Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
tujuh belas


__ADS_3

Kita lanjut lagi ya ceritanya..


Happy reading semua.. ❤


* * *


"Maaf ya nunggu lama." Ujar Rakha dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Ia merasa tidak enak karena telah membuat Camelia menunggunya.


"Gak pa-pa kok." Jawab Camelia sambil tersenyum.


"Ya udah kita masuk yu.?" Ajak Rakha pada Camelia.


Mereka berdua-pun masuk ke dalam sebuah Kafe yang menjadi tempat di adakannya acara pesta ulang tahun Adinda teman mereka dan sahabat dekatnya Davin. Disana sudah banyak tamu undangan yang hadir, termasuk dengan Candra dan Ryan. Mereka berdua sedang menunggu kedatangan teman yang satunya lagi, siapa lagi kalau bukan Davin.


"Widiiih ... Romi dan Yuli baru datang." Kata Candra dengan sedikit senyum meledek.


"Kalian berdua memang pasangan sejati. Seperti Habibi Ainun, Galih Ratna, Rangga Cinta, terakhir kayak Dilan dan Milea." Dengan tertawa keras Ryan mengatakan itu semua.


"Apaan sih... Basi lo..!" Jawab Rakha ketus.


"Kemana si Davin, dia jadi datang gak sih.?" Tanya Rakha kepada dua sahabatnya itu. Karena Rakha yang tidak melihat kehadiran Davin berada disana, bersama dengan dua laki-laki tengil itu.


Candra hanya mengedikkan bahunya, sedangkan Ryan menggeleng sambil berkata. "Tau gue, kenapa jam segini dia belom nongol ya.?"


"Ya udah biar gue telpon dia dulu.."


Dengan segera Candra mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Dan tidak lama ia langsung menghubungi Davin, panggilan itu-pun berakhir saat Candra melihat sosok Davin yang sedang berjalan gontai ke arahnya.


"Tuh dia si kampret baru datang, kemana ja lo.?" Sewot Ryan kala itu.


Davin hanya tersenyum tipis ke arah para sahabatnya itu, ia tidak memperdulikan pertanyaan dan hanya bersikap acuh kepada sahabatnya. Davin menjadi pusat perhatian seluruh mata yang memandang, bagaimana tidak, seperti biasa Davin selalu terlihat tampan dan cool malam ini, hingga membuat seluruh kaum wanita terpaku menatapnya.

__ADS_1


Davin menjadi perbincangan hangat di dalam kafe itu, banyak orang yang dengan sengaja memberikan senyum termanisnya untuk Davin. Bahkan mereka tak segan untuk mencari kesempatan agar bisa dekat bersama dengan Davin.


"Hai... Davin, boleh aku ikut bergabung dengan kalian.?" Sapa seorang wanita cantik dan anggun, dengan tersenyum begitu manisnya kepada Davin, siapa lagi kalau sang pembuat acara pesta tersebut yaitu Adinda.


Adinda adalah teman satu kampus dan satu kelasnya Davin. Dia juga sudah mengenal Davin sejak lama, karena Adinda adalah sahabat masa kecilnya dulu waktu sekolah dasar. Adinda wanita yang selalu menjadi saingannya Yuanita. Sebenarnya Adinda sangat menyukai Davin, ia sangat mengagumi sosok Davin jauh sebelum Yuanita hadir dalam pertemanan mereka.


Adinda dan Yuanita memang tidak dekat, mereka selalu bersaing dalam hal apapun, termasuk dengan pekerjaannya yang sama-sama sebagai seorang model. Mereka memang sama-sama terlahir dengan wajah yang sempurna sangat cantik dan juga pintar, tapi entah mengapa Adinda selalu kalah jika bersaing dengan Yuanita. Bahkan sampai saat ini-pun mereka semakin menunjukan rasa saling tidak menyukai satu sama lain karena Yuan-lah yang berhasil mendapatkan Davin.


Adinda sengaja ingin mendekati Davin malam ini karena ia tahu kalau Yuan kekasihnya itu sedang pergi ke luar negeri.


"Hai Din, ya udah gabung ja gak pa-pa kok.." Saut Davin dengan santai.


