Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
lima puluh empat


__ADS_3

Selamat membaca....


* * *


"Selamat pagi sayang...!!" Davin berujar seraya tersenyum lebar.


"Kak ... Kamu." ucap Camelia dengan suara khas bangun tidur.


"Morning kiss." di kecupnya bibir tipis itu.


"Kak...!!"


"Kenapa?"


"Sejak kapan kamu bangun.?"


"Sejak kamu masih tidur."


Camelia tersenyum, mengerjap kecil berkali-kali untuk mengumpulkan seluruh nyawanya. Rasanya semua ini hanya mimpi baginya, setelah beberapa bulan menikah baru kali ini Camelia merasakan pernikahan yang sesungguhnya. Di tatapnya lekat wajah tampan itu.


"Kenapa liatin aku kayak gitu?"


Camelia tersenyum. "Gak pa-pa, aku cuma seneng ja Kak."


"Seneng kenapa?"


"Kamu jadi suami aku."


"Benarkah?"


Camelia mengangguk malu. "Ya."


Davin menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, memeluk tubuhnya dengan sangat erat.


"Kak... Lepas."


"Gak akan."


"Aku mau mandi."


"Bentar lagi."


"Kak...!!"


"Panggil sayang." bisiknya mesra. "Aku gak akan lepasin kamu kalau kamu gak panggil aku sayang.?"


Camelia terkekeh geli, tangannya meronta kecil untuk melepaskan pelukan itu.


"Sayang... " suaranya terdengar pelan.


"Apa? aku gak denger.?"


"Kak... Ih... " ujar Camelia dengan wajah yang bersemu.


"Coba ulang sekali lagi?" pintanya dengan sangat lembut.


Camelia membisu, entah kenapa ia merasa sangat malu jika harus memanggil suaminya dengan panggilan sayang, ini baru pertama untuknya dan hal itu sangat-sangat sulit keluar dari bibirnya yang tipis.


"Sayang ... Lepasin aku mau mandi." ucapnya dengan malu-malu.

__ADS_1


Davin terkekeh geli, di tatapannya wajah yang kini berubah merah seperti buah tomat itu. Ia pandang seluruh wajah itu, wajah yang terlihat cantik ketika bangun tidur. Davin tidak pernah menyangkal kalau Camelia adalah gadis yang sangat cantik, bahkan saat ia bertemu untuk yang pertama kalinya. Davin melihat sosok Camelia adalah gadis yang cantik, baik serta tidak banyak bicara. Dan yang tidak pernah Davin bayangkan sama sekali ialah bahwa sosok wanita ini-lah yang bisa membuatnya jatuh cinta dan melupakan kekasihnya.


"Satu hal yang harus kamu tau Camelia." menghela nafas. "Bahwa aku tidak pernah menyesali perjodohan itu." suara Davin terdengar begitu pelan dan lembut.


Camelia menatap balik mata itu, manik mata hitam pekat yang selalu ia rindukan. Kini keduanya saling melempar tatapan dalam satu garis lurus dan jarak yang sangat dekat. Hembusan nafas keduanya sangat terasa hangat dan menyapu permukaan wajah keduanya. Nafas dan jantung Camelia mulia tidak beraturan dengan dada yang naik turun.


"Aku juga Kak, aku tidak pernah menyesal karena aku menikah sama kamu, orang yang dulunya tidak aku kenal sama sekali dan orang yang bukan aku cintai." balasnya lembut.


Davin semakin dalam menatap wajah itu, wajah yang kini selalu menghiasi setiap hari-harinya. Davin teringat akan perkataan sang Kakek kalau suatu saat nanti rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, dan itu memang benar adanya rasa cinta yang dulu hanya untuk satu wanita, dan itu adalah kekasihnya sendiri, kini berubah terbalik rasa cinta itu telah tumbuh untuk gadis yang kini berstatus sebagai istrinya.


"Aku mencintaimu."


Camelia tersenyum. "Aku juga, aku sangat mencintaimu."


Dan tidak butuh waktu lama akhirnya mereka menyatukan bibirnya. Davin mencium bibir tipis itu, bibir yang kini mulai menjadi candu baginya. ********** lembut, dan menggigit kecil. Camelia mulai membalas ciuman itu, mengalungkan kedua tangannya pada leher lelaki itu. Mereka berciuman, saling berbalas hisapan serta *******. Bahkan lidah mereka saling berbelit mesra. Merasa pasokan udara mulai habis, Camelia melepaskan pangutan bibir itu, kini keduanya saling beradu tatapan dengan sorot mata yang mulai berkabut dan menggebu.


