Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
tiga puluh enam


__ADS_3

Happy reading...


* * *


"Mau kemana kamu?"


"Aku mau ke rumah sakit." Jawabnya ketus.


"Mau ngapain?"


"Apa kamu lupa, kalau Rakha ada disana?"


Entahlah yang jelas saat ini Davin benar-benar merasa tidak suka melihat Camelia yang sering bolak balik ke rumah sakit itu. Ingin sekali Davin mencegah agar istrinya itu tidak pergi dari rumah. Seminggu sudah Rakha masih di rawat di rumah sakit, dan disitu juga Camelia lebih sering mengunjungi Rakha disana di banding dengan tinggal diam di rumah.


"Kamu gak bisa pergi?"


"Kenapa? apa salahnya?"


"Karena kamu belum masak buat aku, kamu juga belum beres-beres rumah kan?"


Camelia mendesis, ia mendelik tajam ke arah dimana saat ini lelaki itu sedang melotot ke arahnya.


"Apa salahnya kamu masak sendiri, kalau urusan beresin rumah nanti ja pulang dari rumah sakit."


"Gak bisa gitu dong?" sewot Davin gak mau kalah.


"Kamu masak dulu, habis itu beresin rumah."


"Apaan sih?" gerutu Camelia pelan.


"Apa kamu lupa kalau aku ini suamimu? seorang istri gak boleh keluar tanpa seijin suaminya." dengan penuh penekanan Davin mengatakan kata suami tersebut.


Camelia memicik tajam, dan tersenyum sinis. "Apa suami? sejak kapan kamu nganggap aku sebagai seorang istri?"


Davin menohok, pertanyaan itu tepat pada sasarannya sangat mengena sekali di hatinya.


"Kenapa diam Kak?"

__ADS_1


"Tapi status kita memang suami istri kan?"


Camelia mengangguk pelan. "Ya, dan hanya status."


"Meskipun hanya status, tapi kita tetap suami istri yang sah. Dan aku __ aku masih suami kamu, jadi kamu harus nurut sama aku, dan jangan ngebantah." dengan nada dingin Davin berkata dan sebuah seringai di wajahnya.


"Kalau begitu apa pantas seseorang yang sudah menikah masih menjalin hubungan dengan wanita lain di luaran sana?"


"Wanita lain yang kamu maksud itu adalah kekasihku."


"Apa bedanya? tetap saja namanya selingkuh."


Davin menggeram, menarik nafas dalam dan mengeluarkannya kasar. "Kamu...!!" tunjuknya pada Camelia.


"Apa aku salah?" balas Camelia kembali. "Kalau kamu memang nganggap aku sebagai istri, aku mau kamu putusin pacar kamu itu."


"Apa maksud kamu?"


"Selama aku masih menjadi istrimu, aku ingin kamu tinggalin pacar kamu itu."


"Jangan harap."


Davin menggeram, rahangnya mengeras, mengepalkan kedua tangannya kuat. Menutup matanya erat, mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terpancing oleh amarahnya sendiri.


"Coba saja kalau kamu berani?" ucapnya masih dengan nada dingin.


Davin menatap Camelia tajam, membuat Camelia merasa takut di buatnya


"Ke - kenapa gak berani?" ucapnya terbata.


"Sebelum kamu melakukan itu, aku sendiri yang akan mencegahnya."


"Apa maksud kamu?"


Davin menyeringai, ia menatap Camelia dingin.


"Akan aku pastikan kalau Rakha tidak akan menerimamu kembali."

__ADS_1


"Kata siapa? Rakha sangat cinta sama aku, dan aku akan meyakinkan dia tentang pernikahan ini yang hanya pura-pura."


"Dan itu gak akan terjadi."


"Kita lihat saja nanti." balasnya tak kalah sengit.


