
Hallo semua...
Aku balik lagi..
Happy reading.. ❤
* * *
"Kenapa kamu membawaku kesini.?"
Davin menoleh, ia menatap wajah Camelia. Mereka saling menatap dalam satu garis lurus. Tidak ada suara yang keluar saat itu, mereka hanya terdiam, dan hanya tatapan matanya-lah yang saling berinteraksi saat ini.
Davin menatap Camelia dengan sangat dingin dan dalam, ia juga bisa melihat bagaimana raut wajah Camelia saat ini. Sebenarnya ada hal yang ingin Davin bicarakan dengan gadis yang tengah bersamanya sekarang, ia ingin membicarakan dan membahas tentang rencana mereka berdua mengenai bagaimana nanti dengan perjanjian yang sudah mereka sepakati bersama.
Berbeda dengan Camelia, sangat risih baginya jika Davin terus menatapnya seperti itu. Camelia terlihat sangat gugup saat Davin tidak berhenti menatap wajahnya. Sorot mata Davin saat ini seolah sedang menguliti dirinya. Camelia segera menundukkan wajahnya, ia tidak ingin melihat sorot mata itu.
"Apa yang sebenarnya mau kamu bicarakan sama aku.?" Tanya Camelia dengan sedikit gugup.
Davin menarik nafasnya dalam, dan mengeluarkannya perlahan. Ia mengguyar rambutnya ke belakang dan mengusap wajahnya kasar. Davin kembali menatap wajah Camelia yang sedang menunduk itu.
"Gimana kalau kita batalkan perjodohan ini." Ucap Davin dingin.
Camelia segera mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk, ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja laki-laki itu bicarakan. Kenapa di saat semuanya sudah berjalan bahkan waktu mereka yang hanya tinggal menghitung hari saja, dan dengan mudahnya juga seorang Davin ingin membatalkan semuanya.
"Maksud kamu apa.?" Tanya Camelia dengan tatapan penuh tanya.
"Kita batalin rencana pernikahan kita.!!" Jawab Davin santai.
"Kenapa baru sekarang kamu bilang ini, kenapa gak dari dulu kamu menolak perjodohan ini? apa kamu lupa kamu sendiri yang menyetujuinya kan.?"
"Aku tau aku yang salah, waktu itu aku benar-benar tidak bisa berpikir dengan tenang."
Camelia tersenyum miring, ia menatap wajah Davin. "Aku gak merasa keberatan jika kamu ingin membatalkan rencana pernikahan kita, tapi perlu kamu tau apa yang akan terjadi sama kakek Wijaya dan kedua orang tua kita kalau kita membatalkan-nya.?"
Davin menatap Camelia yang sedang berbicara kepada nya. Sebenarnya apa yang di katakan oleh gadis ini memang benar adanya, ia memikirkan kembali bagaimana jika seandainya mereka berdua membatalkan rencana pernikahan mereka, apa yang akan terjadi dengan kedua keluarganya terutama pada kakek-nya.
"Bukankan kita sudah sepakat, kalau kita hanya berpura-pura menikah.? bukankah kamu yang bilang kalau kita menikah hanya dalam waktu satu tahun lamanya.?" Ucap Camelia kembali.
__ADS_1
Sebenarnya ada rasa senang di hati Camelia saat Davin ingin membatalkan rencana pernikahan mereka. Tetapi ada hal yang lain yang menjadi pikirannya saat ini, ia memikirkan sang kakek ia tidak ingin mengecewakan kakek Wijaya lagi. Camelia teringat bagaimana senangnya kakek Wijaya saat Davin menyetujui untuk menerima perjodohan ini.
"Tenang saja kak, selama kita menikah aku akan menganggapmu sebagai seorang kakak atau sahabat." Ucap Camelia dengan sedikit tersenyum.
Davin memicingkan matanya, ia menatap Camelia yang sedang tersenyum kepadanya.
"Kenapa menatap ku seperti itu.?"
Davin berdecak, "Ck, aku hanya bingung dengan pikiranmu."
"Bingung kenapa.?"
"Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat sama cewek manja kayak kamu."
