Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
tiga puluh sembilan


__ADS_3

Selamat membaca...


* * *


"Hah ... Apa??"


Camelia sangat terkejut dengan pertanyaan tante Merry, ia menjadi gugup dengan sesekali melirik ke arah Davin dan Yuanita.


"Mereka pasangan yang serasi bukan?" ulang tante Merry kembali.


Camelia tersenyum, dan kini pandangan matanya itu beralih pada kedua pasangan kekasih itu. Camelia melirik secara bergantian kepada mereka berdua.


"Ya." di jedanya kalimat itu. "Tante benar kok mereka memang pasangan yang sangat serasi." ujarnya lirih.


Yuanita tersenyum dengan begitu lebarnya, sedangkan Davin ia hanya terdiam dan menatap Camelia dengan tatapan yang tidak bisa di artikan sama sekali. Davin menatap wajah polos itu dengan begitu lekat, mereka saling beradu tatapan dalam waktu yang cukup lama. Bisa Davin rasakan bagaimana perasaannya Camelia saat ini, ia juga bisa melihat ada raut kesedihan yang terpancar dari kedua bola mata bulat itu.


Saat mereka masih setia dengan tatapannya, disana ada seseorang yang sedang melihat ke arah keduanya dengan tatapan heran. Disana di tempat tidur itu, Rakha begitu lekat menatap keduanya, ada perasaan aneh, curiga dan penasaran ketika ia melihat Davin dan Camelia saling beradu tatapan.


"Mel ... " panggil Rakha secara tiba-tiba.


Camelia dan Davin terperanjat kaget, keduanya langsung menoleh ke arah suara dimana saat ini Rakha sedang tersenyum kepada Camelia.


"Ya, kenapa Kak?"


"Bisa kesini sebentar?"


Camelia tersenyum, ia berjalan mendekati dimana saat ini Rakha sedang duduk di tepi ranjang rumah sakit itu.


"Ada apa Kak?"


"Sini.. " Rakha memberi isyarat dengan telunjuknya agar Camelia semakin mendekat.


Camelia segera mencondongkan tubuhnya, mereka kini saling menatap dalam diam. Rakha sedikit memajukan wajahnya dan berbisik tepat di sebelah telinganya Camelia.


"Jangan bergerak, sebentar saja, biarkan aku seperti ini dulu." bisiknya pelan tanpa ada seorangpun yang bisa mendengarnya.


Camelia mengernyit bingung, tanpa berpikir panjang ia-pun menuruti apa yang di inginkan oleh Rakha sang mantan kekasih itu.


Rakha sedikit melirik ke arah sahabatnya itu, dan benar saja tanpa di sadari oleh semuanya Rakha bisa melihat bagaimana raut wajah Davin saat ini. Davin mengepalkan kedua tangannya erat, rahangnya mengeras dan sorot mata itu, Rakha sudah bisa menebaknya kalau saat ini sahabatnya itu sedang menahan amarah. Rakha menarik sedikit ujung bibirnya ke atas dan tampaklah seperti sebuah seringai di wajahnya.

__ADS_1


Akan aku pastikan kebenarannya apa yang sebenarnya terjadi antara kalian berdua??


Di tatapnya kembali wajah Davin saat ini. Entahlah yang pasti sekarang ada perasaan curiga terhadap mereka berdua. Rakha mengingat kembali perkataan Camelia waktu itu, yang mengatakan bahwa dirinya sudah menikah, ia juga mendengar dengan sendirinya kalau Davin akan di jodohkan oleh sang kakek waktu itu. Rasa penasaran dan juga kecurigaan itu semakin bertambah ketika dirinya melihat ada sesuatu yang berbeda di antara tatapan mereka berdua.


Apa jangan-jangan?? gumam Rakha yang masih begitu penasarannya.


"Maaf Mel, makasih ya?" ujar Rakha pelan.


Camelia tersenyum meskipun ia tidak mengerti sama sekali kenapa Rakha bersikap tidak seperti biasanya.


"Ayo sayang kita bisa pulang sekarang, maaf ya lama tadi Mama urus administrasi nya dulu." tiba-tiba saja suara yang terdengar begitu nyaring masuk ke dalam ruangan itu.


Mereka semua menoleh ke arah suara tante Merry.


