Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
tiga puluh delapan


__ADS_3

Happy reading... ❤


* * *


Kemana dia? kenapa seharian ini dia gak ada di rumah.?


Camelia bergumam dalam hatinya, dan sesekali ia melihat ke arah jarum jam dan pintu masuk rumah itu. Saat dirinya berjalan ke arah dapur tiba-tiba saja langkah kakinya berhenti seketika saat mendengar suara pintu terbuka. Di balikan badan dan pandangan matanya itu jatuh pada sosok laki-laki yang seharian ini tidak ia lihat.


Ya, Davin baru saja kembali setelah seharian dirinya banyak menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Entah ada apa dengan dirinya saat ini, setelah kejadian malam itu Davin merasa sangat bersalah terhadap gadis yang sekarang sedang menatap dirinya. Bukan tanpa sebab ia pergi meninggalkan Camelia yang waktu itu masih tertidur dengan begitu pulasnya. Ada perasaan lain yang ia rasakan ketika dirinya tersadar dengan apa yang baru saja mereka lakukan waktu itu.


Bingung, cemas, khawatir itulah yang ia rasakan saat itu. Davin merasa bersalah karena ia tidak bisa menahan hasrat nya untuk tidak menyentuh Camelia waktu itu. Seharusnya ia bisa menahan agar dirinya tidak menyentuhnya, bukan tanpa alasan Davin berpikiran seperti itu, ia hanya takut akan perasaannya sendiri.


Di satu sisi Davin merasa cemburu dan tidak suka saat Camelia dekat atau pergi ke luar untuk menemui mantan pacarnya, tetapi di sisi lain ia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri yang masih mencintai Yuanita gadis yang sampai sekarang masih berstatus sebagai kekasihnya.


Davin sengaja pergi hanya untuk menenangkan pikirannya, ia ingin mencari tahu dengan perasaannya sendiri saat ini.


Apakah dia sudah mencintai Camelia saat ini?


Apakah perasaan cintanya telah tumbuh untuk gadis yang sudah lima bulan ini menjadi istrinya?


Apakah dia bisa meninggalkan Yuanita perempuan yang selama ini sangat ia cintai?


"Kak ... " ucap Camelia pelan mencoba untuk menutupi degub jantungnya yang tidak beraturan saat ini.


Davin menatapnya, dan tatapan matanya itu sangat membuat Camelia merasa bingung saat ini.


"Baru pulang? kamu sudah makan? aku buatkan kopi ya?" Camelia berujar sembari tersenyum tipis.


Dan lagi-lagi lelaki itu tidak menjawab ia hanya menatapnya dingin.


Camelia merasa gugup saat Davin terus menatapnya seperti itu. Camelia berusaha agar ia tetap terlihat tenang saat ini.


"Ya udah aku buatkan kop - "


"Jangan" tolaknya cepat. "Aku gak mau apa-apa."


Camelia meremat jari-jarinya, ia menundukkan wajahnya dan menatap lekat pada sendal rumahan yang sekarang sedang ia pakai.


"Kamu kenapa? aku ada salah?" ucapnya tiba-tiba saja keluar dari mulutnya itu.


"Aku gak pa-pa." jawab Davin santai.


"Kalau aku ada salah aku minta maaf Kak.?"

__ADS_1


Davin menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya kasar. "Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Aku ngerasa kamu berbeda."


Davin berdecak. "Berbeda apanya?"


"Kamu ngehindar dari aku, kamu seperti menjauhi aku."


"Itu hanya perasaan-mu saja." jawab Davin pelan. "Sudahlah, aku mau mandi dulu." sambungnya kembali.


Davin segera melangkahkan kakinya menuju ke arah tangga, saat ia hendak melangkah lebih jauh lagi tiba-tiba saja ia berhenti saat mendengar kembali suara yang terdengar sangat lembut di telinganya itu.


"Kak ... Untuk kemarin malam __ "


"Aku capek, mau mandi dulu." potongnya cepat.


