Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
lima puluh tujuh


__ADS_3

Selamat membaca semua.. ❤


* * *


Malam semakin larut, matanya semakin sembab. Berkali-kali ia melihat ke arah jarum jam yang terus berputar, berharap jika sang suami akan memberinya kabar. Beberapa kali mencoba untuk menghubunginya, tetapi sayang semua itu tidak ada hasilnya sama sekali.


Air bening itu kini kembali menetes membasahi pipi mulusnya, keluar tanpa Camelia sadari, entah sampai dia akan terus menangis. Matanya tidak bisa terpejam sama sekali, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Davin suaminya itu.


Camelia sendiri, semuanya terasa hampa dan kosong. Pandangan matanya terus mengabsen ke setiap sudut ruangan, sangat berharap jika Davin suaminya itu akan datang.


Dimana dia?


Apa yang sedang dia lakukan?


Apakah dia lupa, kalau aku sedang menunggunya?


Di saat pikirannya sedang kosong, di saat itu pula ponsel miliknya berdering. Camelia terperanjat kaget, bibirnya sedikit tersenyum berharap jika orang yang menghubunginya adalah Davin.


Segera berlari untuk meraih ponsel yang tergeletak di atas sofa.


"Hallo ..."


"Mel ... "


"Kenapa kak?"


"Maaf aku hubungi kamu malam-malam."


"Gak pa-pa." jawabnya pelan.


"Mel ... Aku dapat kabar kalau Davin __ " menghela nafas berat. "Dia ada di apartemennya Yuan."


Camelia membisu, bibirnya bergetar dan dadanya terasa sesak. Sakit ... Jelas hatinya sangat sakit, menarik nafas dalam dan menutup matanya erat, berharap apa yang baru saja dia dengar semuanya salah.


"Mel... " satu kali panggilan.


"Mel... " dua kali masih belum ada jawaban.


"Melia...!! " suara Rakha terdengar meninggi.


"Hallo... Mel, kamu baik-baik saja kan?"


Camelia mendengar, cuman bibirnya terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu. Kembali menarik nafas dalam dan mencoba untuk tetap tenang. Ia tidak ingin membuat Rakha khawatir.


"Ya kak.. "


"Kamu gak pa-pa kan?"


"Aku gak pa-pa kok." ujar Camelia lirih. "Kak, terima kasih ya?"


Rakha menghela, ia tahu kalau sekarang Camelia sedang tidak baik-baik saja. Camelia adalah gadis yang sudah sangat Rakha kenal dengan baik. Hatinya mencelos, ketika ia tahu kalau gadis yang sangat di cintainya sedang menangis.


"Mel... ?"


"Kak, kalau begitu aku tidur dulu ya?" potong Camelia cepat.


Rakha terdiam, menutup matanya erat. "Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk hubungi aku." menarik nafas. "Sampai kapanpun aku akan selalu ada buat kamu."


Camelia terdiam, dan tanpa terasa air matanya itu kembali menetes.


"Aku menyesal karena sudah melepaskanmu."


"Kak ... "

__ADS_1


"Aku tau Mel, aku salah."


"Kak ... "


"Aku gak ingin kamu menangis."


"Kak ... "


"Aku masih mencintaimu." Rakha berujar dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.


Camelia terdiam dan merasa terkejut, saat mengetahui kalau laki-laki itu masih mencintai-nya.


"Kak ... Aku mohon."


"Mel ... Aku akan selalu ada buat kamu."


"Kak ... Jangan bilang itu lagi, aku sudah menikah. Dan aku sangat mencintai suamiku."


Rakha berdecak. "Suami.? suami macam apa dia?"


"Kak ... Aku mohon jangan buat aku seperti ini, aku sangat percaya padanya, dan aku yakin dia juga sangat mencintaiku." Camelia berujar dengan isakan pelan.


"Kalau dia mencintaimu, dia tidak akan membuatmu menangis seperti ini. Dia tidak akan meninggalkan-mu sendirian demi wanita lain."


Suara tangisan itu semakin terdengar di telinganya, membuat Rakha semakin menggeram kesal. Sumpah demi apapun kalau saat ini ingin sekali ia menemui Camelia, mendekap tubuhnya dan memeluknya erat.


"Hati aku sakit, jika kamu menangis seperti itu."


* * *


Berada di tempat yang berbeda, Davin masih setia menjaga Yuan yang sedang terlelap dalam tidurnya. Memandangi wajah cantik yang sekarang terlihat begitu pucat.


