Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
empat puluh satu


__ADS_3

Balik lagi nih...


Semoga kalian suka ya sama ceritanya...


Mohon maaf bila masih banyak kekurangan.. 🙏🏻


Kita lanjut lagi yu?..


Oke, happy reading semua.. ❤


* * *


"Maafkan aku.." ucapnya lagi dengan begitu lembut.


Davin menatap lekat wajah itu, mengamati setiap pahatan yang begitu indah dan sempurna. Gadis yang dulu di kenalnya sangat manja dan tidak pernah ia inginkan sama sekali. Kini, gadis ini telah masuk dan memberi perubahan besar dalam hidupnya. Davin tidak pernah mengira bahwa dirinya akan menikahi gadis yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Bahkan gadis ini adalah kekasih dari sahabatnya sendiri.


"Jangan menangis lagi?" pintanya kembali dengan sangat lirih.


Camelia masih terdiam, masih setia dengan tatapannya.


"Camelia.." ucap Davin menghela nafas dalam. "Jangan buat perasaan aku seperti ini." berujar dengan sangat lirih.


"Aku gak ngerti, apa maksud kamu kak.?"


"Aku juga gak tau Mel..." di jedanya kalimat itu. "Aku gak tau dengan perasaan-ku sendiri."


"Kak -- aku.?"


"Aku gak suka lihat kamu nangis, aku gak suka lihat kamu deket-deket sama cowok lain. Tapi aku masih bingung dengan perasaanku sendiri."


Camelia terpaku, menatap lekat wajah itu memberanikan tangannya untuk mengelus lembut pipinya. Davin menutup matanya erat, merasa setiap sentuhan itu memberikan ketenangan dalam hatinya.


"Kak.. "


"Hmm.. "


"Tinggal beberapa bulan lagi, kita hidup sebagai pasangan suami istri, setelah itu __ "


"Jangan bicarakan itu sekarang." potongnya cepat.


Davin membuka matanya, tangannya menyentuh balik tangan halus yang masih berada di pipinya itu, di genggamnya erat dan matanya menatap dalam wajah itu.


"Aku mau menghapus perjanjian itu."

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Meski aku masih bingung, tapi aku ingin kamu memberikan waktu buat aku."


"Waktu? untuk apa?"


"Waktu untuk mengetahui perasaan-ku yang sesungguhnya."


"Sampai kapan?"


"Sampai aku bisa mengetahui perasaan-ku sendiri padamu."


"Aku gak akan maksa kamu untuk mencintaiku, karena aku tau perasaan kamu kayak gimana sekarang."


"Maka dari itu, kasih aku waktu?"


"Tapi aku takut Kak.. "


"Takut kenapa?"


"Aku takut jika waktunya tiba, mengetahui perasaan kamu ternyata bukan untuk aku."


"Aku mohon jangan bicara seperti itu."


Di genggamnya kuat tangan itu. "Aku hanya ingin memastikan saja seberapa besar kamu berharga buat aku."


Lidah mereka saling membelit, dan satu-satunya alasan bibir mereka berjauhan adalah karena pasokan oksigen yang kian menipis di dalam mulut mereka. Tidak hanya disitu, Camelia juga merasakan tangan Davin yang semula menangkup kedua pipinya kini beralih turun memegang punggungnya, mengelus lembut dan menarik dirinya agar semakin dekat.


"Kak ..., " Camelia melenguh pelan saat ciuman Davin turun menuju lehernya, memberi gigitan kecil dan kecupan lembut membuat sekujur tubuhnya merinding. Dan tanpa sadar Davin kembali meninggalkan jejak kepemilikan disana.


Mata keduanya masih terpejam, dengan dahi saling menempel dan nafas yang terengah-engah.


"Kita lanjut di dalam." bisiknya lembut.


Dan anggukan kepala Camelia menuntun mereka untuk ke luar dari dalam mobil itu. Davin menggenggam tangan Camelia dengan sangat erat, ia ingin segera masuk ke dalam apartemen-nya agar bisa melanjutkan serangan gairah yang sempat tertunda.


