Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
dua puluh tujuh


__ADS_3

Happy reading... ❤


****


Pagi itu Davin mendengus dengan langkah malas memasuki dapur, tidak ada sarapan tidak ada kopi panas yang tersedia di meja makan. Davin menyadari kalau saat ini rumahnya terasa sepi, ia menyadari kalau kehadiran Camelia sudah terbiasa di dalam rumah itu. Semalam gadis itu mengirimkannya pesan, kalau ia akan menginap di rumah kedua orang tuanya sampai lusa.


Davin mengabsen seluruh ruangan dapur itu, biasanya yang ia lihat pertama kali saat masuk ke area dapur itu adalah istrinya. Davin selalu melihat Camelia sedang sibuk dengan pekerjaan di dapur, Davin mengetahui meski Camelia termasuk gadis yang manja, tetapi kalau dalam urusan dapur Camelia orang yang cukup pandai dalam memasak, sama halnya seperti sekarang, Davin membuat secangkir kopi ia mengesapnya beberapa kali ada yang berbeda rasa kopi buatannya sendiri dengan kopi buatan istrinya itu.


"Kok gini ya.?" Gumamnya sendiri.


Sudah satu bulan ini Davin terbiasa dengan kehadiran Camelia, dan kopi buatan sang istri. Davin mengakui kalau Camelia selalu melaksanakan tugasnya sebagai istri yang baik, meski terkadang ia selalu melihat sikap manja dari diri istrinya itu.


Davin melihat ke arah jam dinding, sebenarnya hari ini sang Kakek memintanya untuk datang ke kantor. Sudah beberapa hari terkahir, Davin selalu datang ke kantor atas perintah dari Kakeknya. Karena mulai sekarang dan mungkin seterusnya Davin yang akan mengambil alih perusahaan yang di kelola oleh keluarganya.


Davin segera merogoh ponsel dari dalam saku celananya, ia melihat layar ponselnya yang menyalah dan tertera nama Kakek Wijaya disana.


"Kenapa Kek?"


"Kamu dimana?"


"Aku masih dirumah."


"Ya udah, Kakek tunggu kamu di kantor sekarang ya?"


"Hmm... Baiklah Kek, aku segera kesana."


Panggilan itupun berakhir, Davin segera bergegas mengambil kunci mobil dan keluar dari rumah itu. Davin mengendarai mobilnya di atas rata-rata, sesampainya di parkiran gedung perusahaan itu, Davin keluar dan segera berjalan masuk ke dalam perusahaan yang akan ia pimpin nantinya.


Semua pegawai dan para karyawan sudah mengetahui kalau Davin adalah cucu dari sang pemilik perusahaan, saat melihat Davin masuk ke dalam gedung itu semuanya tersenyum ramah mereka menyambut ke datangan Davin dengan baik. Seperti biasa Davin selalu menjadi pusat perhatian, banyak para karyawan yang berbisik-bisik saat Davin berjalan melewati mereka.



"Gila ... Ganteng banget..!!"

__ADS_1


"Yang gue tau, dia bakalan jadi Direktur kita."


"Ya ampun ... bakalan betah gue di kantor kalau setiap hari ada dia disini."


Dan masih banyak lagi ocehan dari para karyawan yang lain, Davin yang mendengar hanya bersikap datar dan acuh seperti biasanya.


Davin segera di sambut oleh kaki tangannya sang Kakek, ia menyuruh Davin untuk segera masuk ke ruang kerjanya kakek Wijaya.


"Silahkan masuk tuan Davin."


"Makasih.. "


Davin-pun masuk, ia melihat kakek Wijaya yang tengah berdiri dan tersenyum kepadanya.


"Selamat datang cucu kakek."


"Kek.. " Ucap Davin seraya menghambur memeluk tubuh lelaki tua itu.


"Gak pa-pa Vin ... Gimana keadaan kamu dan Camelia.?"


Davin tersenyum, "Baik kek.."


"Kakek berharap, semoga kalian cepat memberi keturunan buat kami semua.." Ucap sang kakek dengan wajah tegasnya.


