Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
dua puluh lima


__ADS_3

Happy reading semua... ❤


* * *


"Bagaimana kalau aku melanggarnya.?"


Dengan seringainya Davin mengatakan itu, ia menatap Camelia tajam.


"A - apa maksud kamu? jangan aneh-aneh deh." Ucap Camelia terbata-bata.


"Kamu bilang aku mesum kan? kalau begitu aku mau buktikan sama kamu. Gak pa-pa kan?"


"Ja - jangan ngaco." Ujar Camelia seraya mendorong tubuh Davin yang sengaja menghimpitnya. "Kak, minggir aku mau ke kampus."


Bukannya menjauh Davin malah semakin mengunci pergerakan tubuhnya, Davin semakin mengikis jarak di antara keduanya, hingga hidung mereka saling bersentuhan.


Camelia menutup matanya erat, ia tidak ingin jika sampai Davin melakukan hal yang tidak di inginkan. Setelah beberapa detik, Davin tidak melakukan apapun padanya. Camelia membuka mata, ia mengerjap kecil menatap lelaki itu dari jarak yang sangat dekat.


Davin berdecak. "Kamu pikir aku mau apa? kamu berharap aku mau cium kamu.?" Ucap Davin dengan senyum meledek.


Camelia memicikan matanya tajam, "Minggir gak?"


Davin segera menjauhkan tubuhnya begitu saja, ia menatap Camelia dengan melipat bibirnya menahan tawa. Davin kembali mendekat dan ia berbisik pelan di telinga gadis itu. "Kalau kamu mau, aku bisa melakukanya sekarang juga."


"Jangan harap..!!" sungut Camelia tidak terima, ia lantas mendorong dada Davin kembali.


Camelia segera pergi meninggalkan Davin yang masih tersenyum meledek ke arahnya, ia segera naik dan masuk ke dalam kamarnya. Berada di dalam kamar Camelia sempat mondar-mandir gak jelas, pikirannya entah kemana, dan degub jantungnya tidak berpungsi dengan baik. Camelia menarik nafasnya dalam, dan mengeluarkannya secara perlahan, ia mencoba untuk mengatur detak jantungnya agar segera kembali normal.


Kenapa jantung aku hampir mau copot dari tempatnya?


Keterlaluan sekali, dia sengaja ingin membuatku malu di hadapannya.


***


Saat ini Camelia dan Nayra sedang mengikuti jam mata kuliahnya. Setelah tadi Camelia di antar oleh Davin, meski awalnya Camelia menolak tapi Davin bersikukuh ingin mengantarnya karena Davin juga akan pergi ke kampus itu. Davin saat ini sedang sibuk-sibuknya mengurus untuk keperluan wisudanya. Davin yang sebentar lagi akan menyandang gelar Sarjana, dan begitu ia menyelesaikan semuanya Davin harus segera bergulat dengan pekerjaan barunya, yaitu menyandang sebagai seorang Direktur perusahaan yang akan menggantikan posisi sang Kakek.


"Sayang, aku minta maaf. Kamu jangan marah lagi ya?"


"Kamu kemana sih Vin? kamu janji kan sama aku mau dateng ke apartemen."

__ADS_1


"Aku bener-bener minta maaf, waktu itu aku ada urusan mendadak."


"Jangan bohong kamu? kenapa telpon dan pesan aku gak ada yang di balas satupun?"


"Hape aku ketinggalan di rumah."


"Memangnya kamu kemana?"


"Aku menemani Kakek menemui kliennya." Davin terpaksa harus berbohong, karena ia tidak ingin jika Yuanita kekasihnya itu marah kepadanya. Entah kenapa ada perasaan tidak enak dalam hatinya sekarang, ini baru pertama kalinya bagi Davin membohongi kekasihnya itu


"Ya udah kali ini aku maafin kamu."


Davin tersenyum, ia menatap lekat wajah kekasihnya itu. Tetapi entah kenapa tiba-tiba saja bayangan Camelia muncul begitu saja dalam pikirannya saat ini. Davin jadi teringat kembali dengan kejadian tadi pagi yang hampir saja membuat dirinya lupa diri, sebenarnya waktu itu Davin hanya ingin menggoda gadis itu saja, tetapi entah mengapa ada perasaan berbeda dalam hatinya saat ia melihat dari dekat wajah dan tatapan mata bening yang bulat itu.