"Ayo, kamu sudah siap kan nak?"


Rakha hanya mengangguk dan tersenyum. "Ya Ma.."


Mereka semua keluar dari ruangan dimana Rakha saat itu di rawat, berjalan ke luar melewati lorong rumah sakit. Davin, Yuanita, Candra dan juga Ryan menggunakan satu mobil yang sama yaitu milik Davin. Sementara tante Merry dan Rakha menggunakan mobilnya sendiri. Davin masih berada di luar saat itu, ia melihat Camelia yang masih berdiri disana, sebenarnya ingin sekali ia mengajak Camelia masuk ke dalam mobilnya tapi keinginannya itu terlambat ketika ia mendengar suara Rakha dan tante Merry.


"Sayang ayo naik?" ajak tante Merry pada Camelia.


"Loh... Kenapa?"


"Aku harus pulang. Maaf ya tante." Camelia berujar sambil tersenyum dengan begitu manisnya.


"Padahal tante sudah siapin semuanya loh di rumah, kita makan siang bareng. Sayang ... ikut ya sebentar, tante mohon?"


"Mel...!!" kini giliran Rakha yang memanggilnya. "Ya udah sekalian ja, lagian kita searah kok, aku bisa anterin kamu pulang dulu."


Camelia menggeleng. "Gak usah Kak, aku bisa naik taxi kok."


Rakha sedikit melirik ke arah Davin, kemudian ia berjalan mendekat dimana saat ini Camelia masih berdiri.


"Mel... Aku mohon kamu ikut ke rumah dulu ya? apa kamu gak kasihan sama Mama, dia udah nyiapin semuanya."


"Tapi Kak ak ___ "


"Gak pa-pa, aku yakin kalau suamimu tau dia juga gak bakalan marah kok." potong Rakha cepat, matanya sedikit melirik, sengaja berkata seperti itu supaya Davin bisa mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Baiklah.... " jawab Camelia pelan sesekali melirik ke arah Davin dan langsung menundukkan wajahnya.


Rakha tersenyum dengan begitu lebarnya. Saat Camelia hendak masuk ke dalam mobilnya Rakha, tiba-tiba saja ia menoleh ke arah dimana saat ini Davin sedang menatapnya tajam.


Ya ampun kenapa dia terus menatapku seperti itu?


Berada di dalam mobil yang berbeda, Davin mengendarai mobilnya di atas kecepatan rata-rata. Yang menjadi pikirannya saat ini hanyalah istrinya Camelia dan Rakha sahabatnya itu. Rakha sudah benar-benar membuatnya merasakan cemburu.


Shit....


Gumam Davin dalam hatinya, menggeram dan mencengkram kuat kemudi mobilnya.


Brengsek...


Lagi-lagi Davin tidak bisa mengontrol dirinya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Yuan tiba-tiba.


Davin terkejut, ia menoleh ke arah dimana saat ini kekasihnya itu sedang menatap heran kepadanya.


"Aku gak pa-pa kok."


"Kamu yakin?"


Davin mengangguk dan tersenyum. "Ya."


Yuanita merasa kalau saat ini Davin sedang tidak baik-baik saja. Ia menatap bingung, merasa aneh dengan sikapnya Davin yang sedari tadi hanya diam tidak seperti biasanya.


Semua mobil sudah terparkir tepat di halaman rumahnya Rakha dan tante Merry. Kedatangan mereka semua di sambut baik oleh sang asisten rumah tangga, mereka berjalan masuk ke dalam rumah yang terbilang cukup besar itu. Mereka duduk sebentar di ruang tamu sebelum akhirnya tante Merry menyuruh semuanya untuk langsung menuju meja makan.


"Maaf ya tante cuma bisa sediain ini buat kalian?"


"Gak pa-pa kok tan, kita jadi ngerepotin kalau begini." Candra berujar seraya menyengir kaku.


Hening, itulah saat semua sedang menyantap makanannya, hanya suara sendok dan piring yang beradu. Tidak ada satupun yang mengeluarkan suaranya, hanya sesekali saling menatap dan saling melempar senyum.


*Baiklah s*emakin kalian diam, maka semakin aku penasaran di buatnya.


* * *

__ADS_1


__ADS_2