Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
enam puluh dua


__ADS_3

Happy reading...


Semoga suka...


* * *


"Jangan tinggalkan aku lagi..."


Seolah tidak ingin laki-laki itu pergi lagi, lantas, yang Yuan lakukan sekarang adalah memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Berada di dekat dan pelukannya Davin saat ini itulah yang di butuhkan olehnya sekarang. Rasa sakit, sedih dan lelah-pun hilang seketika ketika ia memeluk tubuh itu, membenamkan wajahnya berharap Davin akan membalas pelukannya.


Bukan Yuan tidak tahu dengan keadaan yang membuat dirinya seperti ini, ia tahu jika saat ini lelaki yang sedang ia peluk itu bukan lagi lelaki yang dulu sangat mencintainya. Yuan juga tahu kalau bukan hanya Davin dan Reni yang sedang berada di ruangan itu, melainkan ada sosok wanita bertubuh mungil yang sedang menatapnya tidak berkedip. Ya, dan wanita itu adalah Camelia, wanita yang sangat di cintai oleh laki-laki yang sedang ia peluk sekarang.


Mungkin saat ini Yuan memang egois, ia menginginkan Davin, ia ingin agar laki-laki itu menemaninya, berada di sampingnya dan membalas pelukannya.


"Vin ... Aku mau pulang, aku gak mau ada disini."


"Yuan, kamu tenang dulu ya?"


Yuan semakin memeluknya erat, membuat Davin semakin tidak enak dan bingung di buatnya.


"Yuan, dengerin aku." Ujar Davin, mencoba untuk melepaskan tangan rapuh yang melingkar di perutnya.


"Bawa aku pulang Vin, aku gak mau ada disini."


Davin berhasil mengurai pelukannya, sesaat mata mereka bertemu.


"Kamu harus tetap ada disini, sampai kamu sembuh Yuan."


"Aku gak sakit, dan aku sembuh Vin."


"Tapi Dokter belum mengijinkan kamu untuk pulang."


"Memangnya aku kenapa? aku sakit apa? bukannya aku cuma kelelahan saja, aku bisa tidur dan istirahat di apartemen sendiri."


"Yuan aku mohon, dengerin aku sekali ini saja." bukan suaranya Davin, tetapi itu suaranya Reni yang memohon.


"Cukup Ren, kamu gak usah ngomong apa-apa." dengan sedikit bentakan Yuanita berujar.


Reni dan Davin hanya saling menatap, merasa iba dan kasihan itulah yang ada di benak mereka saat ini.


"Vin ... " ucapannya tertahan. "Hanya lo yang bisa bujuk dia, gue mohon sekali ini saja." ujarnya kembali dengan mengatupkan kedua tangannya memohon.


Davin menoleh, menatap istrinya meminta persetujuan. Camelia mengerti, meskipun berat baginya, tetapi kali ini ia harus mengalah, melihat Yuan terpuruk seperti itu membuat hatinya sedikit ngilu.


"Yuan, aku akan ada disini, temani kamu disini, tapi aku mohon sekali saja kamu nurut sama aku, Reni dan juga Dokter, kamu mau kan di rawat disini sampai keadaan kamu membaik."


Yuan mengangkat wajahnya, menatap dalam wajah lelaki tampan itu.


"Janji, kamu akan temani aku Vin?"


"Ya aku janji, untuk malam ini aku akan ada disini, sama kamu."


"Kamu gak akan ninggalin aku kan?"


Davin menggeleng pelan. "Gak akan."


Camelia mencoba untuk tersenyum meski hatinya sedikit mencelos, ia tahu apa yang Davin lakukan itu semata-mata hanya untuk membuat Yuanita tenang, ia juga telah mengijinkan suaminya itu untuk menemani Yuan malam ini. Bukan tanpa alasan, Camelia hanya ingin agar Yuan mempunyai kekuatan untuk melawan penyakitnya itu, meski ia tahu kalau Davin-lah satu-satunya orang yang membuat Yuanita mempunyai semangat hidup.

__ADS_1


"Sayang ... "


"Hmm ... "


"Ini udah malam, aku antar kamu pulang ya?"


"Tapi Kak __ "


"Kamu istirahat di rumah ya? aku gak mau kamu sakit."


"Aku mau disini sama kamu?"


Davin menggeleng. "Gak, kamu pulang ya?"