Ada sedikit getaran di hatinya, saat keduanya saling menatap. Davin merasakan kehangatan dari tatapan gadis yang kini berstatus sebagai istrinya itu, Davin mengingat betapa menggemaskannya wajah Camelia saat sedang merasa gugup seperti itu, Davin menggeleng dengan tawa kecut.


"Sayang ... Nanti malam kita jalan yu?" Suara lembut itu membuyarkan lamunan Davin.


Seketika Davin langsung menoleh ke arahnya kemudian ia tersenyum. "Jalan kemana.?"


"Ya, kita nonton atau makan malam. Aku kangen banget kita jalan berdua, emang kamu gak mau jalan sama aku? kamu gak kangen sama aku?" Rengek Yuanita dengan begitu manjanya.


Davin mengangguk dan mengelus rambut kekasihnya itu dengan lembut. "Baiklah, nanti malam aku jemput kamu."


Davin membalas senyumannya, ketika ia sedang mengelus lembut pipi mulus kekasihnya itu tiba-tiba saja pandangan matanya beralih kepada sosok perempuan yang kini sedang berjalan melewatinya. Davin dan Camelia saling menatap dalam diam, dan lagi-lagi debaran di jantung keduanya berpacu dengan sangat cepat.


Camelia terus menatap hingga dirinya tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang berjalan ke arahnya. Dan tanpa sengaja pula Camelia menabrak dada bidang laki-laki itu, dan dengan sigap Rakha menangkap tubuh gadis itu dalam pelukannya.


"Kamu gak pa-pa Mel...?"


Camelia mengangkat wajahnya ia menatap wajah Rakha yang begitu dekat dengannya. Camelia sadar kalau saat ini dirinya sedang berada di tempat umum, dan dengan segera Camelia melepaskan pelukannya itu.


"Maaf... Aku gak sengaja Kak."


Rakha tersenyum. "Gak pa-pa Mel, apa kamu baik-baik saja.?"


"Aku gak pa-pa Kak." Jawab Camelia dengan tersenyum manis kepadanya.


Dan tanpa mereka sadari berdua, ada sepasang mata yang sedang menatapnya dingin. Davin melihat dan memperhatikan sikap keduanya, entah kenapa ada perasaan tidak senang di hatinya ketika melihat Camelia istrinya itu dekat dengan laki-laki lain yaitu sahabatnya sendiri. Apalagi ketika melihat Camelia tersenyum seperti itu, membuat ia berdecak sebal menatapnya.

__ADS_1


Perasaan apa ini? kenapa aku merasa gak suka melihat mereka seperti itu.


Ah... sudahlah ngapain aku memikirkannya.


"Sayang...?"


"Hah... Kenapa?"


"Kamu kenapa sih diam saja.?"


Davin gelalapan sendiri, ia tersenyum kikuk. "Aku gak pa-pa kok sayang."


"Ya udah kita pergi sekarang yu?"


"Ya udah, aku antar kamu pulang ya?"


"Hmm... Baiklah." Jawab Yuanita lembut.


Davin dan Yuanita berdiri dari duduknya, mereka segera melangkahkan kakinya untuk melangkah pergi.


"Kha..?"


Rakha menoleh. "Eh... Vin, mau kemana lo?"


"Gue cabut duluan ya.?"


"Ya udah, gue tunggu di tempatnya si Candra."


"Oke, entar gue nyusul."


Yuanita tersenyum, ia menatap Camelia dan menoleh ke arah Davin.


"Sayang ... Gimana kalau kita pergi makan siang bersama." Ajak Yuan dengan begitu manjanya.


Davin dan Rakha saling menatap dengan tatapan bingung.


"Ayolah Kha, kita bisa ngedate bareng." pinta Yuan kembali.


Rakha tersenyum kikuk, ia menggaruk tengkuk yang tidak gatal sama sekali. Rakha menatap gadis yang kini sedang menundukkan wajahnya itu. Rakha bingung sebenarnya ide Yuan ada bagusnya juga, siapa tahu Rakha bisa dekat lagi dengan gadis yang sampai sekarang masih ada di hatinya itu.

__ADS_1


"Mel... Apa kamu mau pergi sama aku?"


* * *


__ADS_2