Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
tiga puluh dua


__ADS_3

Balik lagi bawa ceritanya Camelia...


Semoga suka ya?


Maaf ya aku up-nya agak telat...


Jangan lupa tetep dukung aku.. dengan


Tinggalkan like, komen, vote-nya, dan juga share ke temen kalian yang lain..


Aku menunggu semuanya...


Kalau begitu kita lanjut lagi yu..


Selamat membaca buat semua... ❤


* * *


"Apa-apaan ini? kenapa aku gak bisa tidur?" gumam Davin pelan, ia mengusap wajahnya kasar serta mengacak rambutnya. "Kenapa aku jadi mikirin dia sih?"


Davin beranjak turun dari ranjangnya, ia mengambil bungkus rokok yang tergeletak di atas nakas. Menurut Davin di saat dirinya sedang seperti ini, hanya rokok-lah yang ia butuhkan sekarang. Davin berdiri di balkon kamarnya, ia melihat pemandangan di sekitar rumahnya pada malam hari. Pikiran Davin menerawang jauh entah kemana, yang jelas saat ini ia masih memikirkan semua perkataannya Camelia.


Tanpa terasa malam sudah semakin larut, Davin masih berada di balkon itu, ia juga sudah menghabiskan beberapa batang rokok. Davin beranjak keluar dari kamar itu, ia hendak turun ke dapur untuk mengambil air minum. Saat Davin melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur, tiba-tiba kakinya berhenti begitu saja, Davin terdiam sesaat, ia melihat kalau Camelia juga sedang berada di dapur itu.


Camelia menyadari kehadiran Davin disana, ia mencoba untuk menenangkan dirinya. Camelia menoleh dan tersenyum tipis pada lelaki yang sedari tadi masih diam itu.


"Kak... " ucap Camelia sambil tersenyum.


"Sedang apa kamu disini.?"


"Ini... " tunjuk Camelia pada secangkir gelas yang sudah berisi kopi panas di dalamnya.


"Kamu belum tidur Kak.?"


"Belum.."


"Apa kamu mau kopi?"

__ADS_1


Davin berjalan mendekat ke arah dimana Camelia sedang duduk di meja makan itu.


"Boleh."


Camelia mengangguk dan tersenyum, "Ya udah bentar ya, aku buatkan dulu."


Camelia segera berdiri dari duduknya, dan tidak butuh waktu yang lama ia membawa secangkir kopi itu untuk Davin.


"Ini."


"Hmm... " jawab Davin saraya menyesap kopi yang di buatkan oleh istrinya itu.


Hening, itulah yang di rasa pada malam ini. Mereka berdua terdiam, mereka hanya sama-sama saling melempar senyum serta menyesap kopinya masing-masing. Sesekali mereka saling melempar tatapan, dan itu tidak bertahan lama, karena kini di antara keduanya sama-sama terlihat canggung.


"Kenapa belum tidur?" tanya Davin untuk memecahkan kecanggungan yang terjadi antara mereka berdua.


"Belum ngantuk." jawab Camelia santai.


"Aku baru tau kalau kamu juga suka minum kopi.?" ujarnya kembali.


Camelia menatap Davin dan ia tersenyum ke arahnya. "Cuma sesekali, kalau lagi pengen ja."


Camelia sadar, dan ia segera mengalihkan pandangan matanya itu ke sembarang arah. Camelia berusaha untuk menutupi rasa gugupnya, dan Camelia sudah bertekad kalau dirinya akan memasang tembok penghalang di antara dirinya dan Davin. Camelia tidak ingin jika ia bersikap bodoh lagi sama seperti tadi, di saat dirinya dengan lantang meminta sesuatu yang sudah pasti Davin akan menolaknya.


Camelia merasakan perasaan yang berbeda ketika Davin menciumnya waktu itu. Entah kenapa rasa itu tumbuh begitu saja di hatinya, hingga kemarin saat ia mengatakan kepada Rakha kalau dirinya sudah menikah. Disitu juga ia memberanikan dirinya untuk meminta hal yang konyol kepada Davin. Dan sudah jelas kalau Davin akan menolak permintaannya itu, karena ia tahu kalau Davin tidak memilki perasaan apa-apa untuk dirinya.