Camelia sudah tidak tahan dengan sikap suaminya itu. Davin selalu bertindak seenaknya sendiri, ia tidak pernah mengetahui bagaimana perasaannya Camelia saat ini. Sebisa mungkin Camelia selalu menyembunyikan perasaan cintanya itu terhadap Davin, ia tidak ingin kelihatan lemah di hadapan lelaki itu.


"Mau apa kamu?" ucap Camelia gugup saat Davin melangkah mendekat ke arahnya.


Camelia mundur perlahan, ia sangat takut jika melihat bagaimana tatapan Davin sekarang. Davin menatap Camelia dengan sorot mata yang tidak biasanya, ia menatap Camelia seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup.


"K - Kak."


Semakin melangkah mundur, Davin semakin mendekat ke arahnya. Dan tanpa di sadari ternyata Camelia sudah benar-benar tidak bisa lagi menjauh karena kini tubuhnya sudah menyender pada pintu keluar rumah itu. Davin segera mengunci pintu itu, memasukan kuncinya ke dalam kantung celana yang ia pakai.


Sementara Camelia ia langsung menutup matanya erat saat Davin sudah berada dengan jarak yang sangat dekat dengan dirinya. Bahkan Camelia bisa merasakan hembusan nafas laki-laki itu menerpa permukaan wajahnya hingga terasa hangat. Yang Camelia takutkan sekarang adalah ia takut kalau Davin akan menciumnya kembali, sama seperti waktu itu.


"Kamu gak akan bisa keluar." bisiknya pelan tepat di telinga gadis yang sekarang sedang menutup matanya itu. "Dan aku gak akan cium kamu."


Camelia membuka matanya perlahan mengerjap kecil berkali-kali, melongo dengan mulut menganga.


"Karena sekali aku lakuin itu, aku takut tidak bisa berhenti dan hilang kendali." ucap Davin kembali masih dengan bisikan halusnya.


Camelia kembali memejamkan matanya, darahnya terasa panas saat ia merasakan hembusan nafas Davin menerpa permukaan telinganya. Camelia membuka mata dan kini ia memberanikan dirinya untuk menatap lekat netra hitam milik suaminya itu.


Kini keduanya saling baradu tatapan dengan jarak yang sangat dekat, mereka seolah-olah sedang berbicara dengan tatapan itu. Camelia begitu lekat memandang wajah suaminya itu, begitupun dengan Davin di tatapnya dalam wajah cantik yang selama ini baru ia sadari.


Bagaimanapun mereka berdua adalah pasangan suami istri, mereka juga sama-sama sudah dewasa. Davin adalah pria normal pada umumnya, ia akan merasa hasratnya naik begitu saja ketika sedang bersama dengan seorang gadis, apalagi sekarang ia sedang bersama dengan seseorang yang telah berhasil membuat dirinya merasakan cemburu. Terus di pandanginya wajah cantik itu, ingin sekali rasanya sekarang ia memeluk, mencium dan bercumbu dengan Camelia saat ini juga.


Apa yang aku pikirkan?


Davin segera membuang pikirannya itu, ia tidak ingin hanyut lebih dalam lagi. Dengan sekuat tenaga ia akan mengendalikan hawa nafsunya, meski sekarang rasanya akan sangat sulit karena dirinya sudah benar-benar tergoda oleh gadis manja yang sekarang sedang menggigit bibir bawahnya dan menatapnya dengan tatapan polosnya itu.


"Jangan menatapku dan menggigit bibir seperti itu.?" Darahnya sudah naik hingga ke ubun-ubun, tatapan matanya berubah menggebu dengan nafas yang memburu.


Davin segera mengalihkan pandangannya itu, ia takut jika terus menatapnya Davin tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Davin mengusap wajahnya kasar saat ia mendapati Camelia yang masih terus menatapnya dan tidak mendengarkan ucapannya barusan.

__ADS_1


Davin menutup matanya sesaat. "Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Jangan salahkan aku karena kamu tidak mendengarkan-ku. Dan aku tidak akan berhenti."


* * *


__ADS_2