
Happy reading semua...
* * *
"Kalian tunggu disini?" Perintah Mahendra Dokter pribadinya Yuanita. "Jangan masuk sebelum saya perintahkan."
"Dok, aku mohon selamatkan dia."
"Kalian berdoa saja, semoga Yuan tidak apa-apa."
"Aku mohon Dok, selamatkan dia?"
"Saya akan melakukan yang terbaik."
Setelah itu, Dokter yang bernama Mahendra-pun segera masuk ke dalam ruangan operasi. Keadaan Yuanita semakin memburuk, jalan satu-satunya adalah ia harus melakukan operasi. Tetapi __ melihat bagaimana kondisi Yuan saat ini sang Dokter-pun hanya bisa pasrah.
Hampir tiga jam lamanya Yuanita berada di dalam ruang operasi. Davin, Camelia, Reni bahkan kedua orang tua Yuan sudah berada disana. Cemas, panik bahkan sampai mondar-mandir gak jelas. Kedua orang tuanya Yuan tidak berhenti menangis, mereka menyesal karena baru mengetahui penyakit yang di derita putri semata wayangnya itu.
"Bagaimana anak saya Dok?" pertanyaan pertama yang terlontar dari bibir ibunya itu.
Sang Dokter menghela nafas berat. "Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan berkehendak lain, Yuanita __ "
"Gak Dok, gak... " Jerit sang ibu kembali.
"Maafkan kami nyonya, anda yang sabar ya? Yuan __ dia sudah tidak ada."
"Apa?"
"Gak mungkin?"
"Ya Tuhan... Yuan..!!"
Ibunya Yuan kembali menangis histeris, tubuhnya merosot lemah dan tak berdaya. Ia menyesal karena di saat putrinya sakit mereka tidak berada di sampingnya. Di saat putrinya membutuhkan penyemangat, mereka jauh dari dirinya.
"Ma ... Sabar ma.. " ujar papanya Yuan mengingatkan istrinya itu.
"Pah ... Kenapa dia ninggalin kita secepat ini, kenapa pah? kenapa?"
"Ini sudah kehendaknya." ucap sang papah lirih. "Kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima nya dengan ikhlas."
"Ya Tuhan Yuan... " teriak nya kembali sebelum akhirnya mama-nya itu tidak sadarkan diri.
Papa-nya sangat terkejut, begitupun dengan mereka bertiga. Kepergian Yuanita memang meninggalkan kesedihan yang teramat dalam, mereka tidak mengira kalau Yuan akan meninggalkan mereka secepat ini. Bahkan di saat-saat terakhirnya pun mereka belum sempat mengatakan apa-apa. Untuk mengucapkan kata maaf saja mereka tidak mempunyai kesempatan sama sekali.
Kini Yuanita Tanuraharja sudah beristirahat dengan tenang.
* * *
Menatap sebuah pusaran bertuliskan nama Yuanita, ini adalah tempat peristirahatannya yang terakhir. Yuanita, ya Yuanita memang sudah pergi meninggalkan dunia ini. Reni masih menangis sembari memegang pusaran nama itu, ia tidak pernah mengira kalau Yuanita yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri akan pergi secepat ini. Selama ia menjadi manager dan asistennya, Yuan sama sekali tidak pernah merepotkan dirinya. Yuan yang ia kenal baik, periang serta pekerja keras.
Yuanita, kini nama itu hanya tinggal lah kenangan untuk mereka simpan di dalam hati.
Menjadi seorang model terkenal adalah impiannya, dan ia telah berhasil mewujudkan itu. Yuanita sangat senang ketika ia di nobatkan sebagai salah satu model terkenal nomer satu di Indonesia.
"Vin ... Mel, makasih ya selama ini kalian telah bantuin gue untuk ngejaga Yuan."
"Ren ... Kamu jangan bicara seperti itu."
"Maafin Yuan ya Vin, dia selalu ngerepotin elo. Belakangan ini dia selalu membuat lo dan Camelia kesusahan, maafin dia Vin, maafin Yuan." Dengan masih terisak Reni berujar lirih.
__ADS_1
"Udahlah Ren, gak usah di bahas lagi. Aku dan Camelia sama sekali gak keberatan."
Reni tersenyum. "Makasih Vin."
Sebelum mereka pergi, Davin dan Camelia kembali berjongkok, menatap dan mengusap pusaran nama yang bertuliskan nama gadis yang telah pergi meninggalkan mereka. Camelia menyimpan bunga seraya berkata.
