Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
empat puluh delapan


__ADS_3

Hallo semua aku balik lagi nih....


Jangan lupa setelah membaca tinggalkan like, komen, share ke temen kalian yang lain, dan vote-nya juga buat aku.


Terima kasih banyak buat kalian semua yang sudah kasih aku dukungan.. 🙏🏻


Mohon maaf bila ada kesalahan ya..


Kalau gitu kita lanjut yu...


Happy reading... ❤


* * *


Sudah dua hari Camelia tidak pernah bertemu dengan Davin suaminya itu. Camelia tinggal sendirian di rumahnya, setiap malam ia tidak bisa memejamkan matanya untuk tidur. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Davin suaminya. Camelia merasa kehilangan dan kesepian saat Davin tidak berada di sampingnya. Camelia mengerti dengan perubahan sikapnya Davin yang mendiamkannya selama beberapa hari ini, jangankan untuk menelepon memberi kabar saja tidak pernah. Ia juga bingung dengan keadaan rumah tangganya sendiri.


Satu sisi Camelia sangat mencintai Davin tetapi di sisi lain ia juga tidak ingin memaksakan kehendaknya sendiri agar laki-laki itu mencintai dirinya. Camelia sadar jika sampai saat ini Davin belum bisa membuka hati sepenuhnya untuk dirinya, ia juga sadar kalau Davin masih mencintai wanita itu, wanita yang masih menjadi kekasihnya sampai saat ini.


Di tatapnya langit-langit kamar itu, kamar yang sudah menjadi saksi bisu bagaimana mereka selalu menghabiskan banyak waktu hanya untuk saling menyatukan hasrat cintanya. Camelia menutup matanya begitu erat, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat merindukan laki-laki itu, ia rindu dengan suaranya, senyuman, harum tubuhnya serta sentuhannya.


Kenapa aku sangat merindukan dia?


Sedang apa dia sekarang?


Apa dia baik-baik saja?


Apa dia ingat sama aku?


Apa dia juga merindukan-ku?


Ya Tuhan... jika dia adalah jodohku aku ingin agar pernikahan kami bertahan tanpa ada halangan apapun. Tetapi seandainya jika kami memang tidak berjodoh maka mudahkanlah untuk kami berdua agar bisa menerima semua ini dengan hati yang ikhlas.


Camelia mengusap lembut pipinya saat air mata itu menetes. Ia tersenyum getir dan memegang kuat dadanya. Camelia terkejut saat ia mendengar ada panggilan masuk dari ponselnya, dengan segera ia mengambil dan melihat siapa orang yang sedang menelponnya sekarang, Camelia melongo saat ia melihat nama sang Kakek yang tertera di layar ponselnya yang masih menyalah.


Kakek? gumam Camelia dalam hatinya.


Camelia segera mengangkat teleponnya.


"Halo, kek ada apa?"


"Halo sayang, apa kamu sudah tidur?"


"Eu - belum kek, memangnya kenapa?"


"Maaf kakek mengganggu malam-malam begini."


"Gak apa-apa kek, memangnya ada apa?"


"Sekarang kakek ada di depan rumah kamu."

__ADS_1


"APA....!!!" Camelia sangat terkejut, hingga suaranya terdengar begitu nyaring.


"Kamu kenapa? kamu gak senang kakek datang?"


"Eh... Bu - bukan begitu kek." menghela nafas panjang. "Ya udah aku turun sekarang."


Camelia segera menutup panggilannya, dan menaruh ponsel miliknya begitu saja. Camelia sedikit panik, ia sangat gelisah saat mengetahui kalau kakek Wijaya ada di rumahnya saat ini.


Aduh bagaimana ini?


Davin tidak ada lagi..?


"Kakek." Suara Camelia saat pertama kali membuka pintu masuk itu.


Kakek Wijaya tersenyum begitu senang saat ia melihat wajah Camelia saat ini.


"Maaf ya kek, lama nungguinnya?"


"Gak apa-apa, kakek yang seharusnya minta maaf sama kamu karena datang malam-malam begini."


