
Balik lagi aku...
Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan vote-nya juga.?
Kalau begitu kita lanjut..
Semoga kalian suka..
Oke, selamat membaca... ❤
* * *
"Kenapa kamu gak bilang dulu kalau mau kesini?"
"Memangnya kenapa?" Jawab Davin santai.
Camelia mencebik kesal dan mengeratkan pegangan tangannya pada handuk yang melilit di tubuhnya itu. "Tutup mata kamu kak.?"
"Kenapa mesti tutup mata? apa kamu lupa? aku juga pernah lihat kamu kayak gini kan.?"
"Ish... Ngeselin." Ucapnya kembali seraya berjalan ke arah lemari.
"Ternyata kamu sama saja ya?"
Camelia memicik tajam, "Sama apanya?"
"Mau seksi atau enggak, tetep gak ada bedanya."
Camelia semakin menajamkan pandangan matanya itu, sedangkan Davin ia malah asik memandangi Camelia yang sedang memilih pakaian. Tubuhnya mungil, kulitnya sangat putih bersih, dan rambut hitam panjangnya yang di gelung ke atas, sehingga terlihat jelas leher jenjang itu.
"Ngapain liatin aku?" Tanya Camelia ketus.
"Aku cuma penasaran, apa yang menarik dari kamu?"
"Yang menarik dari aku itu banyak."
Davin berdecak, "Cuma si Rakha ja yang rabun matanya."
"Kamu itu ya?" Camelia menutup pintu lemarinya dengan keras, ia mengambil bantal dan melemparnya ke arah Davin.
"Dasar cowok mesum..!!" teriaknya kembali seraya berjalan ke dalam kamar mandi.
Davin hanya tersenyum, saat melihat Camelia merasa kesal seperti itu, Camelia terlihat sangat menggemaskan. Entah kenapa dengan Davin, akhir-akhir ini ia merasa sangat senang jika sudah menggoda istrinya itu.
***
"Ayo kita makan malam dulu.?" ajak Camelia pada suaminya itu.
Camelia sedikit melirik ke arahnya, Davin sudah terlihat sangat segar setelah ia membersihkan dirinya.
Davin dan Camelia menuruni anak tangga satu persatu, Davin melihat kalau saat ini semuanya telah berkumpul untuk makan malam, Papa Bagas, mama Indah dan Keanu juga sudah berada disana, tersenyum menatap ke arah dirinya dan Camelia.
__ADS_1
"Ayo nak kita makan malam dulu, maaf ya Mama cuma bisa nyediain ini. Soalnya kamu gak bilang kalau mau kesini."
"Gak pa-pa Ma, lagian aku gak mau ngerepotin kalian."
"Jangan gitu Vin, kamu kan udah jadi bagian keluarga ini." ucap papa Bagas dengan tertawa.
Mereka segera menyantap hidangannya, Davin sangat lahap memakan semua makanannya. Untuk sesaat mereka semua makan dalam diam, hanya terdengar suara piring dan sendok yang beradu. Sesekali Camelia melirik ke arah cowok itu, ia memperhatikan bagaimana Davin makan dengan begitu lahapnya.
"Oh iya, bagaimana keadaan Kakek dan kedua orang tuamu Vin.?" Tanya papa Bagas setelah ia menyelesaikan makannya.
Davin mengalihkan pandangannya dari piring kemudian menatap papa mertuanya itu. "Mereka baik kok om."
"Kapan-kapan ajak mereka kemari ya? Mama kangen banget sama mereka."
"Ya Ma, nanti akan aku usahakan."
"Gimana sama kuliah kamu Vin.?"
"Semuanya udah beres Pa, tinggal nunggu wisuda ja."
Papa Bagas manggut-manggut mengerti, ia melihat kalau Davin sangat mewarisi sifat dari Kakek Wijaya.
"Oh iya." Mama Indah berseru heboh, membuat semua orang menatap ke arahnya. "Kapan kalian akan memberi cucu buat Mama.?"
Camelia tersedak, dan beruntung Davin yang berada di sampingnya langsung menyodorkan segelas air putih kepadanya.
