MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Iba.


__ADS_3

Setelah pergi dari kediaman Alif, Anin segera berjalan menuju mobil mas Genta. Sander dan Uwo-uwo pun sudah kembali dari kediaman Alif, dan sekarang mereka sudah berkumpul bersama Cong-cong diatas mobil mas Genta.


Anin masuk ke kursi penumpang bagian belakang dengan nafas yang tidak beraturan.


"Gimana hasilnya?" Tanya Aruni tidak sabar.


"Sabar dong, ngos-ngosan nih aku kasih minum dulu kek!" Ucap Anin sambil mengatur nafasnya.


Aruni terkekeh "Hehe iya deh maaf, nih minumnya." Ujarku sambil menyerahkan sebotol air mineral.


Aruni dan Genta menunggu Anin menyelesaikan minumnya dengan raut muka yang tidak sabar.


"Ciee nungguin ya, haha." Ledek Anin ketika melihat raut wajah kedua orang yang ada didepannya itu.


Aruni memukul bahu Anin karena kesal walaupun tidak terlalu keras.


"Cepetan nggak!" Ucapnya sambil melirik tajam ke arah Anin.


Anin hanya terkekeh "Ya seperti yang kalian dengar lewat penyadap suara tadi, tetapi aku tidak yakin saat aku bertanya dimana Raka." Ucap Anin serius.


"Tenang, kita punya cctv gaib saat tadi kau berkunjung ke rumah Alif." Ucapku pada Anin.


Anin mengerutkan keningnya. "Cctv gaib?"


Aku menganggukkan kepalaku sambil terkekeh "Salah satu teman gaibku mengintai rumah Alif saat kamu dan Alif berbincang." Aku menarik nafas panjang "Dari sebelum kamu datang dia sudah mengintai rumah Alif, dia lihat Raka sedang mengepel lantai dan Alif bersantai bermain ponsel disofa. Saat ada suara ketukan dari luar, Alif langsung menyuruh Raka bersembunyi didalam kamarnya. Dan kau tau bagaimana keadaan Raka saat itu?"


Anin menggelengkan kepalanya. "Tidak,kenapa dia?"


"Raka duduk dipojok kamarnya dengan dengan kedua kakinya yang dilipat dan menumpukan wajahnya diantara kedua kakinya sambil menangis, sepertinya dia tahu kalau kamu yang datang kesana."


Anin meneteskan air matanya "Cepat kita bebaskan Raka dari mas Alif, aku kasian sekali kepadanya Aruni... Badannya itu sangat kurus, sepertinya mas Alif memberi makan Raka tidak teratur."


Mas Genta menghela nafasnya pelan, dia juga merasa iba dengan keadaan seorang bocah berusia 7 tahun yang diperlakukan tidak wajar oleh pamannya.


"Kenapa tidak kita laporkan saja Alif ke polisi?" Usul Anin disela-sela keheningan kami bertiga.


"Tidak semudah itu nin, lagipula kita tidak memiliki bukti yang kuat untuk melaporkan hal ini kepada pihak berwajib kan?" Ujar mas Genta.


Anin memanggut-manggutkan kepalanya, dia setuju dengan ucapan mas Genta bahwa kita tidak memiliki cukup bukti untuk melaporkan Alif.


"Mas Genta benar nin, kita harus memikirkan matang-matang rencana kita selanjutnya." Ucap Aruni.


"Apa kita kembali kerumah eyang, untuk memberitahukan pengintaian kita tadi dan memikirkan rencana selanjutnya?" Ucap Anin.


"Sepertinya tidak ini sudah sore, aku akan mengantarkan kalian berdua kembali kerumah. Dan untuk masalah eyang, biar aku saja yang memberitahunya nanti malam." Usul mas Genta.


Aku dan Anin pun setuju dengan ucapan mas Genta, hari sudah mulai sore. Kalau kamu berdua pulang terlambat pasti semua orang rumah akan panik. Mas Genta melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, pemandangan sore hari didesa eyang memang sangat indah.


Anak-anak bermain dan berlari dilapangan desa sambil disuapi makan sore oleh ibu mereka, dengan bedak yang tidak rata dimuka mereka dan baju yang dimasukan kedalam celana.


Sungguh, suasana sore yang sangat menyenangkan didesa.


"Nanti malam aku akan kembali mengintai rumah Alif" Ucap Uwo-uwo ditengah-tengah perjalanan.

__ADS_1


"Sepertinya memang harus seperti itu Wo, apakah kau akan mengintai sendirian?" Tanyaku pada uwo-uwo didalam hati.


"Iya, biarkan Sander dan Cong-cong berjaga dirumah.Aku akan pergi sendiri saja." Jawab Uwo-uwo.


"Baiklah kalau begitu, aku percaya kepadamu Wo. Tetapi kau juga harus berhati-hati ya, jangan sampai ketahuan oleh mas Alif." Ucapku memperingatkan Uwo-uwo.


"Iya-iya aku akan berhati-hati, Uau tenang saja Aruni." Ucap Uwo-uwo.


Aku tersenyum mendengar uwo-uwo akan kembali mengintai rumah Alif, mas Genta yang sedang mengemudi mobil sesekali melirik ke arahku. Sedangkan Anin, dia tertidur di kursi belakang.