Davin tidak bisa lagi menahan saat ia melihat sorot mata istrinya yang mulai menyendu.


"Jangan menatap ku seperti itu."


"Kenapa?"


"Karena aku gak tahan dan gak akan bisa berhenti."


Camelia tersenyum, dan menutup matanya erat. Tangannya mulai mencengkram kuat saat Davin mulai menyentuhnya kembali. Menciumnya dengan sangat lembut, dan kini ciuman itu berubah menjadi lebih menuntut. Tangannya mulai bergerilya menyusup masuk pada baju yang Camelia kenakan. Menyentuh setiap lekukan tubuhnya dengan sangat lembut, membuat Camelia semakin kuat mencengkram dan menggigit bibirnya.


Pagi itu, mereka benar-benar menghabiskan waktunya hanya untuk bergumul di atas ranjang dengan peluh yang membasahi tubuh keduanya. Mereka sama-sama merasakan aura yang menggebu saat keduanya melakukan penyatuan.


Kini yang mereka rasakan hanyalah rasa lelah dan lapar yang menyerang.


"Terima kasih untuk semua yang telah kamu berikan.?" bisiknya lembut di telinga sang istri.


Kini pandangan keduanya beralih menatap langit-langit kamar dengan tangan yang saling menggenggam erat.


"Kak.. "


"Hmm.. "


"Besok kamu wisuda kan?"


"Ya, memangnya kenapa?"


Camelia menoleh menatap wajah suaminya dan tersenyum manis. "Gak papa."


"Besok, kamu temenin aku ya?"


Camelia terdiam, dan keterdiamannya itu membuat Davin menautkan kedua alisnya merasa bingung dan heran.


"Kenapa?"


"Kalau besok aku temenin kamu, apa kamu gak papa?"


"Maksudnya?"


"Semua orang akan tahu kalau kita punya hubungan kak."


Davin tersenyum, mengecup tangan yang lembut itu secara berkali-kali.


"Aku gak papa, malahan aku ingin bilang dan menunjukkan pada semua orang kalau kamu adalah istriku."

__ADS_1


"Terus... Gimana sama pacar kamu?"


"Dia sudah bukan pacar aku lagi."


"Dia pasti sakit hati dan akan kecewa."


"Sudahlah, jagan bahas dia. Aku gak mau kamu bahas tentang dia lagi, karena sekarang dia bukan siapa-siapa lagi buat aku."


"Tapi Kak __ "


"Jangan ngebantah."


Camelia terdiam, dan tersenyum manis. Tidak bisa di pungkiri kalau hatinya merasa senang dan bahagia saat sang suami dengan lantangnya mengatakan kalau sekarang wanita yang ia cintai adalah dirinya.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?"


Camelia menoleh menatap gemas wajah suaminya itu. "Kenapa gak boleh?"


"Kamu lagi mikirin apa?"


"Gak mikirin apa-apa."


"Jangan bohong.?"


"Aku gak bohong kak.."


Davin tersenyum dan menarik tubuh mungil itu dalam dekapannya. Mereka berpelukan dengan sangat erat, seolah mereka tidak ingin melepaskan pelukan itu satu sama lain.


"Kak...Aku lapar."


"Kamu lapar?"


Kepala itu mengangguk. "Ya."


"Ya udah kita sarapan dulu."


"Tapi sebelum sarapan, aku mau mandi dulu."


"Baiklah, kalau begitu kita mandi bersama ya?" ucap Davin dengan seringainya.


Camelia mengernyit menatap heran wajah suaminya itu.


"Aku gak mau mandi bareng."


"Kenapa?"


"Kamu ja yang mandi duluan."


"Katanya tadi mau mandi?"


"Ya, tapi bukan mandi bareng."


"Apa salahnya.?"


"Aku gak mau, kamu pasti akan ngelakuin yang aneh-aneh deh."


Davin tertawa dan mengusak rambutnya dengan lembut.


"Kenapa kamu pintar sekali sih.?"

__ADS_1


* * *


__ADS_2