"Kak ..."


"Kalau gitu kita pulang ja."


"Terus Yuan gimana?"


"Dia udah tidur kok."


"Kalau dia bangun gimana?"


"Gak akan."


"Tapi, kamu udah janji sama dia kak."


"Aku janji sama dia mau menemin dia kalau bangun, sekarang dia udah tidur nyenyak gitu kok."


Davin mengangguk pasti. "Kamu tunggu disini ya? aku pamit dulu sama Reni."


"Ya."


Reni-pun mengijinkan Davin beserta istrinya itu pulang, ia mengerti dengan keadaan yang sekarang sedang mereka hadapi, bukan hanya Yuanita yang membutuhkan sosok Davin untuk tetap berada di sampingnya, tetapi perempuan itu, ia lebih berhak atas diri Davin. Camelia lebih membutuhkan Davin untuk berada di sampingnya dan menemaninya.


Setelah pamit, Davin dan Camelia-pun pergi meninggalkan rumah sakit itu. Tempat yang menjadi tujuannya saat ini bukanlah rumahnya, melainkan apartemen, Davin mengajak Camelia untuk tidur di apartemennya malam ini. Bukan tanpa alasan, Davin sudah merasa sangat lelah, dan apartemennya itu adalah tempat satu-satunya yang ia tuju saat ini. Karena jarak pulang ke apartemen lebih dekat ketimbang harus pulang ke rumahnya.


"Kenapa kita kesini sih kak.?" Tanya Camelia bingung, saat mobil suaminya itu sudah terparkir di basement apartemen.


"Malam ini kita tidur disini ya?"


"loh, kok disini?"


"Kenapa? ini apartemen aku, lagian jauh kalau pulang ke rumah."


"Aku mau mandi kak."


Davin tertawa. "Emangnya apartemen akutuh kontrakan yang kamar mandinya di luar, terus di peke bareng-bareng.?"


Camelia mencebik, bibirnya yang mungil mengerucut lucu. "Bu - bukan itu maksud aku."


"Terus?"


"Aku gak bawa baju ganti kak."


"Baju aku ada banyak, jadi kamu pakai saja bajuku dulu."

__ADS_1


"Mana muat di aku.?"


"Ya gak papa, paling kegedean dikit."


"Tapi aku gak mau." Camelia menegaskan.


"Kalau gitu gak usah pakai baju aja." jawab Davin santai.


Camelia kembali mencebik, memutar kedua bola matanya malas. "Itu mah maunya kamu."


Davin tergelak, menatap gemas wajah istrinya itu.


"Kak ..." ujar Camelia saat mereka sudah berada di dalam apartemen.


"Emm ..."


Merasa tidak ada jawaban, Davin menoleh.


"Kenapa? kok diam?"


"Aku masih kepikiran tentang Yuan."


Davin mengernyit, menatap bingung istrinya itu.


"Kenapa?"


"Kasian dia, gimana kalau dia bangun terus nyariin kamu.?"


"Kenapa kamu mikirin dia sih?'


"Ya, aku kepikiran ja, gimana cara dia nangis tadi."


"Terus mau kamu apa? aku harus jagain Yuan dan tinggalin kamu sendirian disini.?"


Camelia bengong, matanya mengerjap berkali-kali.


Davin mendengkus kesal. "Ya udah kalo gitu, aku balik lagi kesana jagain dia."


"Jangan ... " dengan gerakan cepat Camelia menarik lengan suaminya itu. Sesaat mata mereka bertemu, dan saling menatap dalam diam.


"Maaf ya.?" ucapnya pelan.


Camelia mengernyit bingung. "Kenapa minta maaf.?"


"Gara-gara tadi, kamu gak jadi periksa ke Dokter kandungan."


Camelia tersenyum, mengelus lembut pipi sang suami. "Oh, kirain aku apa? ya udah gak papa, masih banyak waktu kok."


Davin membalas senyumannya, seraya mengecup lembut tangan sang istri.


"Aku udah gak sabar, pengen tau hasilnya." ujarnya dengan wajah berbinar, tangan yang semula berada di genggaman sang istri, kini tangan itu beralih memegang perut yang masih terlihat rata.


"Tenang saja nak, meski kamu masih berada di perutnya Mama, Papa akan sering tengok kamu kok ... !!! "



* * *

__ADS_1


__ADS_2