
Happy reading... ❤
* * *
Hanya ada keheningan yang terjadi antara kedua pasangan suami istri tersebut. Davin terdiam begitu juga dengan Camelia yang diam membisu, sang Kakek begitu lekat menatap wajah cucu laki-lakinya dan juga sang menantu. Di tatapnya secara bergantian wajah yang sedari tadi hanya menunduk itu, kakek Wijaya menghela nafas panjang sebelum ia mulai bersuara.
"Katakan pada Kakek sekarang apa yang sebenarnya terjadi antara kalian berdua?"
Davin dan Camelia langsung mengangkat wajahnya secara bersamaan, mereka menatap wajah sang kakek yang sedang menatap mereka dengan tatapan tajamnya.
"Kek, apa maksud kakek.?" Davin yang pertama menjawab pertanyaan dari Kakeknya itu.
"Kalian tidak bisa membohongi Kakek lagi, tidak baik jika kalian terus menyembunyikan sesuatu."
"Kek -- " ujar Camelia pelan.
"Kami tidak ada masalah apa-apa kek." ucap Davin yang langsung memotong perkataan Camelia.
Camelia langsung menoleh ke arah Davin dengan menautkan kedua alisnya, ia menatap raut wajah Davin yang datar tidak seperti biasanya.
"Benarkah? kalian tidak sedang membohongi Kakek kan?" ucap sang kakek dengan penuh selidik.
Davin terlihat begitu santai ketika sang Kakek terus menerus melayangkan beberapa pertanyaan kepada mereka berdua, berbeda dengan Camelia yang terlihat sedikit gugup saat sang Kakek yang terus saja bertanya. Dalam hatinya Camelia ingin sekali mengatakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan suaminya itu. Tentang pernikahan yang selama ini ia jalani. Camelia tidak ingin kembali membohongi sang Kakek.
"Kek - sebenarnya ada yang __ "
"Kami baik-baik saja kek." suara Davin kembali terdengar membuat Camelia mendelik dan kembali terdiam.
"Benarkan sayang...?" ujar Davin seraya tersenyum sangat manis dengan tangan yang menarik pinggang Camelia agar semakin mendekat.
Camelia terkejut saat Davin secara tiba-tiba menarik pinggangnya begitu saja. Dan ia semakin heran saat suaminya itu menarik tubuhnya agar semakin mendekat.
"Lepas." bisik Camelia pelan.
Davin hanya tersenyum tipis. "Aku gak akan lepasin kamu." balasnya lembut tepat di telinga sang istri.
Camelia melotot dengan sempurna saat Davin semakin erat memegang pinggangnya. Ia meronta kecil supaya Davin mau melepaskan tangannya yang melilit di tubuhnya itu. Camelia sangat malu dan risih dengan sikapnya Davin yang berani melakukan hal tersebut tepat di hadapan lelaki paruh baya itu.
"Kak, lepasin. Jangan gini."
"Kenapa?"
"Kakek liatin kita."
"Biarin ja."
"Aku malu."
"Kenapa mesti malu, biar Kakek tau kalau kita ini memang baik-baik saja."
"Tapi gak mesti gini juga, lepasin."
__ADS_1
"Gak mau."
"Kamu ini, lepasin gak? kalau enggak __ aku akan bilang sama Kakek apa yang sebenarnya terjadi antara kita."
"Coba ja kalau kamu berani?"
"Kenapa aku gak berani?"
"Sebelum kamu melakukan itu, aku akan lebih dulu membungkam mulut itu." ucap Davin dengan mengangkat sedikit dagunya.
"Apa?" Camelia terkejut dengan mulut yang sedikit menganga.
"Aku akan cium kamu di hadapan Kakek."
"Jangan ngaco kamu?"
"Kalau begitu, biarkan aku tetap seperti ini."
Camelia diam, ia tidak bisa lagi berbuat apa-apa selain membiarkan lelaki itu terus menerus memeluk tubuhnya dari samping.
"Aku kangen banget sama kamu." bisiknya sedukatif.
Camelia langsung menoleh ke arah dimana saat ini Davin sedang tersenyum dengan begitu santainya.
