dirinya tidak sadarkan diri. Kondisi tubuhnya memang sangat lemah, bahkan akhir-akhir ini Yuanita sering merasa sakit.


Davin sangat panik, bagaimanapun ia tidak tega jika harus melihat kondisi Yuanita yang seperti sekarang.


"Yuan ... Bangun, aku mohon sadarlah." Davin berujar dengan sangat panik.


Merasa tidak ada respon dari gadis itu, akhirnya Davin membawa Yuanita, ia mengangkat tubuh itu, tubuh yang terlihat sedikit lebih kurus dari biasanya. Berada di dalam mobil Davin segera membawa gadis itu menuju rumah sakit.


Bolak-balik, itulah yang Davin lakukan saat ia berada di depan ruang UGD. Yuanita masuk ke dalam ruangan itu dan sedang dalam pemeriksaan dokter. Memijit pelipis dan pangkal hidungnya berkali-kali, merasa sedikit khawatir pada keadaan mantan kekasihnya itu.


Bukan maksud Davin masih mencintai gadis itu, yang ia rasakan saat ini hanyalah rasa belas kasihan, bagaimanapun Yuanita adalah gadis yang baik dan pernah mengisi hatinya. Davin hanya merasa iba dan tidak tega saat ia melihat kondisi Yuanita sekarang.


Di Jakarta Yuanita tinggal sendirian, hanya di temani oleh sang asisten dan manager pribadinya. Kedua orang tuanya tinggal di luar negeri karena mereka sudah lama menetap berada di negara kincir angin itu.


"Permisi" ucap sang Dokter itu saat keluar dari ruang pemeriksaan.


Davin mengangkat wajahnya dan segera berdiri. "Bagaimana keadaan teman saya Dok?"


"Apa anda keluarganya?"


"Sa - saya __" sebelum Davin melanjutkan kata-katanya seorang suster terlebih dahulu memotong pembicaraan-nya.


"Permisi Dok, ini hasil laboratorium dari ibu Yuanita."


Sang Dokter mengangguk. "Baik, terimakasih."


"Baik Dok, kalau begitu saya permisi."

__ADS_1


Davin menatap cemas pada sang Dokter, ia takut jika Yuanita memang benar-benar sakit.


"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan."


"Mengenai apa Dok?"


"Mengenai kondisi ibu Yuanita."


"Saya saudara dari Yuanita, Dok."


Sang Dokter-pun menatap Davin. "Baiklah, kalau begitu mari ikut ke ruangan saya."


Davin mengangguk dan mengikuti langkah Dokter laki-laki itu di belakangnya.


"Silahkan duduk pak."


"Terima kasih." ujar Davin seraya menarik kursi dan duduk di hadapan sang Dokter.


"Begini, maaf sebelumnya saya harus mengatakan ini." menghela nafas. "Ibu Yuanita ternyata mengidap penyakit leukemia."


Davin terkejut bukan main, matanya membulat sempurna. "Apa Dok?"


"Ya, dan ini hasil dari pemeriksaan-nya. Silahkan anda bisa baca sendiri."


"Gak mungkin Dok?" ucap Davin terbata.


Sang Dokter-pun menjelaskan tentang penderita penyakit tersebut, menyarankan agar Yuanita segera mendapatkan penanganan dan harus menjalani kemoterapi secepatnya.


"Dok, saya mohon lakukan yang terbaik untuk-nya?"


Sang Dokter-pun tersenyum dan mengangguk pelan. "Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien." menghela nafas. "Kita cuma bisa berusaha dan berdoa, semoga pasien bisa sembuh dari penyakit nya."


Langkah kakinya terasa sangat berat, apalagi saat ia melihat tubuh mungil itu sedang terbaring begitu lemah dengan selang infus yang terpasang di pergelangan tangannya. Davin mendekat, menatap lekat wajah yang terlihat pucat pasih itu.


Ada perasaan sedih, terluka, dan kasihan yang ia rasakan saat ini. Tidak pernah mengira bahwa wanita yang dulu sangat ia cintai harus berjuang untuk melawan penyakit nya. Hatinya sakit, saat ia mengingat bagaimana dirinya telah membuat wanita ini terluka dan kecewa.


Maafkan aku Yuan...!!


Davin menutup matanya, mencoba untuk memenangkan hatinya.


"Davin...!!" suara itu terdengar begitu pelan.


Davin membuka matanya dan segera mengusap air bening itu dengan telapak tangannya. Ia menoleh dan segera menghampiri Yuanita.


"Ya, ini aku."


"Aku dimana?"


"Kamu di rumah sakit."


"Kenapa aku bisa disini?"


"Kamu pingsan, dan aku bawa kamu kesini."


"Aku mau pulang, aku gak mau tinggal disini."


Davin mencoba untuk tersenyum, ia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya di hadapan wanita yang terlihat rapuh itu.


"Kamu harus di rawat dulu disini."

__ADS_1


"Aku gak mau Vin, aku gak pa-pa. Pokoknya aku mau pulang."


"Yuan... !!" suara Davin meninggi.


"Memangnya aku sakit apa?"


"Kamu cuma kecapean, dan kamu harus banyak istirahat."


"Kalau cuma istirahat bisa di rumah kan? aku gak mau sendirian."


"Kamu gak sendiri, bentar lagi Rena kesini."


"Tapi aku gak mau, pokoknya aku mau pulang."


"Jangan keras kepala. Aku akan temani kamu disini."


Yuan terkejut, dan menatap heran pada laki-laki itu. "Kamu mau temani aku?"


Davin mengangguk. "Ya, aku akan temani kamu sampai kamu benar-benar sehat dan di perbolehkan pulang."


"Apa aku gak salah dengar?"


"Kamu gak salah dengar kok." Davin berujar seraya tersenyum.


Yuan tersenyum tipis dan tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya.


Kenapa rasanya aku bahagia sekali.


* * *


"Makasih Kak, kamu dah anterin aku pulang."


"Sama-sama Mel. Apa Davin menghubungimu.?"


Camelia menggeleng pelan dan menunduk.


"Kemana dia?" gerutu Rakha tidak terima.


"Ya udah aku masuk dulu ya kak.?"


Rakha menatap Camelia, merasa tidak terima saat ia melihat raut wajah Camelia yang sedang menyembunyikan kesedihan-nya.


"Mel...!!" teriaknya kembali.


Camelia menoleh. "Ada apa kak?"


"Kamu baik-baik saja kan?"


Camelia tersenyum. "Aku gak papa kak, aku baik-baik saja kok."


"Kalau aku dapat kabar dari Davin, aku akan hubungi kamu."


Camelia mengangguk. "Ya, makasih ya kak?"


Dengan segera Camelia meninggalkan Rakha, ia masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan kosong dan hampa. Di tatapnya setiap sudut ruangan, dan tanpa terasa air matanya itu menetes begitu saja keluar dari matanya yang bulat. Menyentuh dadanya yang terasa sesak.


Pergi kemana kamu sama dia kak...?


* * *

__ADS_1


__ADS_2