
Happy reading... ❤
* * *
Satu minggu sudah terlewati, dimana saat kejadian itu Davin dan Camelia benar-benar menjaga jarak dan memasang tembok penghalang di antara mereka berdua. Keduanya sama-sama selalu menghindar, meskipun sampai sekarang Camelia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, dan terkadang mereka seperti orang yang sedang main petak umpet jika berada di dalam rumah.
Camelia sudah membulatkan hatinya agar ia tidak terlalu banyak berharap pada lelaki itu, meskipun rasanya sangat sulit tapi dengan sekuat hati ia akan mengubur dalam rasa cintanya pada Davin yang berstatus sebagai suami pura-puranya itu. Camelia sadar bahwa perasaannya terhadap laki-laki itu tidak mungkin akan menjadi kenyataan mengingat bagaimana Davin menyuruhnya agar dirinya tidak terlalu banyak berharap.
Lain Camelia, lain juga dengan Davin. Sebenarnya dalam hati dan pikirannya saat ini Davin selalu tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Davin selalu berusaha agar ia benar-benar menjaga hati dan cintanya hanya untuk sang kekasih, tetapi setelah kejadian itu dimana dirinya mencium sang istri dengan sangat brutal, disitu pula ia mulai merasakan perasaan yang sedikit berbeda.
Davin tidak suka saat Camelia membandingkan dirinya dengan mantan kekasihnya sendiri. Bahkan ia juga sempat merasakan ada rasa ketidaksukaan saat Camelia mulai menghindar dari dirinya. Davin sangat menyadari bahwa perkataannya yang lalu mungkin sedikit keterlaluan dan menyakiti hati istrinya itu.
Perasaan Davin kini menjadi abu-abu. Di satu sisi ia masih sangat mencintai kekasih yang sudah lama bersama dengan dirinya. Di sisi lain ia juga memikirkan perasaan istrinya yang sudah jatuh cinta terhadap dirinya. Davin tidak pernah membayangkan jika Camelia akan mempunyai perasaan lebih kepadanya, bagaimana bisa gadis itu bisa jatuh cinta lebih dulu terhadapnya.
"Sayang ... Kamu kenapa sih dari tadi cuma diam terus?" Yuanita berujar manja. "Kamu lagi mikirin apa?" ucapnya kembali.
Davin diam, ia tidak menjawab pertanyaan dari kekasihnya itu. Pandangan matanya lurus ke depan dengan tatapan kosong.
Yuan menatap Davin bingung, ia sedikit kecewa dengan sikap Davin yang seperti itu. Yuan paling tidak suka saat dirinya di acuhkan seperti sekarang ini.
"Kamu kenapa sih? ya udah aku balik." sentak Yuan kesal.
Davin terkejut, ia menarik tangan Yuan yang hendak pergi meninggalkan dirinya.
"Maafkan aku, kamu jangan pergi ya?"
Yuanita menatap Davin kesal, ia menekuk wajahnya.
"Kamu jangan marah ya?" pinta Davin lembut dengan tersenyum manis.
"Kamu itu ngeselin tau gak?"
"Aku minta maaf, aku janji gak akan bikin kamu kesel lagi."
Yuan tersenyum, "Janji?"
Davin mengangguk pelan. "Ya."
Yuan segera menghambur memeluk tubuh kekasihnya itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang lelakinya. Davin membalas pelukannya, ia mengusap lembut rambut sang kekasih mengecup pucuk kepalanya dengan penuh kasih. Saat Davin masih setia memeluk sambil tersenyum manis, tiba-tiba saja pandangan matanya tak sengaja melihat sosok perempuan yang sedang tersenyum bahagia.
Davin menatapnya tanpa berkedip, ia menatap perempuan yang sedang berjalan bersama dengan temannya itu sedang tersenyum. Ia menatap wajah itu dari jarak yang lumayan sedikit dekat dengannya. Ada perasaan yang berbeda ketika Davin melihat Camelia sedang tersenyum dengan begitu manisnya. Ia terus menatapnya, memperhatikan setiap gerak langkahnya.
"Eh ... Mel." ucap Nayra dengan menepuk pelan bahu temannya itu.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Lihat mereka benar-benar pasangan yang sempurna ya?"
"Hah ... Siapa? mana?"