Davin terkejut dengan apa yang di katakan oleh kakeknya itu barusan.


Apa seorang cucu??


Bagaimana mungkin?


Aku dan dia saja belum pernah melakukan apa-apa, bahkan tidur saja kami terpisah.


Davin tersenyum kikuk, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Selama berada di perusahaan itu, Kakek Wijaya meminta Davin untuk mengamati dan menyerahkan beberapa dokumen untuk ia pelajari. Kakek Wijaya hanya duduk sambil menyaksikan cucunya yang sedang di beri pengarahan oleh Raditya asisten sekaligus sekretaris pribadinya kakek Wijaya.

__ADS_1


Davin hanya memperhatikan sambil membolak-balikan berkas yang berada di tangannya, ia melirik sekilas ke arah dimana kakek Wijaya sedang duduk dan menatap ke arahnya. Entah ada apa dengan Davin, saat ia melihat wajah sang kakek tiba-tiba saja pikirannya jatuh pada gadis yang sedari kemarin tidak ia lihat.


Kenapa aku jadi teringat dia???


* * *


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam lamanya, akhirnya Davin memarkirkan mobilnya tepat di depan pekarangan rumahnya Camelia. Davin sengaja tidak memberitahukannya terlebih dulu, karena sepulangnya dari kantor tiba-tiba saja Davin teringat ingin menyusul Camelia dan ikut menginap di rumah mertuanya itu.


"Eh ... Kamu Vin, Mama kira siapa? ayo masuk.?" Sambut mama Indah dengan tersenyum hangat menyambut kedatangan menantunya itu.


Davin segera memberi salam dan memeluk mama Indah. Ia tersenyum seraya berujar,


"Maaf Mah, baru sempet ke rumah, soalnya aku baru pulang dari kantor nya Kakek."


"Ya udah gak apa-apa, kamu pasti capek? ya udah sekarang langsung ke kamar Camelia ja ya di atas, dia juga ada di kamarnya kok."


Davin mengangguk, ia tersenyum menyetujui, Davin memang sangat lelah, karena seharian ini dirinya menghabiskan banyak waktu untuk memeriksa beberapa dokumen perusahaan atas perintah dari kakeknya itu.


Setelah meminta ijin, Davin kemudian melangkah menuju kamar Camelia yang berada di lantai atas. Ini pertama kalinya bagi Davin masuk lebih dalam ke rumah ini. Davin mendorong pintu masuk kamar itu, ia menatap ke sekeliling kamar yang bernuansa serba putih dan ungu itu, terdapat banyak boneka di atas sofa, lemari bahkan tempat tidurnya. Davin sedikit menarik ujung bibirnya ke atas saat ia melihat poto anak kecil dengan kunciran di rambutnya. Davin juga mengetahui satu hal kalau Camelia menyukai sesuatu yang berwarna putih dan juga ungu.


Davin segera merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia mengetahui kalau sekarang Camelia sedang berada di kamar mandi karena terdengar bunyi gemericik air. Davin berbaring dengan kedua tangan menyanggah di kepala. Davin menutup matanya sebentar sebelum Camelia ke luar dari kamar mandi itu.


"Wangi sekali." Guman Davin yang mencium aroma sabun mandi yang di gunakan oleh istrinya itu.


Setelah menyelesaikan beberapa waktu di dalam kamar mandi, akhirnya Camelia keluar dengan hanya melilitkan handuk pada tubuhnya. Camelia tidak pernah mengira kalau akan ada seorang laki-laki yang berada di dalam kamarnya. Camelia terdiam mematung di ambang pintu kamar mandi, ia mengerjap beberapa kali, ia melihat kalau Davin ada di ranjangnya dan sekarang sedang memejamkan matanya.


"Ya Tuhan ... Kamu? Ngapain ada disini.?"


Davin seketika membuka matanya yang tertutup, ia melihat Camelia yang masih diam mematung. Davin sedikit menarik ujung bibirnya ke atas, ia menatap Camelia dari atas sampai bawah seraya berkata.


"Apa salah jika aku berada di kamar istriku sendiri.?"


* * *

__ADS_1


__ADS_2