Sesuai dengan rencana mereka berdua, setelah masuk ke dalam apartemen itu Davin kembali menyerang Camelia dengan ciumannya. Menyentuh dengan lembut, mengelus, menjilat dan menggigit kecil di sekitar area leher dan dadanya. Rasanya sangat membuncang, itulah yang di rasakan Camelia saat ini.


Nafasnya memburu dengan dada yang naik-turun, mata mereka kini saling beradu dalam jarak yang sangat dekat. Hembusan nafas hangat keduanya sangat terasa menerpa permukaan wajah. Camelia menyentuh, membelai lembut wajah tampan itu membuat Davin semakin menutup matanya dengan sangat erat.


"Kak.. "


Lenguhan Camelia kembali terdengar saat tangan Davin mulai bergerilya masuk ke dalam baju yang ia kenakan. Seketika tubuhnya menegang saat Davin mulai menyentuh setiap lekuk tubuhnya.

__ADS_1


Davin mulai mengelus lembut perutnya yang ramping, kemudian tangan itu naik beralih memegang dua gundukan sintal yang sangat pas di ukuran tangannya. Davin memegang dan meremasnya lembut meski masih terhalang kain berenda miliknya. Akibat dari ulahnya itu Camelia kembali mengeluarkan desahan.


Mulut Davin mulai menjelajahi leher sang istri, mengecup menjilat menghisap dan menggigit kecil disana, semakin bertambah banyak pula tanda merah di sekitar leher jenjangnya.


Davin kembali menyatukan bibir itu, ******* menggigit kecil dan saling membelit lidah di dalam rongga mulutnya. Ciuman itu kini semakin menuntut ketika Camelia melingkarkan tangannya di leher suaminya. Dan ciuman itu terjadi sangat lama kerena mereka sama-sama merasakan aura yang sangat menggebu.


Malam ini, keduanya kembali menyatukan gairah yang melanda. Sudah hampir dua jam lamanya mereka menghabiskan waktu hanya untuk mengacak semua sprei yang berada di kasurnya. Meski ini bukan yang pertama untuk mereka berdua, tetapi kali ini penyatuan tubuh itu seolah sangat membuat keduanya merasa terbang ke negeri awan.


Davin mencium kening sang istri dengan sangat lama, sebelum ia melepaskan penyatuan itu. Merebahkan tubuhnya di samping Camelia dan mengatur nafasnya agar kembali normal seperti biasanya.


"Apa masih sakit?" tanya Davin secara tiba-tiba seraya memiringkan badannya menghadap kepada istrinya itu.


Camelia tersenyum tipis dan wajahnya tiba-tiba menjadi memerah karena malu. "Enggak kok." berujar dengan gelengan pelan di kepalanya.


"Kenapa liatin aku kayak gitu?"


"Maafkan aku ya?"


"Kenapa minta maaf?"


"Karena waktu itu, aku ninggalin kamu gitu ja. Aku udah nyakitin kamu, aku pergi begitu saja setelah berhasil membuatmu kesakitan."


"Udahlah Kak, Jangan di bahas lagi. Aku ngerti kok kenapa kamu kayak gitu."


"Memangnya kenapa?"


"Karena hati kamu belum sepenuhnya buat aku, sama seperti sekarang." ujar Camelia dengan senyuman tipis di bibirnya.


Hati Davin mencelos, merasa sangat keterlaluan terhadap Camelia yang sudah sepenuhnya menyerahkan diri untuknya.


"Mel... "


"Kenapa Kak?"


"Kenapa kamu mau menyerahkan diri kamu gitu ja untuk aku. Sedangkan kamu tau sendiri kalau hati aku belum sepenuhnya untuk kamu."


"Hanya dua yang menjadi alasan kenapa aku mau menyerahkan diri aku sama kamu kak."


Davin mengernyit bingung. "Apa alasannya?"


"Karena aku istri kamu, dan - " Camelia terdiam menghela nafas panjang. Di tatapnya dalam manik mata itu. Mata yang selalu membuatnya rindu.


__ADS_1


"Karena aku mencintai kamu."


* * *


__ADS_2