"Kamu liat apaan sih?"
Camelia kembali tertawa, ia menatap gemas wajah sahabatnya itu.
"Ya lihat kamulah... "
"Ih... Bukan aku, tapi lihat mereka?"
Camelia menoleh, ia mengikuti arah tangan sahabatnya yang sedang menunjuk seseorang. Camelia terdiam, sekarang ia tahu kalau yang di maksud Nayra itu adalah Davin dan kekasihnya. Camelia melihat, menatap mereka, tapi dengan segera mengalihkan pandangan matanya itu ke sembarang arah saat Davin juga menatap balik dirinya.
"Ya udah yu buruan kita jalan? ngapain sih kamu perhatiin mereka.?"
Nayra tertawa. "Tau gak sih? aku tuh suka banget sama mereka. Benar-benar pasangan yang serasi. Bikin semua orang iri."
"Kamu ja yang merasa iri."
"Emang kamu enggak?"
"Ya juga sih..!!"
Camelia dan Nayra tertawa kembali sambil berjalan melangkahkan kakinya menuju ke parkiran kampusnya itu. Mereka selalu bahagia jika sedang berdua seperti ini.
"Camelia ...?"
Camelia menoleh saat mendengar suara yang memanggil namanya itu.
"Ya." jawab Camelia bingung.
"Rakha.... "
Camelia mengernyit bingung menautkan kedua alisnya. "Kenapa dengan Rakha.?"
"Itu... Anu... dia kecelakaan." ucap orang itu gugup.
Camelia terkejut dengan mulut yang menganga. "Apa Rakha kecelakaan?"
Orang itu mengangguk. "Ya"
__ADS_1
"Hah... Dimana?" sewot Nayra yang tak kalah terkejut.
"Itu di depan."
"Ya ampun Nay...?" ucap Camelia gugup.
"Ya udah buruan kita lihat dia."
Camelia dan Nayra berlari menuju ke arah gerbang kampus itu. Dan benar saja, disana sudah berkerumun banyak orang. Camelia segera masuk menerobos kerumunan itu, dan betapa terkejut nya ia saat melihat Rakha tergeletak dengan bercucuran darah di kepalanya.
"Ya Tuhan... Kak..!!" teriak Camelia sambil berlari ia langsung memeluk tubuh Rakha.
"Mel...?" lirih Rakha pelan.
"Kamu kenapa bisa gini Kak? kamu yang kuat ya?"
Rakha tersenyum dan pandangan matanya itu sudah mulai menutup.
"Kenapa kalian diam? ayo kita bawa dia?" teriak Camelia kembali.
"Ya ampun Rakha?" ucap Davin dan Yuan secara bersamaan.
"Ya udah sekarang kita bawa dia ke dalam mobil?"
Mereka semua sedang membantu Rakha masuk ke dalam mobilnya Davin. Camelia ikut masuk ke dalam mobil itu, ia duduk di belakang bersama dengan Rakha. Saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, Camelia menangis ia terus mengusap lembut wajah Rakha yang sedang terbaring dalam pangkuannya.
"Kak... " Camelia berujar lirih.
Davin memperhatikan lewat kaca spion dalam mobilnya, sesekali melirik ke arah dimana Camelia sedang menangis dan terus memanggil nama Rakha. Ada rasa tidak suka saat dirinya melihat Camelia menangis seperti itu, apalagi saat melihat tangan halus itu terus membelai wajahnya Rakha.
Setibanya di rumah sakit, Rakha segera di larikan menuju ruangan UGD. Dan beruntunglah karena Dokter langsung menangani keadaannya Rakha saat ini.
Davin, Yuanita, Camelia dan Nayra masih berdiri di depan pintu ruangan itu. Mereka semua sangat panik dan Dokter yang memeriksanya juga belum keluar.
Dua jam sudah Rakha di tangani, dan pintu itu terbuka bersama dengan Dokter dan perawat yang lainnya.
"Dok... Bagaimana keadaan teman saya?" tanya Davin cemas.
Dokter menjawab." Masa kritisnya sudah lewat, beruntunglah dia segera di bawa. Sekarang pasien akan di pindahkan ke ruang inap."
Davin tersenyum lega.
"Baik Dok, Terima kasih."
__ADS_1
* * *