"Jangan bengong gitu, dan jangan merah gitu mukanya?"
Camelia benar-benar merasa gugup setengah mati, ia tidak pernah mengira jika Davin akan berkata seperti itu apalagi ini di hadapan sang Kakek yang hanya bisa menggeleng dan tersenyum tipis.
Davin tersenyum.
"Baiklah Kek, kita mau istirahat dulu. Kakek juga istirahat ya?"
"Hmm.... "
Kakek Wijaya segera masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Davin dan Camelia masih belum beranjak dari duduknya. Camelia menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia melepaskan tangan Davin yang masih setia memegang pinggangnya.
"Lepasin." ujar Camelia seraya melepaskan tangan lelaki itu dari pinggangnya.
Davin menoleh dan langsung menatap wajah yang sangat ia rindukan selama beberapa hari ini.
"Kenapa gak telpon aku kalau Kakek ada disini?"
"Salah kamu sendiri kenapa gak pulang." jawab Camelia ketus.
"Sekarang aku kan udah pulang."
"Lalu? kemana ja kamu selama ini?"
Davin diam membisu ia ingat kalau selama beberapa hari terakhir ini ia tidak pernah pulang ke rumah, Davin lebih sering banyak menghabiskan waktunya berada di apartemen.
"Apa kamu merindukanku?"
__ADS_1
Camelia langsung menoleh dan terlihat sangat gugup. "Gak."
"Lalu, kenapa aku begitu merindukanmu ya?"
Camelia terdiam mulutnya seakan terkunci untuk mengatakan sesuatu. Ia pandang manik mata itu dalam jarak yang sangat dekat, mereka berdua saling beradu tatapan. Davin menelusuri setiap lekuk wajah itu yang terlihat begitu sempurna. Begitupun dengan Camelia yang tidak berhenti untuk mengamati setiap pahatan dalam keadaan sempurna seperti Davin.
"Mel..." Davin berujar seraya menghela nafas panjang. "Maafkan aku."
"Kenapa minta maaf?"
"Karena aku ninggalin kamu sendirian di rumah."
"Udah biasa kok, kamu juga waktu itu ninggalin aku sendirian di apartemen." Camelia berujar santai.
Davin menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. "Aku minta maaf."
"Kamu tinggal dimana kemarin?"
"Di apartemen." di jedanya kalimat itu. "Mel... Aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu. Kemarin aku dan Yuan - "
"Jadi kalian tinggal bersama?" potong Camelia cepat.
"Bu - bukan seperti itu."
Camelia menggeleng seraya tersenyum sinis.
"Aku bisa jelasin semuanya." ucap Davin kembali.
"Aku gak mau dengar apa-apa lagi." Camelia berujar seraya berdiri melangkahkan kakinya untuk segera naik ke atas menuju kamarnya.
Davin segera mengikuti Camelia dari belakang dengan langkahnya yang tergesa. Camelia sudah berada di dalam kamar itu, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk menghindari Davin yang mengejarnya. Entah kenapa ia merasa dadanya sangat sesak saat mengetahui kalau laki-laki yang selama dua hari kemarin meninggalkannya malah bersama dengan wanita lain atau lebih tepatnya bersama dengan kekasihnya.
Camelia segera membasuh wajahnya, ia membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum tidur. Camelia keluar dari kamar mandi itu dan pandangan matanya jatuh pada sosok lelaki yang saat ini sedang bersandar pada pintu balkon kamar itu.
Davin menoleh dan ia melangkah mendekat dimana saat ini Camelia masih diam mematung.
"Aku bisa jelasin semuanya."
"Aku gak mau bahas itu. Aku mau tidur."
"Kemarin aku dan Yuanita memang berada di apartemen. Dan asal kamu tau, aku sudah bilang sama dia kalau aku sudah menikah."
Camelia terkejut dengan mata yang membulat sempurna.
"Mel ... Aku gak mau kita berpisah. Aku ingin tetap melanjutkan pernikahan ini sama kamu."
Davin menarik nafas dan menutup matanya erat.
"Karena aku mencintaimu."
* * *
__ADS_1