Menjadi Putri Cantik

Menjadi Putri Cantik
Hampir saja


__ADS_3

Gubernur Albiru melihat Albina yang sedang menghampirinya dengan wajah panik .


" Albina ? ".


" Kakak gawat , Pangeran Mahkota dan Putri Andara mendapat masalah hingga di usir dari Istana ". Jelas Albina .


" Lalu dimana mereka ". Panik Gubernur Albiru , karena Putri Andara ikut di usir entah karena apa .


" Kediaman Pangeran Mahkota pastinya kamu sudah tahu ". Ungkap Albina .


Tanpa menunggu lama malah dengan langkah cepat dia segera meluncur ke tempat Pangeran Mahkota yang selama ini menjadi tempat keduanya setelah Istana.


Albina mengejarnya untuk ikut bersama pergi menemui Pangeran Mahkota dan Putri Andara.


Diam - diam , Bramana memperhatikan sosok Albina yang sangat mirip dengan Madam Fi .


" Seperti pinang di belah dua bahkan aku melihatnya bagaikan Madam Fi sewaktu muda, Lalu apakah aku bisa melihat Eliza versi muda ? Sungguh dunia ini telah mempermainkanku ". Gumam Bramana.


Bramana sosok pria paruh baya yang masih terlihat tampan namun agak terlihat tua karena memang sudah lanjut usia , wajahnya perpaduan antara Gubernur Albiru dan Pangeran Erik.


Kesamaan kedua Putra dari Bramana yaitu terletak pada hidung mereka yang mancung dengan indah.


Gubernur Albiru memiliki kemiripan ayahnya pada bagian bibir dan mata yang tegas dan tajam seperti serigala .


Sedangkan Pangeran Erik lebih menonjol pada Ratu Bianca hanya bentuk wajah dan rambut bahkan postur tubuh sangat mirip dengan Bramana.


Gubernur Albiru tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk pergi ke kediaman rahasia Pangeran Mahkota karena dia termasuk orang kepercayaan Pangeran Mahkota sekaligus menyandang status adik ipar .


" Andara !!". Kata Gubernur Albiru yang seketika kedatangannya mengejutkan Putri Andara .


" Albiru ? Mengapa kamu bisa tahu jika aku disini ". Heran Putri Andara .


Beberapa menit kemudian Albina datang menghampiri mereka di ruang tamu kediaman Pangeran Mahkota .

__ADS_1


" Ohh jadi Albina yang memberitahu ." Tebak Putri Andara yang menatap ke arah Albina.


" Aku hanya mengatakan jika kamu sedang bersama Pangeran Mahkota bahkan aku tidak tahu tempat ini ". Ujarnya .


Gubernur Albiru mendekat ke arah Putri Andara dan menyadari bekas tamparan yang lebam di kulit pipinya yang putih bahkan sangat mendominasi hingga mencuri perhatian sosok Gubernur Albiru .


" Albina , jangan mengganggu pergilah dan cari kakak . Mungkin saat ini dia berada di taman belakang ". Ucap Putri Andara .


" Ehmm kenapa aku tidak boleh melihat kemesraan kalian bukankah lebih impas jika aku melihatnya ". Ungkap Albina.


" Impas ? Maksut kamu impas apa ". Tanya Gubernur Albiru .


Putri Andara segera menarik tangan Gubernur Albiru dan membawanya pergi dari hadapan Albina .


Sedangkan Albina hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan kakak iparnya .


Gubernur Albiru terlihat masih memperhatikan bekas tamparan yang membuat keadaan pipi mulus Putri Andara yan lebam .


" Tidak masalah untukku ".


" Tapi sangat bermasalah untukku ". Ucap Gubernur Albiru dengan nada mencekam.


" Hanya sebuah tamparan tidak akan menghilangkan nyawa ".


" Tetap saja keterlaluan !!". Emosi Gubernur Albiru.


" Kenapa jadi semarah ini ? Sudahlah aku tidak mempermasalahkannya lagi ." Gumam Putri Andara.


" Ragamu memang miliknya namun jiwamu adalah lain , untuk itu aku tidak terima atas perlakuan kasar apalagi menyakitimu hingga separah ini ". Ujar Gubernur Albiru yang tak sengaja mengungkap jati diri Putri Andara yang sebenarnya .


" Aa -- apa maksudmu ? ". Lirih Putri Andara seraya menyelidik .


" Tidak ada , sekarang aku akan mengobati luka lebammu ".

__ADS_1


Putri Andara mencekal tangan Gubernur Albiru dan menatapnya dengan tajam seolah seperti sedang menuntut sebuah jawaban lain .


Gubernur Albiru pun mengerti dengan apa yang saat ini di tunggu oleh Putri Andara.


" Ada apa lagi ?". Kata Gubernur Albiru .


" Sepertinya kamu mengetahui semua tentangku , jawab dengan jujur jika kamu benar - benar tahu tentangku !!". Tekan Putri Andara.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Putri Andara , tiba - tiba Pangeran Mahkota berteriak memanggil Gubernur Albiru untuk segera bertindak karena pasukan yang saat ini di bawa oleh Pangeran Erik mulai bertindak.


" ayo kita pergi ke Istana ". Ajak Pangeran Mahkota.


" Aku ikut ". Kata Putri Andara.


" Tunggu disini kami hanya melihat bagaimana rencana dari Erik ". Kata Gubernur Albiru .


Putri Andara terlihat kecewa karena dirinya tidak di libatkan padahal kunci dari semua yang terjadi adalah dia .


" Tidak bisa , Putri Andara berpesan padaku jika aku harus menstabilkan Istana dan membuat Pangeran Mahkota menjadi Raja , aku harus berpikir ". Kata Putri Andara yang berjalan mondar - mandir kebingungan.


Albina menawarkan diri untuk mengantarkan Putri Andara ke Istana .


Kedua wanita itu bertekad untuk membantu para pria yang di cintainya dalam menghadapi kesulitan.


Saat ini semua menteri dan pejabat telah berkumpul untuk menuntut alasan atas kepergian Pangeran Mahkota dan Putri Andara .


" Yang Mulia harus menjelaskan kepergian Pangeran Mahkota dan Putri Andara dari Istana , bukankah mereka berdua adalah keturunan kerajaan yang kelak akan memimpin Istana ini ". Kata Menteri Pertahanan .


" Benar Yang Mulia ". Sahut Menteri Perdagangan.


" Pangeran Mahkota adalah Calon Raja maka tidak seharusnya pergi dari Istana karena dia adalah keturunan tertua yang sah dalam garis istana ". Ucap Menteri hukum .


Raja Erlangga hanya diam saja bahkan berusaha untuk mengontrol emosinya di depan para menteri dan pejabat.

__ADS_1


__ADS_2