
Happy reading...
* * *
Satu minggu sudah mereka lewati setelah kejadian itu dimana Camelia meminta agar mereka segera berpisah, disitu juga Davin mulai menghindari Camelia. Davin lebih sering menghabiskan waktunya di apartemen, bukan maksud ingin menjauh atau menghindari, Davin sengaja melakukan itu agar Camelia bisa berpikir dengan tenang.
Davin begitu terkejut saat Camelia meminta ingin segera mengakhiri pernikahannya itu. Tetapi ia juga tidak bisa melakukan apapun jika sang istri menginginkan hal itu. Davin tidak akan memaksa Camelia tetapi ia akan berusaha semampunya untuk tetap mempertahankan rumah tangga yang telah di jalaninya selama ini.
Davin mengakui kalau saat ini perasaan cintanya telah tumbuh untuk gadis itu, gadis manja yang di jodohkan oleh sang Kakek. Entah darimana awalnya Davin mempunyai perasaan untuk istrinya itu, yang jelas saat ini Davin benar-benar sudah mengetahui perasaan apa yang ada di hatinya sekarang.
Davin sudah mencintai Camelia, dan itu benar. Perasaan cintanya telah tumbuh begitu saja untuk sang istri. Dan sekarang ia tidak ingin berpisah atau melepaskan Camelia begitu saja. Sekuat hati ia akan memperjuangkan pernikahannya itu. Apapun yang terjadi Davin akan berusaha untuk tetap meyakinkan Camelia meski dia harus kehilangan dan melukai orang yang selama ini sangat di cintainya.
"Sayang ... Maaf aku telat, kamu nunggu lama ya?"
Davin tersenyum lembut, menatap wajah gadis yang saat ini terlihat begitu cantik.
"Gak papa."
"O iya, kamu udah makan? aku masak buat kamu ya.?"
"Gak usah, jangan repot-repot masak, kalau mau kita tinggal pesan ja."
"Gak pa-pa kok, aku mau masak buat kamu ya?" Yuanita berujar seraya tersenyum lebar.
Davin mengangguk pelan dan membalas senyuman itu, ia menatap lekat wajah Yuanita saat ini, ada rasa senang ketika ia melihat Yuan yang tidak berhenti untuk tersenyum. Senyuman itu yang dulu selalu membuat Davin rindu dan mencintai Yuanita. Tetapi kini semuanya telah berubah semenjak Camelia masuk dalam hidupnya dan menjadi istrinya.
Kamu adalah orang yang baik yang pernah ada dalam hidupku.
Kamu wanita yang aku cintai tetapi itu dulu, karena sekarang wanita yang aku cintai hanya dia Camelia istriku.
Maafkan jika aku menyakitimu kali ini.
Davin menutup matanya begitu erat, menarik nafas panjang dan mengeluarkan perlahan. Mencoba untuk tetap menjaga perasaannya agar tidak menyakiti hati gadis yang selama ini masih berstatus sebagai kekasihnya.
"Sayang ... Makanannya udah jadi ayo kita makan?" ujar Yuan seraya menghampiri Davin yang masih duduk di sofa ruang tengah.
Davin tersenyum dan berdiri dari duduknya, ia menghampiri Yuan dan berjalan bersama ke arah meja makan. Davin menatap semua makanan yang telah di sediakan oleh Yuan. Davin sangat mengetahui dengan baik bukan hanya cantik, pintar dan seorang model tapi Yuanita juga adalah orang yang pandai dalam memasak sama seperti Camelia istrinya.
"Gimana apa kamu suka?"
"Hmm... masakan kamu memang enak."
"Benarkah?"
__ADS_1
Davin tersenyum. "Ya."
Mereka menikmati makan siangnya di apartemen Davin. Yuan benar-benar senang saat ia bisa memasak untuk orang yang sangat di cintainya.
Davin mengunyah makanan itu dengan susah payah, entah kenapa rasanya sangat sulit untuk menelan semua makanan ke dalam mulutnya.
"Yuan.."
"Kenapa sayang.?"
"Aku ingin bicara sesuatu sama kamu."
"Bicara apa? kok tegang gitu muka kamu?"
Davin meletakan sendoknya di atas piring, ia menghela nafas dengan sangat berat. Pandangan matanya kini beralih menatap dalam manik mata hitam itu.
