
Aku balik lagi..
Semoga kalian suka...
Jangan lupa untuk tetap dukung aku dengan tinggalkan like, komen, vote, dan juga share ke teman kalian yang lain..
Dan jadikan cerita ini sebagai cerita favorit-nya kalian...!!!
Oke, kita lanjut lagi..
Happy reading.. ❤
* * *
"Maksud kamu apa sih Kak.?" Tanya Camelia dengan sedikit bingung.
"Maaf, aku tadi terpaksa mengatakan itu."
"Terpaksa kamu bilang?" Camelia menatap kesal pada laki-laki yang telah mengambil keputusan seenaknya saja.
"Hanya itu yang bisa aku lakukan, agar kakek merasa senang."
"Mudah sekali ya untuk kamu, mengatakan sesuatu yang belum tentu aku mau."
"Kamu pikir aku mau? "
Camelia benar-benar merasa kesal saat ini, bisa-bisanya Davin membuat suatu keputusan yang tidak ia inginkan sama sekali.
"Pokoknya aku gak mau." Ucap Camel kembali. "Aku gak mau kita menikah, aku gak cinta sama kamu.!"
Davin menatap balik Camelia yang sedari tadi tidak berhenti untuk bicara, ia menatap dengan tatapan seperti sedang mengejek gadis yang kini terlihat begitu kesal dan marah kepadanya.
"Jangan Pede kamu, siapa yang bilang kalau aku juga mau dan cinta sama kamu." Davin berdecak. "Asal kamu tau ya, kamu itu bukan wanita yang aku inginkan, kamu gak ada apa-apanya dengan siapapun."
Camelia menatap tajam pada Davin, ingin sekali rasanya ia mencakar mulutnya itu. "Ish... Kamu pikir aku juga mau sama cowok mesum kayak kamu? enggak ya..!!"
Davin terkejut, ia melongo dengan mulut ternganga. Davin mengira jika sosok gadis yang sedang bersamanya ini adalah gadis lemah lembut dan tidak banyak bicara, ternyata dugaannya salah. Dia adalah gadis yang sangat cerewet yang pernah ia kenal, Davin mengingat kejadian waktu itu dimana gadis ini melihat dirinya dan Yuan sedang berciuman.
"Apa? " Tanya Camelia dengan mata sedikit membulat.
"Heran aku, kenapa si Rakha cinta banget sama kamu.?" Ucap Davin santai.
__ADS_1
"Dia itu bukan kamu ya.?" Balas Camelia.
"Ya justru itu, untung aku bukan dia.."
Camelia terdiam, ia tidak ingin lagi berdebat dengan laki-laki yang tidak tahu malu dan sombong seperti Davin. Camelia terus berpikir seraya menyesap minuman dingin miliknya, sementara Davin ia hanya diam dengan pandangan menatap ke luar jendela kafe itu. Davin merutuki dirinya sendiri, dengan bodohnya ia mengatakan kepada sang kakek bahwa ia bersedia menerima perjodohan ini.
Di saat hening menyelimuti di antara mereka berdua, tiba-tiba saja terdengar dering ponsel miliknya Davin. Dengan segera Davin menggeser tombol hijau dan segera mengangkatnya.
"Ya... kenapa Ma?"
"Kamu dimana? cepat kalian kesini, kakek mencarimu, dia ingin bicara pada kalian berdua.!"
"Hmm... Aku akan segera kesana Ma..". Panggilan itupun berakhir. Davin menatap pada gadis yang kini sedang menatap balik ke arahnya.
" Kakek, dia ingin bertemu dengan kita." Ucap Davin seraya berdiri dari tempat duduknya saat ini. Dan Camelia mengikutinya dari belakang. Di saat mereka akan menyebrang, Davin sudah lebih dulu berjalan sedangkan Camelia masih tetap berdiri di tepi jalan.
Davin menoleh ke belakang, ia mengernyit heran menatap Camelia masih berdiri di tepi jalan. Davin hanya melihat Camelia dari kejauhan, ia memperhatikan Camelia yang sedang kebingungan.
Kenapa dengan dia? Apa dia tidak bisa menyebrang? dasar gadis manja..!!!