"Mama apaan sih.?"
"Loh kenapa? Mama gak salah kan? kalian ini sudah menikah, jadi wajar dong Mama meminta cucu sama kalian.?"
"Mah ... Kita ini baru sebulan menikah, mungkin belum waktunya aku di kasih keturunan,ya kan sayang.?" Ucap Camelia dengan tersenyum.
Davin menatap Camelia dan sedikit menaikan sebelah alisnya.
"Ya kan sayang...?" Camelia sedikit mencubit kecil pinggangnya Davin.
"E - eh... Ya Ma, kami juga sedang berusaha kok." jawab Davin gugup.
"Ya udah, Mama doakan semoga kalian cepat di kasih keturunan."
Davin dan Camelia tersenyum dan mengangguk.
Keturunan dari mana?? guman keduanya.
* * *
Camelia sudah berdiri di depan pintu kamarnya, setelah ia membantu membereskan bekas makan malam bersama dengan keluarganya. Sementara Davin, lelaki itu sudah berada di kamar setelah tadi ia pamit untuk tidur duluan. Camelia membuang nafasnya gusar, memikirkan kalau saat ini ia dan Davin berada di ruangan yang sama, mereka akan tidur di tempat yang sama.
Camelia membuka pintu kamarnya, ia melihat kalau sekarang Davin tidak berada di ranjang itu, dan pandangan matanya beralih pada balkon kamar yang tidak tertutup. Camelia melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya, dan benar saja ia melihat kalau sekarang Davin sedang berada disana sambil menyesap rokok yang terselip di antara jari tangannya.
"Kamu belum tidur?"
__ADS_1
Saat mendengar suara itu, Davin langsung membalikan badannya. "Belum ngantuk."
"Kamu lagi apa? ngerokok?"
Davin kembali menoleh ia menunjukan sebatang rokok di tangannya. "Hmm ... Kenapa memangnya?"
"Gak pa-pa, ya udah aku tidur duluan." Camelia berbalik masuk ke dalam kamarnya.
Davin segera membuang rokok itu, dan masuk mengikuti Camelia dari belakang.
"Kenapa diam?" Tanya Davin merasa aneh.
Camelia menoleh, ia menatap Davin tanpa bicara sedikitpun.
"Ya udah aku tidur duluan." Ucap Davin yang langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur itu. "Mau sampai kapan kamu berdiri terus?"
Camelia terkejut, mengerjap berkali-kali, saat Davin menarik tangannya begitu saja. Sekarang Camelia sudah berada di bawah kungkungan Davin.
"Kamu apa-apaan sih? lepasin gak?"
"Mau sampai kapan kamu berdiri disitu?"
"Bukan urusan mu, minggir aku mau tidur di sofa."
Davin menyeringai, ia menatap wajah Camelia yang begitu dekat dengannya. "Kenapa tidur di sofa?"
"Aku gak mau tidur satu ranjang sama kamu?"
"Kenapa?"
"Aku - aku, "
"Apa salahnya, aku suami kamu kan?"
"Minggir, ini namanya kontak fisik tau?"
"Bukankah aku sudah bilang, kalau aku juga akan melanggarnya."
"Jangan ngaco kamu.?"
"Apa kamu lupa, kamu sendiri yang sudah melanggarnya berkali-kali."
"Apa maksud kamu?" ucap Camelia gugup.
"Apa aku boleh jika melanggarnya sekarang, jadi kita impas."
Camelia sangat terlihat gugup saat Davin mendekatkan wajahnya, kini jarak antara mereka berdua sangatlah dekat. Mereka saling baradu pandangan, saling menatap dalam diam. Davin begitu lekat menatap wajah Camelia, ini baru pertama kalinya Davin menatap wajah istrinya itu dari dekat, Davin menelusuri setiap lekuk wajahnya, Davin juga mengakui kalau Camelia memang gadis yang cantik.
Camelia segera menutup matanya erat, saat Davin mulai mendekatkan wajahnya. Jantungnya berdegub semakin kencang saat Davin mulai menempelkan bibirnya.
"Aku akan melanggar aturannya."
__ADS_1
* * *