Camelia menohok, merasa sesak di hatinya saat Davin berkata seperti itu.


Ya Tuhan kenapa rasanya sangat sakit sekali??


* * *


Pagi itu Davin sudah berangkat pergi dari rumahnya, bahkan sarapan yang sudah di persiapkan oleh Camelia masih terlihat utuh di meja makannya. Davin merasa dirinya harus segera berangkat ke rumah sakit karena sahabatnya Rakha sudah di ijinkan pulang hari ini. Ia berniat ingin menjemput dan mengantarkan Rakha pulang ke rumahnya.


Camelia menarik nafasnya dalam, ia mengusap lembut dada dengan telapak tangannya pelan.


Kenapa kamu seperti menghindar dari aku?


Apa aku ada salah sama kamu Kak.?


* * *


Camelia mengetuk pintu perlahan, dengan satu tangannya memegang parsel buah yang sudah ia beli sebelum masuk ke dalam ruangan dimana saat ini Rakha masih di rawat.


Semua menatap ke arah dimana Camelia sedang berdiri dan tersenyum dengan begitu manisnya.


Mama Merry, Rakha, Candra, Ryan, Davin bahkan Yuanita sudah berada disana. Mereka semua menatapnya, Mama Merry dan Rakha tersenyum senang saat melihat Camelia datang.


"Halo Tante, Hai... Kak." Camelia berujar dengan tersenyum dan segera mencium tangan Mama Merry.


"Hallo sayang ... Tante senang akhirnya kamu juga datang."


"Mel... Makasih ya kamu datang." ucap Rakha dengan tersenyum.

__ADS_1


"Gimana keadaan kamu sekarang Kak.?"


"Baik, dan sekarang sudah di ijinkan untuk pulang."


Camelia kembali tersenyum. " Benarkah?"


"Ya sayang, Rakha sudah boleh pulang hari ini. Dia sudah gak betah tinggal disini." Mama Merry tersenyum. "O iya, kemarin-kemarin kamu kemana katanya mau kesini? tau gak Mel ... Rakha itu setiap hari nungguin kamu loh.."


"Mahh.... " sewot Rakha pada Mama-nya itu.


Camelia hanya tersenyum tipis, ia menjadi serba salah saat semua orang sedang menatap dengan tersenyum ke arahnya.


"Ya Mel... bahkan dia sempat gak mau makan karena gak ada kamu katanya." ucap Candra terdengar sedang mengejek.


"Apaan sih lo.?"


"Ngaku ja lo? mumpung orangnya ada sekarang?" timpal Ryan dengan menaik turunkan kedua alisnya.


Rakha menatap kedua temannya itu dengan tatapan kesal. Sedangkan Mama Merry dan Yuanita hanya tersenyum.


Camelia sedikit melirik ke arah dimana saat ini Davin sedang menatapnya tajam.


"Udah... Udah... Kalian ini seperti anak kecil saja? gak inget apa sama umur kalian? bentar lagi kalian lulus loh? terus kapan mau mengenalkan pasangan kalian pada Tante?"


"Kita masih muda kok Tan... Dan kita masih mau sendiri, gak mau punya komitmen dulu." jawab Candra dengan santainya.


"Ah basi lo, ngaku ja kalo lo gak laku.?" sewot Ryan sengaja ingin menggoda sahabatnya itu.


"Sialan lo.."


Mereka semua tertawa, dan menggelengkan kepalanya pelan. Mereka tidak habis pikir di saat sedang seperti ini saja, mereka masih suka saling mengejek satu sama lain.


"O iya Vin... Kapan rencana kalian menikah?"


Mama Merry tersenyum menatap mereka berdua.


Davin tercengang saat mendengar pertanyaannya Tante Merry.


"Tante doakan saja ya, supaya kami secepatnya bisa menikah." Yuanita berujar dengan wajah yang sumringah.


"Ya dong sayang, lagian kalian memang pasangan yang sangat serasi ya kan Camelia.?"


"Hah... Apa??"

__ADS_1


* * *


__ADS_2