
Selamat membaca.... ❤
* * *
"Karena aku mencintaimu."
Davin berujar dengan sangat lembut, membuat Camelia terpaku dan terdiam membisu.
"Aku gak mau kalau kita berpisah, aku mau kamu tetap menjadi istri aku selamanya, aku ingin membina rumah tangga seutuhnya, aku ingin menjadi ayah dari anak-anak kita nantinya."
Sulit ... sangat sulit rasanya untuk mengucapkan sesuatu. Mulutnya seakan terkunci rapat untuk mengatakan sesuatu yang sangat membuatnya kelihatan seperti orang bodoh sekarang. Camelia masih diam, ia masih tidak percaya apakah ini cuma mimpi atau khayalannya saja.
"Aku mencintai kamu Camelia."
Dan... Air bening itu menetes keluar dari matanya yang bulat. Mereka saling baradu tatapan dalam jarak yang sangat dekat, Davin semakin mendekat mengikis jarak di antara keduanya. Davin mengusap lembut pipinya yang basah karena air mata yang terus menetes dari matanya yang indah.
"Aku gak tau sejak kapan aku mulai jatuh cinta sama kamu. Tetapi yang aku tau sekarang bahwa aku sangat mencintai kamu."
Davin berkata seraya membelai lembut pipinya yang mulus itu, Davin menatap Camelia dengan sangat dalam.
"Kenapa kamu bisa cinta sama aku kak? padahal yang aku tau perasaan kamu bukannya masih abu-abu? kenapa sekarang kamu bilang kalau kamu cinta sama aku? yang aku tau dia adalah wanita yang kamu cintai bukannya aku."
"Bukankah aku sudah bilang sama kamu waktu itu, kalau aku minta waktu untuk meyakinkan hati aku. Dan sekarang semuanya telah terjawab, bahwa kamu adalah wanita yang aku cintai, kamu adalah wanita yang bisa membuat aku tidak bisa tidur setiap malamnya, kamu wanita yang bikin hatiku selalu merindukanmu, dan kamu adalah wanita yang bisa buat aku terus tersenyum setiap saat dan kamu juga wanita yang bisa membuatku merasakan cemburu."
"Bukannya dia juga sama seperti aku, bukannya kamu juga sangat mencintai dia?
" Aku memang sangat mencintainya tetapi itu dulu, sebelum kamu masuk dalam hidupku."
"Apa kamu yakin dengan perasaan kamu saat ini kepadaku Kak?"
__ADS_1
"Aku sangat yakin dengan apa yang aku rasakan saat ini."
"Aku masih belum bisa percaya sama kamu, segitu mudahnya bagi kamu untuk bisa melupakan orang yang sangat kamu cintai dalam waktu yang sangat singkat.?"
"Aku gak minta kamu untuk percaya sama aku sekarang, tetapi aku minta sama kamu ijinkan aku untuk mencintaimu Camelia."
Camelia tersenyum seraya menghapus air matanya yang terus mengalir, tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Hatinya begitu senang saat ini, entah percaya atau tidak tetapi ia merasa bahwa perasaan cintanya untuk sang suami telah terbayar sudah. Dulu ... Ialah orang yang pertama kali membuka hatinya untuk Davin di saat lelaki itu masih mencintai wanita lain.
"Camelia..?"
"Kenapa?"
"Apa kamu masih mencintaiku?"
Camelia menundukkan wajahnya, meremat jari-jari tangannya yang terasa kaku.
"Apa kamu masih tidak percaya sama aku?"
"Bagaimana dengan perjanjian kita kak.?"
Davin tersenyum tipis. "Aku akan buat perjanjian baru."
Camelia mengernyit bingung, "Perjanjian? perjanjian apa lagi?"
"Perjanjian kalau kita akan hidup bersama selamanya."
Camelia tersenyum. "Aku mencintaimu Kak."
"Aku lebih mencintaimu."
