Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
dua puluh dua


__ADS_3

Happy reading... ❤


*****


Sesuai dengan rencana, kini Davin dan Camelia sudah pindah ke rumah baru yang telah di siapkan oleh sang Kakek sebagai hadiah untuk pernikahan mereka berdua. Meski awalnya Davin sempat menolak rumah pemberian dari Kakeknya itu, tetapi apa boleh buat jika sang Kakek yang sudah memberi perintah, tidak mudah bagi Davin jika ia menolaknya. Rumah itu sangat besar jika hanya di tempati oleh mereka berdua, rumah yang memiliki dua lantai, dan dua kamar di lantai atas.


Davin dan Camelia sepakat kalau mereka akan tidur terpisah, selama di rumah itu tidak ada orang lain. Davin menggunakan kamar utama, sedangkan Camelia menempati kamar yang satunya lagi. Tetapi kamar mereka bersebelahan.


"Kamu mau kemana.?" Tanya Camelia saat Davin baru saja turun dari kamarnya.


"Mau keluar."


"Mau sarapan gak?" Camelia sedang mengoleskan selai kacang ke beberapa roti yang ada di tangannya.


"Apa kamu bisa buat kopi.?"


Camelia menatap Davin dengan mengernyitkan dahinya. "Kamu kira aku gak bisa.?"


Davin hanya mengedikan bahunya. "Emang bisa.?"


"Ya bisalah ... Masa bikin kopi ja gak bisa."


"Aku kira kamu gak bisa apa-apa."


Camelia memicik tajam. "Kamu itu ya? ya udah aku buatin."


Camelia segera meletakan roti itu di atas piring dan segera berbalik badan ke arah dapur. Baru kali ini Camelia membuatkan kopi untuk Davin, karena dulu waktu masih tinggal di rumah mertua selalu sang asisten rumah tangga yang menyiapkan semuanya, termasuk dengan membuatkan kopi untuk Davin.


Camelia harus terbiasa dengan semua ini, karena bagaimana pun kini Camelia sudah mempunyai suami, meski mereka menikah hanya karena terpaksa dan harus pura-pura sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya saat sedang bersama dengan keluarga. Camelia membawa secangkir kopi itu dan meletakannya di atas meja makan.


"Kamu beneran gak mau sarapan.?"


"Gak, lagian aku nanti mau makan di luar." jawab Davin sambil menyesap kopi panas miliknya. "Lumayan."


"Apanya.?"


"Kopi yang kamu bikin." jawab Davin santai.


"Kamu mau pergi kemana.?"


Davin menoleh dan menatap Camelia. "Memangnya kenapa.?"


"Apa kamu bisa antar aku ke butik Mamah Rossa.?"

__ADS_1


"Mau ngapain.?"


"Gak tau, tadi Mama Rossa nelpon, katanya aku harus datang ke butiknya."


Davin hanya menganggukan kepalanya. "Ya udah kita berangkat sekarang."


Davin memang terlihat sebagai lelaki yang tidak suka banyak bicara, bahkan dengan Camelia-pun ia selalu bersikap dingin dan datar. Meski kini sudah satu minggu lamanya mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka sama-sama memberi batasan, baik Davin atau Camelia mereka tidak pernah ikut campur masalah masing-masing.


Seperti halnya kemarin, di saat mereka secara tidak sengaja bertemu di kafe itu, dan Rakha tiba-tiba saja pergi meninggalkan mereka semua termasuk dengan Camelia yang waktu itu masih diam mematung. Entah ada apa dengan Rakha saat itu, yang jelas Rakha terlihat sangat marah. Dari kemarin Ingin sekali Davin bertanya soal itu, tetapi ia urungkan karena bagaimana-pun itu bukan urusannya.


Camelia hanya akan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, ia akan menyiapkan semua keperluan Davin termasuk dengan membuatkan kopi dan makanannya. Dan tidak akan ada kontak fisik antara mereka berdua.


"Hallo sayangnya Mamah.. " Sapa hangat seorang wanita yang masih terlihat cantik meski usianya tidak lagi muda.


"Haii... Ma, maaf aku telat datangnya." Jawab Camelia sopan.


