Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
delapan belas


__ADS_3

Aku balik lagi..


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen, dan vote-nya juga ya..


Oke kalau gitu kita lanjut..


Happy reading semua... ❤


* * *


"Selamat malam Tante..." Sapa Davin hangat seraya mencium tangannya mama Indah.


Mama Indah tersenyum. "Eh... Kamu Vin, ayo masuk."


"Mel ... Ajak Davin masuk dong.?" Imbuh mama Indah kembali.


"Ya Ma... " Jawab Camelia tidak semangat.


Davin-pun segera masuk ke dalam rumah itu, mengikuti Camelia dari belakang. Ia segera duduk di sofa ruang tamu bersama dengan Camelia yang duduk berhadapan dengan Davin saat ini.


"Tante kira kamu gak pergi bareng sama Melia Vin.?" Tanya mama Indah dengan membawa secangkir teh hangat di tangannya.


"Makasih Tante.., Maaf sebelumnya aku gak ngasih kabar ke tante kalau aku pergi bersama Camelia." Jawab Davin dengan begitu lembutnya.


"Gak pa-pa Vin, Tante senang kok dia pergi sama kamu, jadi Tante gak khawatir."


Davin hanya mengangguk dan tersenyum tipis, kini pandangan matanya beralih kepada Camelia. Davin menatap Camelia. Sebenarnya Davin mengetahui jika saat ini Camelia sedang menyembunyikan rasa sedihnya. Entah apa yang terjadi antara Camelia dan Sahabatnya itu. Yang Davin tahu saat itu ia hanya melihat Camelia sedang duduk sendiri sambil menangis.


Flashback


"Kamu mau bicara apa Mel..?" Tanya Rakha dengan penuh penasaran.


Camelia mengalihkan pandangan matanya itu, sekarang ia menatap lekat wajah Rakha yang sedang menatapnya balik. Camelia tersenyum, ada rasa sedih yang menyelimuti hatinya sekarang, sebenarnya ini sangat berat, tapi Camelia sudah mengambil keputusan dan apapun hasilnya ia akan menerima dengan lapang dada.


"Kak ... Aku. " Camelia terdiam sesaat ia menjeda kalimatnya. Camelia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya berat.


"Kamu kenapa, apa yang mau kamu bicarakan sama aku.?" Tanya Rakha yang sudah merasa benar-benar penasaran di buatnya.


"Maafkan aku Kak..." Ucap Camelia pelan sembari menundukkan wajahnya.


"Kenapa Mel, bicara sama aku, jangan buat aku khawatir kayak gini.?" Dengan menggenggam tangannya Camelia erat.


Ya Tuhan... Aku gak sanggup untuk mengatakannya. Tapi aku harus melakukannya, aku gak mau jika terus menyakiti laki-laki sebaik dirimu. Maafkan aku...


"Kak, aku rasa kita gak bisa melanjutkan hubungan ini." Ucap Camelia dengan menundukkan wajahnya.


Deg


Rakha menohok, ia sangat terkejut dengan apa yang dia dengar baru saja, ia tidak mengerti dengan kekasihnya itu, kenapa dengan tiba-tiba ia mengatakan hal yang membuat nya terluka seperti ini.

__ADS_1


Rakha menatap Camelia dengan dalam. "Apa kamu bilang Mel.? Kamu kenapa.?" Tanya Rakha masih dengan tidak percaya.


"Kak, maafkan aku."


"Aku gak butuh kata maaf dari kamu, aku hanya butuh alasan kamu Mel.."


"Maaf Kak, "


"Katakan Mel, kalau kamu cuma bercanda kan? katakan kalau itu semua gak benar.?"


"Kak __ "


"Katakan aku salah apa.?"


"Kak __ "


"Apa alasan kamu sebenarnya, bilang sama aku.?"


"Kak, aku mohon dengarkan aku." Camelia tidak bisa lagi menahan genangan air matanya, ia menatap wajah Rakha dengan buliran air mata yang sudah jatuh di pipinya. Camelia mendekat ia menggenggam tangannya Rakha, tetapi dengan cepat Rakha menepisnya.


"Kak.... "


"Aku gak tau salah apa aku sama kamu, kenapa kamu tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan kita. Aku sangat mencintaimu, bahkan rasa cintaku ini melebihi segalanya, aku kira kamu juga mencintaiku tetapi aku salah, kamu tidak pernah mencintaiku kan.?"