"Kenapa tersenyum sendiri?" Tanya mas Genta kepadaku.


"Em tidak, hanya sedikit senang saja." Jawabku sambil tersenyum.


"Akan lebih baik kalau kamu berbagi kesenangan itu denganku, Aruni." Ucap mas Genta sambil menaikkan kedua alisnya.


"Hem jadi begini, nanti malam Uwo-uwo akan kembali mengintai rumah Alif untuk mengetahui kondisi Raka." Ucapku pada mas Genta.


"Hanya itu?kenapa kamu terlihat senang?" Tanya mas Genta.


"Tentu saja aku senang, teman-teman gaibku itu selalu siap membantuku kapanpun dan dimanapun. Bahkan terkadang mereka sendiri yang mengajukan bantuannya kepadaku. Aku merasa sangat beruntung bisa memiliki teman-teman gaib seperti mereka." Jelasku pada mas Genta.


Mas Genta tersenyum mendengar aku bercerita tentang teman-teman gaibku.


"Aku juga merasa seperti itu Aruni, tetapi aku jauh lebih beruntung karena aku bisa dekat denganmu seperti ini." Ucapnya sambil tersenyum manis.


Aku dibuat salah tingkah dengan ucapan mas Genta. "Em ma maksutnya mas Genta apa ya?" Tanyaku dengan terbata-bata kepada mas Genta.


Hal itu membuatku salah tingkah hingga pipiku merah merona, aku memalingkan wajahku menghadap ke luar jendela mobil sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Cie yang malu-malu kucing.." Goda Sander kepadaku.


"Ih apasih, ikut-ikutan aja deh." Ucapku sinis pada Sander.


"Siapa yang ikut-ikutan?" Tanya mas Genta bingung.


"Eh tidak mas, aku sedang berbicara dengan Sander."


Mas Genta hanya ber oh ria mendengar jawaban dariku. Beberapa saat kemudian kami sudah sampai didepan pintu gerbang rumah, akupun segera turun untuk membuka pintu gerbang tersebut.


"Nin, bangun sudah sampai." Ucap mas Genta pada Anin.


"Eh iya mas." Jawab Anin sambil menguap.


"Kamu itu lho, nggak dimana-mana pasti tidur dan makan." Celetuk mas Genta.


"Dua hal itu penting mas, kebutuhan hidup hehe." Sahut Anin.


Anin langsung turun dari mobil, sedangkan mas Genta memarkirkan mobilnya dihalaman depan rumah Simbah yang terbilang cukup luas ukurannya.


"Yuk mas masuk dulu, minum dulu lah." Ajakku pada mas Genta.


Mas Genta pun menuruti perkataanku, kami bertiga segera masuk kedalam rumah, sebelum itu aku mengetuk pintu dulu.

__ADS_1


Tok tok tok


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab budhe dari dalam rumah.


Budhe segera membuka pintu rumah dan mempersilahkan kami untuk masuk kedalam.


"Eh kalian sudah pulang ya, sini-sini masuk."


"Mas duduk saja dulu disini, aku mau ke kamar dulu sebentar." Ucapku pada mas Genta.


Mas Genta menganggukkan kepala. "Iya Run, budhe Simbah dimana?" Tanya mas Genta pada budhe Ratih.


"Simbah sedang dirumah yu Darni Ta, kalau budhe Ningsih mu pergi tadi sama ayahnya Aruni." Jawab budhe.


"Oh pakde Sena sudah pulang? berarti proyeknya sudah selesai semua?" Tanya mas Genta.


"Sepertinya belum selesai sepenuhnya, katanya dia kangen sama Aruni makanya pulang." Jawab budhe Ratih.


"Oh begitu." Ucap mas Genta sambil memanggut-manggutkan kepalanya


"Tadi bagaimana, lancar semua kan?" Tanya budhe Ratih.


"Alhamdulillah lancar budhe, tapi lain kali kami akan kesana lagi." Jawab mas Genta


"Syukur kalau semuanya berjalan dengan lancar, Raka gimana kondisinya? dia sehat kan?" Tanya budhe Ratih dengan raut muka khawatir.


"Alhamdulillah sehat budhe, tetapi kata Anin hanya tubuhnya saja yang kurus. Mungkin karena jadwal makan yang tidak teratur." Jawab mas Genta.


"Budhe itu kasian lho ta sama si Raka, bisa-bisanya Alif berbuat seperti itu pada ponakannya sendiri. Budhe benar-benar nggak habis pikir sama kelakuan si Alif itu." Gerutu Budhe.


"Iya budhe, mohon doanya saja semoga secepatnya masalah ini dapat terselesaikan. Kasihan Raka, kalau terlalu lama tinggal dengan Alif."


🍂


🍂


🍂


🍂


Alhamdulillah bisa up lagi,stay tune ya readerskuuuuu 💗💗💗


Follow Ig author yaa @putriirzkaa kalau mau difollback DM aja xixi


Jangan lupa like, komen, dan bunganya jugaa 🍅🍓


Vote juga jangan lupa


Selamat menjalankan ibadah puasa readers (◕ᴗ◕✿)


SALAM SERAM MANJA DARI AUTHOR >3

__ADS_1


__ADS_2