__ADS_1
Dan hanya itulah kata terakhir yang mereka ucapkan sebelum akhirnya Davin mendekat dan menyatukan bibirnya berada di atas bibir istrinya itu. Davin mencium Camelia dengan sangat lembut, ia meluapkan semua isi hati dan perasaannya lewat ciuman itu. Davin ******* bibir ranum itu, memberi sentuhan lembut dan ringan pada bibir merah dan tipis milik istrinya.
Ciuman itu kini semakin menuntut ketika Camelia mulai membalasnya, mereka saling berbalas *******, hisapan, dan tidak lupa juga saling membelit lidah. Tidak ada suara yang terdengar kecuali suara decapan dari bibir keduanya. Camelia butuh meraih oksigen ia mulai kehabisan nafasnya. Davin mengerti ia melepas ciuman itu, ia tahu bahwa saat ini istrinya butuh meraup udara yang banyak. Ia membiarkan Camelia untuk mengambil nafasnya sebelum Davin mulai kembali menciumnya.
Camelia merasakan geli dan menggeliat saat Davin mulai membelai punggungnya, ia merapatkan badannya sehingga tidak ada jarak lagi antara mereka berdua. Ciuman Davin mulai turun ke telinga, mengecupnya sekilas dan kini Davin mulai menjilat dan menggigit kecil di lehernya yang jenjang sehingga menyisakan warna kemerahan. Camelia mengerang mencengkram kuat kaos yang di kenakan oleh suaminya itu.
"Ah... "
Camelia melenguh dengan nafas yang tersengal saat Davin meniupkan nafas di telinga sehingga muncul getaran menggairahkan di sekujur tubuhnya.
Camelia hanya bisa memejamkan matanya erat saat tangan Davin mulai bergerilya di tubuhnya. Camelia tahu jika saat ini mereka sudah sama-sama memburu. Camelia membuka matanya kembali saat ia tahu bahwa Davin sedang berusaha untuk membuka kancing baju yang ia kenakan satu persatu.
Davin tersenyum dan menatap Camelia dengan mata yang sudah berkabut, ia sangat merindukan gadis ini, ia sangat rindu dengan senyumannya, suaranya, bahkan ia merindukan bau tubuh sang istri, entah kenapa bau tubuh istrinya itu sudah menjadi candu baginya. Davin sangat menyukai harum itu, ia suka Camelia yang selalu harum seperti ini.
"Aku kangen banget sama kamu." bisiknya pelan dengan nafas yang masih memburu. "Aku suka bau tubuh kamu, kamu sudah menjadi candu bagiku, sekarang kamu adalah kelemahanku."
"Ah... " pekik Camelia saat tiba-tiba saja Davin menggendongnya.
Davin tersenyum dengan begitu manis, ia merebahkan tubuh Camelia di atas kasur besar miliknya. Davin menatap dalam wajah itu, di sentuh lembut dengan telunjuknya setiap inci wajahnya. Camelia hanya bisa memejamkan matanya dan sesekali melenguh merasakan setiap sentuhan yang Davin berikan. Davin kembali menyatukan bibirnya, mereka saling menelan saliva, dan saling membelit lidah.
Camelia kembali mendesah saat Davin mulai menyentuh bagian dadanya, ia merasa ada gelenyeran aneh yang menyerang tubuhnya.
"Kak... " suara itu terdengar seperti desahan membuat Davin semakin menuntut lebih, ia mengelus paha Camelia dengan sangat lembut.
Kini mereka sama-sama sudah merasakan gairah yang sudah tidak bisa di tahan lagi. Davin akan melakukan apa saja agar sang istri mendapatkan kepuasan darinya. Sedangkan Camelia ia selalu senang karena Davin selalu memberikan kelembutan saat sedang melakukan penyatuan cinta mereka.
Dan malam ini benar-benar mereka habiskan hanya untuk saling melepas rindu. Davin benar-benar membuat Camelia kelelahan, sepanjang malam mereka berdua menghabiskan waktu hanya untuk bergulat di atas ranjang.
"Aku mencintaimu." Davin berujar seraya mengecup lama kening istrinya.
__ADS_1
* * *