"Yuan ... Maafin aku." Kembali Camelia meneteskan air matanya. Davin menggenggam tangan istrinya erat.
"Sudahlah sayang, lebih baik sekarang kita pulang. Yuan sudah beristirahat dengan tenang disana."
"Ya Kak."
Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, Davin kembali menoleh, menatap gundukan tanah yang penuh dengan taburan bunga di atasnya.
Beristirahat lah dengan tenang Yuanita...
Mengusap air bening itu dengan ibu jarinya. Lantas, ia genggam kembali tangan istrinya erat.
* * *
"Kak ..."
Davin menoleh. Lalu, tersenyum lebar.
"Lagi ngapain?"
"Ini." Tunjuknya pada satu batang rokok yang terselip di jari tangannya.
"Ngerokok terus sih?"
"Cuma satu kok."
Camelia menghampiri dan mensejajarkan tubuhnya di samping suaminya itu. "Kenapa belum tidur?"
"Aku gak bisa tidur."
"Kenapa?" Davin membuang rokoknya ke bawah, lalu menginjaknya pelan. Kemudian tangannya menarik pinggang Camelia, hingga ia berdiri di depannya.
"Gak tahu." Jawab Camelia pelan.
Davin memeluk tubuh istrinya itu dari belakang. "Kenapa gak bisa tidur?" Davin menyerukan wajahnya di perpotongan leher istrinya, sesekali mengecupnya.
"Kak ... "
"Kenapa?"
"Besok kamu mulai kerja kan?"
"Hmm ... Memangnya kenapa?"
"Gak apa-apa."
"Kamu mau ikut aku ke kantor?"
"Emangnya boleh?"
"Ya bolehlah sayang, sekalian besok kita beritahu Kakek tentang kehamilan kamu." Tangan Davin mulai merambat masuk ke dalam piyama Camelia, mengelus lembut perut yang masih terlihat rata itu.
"Besok kamu gak kuliah?" Davin mengecup leher Camelia, sesekali menghisap leher itu.
__ADS_1
"Gak ada kelas." Camelia menggigit bibirnya, saat Davin menyentuh dua gundukan sintal yang sekarang terlihat agak membesar sedikit.
"Kamu wangi sekali." Di gigit gemas telinga istrinya itu.
"Kak, lepas ih.!"
"Kenapa?" Tanyanya sembari mengecupi leher jengjang itu kembali.
"Jangan gini." Camelia menahan tangan Davin yang sedang meremas gemas dua gundukan sintal itu.
Davin membalik tubuh istrinya itu, hingga membuat dua mata mereka saling menatap.
"Kenapa liatin aku kayak gitu?" Mata bening itu menatapnya sendu.
"Kamu cantik."
"Alesan."
Davin terkekeh seraya menangkup wajah Camelia. "Aku serius sayang, kamu memang sangat cantik."
"Bilang ja kamu mau sesuatu dari aku kan?"
"Itu kamu tahu." Balas Davin sembari memiringkan wajahnya, lalu, mengecup lembut bibirnya.
"Kak.. " Camelia melepaskan pangutan itu, membuat Davin mengernyit bingung.
"Kenapa?"
"A __ Aku." ucapnya gugup.
Davin menatapnya dengan kening yang mengkerut dalam.
"Aku ingin makan bubur ayam."
Davin melohok dengan mulut sedikit terbuka. "Bubur ayam?"
Kepala itu mengangguk samar. "Ya."
"Bubur ayam darimana sih? ini udah malam sayang."
"Ya kamu cari sendiri lah Kak.."
Davin mendengkus pelan. "Mana ada sih yang jualan tengah malam gini."
"Pasti Ada." sela Camelia cepat.
"Dimana?"
Camelia mendesis. "Ya udah kalo gak mau." ia menjeda kalimatnya. "Aku gak bakalan kasih jatah selama satu bulan."
Apa??? Mana bisa??
Davin tercengang begitu mendengar penuturan yang baru saja di ucapkan oleh istrinya itu.
"Jadi gimana? mau cariin aku bubur, atau gak dapat jatah sama sekali selama satu bulan?"
Menghela nafas berat. "Ya udah aku cariin." Jawabnya malas. "Daripada gak bisa jenguk calon anak aku."
*Yah... Demi kamu Nak, Papa cari dulu bubur ya buat Mama, kamu tunggu Papa ya sayang..
__ADS_1
Nanti Papa jenguk kamu ya*..???
* * *