"Mel...?"


Camelia sedikit terkejut saat suara itu memanggilnya. "Ya." ia memberanikan diri menatap Davin. "Kenapa Kak.?"


"Untuk yang tadi __ "


"Jangan di bahas lagi, aku minta maaf sama kamu Kak, mungkin tadi aku cuma kebawa perasaan ja." potongnya cepat, ia tersenyum kikuk. Camelia mencoba untuk menutupi kegugupannya itu.


Davin mengerutkan keningnya, ia menatap Camelia bingung. "Aku harap juga begitu, karena bagaimanapun tidak mungkin di antara kita ada perasaan. Aku juga mau bilang sama kamu kalau aku sangat mencintai kekasihku."


Hatinya mencelos, kenapa tiba-tiba saja ia merasakan sesak saat laki-laki itu secara terang-terangan mengingatkan tentang perasaan cintanya terhadap sang kekasih.

__ADS_1


"Aku tau kok, kamu gak usah khawatir Kak, aku juga bisa jaga hati dan perasaan aku. Dan mungkin hatiku memang bukan untuk kamu." Camelia berujar lirih, sesak itulah yang di rasakannya saat ini.


"Dan untuk ciuman itu ... " Davin menjeda kalimatnya. "Aku harap kamu gak menganggapnya lebih. Waktu itu aku hanya terbawa perasaan juga."


Camelia menarik nafasnya dalam, ia menutup matanya erat sesaat. Entah kenapa rasanya sangat sakit, Camelia berusaha bersikap tenang meski sekarang ingin sekali rasanya ia menangis.


Ya Tuhan.... Kenapa rasanya sakit sekali.


Camelia mengangkat wajahnya, ia menatap dalam lelaki yang baru saja menggoreskan sedikit luka di hatinya. Camelia menyunggingkan sedikit bibirnya ke atas ia menatap Davin lekat.


"Tenang saja Kak, aku hanya sedikit membandingkan saat aku berciuman denganmu dan Rakha, ternyata kamu gak ada apa-apanya. Aku lebih menikmati saat Rakha menciumku." ujarnya dingin seraya tersenyum tipis.


Davin menatap Camelia tajam, rahangnya mengeras dan tatapan matanya seolah sedang menguliti dirinya.


Davin menyeringai, ia menatap tajam gadis yang sekarang sedang tersenyum meledek ke arahnya.


"Benarkah seperti itu.?"


Camelia kembali tersenyum, "Aku rasa memang seperti itu." jawabnya kembali.


Camelia berdiri dari kursinya, ia hendak meninggalkan Davin yang masih menatap tajam pada dirinya. Camelia ingin menghindar dari tatapan itu, dan bukan maksud dirinya pula mengatakan hal bodoh semacam itu. Ia hanya ingin membuat Davin kesal, dan ternyata itu berhasil. Sebenarnya Camelia sangat takut melihat keadaan Davin yang seperti itu.


"Aku rasa ini sudah malam, aku mau tidur." ucap Camelia seraya berjalan pergi dari ruangan dapur itu.


Davin diam, ia tidak menghiraukan Camelia yang telah pergi meninggalkan dirinya. Davin mengepalkan tangannya, wajahnya memerah menahan amarah. Entah kenapa ada perasaan tidak suka di hatinya saat Camelia membandingkan dirinya dengan orang lain, sekaligus itu sahabatnya sendiri.


Brengsek... !!!


Davin beranjak dari duduknya, ia melangkahkan kakinya dengan sangat cepat. Davin melihat Camelia yang hendak membuka pintu kamarnya, dan sebelum itu terjadi tiba-tiba saja Davin menarik tangan Camelia begitu saja, membuat Camelia tersentak dan hampir menabrak dada bidangnya lelaki itu.


"Kamu apa-apaan sih?" sentak Camelia terkejut.


"Lepas Kak." ia meringis menahan sakit saat Davin menarik tangannya begitu keras.


Davin menyeringai, dan itu sangat membuat Camelia ketakutan di buatnya.


"Mau apa kamu?"

__ADS_1


* * *


__ADS_2