Disaat Davin akan menyusulnya tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti, ia melihat ada seseorang yang datang menghampiri Camelia dan orang itu menuntun Camelia untuk menyebrang jalanan yang penuh dengan lalu lalang mobil yang lewat.
"Kamu kenapa ninggalin aku sih.?" Gerutu Camelia pada Davin yang saat itu sama sekali tidak membantunya untuk menyebrang.
"Aku takut kalau nyebrang sendiri, bukannya manja."
"Sama aja..!"
Mereka jalan berdua dan masuk kembali ke ruang inap dimana sang kakek di rawat. Disana sang kakek sudah menunggu ke datangan mereka berdua. Sang kakek tersenyum saat melihat mereka masuk bersamaan.
"Darimana kalian, kakek senang melihat kalian bisa dekat kayak gini.? "
Davin dan Camelia-pun tersenyum dan mereka duduk di sebelah sang kakek.
"Apa kakek baik-baik saja? ada apa, tadi katanya kakek manggil kami berdua?"
Kakek Wijaya tersenyum, ia menatap lekat wajah mereka berdua. "Bagaimana, apa keputusan kalian berdua?" Tanya sang kakek.
Davin dan Camelia saling bertatapan, mereka saling melempar pandangan. Seolah-olah mereka sedang bertanya dan meminta sebuah jawaban untuk sang kakek.
"Kek... " Ucap Davin pelan.
__ADS_1
Sang kakek menatap wajah cucu laki-lakinya itu.
Davin menutup matanya erat sebelum memberanikan dirinya untuk kembali menjawab pertanyaan sang kakek.
"Aku ... Aku ... mau menerima perjodohan ini.!"
"Benarkah, apa yang kau ucapkan barusan?"
Davin menganggukkan kepalanya, sedangkan Camelia ia sangat terkejut,matanya melotot dengan sempurna dan mulut yang sedikit menganga.
"Tunggu, maksud kamu apa.?" Tanya Camelia pelan kepada Davin.
"Kenapa nak.?" Tanya sang kakek karena ia melihat Camelia yang sedang kebingungan.
Camelia menggelengkan kepalanya, ia tersenyum tipis pada sang kakek.
"Kalau kamu gak mau, kakek gak keberatan. Kakek gak bisa maksa kamu, cuma tadinya kakek sedikit berharap sama kamu, kerena kakek mau ikatan persaudaraan kakek sama kakek seno itu semakin erat." Dengan sedikit menunduk sang kakek berbicara.
Camelia bingung sendiri, ia menatap wajah laki-laki tua itu. Ternyata sang kakek sangat berharap jika ia juga mau menerima perjodohan ini. Camelia merapatkan matanya begitu erat, pikirannya saat ini tidak berjalan dengan baik. Camelia menatap Davin, ia melihat wajah datar laki-laki itu. Bagaimana bisa Davin menerima perjodohan ini.
Davin melihat bagaimana sekarang Camelia yang sangat gelisah dan terlihat gugup. Davin juga mengetahui jika sebenarnya Camelia tidak setuju dan tidak mau dengan perjodohan ini. Tetapi ia bersikap datar seperti biasanya, yang ia pikirkan saat ini hanyalah kesembuhan sang kakek, meski berat bagi Davin untuk mengatakan kalau dirinya setuju untuk menikah dengan gadis pilihan sang kakek.
"Kek, aku ... aku... " Ucap Camelia memecah keheningan, ia memilin jari tangannya.
"Ada satu syarat yang aku inginkan?" Timpalnya kembali.
Kakek Wijaya dan Davin menoleh secara bersamaan menatap wajah gadis itu dengan tatapan heran.
"Apa syarat yang kamu inginkan nak.?"
"Aku ingin tidak ada orang yang tau soal ini, aku tidak mau jika kita menikah orang lain mengetahui nya. Aku mau kalian semua menutupinya."
"Kenapa? " Tanya sang kakek kembali.
"Aku masih mau kuliah, dan aku gak mau terganggu dengan pernikahan ini."
"Jadi kamu menerima Davin.? "
Camelia menatap Davin sesaat, dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya, kek..!! "
__ADS_1
* * *