"Ya udah yu kek silahkan masuk." Camelia berujar dengan sangat lembut.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah itu, Camelia panik, ia sangat bingung bagaimana jika seandainya Kakek Wijaya bertanya soal Davin.


"Davin dimana Camelia?" ujar kakek Wijaya seraya mengesap teh hangat yang di berikan oleh menantunya itu.


Camelia melongo dan begitu terlihat gugup.


"Sampai malam begini?"


"Ya kek."


Kakek Wijaya menatap wajah Camelia, ia merasa ada yang berbeda dan terlihat aneh dengan menantunya itu.


"Kalau begitu biar Kakek yang telpon dia."


"Tapi Kek ___ " sebelum Camelia melanjutkan kata-katanya kakek Wijaya lebih dulu menghubungi Davin.


"Halo..!" suara seseorang terdengar di seberang sana.


"Kamu dimana?" tanya sang Kakek ketus.


"Aku - aku.. "


"Kenapa kamu gak pulang? kamu tinggalkan istri kamu sendirian di rumah, suami macam apa kamu Davin?" bentak sang kakek begitu geram.


"Kakek dimana?"


"Sekarang pulanglah, kakek ada di rumah kamu."

__ADS_1


Begitu terkejutnya Davin saat ia mendengar kalau kakeknya itu berada di rumah bersama dengan Camelia saat ini.


Davin menarik nafas panjang. "Baik kek, aku segera kesana."


Davin mengusap wajahnya kasar, mengacak rambutnya gusar.


"Kamu kenapa?"


"Maaf aku harus pulang sekarang."


"Kenapa? bukannya kamu janji sama aku, kamu mau temenin aku disini."


"Aku minta maaf, kakek ada di rumah aku sekarang."


"Kamu kenapa selalu mementingkan kakek kamu daripada aku."


"Karena dia kakek aku, dia segalanya buat aku."


"Terus aku apa?"


"Yuan aku mohon, aku sudah bilang sama kamu kalau aku sudah menikah."


"Tapi kamu masih cinta sama aku kan?"


"Maafkan aku. Aku harus segera pergi, aku harap kamu segera sehat kembali."


"Gak ... Davin kamu jangan pergi, kamu jangan tinggalin aku." teriak Yuan begitu saja saat Davin pergi menjauh dari dirinya.


Yuanita menangis sejadi-jadinya, air mata itu tidak berhenti menetes dari matanya yang bulat. Yuanita begitu sakit, bukan hanya tubuhnya yang sakit tapi hati dan perasaannya saat ini sangat terasa sakit.


Yuanita sangat senang saat orang yang pertama kali ia lihat adalah Davin, laki-laki itu menemani Yuan saat dirinya jatuh pingsan di apartemen milik Davin waktu itu. Yuanita jatuh pingsan, tubuhnya terasa lemas dan tidak bertulang saat ia mengetahui kalau Davin sudah menikah, bahkan yang membuat dirinya semakin lemah dan sesak adalah ketika ia mengetahui kalau Davin sudah mencintai wanita itu, wanita yang di jodohkan oleh kakeknya sendiri dan wanita yang kini telah menjadi istrinya.


Kenapa kamu tega sama aku Davin?


* * *


"Kakek.."


"Kemana ja kamu anak bodoh."


"Maaf kek, tadi ada urusan di luar."


"Dengan meninggalkan istri kamu sendirian di rumah." balas sang kakek dengan ketus.


Davin terdiam, dan kini pandangan matanya itu menoleh ke arah gadis yang sekarang sedang berdiri tepat di samping sang kakek. Davin melihat wajah itu, wajah yang sudah beberapa hari ini tidak pernah ia lihat, wajah yang selalu ia rindukan setiap harinya. Sumpah demi apapun Davin ingin sekali memeluk erat tubuhnya saat ini, ia sangat merindukan istrinya itu.


Camelia terlihat risih dan gugup saat ia melihat tatapan mata itu yang tidak berhenti untuk menatapnya, Camelia juga merasakan hal yang sama, ia sangat rindu dengan suaminya itu.


Ya Tuhan... ada apa dengan hatiku.

__ADS_1


* * *


__ADS_2