"Kamu kenapa? ingin bicara apa?" ujar Yuan kembali dengan tatapan heran.
"Aku ingin bicara mengenai kita."
"Maksud kamu?"
"Kamu masih ingatkan saat Kakek mau menjodohkan aku."
"Dan aku telah di jodohkan."
"Aku tau kamu di jodohkan sayang, tapi bukannya kamu udah bilang sama Kakek kalau kamu minta waktu kan.?"
Davin menutup erat matanya kemudian menggeleng pelan.
"Maafkan aku." kembali menghela nafas panjang. "Aku gak bisa nolak saat Kakek menjodohkan aku."
Yuanita terlihat bingung saat ini, ia menatap Davin dengan tatapan heran dan menautkan kedua alisnya.
"Apa maksud kamu?"
"A - Aku - aku sudah menikah." ucap Davin terbata-bata dengan menutup kedua matanya.
Deg...
Yuanita sangat terkejut.
"Aku gak ngerti, kamu bilang apa barusan?"
"Maafkan aku.."
__ADS_1
"Tapi kamu bilang sama aku kalau kamu akan minta waktu sama kakek kamu kan? aku minta waktu cuma dua tahun, dan kamu setuju untuk nunggu aku kan?"
"Sekali lagi maafkan aku."
"Aku - Aku gak tau mesti ngomong apa sekarang, kamu bilang sama aku kalau kamu lagi bohongin aku Vin.?" Yuanita berucap seraya mengusap air mata yang mulai menetes di matanya itu.
"Aku gak bohong, aku memang sudah menikah." balas Davin dengan tatapan matanya yang meyakinkan. "Aku gak bisa nolak keinginan dari kakek, dan aku juga sudah berusaha agar dia memberi waktu sama aku. Tapi kakek menolaknya, dia ingin agar aku tetap menikah dengan gadis pilihannya."
Yuanita menundukkan wajahnya, ia menangis tersedu-sedu. Bagaimana bisa lelaki yang sangat dia cintai selama ini telah menikah dan menjadi milik orang lain. Yuanita tidak pernah mengira kalau Davin tidak pernah mempertahankan cintanya, ia lebih memilih untuk di jodohkan dengan wanita lain. Hatinya sakit sangat sakit, itulah yang ia rasakan saat ini.
"Sejak kapan kamu menikah?" ucap Yuan dengan sesegukan.
"Sudah delapan bulan."
"Kenapa kamu gak bilang sama aku hah.?"
"Maafkan aku..!"
"Aku gak butuh maaf dari kamu, aku hanya butuh penjelasan sekarang. kenapa kamu tega sama aku, kenapa Davin kenapa?" air bening itu terus menetes dari matanya yang indah.
"Waktu itu aku sangat bingung, dan aku gak bisa nolak keinginan dari kakek."
"Kenapa kamu gak bisa perjuangkan cinta kita hah..?"
"Dengerin aku dulu, aku mohon jangan menangis seperti ini." pinta Davin lembut seraya menggenggam erat tangannya Yuan saat ini.
"Kamu jahat, padahal kamu tau kalau aku sangat mencintai kamu."
Davin membisu, di genggamnya erat tangan itu. Ia tidak ingin melihat Yuan menangis, ia tidak ingin melihat wanita yang dulu menjadi nomer satu di hatinya itu sakit hati. Davin tahu kesalahannya saat ini, yaitu telah menyakiti dua wanita sekaligus.
"Aku mohon maafkan aku."
"Siapa wanita itu?" sentak Yuan begitu saja. "Apa kamu mencintainya?"
"Kenapa kamu diam? apa kamu mencintainya?" bentak Yuanita yang tidak bisa lagi menahan amarahnya.
Davin terdiam, bukan waktu yang tepat saat ini jika ia berterus terang mengakui tentang perasaannya itu.
Keterdiaman Davin membuat Yuanita semakin menangis, ia tahu tentang Davin, ia tahu semua tentang laki-laki itu. Laki-laki yang telah menjalin hubungan dengannya selama lima tahun lamanya.
Kamu diam? dan aku tau diam kamu itu...
Kamu mencintai orang itu, orang yang telah menjadi istrimu.
* * *
__ADS_1