Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
tiga puluh tujuh


__ADS_3

Hallo aku balik lagi..


Bawa ceritanya Camelia..


Semoga kalian suka ya?


Jangan lupa untuk tetep dukung aku dengan tinggalkan like, komen, dan vote-nya juga ya..


Aku mau minta maaf jika banyak kesalahan dalam penulisan atau kata-katanya yang salah.


Oke kalau gitu kita lanjut lagi yu..


Selamat membaca... ❤


* * *


Camelia mencoba untuk membuka matanya saat sinar matahari mulai masuk melalui celah-celah jendela kamarnya yang tertutup tirai. Camelia mengerjap berkali-kali saat ia sudah mengumpulkan seluruh nyawanya kembali, duduk bersandar pada di sandaran kasurnya. Pandangan matanya mengabsen seluruh ruangan kamar itu, tersadar kalau sekarang kamar yang ia tempati bukanlah kamarnya, melainkan kamar yang semalam ia gunakan saat Davin menyentuh dirinya untuk yang pertama kali.


Camelia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, bahkan sekarang ia mendapati bahwa laki-laki yang sudah tidur bersama dengannya tidak berada disana. Entah kemana Davin pergi saat ini, Camelia menatap dirinya sendiri yang masih terbalut selimut yang menutupi tubuh polosnya. Ia mengingat kejadian semalam saat untuk pertama kalinya ia dan Davin melakukan hubungan sebagai suami istri.


Camelia sudah menyerahkan diri sepenuhnya, semalam ia dan Davin sudah benar-benar melakukan malam pertama yang sudah lama tertunda, malam itu Camelia tidak menolak sama sekali, bahkan mereka melakukannya tanpa ada paksaan dari siapapun. Meski awalnya Davin seperti orang yang sedang kerasukan karena menahan amarah, tapi semalam Davin benar-benar menyentuh dan memperlakukan Camelia dengan sangat lembut.


Matanya terpejam erat saat Davin mulai menyentuh tubuhnya, Davin mencium menyatukan bibir mereka dengan sangat lembut, memberi kecupan-kecupan hingga akhirnya ciuman itu memanas ketika Camelia mulai membuka sedikit bibirnya, ia menelusupkan lidahnya masuk, bermain dan membelit di dalam rongga mulut itu.


Camelia mulai melenguh saat tangan Davin masuk ke dalam baju yang ia kenakan, mengelus lembut perut ratanya hingga tangan itu mulai naik ke atas memegang dan meremas dua gundukan sintal yang masih tertutup kain berenda tersebut. Davin menurunkan ciumannya menuju leher jenjang itu, menyesap kuat menggigit kecil hingga menyisakan beberapa tanda kepemilikan disana.


"Eugh ... " Camelia mengerang, tangannya meremas kuat pada baju yang masih Davin kenakan.

__ADS_1


Suara lembut yang keluar dari mulut gadis yang sekarang sedang ia cumbu terdengar sangat merdu di telinganya, membuat aliran darahnya semakin memanas. Merasa sudah tidak bisa menahan lagi hasrat nya Davin segera melepaskan semua pakaian yang ia kenakan.


Camelia menatap takjub pada tubuh polos milik suaminya itu, baru kali pertama ia melihat tubuh kekar dengan kulit yang putih bersih. Seketika wajahnya pun memerah, Camelia merasa malu saat lelaki itu terus menatap dirinya dengan tatapan penuh gairah.


Davin kembali mencium keningnya dengan sangat lama, turun menuju kedua bola mata bulat itu, mengecup lembut hidung beralih menuju kedua pipinya. Ciuman itu berhenti saat kini pandangan matanya tertuju pada bibir merah gadis itu. Davin menatap mengusap lembut bibirnya yang sudah basah, kemudian ia satukan bibir itu, ********** lembut dan menggigit kecil hingga Camelia membuka sedikit bibirnya, setiap pangutan dan decapan bibir itu sangat terdengar jelas di telinga keduanya.