"Kak __ "


"Maafkan aku kalau selama ini aku telah menyakitimu, aku tau aku memang orang yang tidak sempurna untuk wanita sepertimu."


"Kak... dengarkan aku dulu.?" Pinta Camelia dengan lirih.


Rakha tersenyum getir, ada rasa sedih, marah, dan kecewa saat ini dalam hatinya. Ia tidak pernah mengira bahwa gadis yang selama ini ia cintai dan menjadi kekasih nya selama bertahun-tahun, bisa menggoreskan luka di hatinya. Rakha tidak mengetahui alasan apa sebenarnya hingga Camelia ingin mengakhiri hubungan mereka berdua.


"Jika itu memang keinginan mu, aku akan menerima meski hati ini menolaknya. Aku gak tau kenapa dengan mudahnya kamu ingin kita berpisah. Tapi aku sadar bahwa cinta memang tidak bisa di paksakan bukan.?"


"Kak... Maafkan aku."


"Semoga kamu bahagia, dan mendapatkan orang yang lebih pantas dan mencintai mu dengan tulus."


"Aku sangat mencintaimu Kak.."


"Aku pergi, jaga diri kamu baik-baik. Dan satu hal lagi." Rakha jeda kalimatnya. "Jangan pernah lupakan kalau aku sangat mencintaimu."


Rakha mencoba untuk tersenyum, meski dalam hatinya saat ini sangat terluka. Rakha menatap dalam diam gadis yang kini tengah menangis di hadapannya, ingin sekali ia mengusap dan memeluk tubuhnya dalam dekapan nya. Tapi Rakha menahannya agar ia tidak terluka nantinya. Rakha memejamkan matanya erat, kemudian ia segera berlalu meninggalkan Camelia sendiri disana.


"Kak ___ Aku mohon dengarkan aku, aku juga mencintaimu. Maafkan aku...!"


* * *


"Mel...?"

__ADS_1


"Ya ma, kenapa.?"


"Kamu kenapa sih nak, dari tadi mama lihat kamu melamun terus.? Kasihan sama Davin, masa kamu diemin."


Camelia menoleh ke arah mama-nya, ia tersenyum tipis. "Aku gak pa-pa ma.."


"Ya udah, kamu temenin Davin. Mama mau ke dalam dulu ya.?" Ujar mama Indah seraya berjalan meninggalkan mereka berdua. Dan langkah kakinya berhenti sesaat. "Ini udah malam, apa gak sebaiknya kamu nginap disini ja Vin...?"


Davin dan Camelia menoleh secara bersamaan, mereka menatap wajah mama Indah, Davin hanya tersenyum sedangkan Camelia, ia menatap wajah mama-nya itu dengan tampang heran.


"Gak pa-pa Vin, lagian ini dah larut malam. bentar lagi kamu juga jadi menantunya tante. Ya udah kamu bisa tidur di kamar nya Camelia kok."


"Baik, makasih Tante.." Ucap Davin lembut.


Pandangan Camelia jatuh pada sosok laki-laki yang sedari tadi terus memperhatikan dirinya. Camelia ingat jika sekarang ada Davin di dekatnya, Davin yang mengantarkannya pulang. Camelia menatap Davin sesaat.


"Kenapa.?" Tanya Davin heran karena Camelia menatap dirinya.


"Makasih.."


"Untuk apa.?"


"Karena kamu nganterin aku pulang."


"Aku cuma kasihan ja lihat kamu menangis sendirian."


Camelia memicik tajam, ia menatap Davin dengan tampang tidak suka. "Nyebelin."


Davin hanya mengedikkan bahunya acuh, ia menyunggingkan sedikit bibirnya ke atas.


"Ya udah, aku capek."


"Terus.?"


"Dimana kamar kamu,?"


Camelia memberengut kesal, ia menghentakkan kaki nya saat menunjukkan kamarnya untuk di tempati oleh Davin.


"Umur kamu berapa sih.?"


"Memangnya kenapa.? " Jawabnya ketus.


"Pantesan masih manja, kamarnya ja kayak anak kecil..! "


"Ih... Apaan sih, jangan bawal deh, jangan berantakin kamar aku, jangan pegang barang-barang aku."


"Terserah aku, ini jadi kamar aku sekarang."


"Awas ja..!!!" Camelia melotot tajam pada Davin.

__ADS_1


"Ya anak manja...!!"


* * *


__ADS_2