"Apa kamu bilang..? Aku gak manja ya.!" Sewot Camelia yang tidak terima dengan ucapan-nya Davin.
Davin hanya menyunggingkan senyuman saat melihat Camelia seperti itu, ia berlalu pergi begitu saja dan meninggalkan Camelia yang masih menggerutu tidak jelas.
Apa aku siap menikah dengan gadis manja seperti dia...???
* * *
Semua tersenyum, begitu juga dengan Davin dan Camelia. Mereka berpura-pura untuk tetap tersenyum di hadapan semuanya meski dalam hati keduanya sama-sama sedang merasakan kesedihan.
Acara pertunangan itu berjalan dengan lancar, hanya keluarga dan saudara dekat saja yang menyaksikan, tidak banyak orang yang hadir disana, karena mereka semua menuruti keinginan dari kedua pasangan itu.
Davin terlihat sangat tampan hari ini, begitu juga dengan Camelia yang terlihat begitu cantik.
"Baiklah, ayo kita foto bersama." Ucap mama Indah kepada semuanya.
Mereka semua mengangguk dan tersenyum, mereka mengambil beberapa foto yang akan mereka abadikan, karena ini adalah hari yang sangat bahagia untuk kedua keluarga besar itu.
"Sayang senyum dong.?" Ucap mama Rossa saat Davin dan Camelia hanya berdua untuk di foto.
Mereka berdua menjadi salah tingkah saat sang fotografer mengarahkan mereka untuk saling berdekatan dengan jarak yang sangat dekat, agar hasil foto itu terlihat lebih bagus. Davin menatap Camelia dengan dalam dan ia menyeringai lebih lebar.
"Kamu nagapain.?" Camelia terkejut saat Davin tiba-tiba saja menarik pinggangnya.
__ADS_1
"Aku harus melakukannya, demi semua orang yang sedang melihat kita." Bisiknya pelan di telinga Camelia.
"Tapi gak gini juga kan.?" Camelia terus berusaha untuk melepaskan tangan Davin yang masih setia berada di pinggangnya.
"Jangan bertindak bodoh, lihat semua sedang memperhatikan kita, jadi berpura-pura lah, dan tersenyum, mengerti.?"
Camelia menatap Davin dengan tajam, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena saat ini Davin menguasai dirinya. Maka dari itu Camelia mencoba untuk tersenyum meskipun terpaksa.
Mereka saling menatap dalam diam, wajah mereka saat ini sangatlah dekat, baik Davin ataupun Camelia keduanya terlihat sangat gelisah dan gugup.
Baru pertama kalinya Davin bisa melihat wajah Camelia dari dekat, setiap gerakan matanya seperti sedang meneliti setiap lekuk wajah cantiknya. Bola matanya bergerak dan ia tersenyum tipis saat Camelia segera memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Tersenyum-lah." Ucap Davin dengan menggenggam tangan Camelia.
Dengan terpaksa Camelia-pun tersenyum dengan sangat manis. Mereka harus terus berpura-pura seperti itu. Entah sampai kapan mereka akan bertahan dengan situasi seperti ini.
"Wah... lihat ini fotonya bagus ya.?"
"Mana coba aku lihat.?"
"Kalian memang pasangan yang serasi, cantik dan juga tampan." Sewot mama Rossa dengan begitu senangnya.
"Apa kalian suka hasil fotonya.?"
Davin dan Camelia saling menatap sebentar, kemudian mereka berdua tersenyum tipis. Ada Rasa canggung di antara keduanya saat ini, entah kenapa tiba-tiba saja mereka berdua salah tingkah saat sang kakek berbicara seolah sedang mengejek mereka berdua.
"Kakek pastikan kalian akan saling mencintai."
Ucap sang kakek dengan menepuk bahunya Davin.
* * *
Tetap semangat untuk kasih dukungan ya dengan tinggalkan like, komen, share ke teman kalian yang lain, dan vote-nya juga buat aku..
Jadikan cerita ini juga sebagai cerita favorit-nya kalian ya..?
__ADS_1
Terima kasih... ❤