Camelia merasa sangat malu ketika dirinya menyadari bahwa baju yang ia kenakan sudah terlepas semua, kini yang tersisa hanya pakaian dalamnya saja. Davin terpaku saat ia melihat betapa seksinya tubuh istrinya itu, di tatapnya lamat-lamat tubuh yang kulitnya sangat putih dan mulus itu. Davin kembali menyerukan wajahnya di ceruk leher istrinya, mengecup menjilat dan memberi beberapa tanda kepemilikan lagi disana.


Camelia mencengkram kuat bahu itu, nafasnya sudah tidak beraturan lagi. Akhirnya telaga bening itu mengeluarkan air matanya, ia meringis menahan sakit saat Davin terus mencoba untuk membobol selaput keperawanannya.


"Eugh ... Kak ..." ucapnya pelan seperti sebuah desahan. "Ah ... Sakit." air mata itu terus mengalir membasahi pipi mulusnya.


Davin merasa kasihan, ia mengusap lembut air mata itu, di kecupnya lagi kedua bola mata itu secara bergantian dan kembali menyatukan bibirnya agar Camelia tidak lagi menangis.


Dengan selembut mungkin Davin melakukannya, mereka menyatukan tubuhnya tanpa penghalang satupun. Mereka sangat menikmati semuanya ketika rasa sakit itu kini berubah menjadi sebuah kenikmatan. Davin telah berhasil menitipkan benih cintanya di rahim sang istri. Davin kembali mencium kening sang istri dengan sangat lama setelah melepaskan penyatuan tubuh mereka.


"Tidurlah sekarang." Bisiknya lembut dengan nafas masih terengah-engah.


* * *


"Ah ... " pekik Camelia saat ia hendak turun dari tempat tidurnya. "Kenapa rasanya sakit sekali."


Camelia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, perlahan ia turun dan memungut bajunya yang berserakan di lantai. Ia kembali memakai bajunya dan segera berjalan sambil meringis menahan sakit menuju kamar mandi.


Camelia keluar dari kamar mandi, ia segera mengambil pakaian yang ada di lemari bajunya. Dan sekarang ia sedang berdiri di depan cermin, dan betapa terkejutnya saat ia mendapati banyak tanda merah di area lehernya.


Ya ampun.... Gimana ini.?

__ADS_1


Pandangan matanya kini beralih menuju tempat tidur, ia segera menarik seluruh spre yang terdapat banyak bercak darah itu.


Camelia melangkah keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi, karena hari ini dirinya masuk kuliah. Matanya mengabsen seluruh ruangan, berniat mencari seseorang tapi hasilnya tidak ada, orang yang dia cari tidak berada disana di rumah itu.


Kemana dia? apa dia pergi? gumamnya dalam hati.


Berada di kampus pikiran Camelia entah kemana, hari ini dirinya benar-benar merasa tidak bisa berkonsentrasi.


"Kamu kenapa sih Mel?" tanya Nayra mengagetkannya.


Camelia menoleh, ia menatap wajah sahabatnya itu dan mengulas senyum tipis. "Aku gak pa-pa kok."


"Yakin?"


"Hmm.. "


"Apa kamu gak enak badan? soalnya aku lihat kamu pucat sekali?"


"O... Gak kok aku baik-baik ja. Ya udah Nay kita balik yu?"


"Ya udah hayo."


Setibanya di rumah Camelia langsung berlari menuju kamarnya, ia membaringkan tubuhnya hingga tak terasa matanya sudah terlelap tidur.


Camelia membuka mata dan menguceknya berkali-kali, ia menatap jam dinding yang berada di dalam kamarnya, Camelia sadar kalau dirinya sudah tidur terlalu lama. Ia segera bangun dan turun dari tempat tidurnya, ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Saat Camelia sudah berada di ruang tamu, tiba-tiba pandangan matanya jatuh pada jarum jam yang terus berputar pada setiap detiknya itu.

__ADS_1


Kemana dia? kenapa seharian ini dia gak ada di rumah?


* * *


__ADS_2