Hanya merasa kasihan itulah yang Davin rasakan saat ini. Memijit pelipisnya pelan berharap agar rasa pusing yang sedang ia rasakan segera hilang.


Davin menoleh dan menatap wajah Reni sang manager dari Yuanita.


"Sorry ... gue telat datang, gimana keadaan Yuan sekarang?" pertanyaan itu kembali di lontarkan-nya.


"Dia sudah baikan, biarkan dia untuk istirahat dulu."


"Kenapa gak di rawat dulu di rumah sakit sih.?"


"Dia gak mau."


Menghela nafas. "Kenapa Yuan bisa seperti ini? memangnya dia sakit apa?"


"Kata Dokter dia cuma kelelahan karena kurang istirahat." jawab Davin bohong.


"Sepertinya __ Yuan sekarang sering jatuh sakit."


Davin terdiam, matanya menatap dalam ke arah dimana gadis itu masih terlelap tidur.


"Kasihan dia, semenjak dia tau kalau kamu sudah menikah, Yuan menjadi pendiam, dan dia lebih sering menyendiri."


Davin membisu, dan menutup matanya sekilas.


"Vin ... Apa sebaiknya kamu pulang untuk istirahat dulu. Kamu pasti lelah kan?" menghela nafas. "Yuan, biar aku yang jagain."


Davin melihat jam yang berada di pergelangan tangannya.


"Apa kamu gak pa-pa kalau aku tinggal.?"


Reni tersenyum tipis. "Gak papa Vin, sebaiknya kamu pulang. Istri kamu pasti sedang nunggu kamu."

__ADS_1


Deg


Jantung-nya tiba-tiba berdebar cepat.


Camelia...


Ya Tuhan ... Kenapa aku bisa melupakan dia?


Davin segera merogoh ponsel dari dalam saku celananya, mengusap wajahnya kasar saat ponsel miliknya mati karena kehabisan baterai.


"Baiklah, kalau gitu aku pulang sekarang. Kamu jaga Yuan baik-baik."


Reni kembali tersenyum. "Ya Vin, aku akan jaga dia kok."


Davin meraih kunci mobilnya, dengan segera ia keluar dari apartemen milik Yuanita. Melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata, berharap bahwa ia akan segera sampai ke rumahnya untuk bertemu dengan sang istri.


Setibanya di rumah, langkah kaki-nya tiba-tiba terhenti saat ia mendapati sosok tubuh mungil itu sedang di dapur berdiri membelakangi nya.


Davin mendekat, dan memeluk tubuhnya dari belakang


"Mel ... "


Camelia begitu terkejut saat tangan kekar lelaki itu melingkar di perutnya. Camelia sudah mengenal tangan itu, tangan yang selalu membelainya di setiap saat.


"Kenapa belum tidur.?"


Camelia membisu, bibirnya terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu.


"Ini sudah malam, kenapa belum tidur?" lagi-lagi Davin bertanya.


Diam, dan itulah yang sekarang sedang Camelia lakukan. Entah ada apa dengan hatinya sekarang, kenapa tiba-tiba saja ia merasa sedih saat lelaki itu pulang ke rumahnya. Camelia tidak bisa lagi menahan tangisnya, ia terisak pelan membuat Davin terkejut.


"Sayang ... Kamu kenapa?" mengurai pelukannya seraya membalikan butuh Camelia.


Camelia menunduk, ia tidak ingin menatap wajah tampan yang terlihat sedikit berantakan itu.


"Ya ampun ... Sayang, aku mohon jangan menangis? aku minta maaf."


Tangisan itu semakin terdengar, membuat Davin semakin merasa bersalah.


"Maafkan aku.."


"Kamu jahat." Camelia berujar di sela isak tangisnya. "Aku benci kamu."


"Sayang ... "


"Jangan panggil aku sayang." Camelia menyentak tangan yang hendak memegang bahunya itu.


Davin menohok, menatap dalam mata bulat yang sekarang sudah terlihat sangat sembab itu. Merasa bersalah karena telah membuat sang istri menangis.


"Aku benci kamu."


"Maafkan aku. "


"Aku benci kamu kak.."


"Aku mencintai kamu."


"Kamu jahat. Aku benci ... benci, ben ____ "


Camelia terdiam, saat laki-laki itu membungkam mulutnya.


* * *

__ADS_1


__ADS_2