"Gak pa-pa, ayo duduk sini.?" Ajak mama Rossa pada mereka berdua.


"Maaf Ma, aku gak bisa lama." Ujar Davin yang masih berdiri di hadapan nya.


"Loh... Kenapa? memangnya kamu mau kemana Vin?"


"Aku mau keluar, ada urusan bentar. "


"Kalau gitu aku pamit ya.?"


Camelia dan Mama Rossa tersenyum, mereka hanya melihat kepergian Davin yang sudah berlalu pergi meninggalkan butik itu.


"Sayang, gimana setelah satu minggu kamu menjadi istrinya anak Mama. Apa Davin baik?"


Camelia menoleh, ia menatap wajah sang Mama mertua. "Ya Ma, Kak Davin baik kok."


"Davin itu anaknya memang sedikit keras kepala, dia juga bukan tipe orang yang ramah, tapi perlu kamu tau ya, Davin sebenarnya anak yang baik. Dan Mama percaya, Davin akan menjaga kamu dengan baik." Ujar Mama Rossa.


Camelia tersenyum lebar, "Ya Ma.."


Yang di katakan Mama emang benar semua, apalagi dengan sifatnya yang dingin itu kadang sangat menyebalkan.


"Ayo kita keluar.?"


"Mau kemana Ma.?"


"Kita cari makan di luar, sekalian Mama mau ngajak kamu jalan-jalan."

__ADS_1


Camelia mengangguk dan tersenyum, akhirnya mereka pergi meninggalkan butik itu, Mama Rossa yang mengemudikan mobilnya sendiri. Di dalam mobil mereka tidak berhenti tertawa, Camelia sangat puas karena ternyata Mama Rossa itu orangnya sedikit humoris.


"Oke, sudah sampai." Mama Rossa menghentikan mobilnya tepat di depan Restoran yang sangat terkenal itu. "Sayang, kamu masuk duluan ja, Mama cari parkir dulu."


"Emang gak pa-pa Ma, aku masuk duluan?"


"Ya udah gak pa-pa, sekalian langsung pesen makan ja ya?"


"Mama mau pesen apa.?"


"Salmon scrambled dan Fruit tea."


"Baik Ma.."


Camelia segera turun dari mobil, dan Mama Rossa menjalankan mobilnya untuk mencari parkiran. Camelia baru saja ingin masuk ke dalam resto itu, namun pandangannya tertuju pada sosok laki-laki yang sangat ia kenal.


Davin..??


Matanya terpaku, saat ia melihat ada seorang wanita yang sekarang sedang duduk bersama Davin. Camelia melihat dengan sangat jelas bahwa pria itu sedang memegang tangan seorang wanita. Wanita itu tidak asing dimata Camelia, ia mengenalnya karena wanita itu adalah kekasih dari suaminya. Camelia buru-buru menyadarkan dirinya.


Mama...


"Kenapa belum masuk sayang.?"


Camelia berbalik badan untuk menghadap sang Mama mertua, Camelia tidak ingin jika Mama mertuanya itu mengetahui kalau di dalam resto itu ada Davin sedang bersama dengan wanita lain.


"M - Mah, kayaknya kita gak jadi makan deh."


"Kenapa?" Tanya Mama Rossa yang terlihat sedikit bingung.


"Maaf Mah, tiba-tiba saja kepala aku pusing banget." Camelia meringis, dan pura-pura memijit pelipisnya pelan.


Mama Rossa menatap Camelia heran. Meskipun akhirnya ia mengangguk setuju. "Kamu gak pa-pa kan? ya udah mama antar kamu periksa ke Dokter ya?"


Camelia tercengang, ia menggeleng. "Gak usah Ma, aku cuma butuh istirahat saja kok. Nanti juga sembuh sendiri."


Mama Rossa tersenyum, terlihat jelas dalam raut wajahnya ia sangat mencemaskan keadaan menantunya itu. "Kamu yakin? Mama khawatir banget sama kamu sayang?"


Hati Camelia mencelos, ia merasa tidak enak hati karena telah membohongi Mama mertuanya itu.


Maafkan aku Ma...


maaf telah berbohong...

__ADS_1


* * *


__ADS_2