Dengan segera Dinda-pun duduk di sebelahnya Davin. Mereka terlihat sangat dekat, bahkan kedekatan mereka menjadi perhatian semua teman-teman termasuk dengan Camelia.


"Makasih ya Vin, dah datang ke acaranya aku.?"


Davin tersenyum. "Selamat ulang tahun ya."


Ada perasaan senang di hatinya Dinda saat ini, karena ia bisa melihat kembali wajah Davin dari dekat, ia bisa melihat kembali senyum itu, senyuman yang selalu Davin berikan kepadanya sewaktu kecil.


Rakha, Candra, Ryan hanya tersenyum melihat kelakuannya Dinda, karena bagi mereka semua merasa tidak aneh jika Dinda selalu bersikap seperti itu terhadap Davin. Dan lain halnya dengan Camelia, ia terlihat sangat jengkel dengan kelakuan calon suaminya itu.


Kalau bukan karena terpaksa, mana mau aku menikah dengan dia. Dasar laki-laki pecicilan, bisa-bisanya dia bersikap seperti itu terhadap semua wanita, kalau aku jadi pacarnya udah aku tinggalin dia dari dulu..


"Din ... Selamat ya.?" Ucap Rakha dengan sedikit tersenyum.


Dinda-pun menoleh ke arah Rakha, kemudian pandangannya jatuh kepada gadis cantik yang berada di sebelah Rakha. Dinda tersenyum hangat dan membalas ucapan Rakha dengan begitu lembut.


"Makasih ya Kha." Balas Dinda, dan kini pandangan matanya jatuh pada gadis itu lagi.


"Kha, apa dia pacarmu ya.?"

__ADS_1


Rakha tersenyum dan mengangguk pelan. "Ya, kenalkan dia Camelia."


Camelia menatap wajah cantik yang sekarang berada di hadapan nya. Kemudian ia tersenyum dan menjulurkan tangannya, dan itu di sambut baik pula oleh Dinda yang membalas uluran tangannya.


"Cantik.. " Dengan tersenyum Dinda mengatakannya.


Lagi-lagi Camelia hanya tersenyum, dan senyuman itu-pun berhenti ketika dirinya dengan tidak sengaja melihat ke arah Davin. Camelia menatap Davin sekilas, karena sedari tadi Davin sedang memperhatikan dirinya. Camelia segera membuang pandangannya itu ke sembarang arah, ia tidak ingin jika terus bertatapan seperti itu, karena Camelia tahu jika Davin akan dengan senang hati untuk mengolok-olok dirinya nanti.


Acara-pun sudah berjalan dengan lancar, mereka semua sedang menikmati semua hiburan dan jamuan yang telah di persiapkan oleh sang tuan rumah. Dinda masih dengan setianya duduk di sebelahnya Davin, dan mereka terlihat sangat dekat sekali. Mereka tidak berhenti untuk ngobrol dan sesekali mereka tertawa bersama. Entah kenapa Davin selalu terlihat hangat jika sedang bersama dengan orang lain, tetapi ia akan bersikap dingin dan acuh jika sedang bersama dengan para sabahat tengil dan juga Camelia.


"Vin ... Kamu gak ngasih aku hadiah.?" Dengan terkekeh Dinda mengatakan nya.


"Sorry Din, tadi aku gak sempat untuk membeli kado buat kamu."


Dinda pura-pura memasang wajah cemberut, ia ingin mendapat perhatian yang lebih dari Davin. Dinda merajuk, "Ya udah gak pa-pa, asal kamu janji mau kasih kado buat aku."


"Memangnya kamu mau apa.?"


"Aku mau nanti kita jalan berdua, aku mau dinner sama kamu. Ingat jangan nolak.?"


Davin-pun menatap Dinda, sebenarnya bukan hal yang sulit jika ia memenuhi keinginan dari Dinda. Davin hanya menganggap Dinda sebagai sahabat tidak lebih dari itu.


"Akan aku usahakan, tapi aku gak janji. "


* * *


Sampai disini dulu ya ceritanya, nanti kita lanjut lagi di episode berikutnya...


Semoga kalian suka..


Terimakasih... ❤

__ADS_1


__ADS_2