MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Musnah


__ADS_3

Uwo-uwo masih terdiam tak bergerak dilantai, Ki Braha membalikkan badannya menghadap Eyang dan Aruni yang sudah terlepas dari tali gaib. Sambil berjalan dengan angkuh, ia berkata.


"Lihat, teman gaib yang kau percaya itu sudah terkapar. Sekarang hanya tinggal ada dirimu dan kakek tua ini, hei kakek tua majulah kau, sekaranh giliranmu." Tunjuk Ki Braha pada Eyang Gitarja.


Eyang menuruti permintaan Ki Braha, sementara itu Aruni menahan tangan Eyang agar tidak mendekat.


"Jangan Eyang." Aruni menggeleng.


Eyang mengusap pundak Aruni. "Tidak perlu khawatir, kau diam saja disini."


Eyang dan Ki Braha saling beradu kekuatan, sempat alot persaingan antar keduanya, sempat lengah Eyang sedikit terkena sabetan tali gaib milik Ki Braha. Yang membuat lengan atas tangan sebelah kirinya terluka, dan sudah pasti dirumah Eyang, raga Eyang mengeluarkan darah dari lengan atas tangannya.


"Akh.." Eyang sedikit merasa sakit pada lengannya.


Ki Braha mendorong sukma Eyang hingga Eyang tersungkur dilantai, saat itu juga Ki Braha mengeluarkan bola api Bratasena untuk Eyang. Aruni menutup kedua matanya, ia tidak tega melihat kejadian itu.


"AKHHH SAKITTT!!!! PANAS... PANAS..."


"Eyanggg!!!!!" Teriak Aruni saat mendegar teriakan itu.


Aruni membuka matanya, ia sungguh terkejut melihat kejadian yang ada didepan matanya.


"Eyang?" Ia mengusap air mata yang ada dipipinya.


Ki Braha terkapar dilantai kerajaannya, di ubun-ubunnya tertancap keris pusaka yang Uwo-uwo perjuangkan selama 40 hari.


Ternyata sesaat sebelum Ki Braha melemparkan bola api Bratasena, Uwo-uwo bangkit dari lantai karena mendengar suara kesakitan dari Eyang. Walaupun dirinya merasakan sakit, ia mencoba sekuat tenaga bangkit.


Uwo-uwo berjalan terseok-seok menuju arah Ki Braha, saat tepat berada dibelakang tubuh makhluk berbulu itu, ia membacakan doa yang kakeknya ajarkan sebemum menancapkan keris pusaka itu. Setelah membacakan doa, ia menancapkan keris itu tepat di ubun-ubun Ki Braha. Yang membuat Ki Braha terkapar dan berteriak kesakitan, teriakan itu membuat istri Ki Braha, Nyi Rekso datang menghampiri sang suami.


Aku langsung menghampiri Eyang. "Eyang tidak apa-apa? Apakah tadi sempat terkena bola api Bratasena?" Tanya Aruni dengan panik.


"Alhamdulillah Eyang belum sempat terkena bola api Bratasena itu, nduk. Beruntung temanmu Uwo-uwo dengan sigap menancapkan keris pusaka itu pada ubun-ubun Braha, kalau telat sedikit saja, mungkin Eyang tidak akan pernah bisa melihat dirimu lagi." Jawab Eyang sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ah Eyang jangan berbicara seperti itu, Aruni bersyukur Eyang tidak kenapa-kenapa. Tapi, tadi sempat terkena tali gaib, kan?"


Eyang Gitarja mengangguk. "Nanti diobati sewaktu kita kembali ke alam manusia. Wo, terimakasih sudah menolongku tadi, jika tidak ceritanya akan berbeda lagi."


"Sama-sama Eyang, maafkan saya tadi sangat ceroboh hingga membiarkan Eyang terkena sabetan tali gaib itu." Uwo-uwo berbicara sambil tertunduk.


"Sudahlah tak apa."


Eyang menoleh ke arah Nyi Rekso yang sedang meratapi nasib sang suami, Nyi Rekso tak henti-hentinya menangis mengeluarkan cairan berwarna merah dari kelopak matanya. Tangannya terus saja menggoyang-goyangkan tubub berbulu sang suami, berharap agar sang suami dapat merespon dirinya.


Lama-kelamaan tubuh Ki Braha berubah hangus menjadi abu, mulai dari kaki hingga ubun-ubun yang masih tertancap dengan keris pusaka itu.


"Kangmas, kangmas bangun. Aku tau semua ini pasti akan terjadi, tapi aku tidak menyangka dirimu akan pergi meninggalkanku secepat ini, kangmas." Nyi Rekso terus saja menangis.


Ia sempat memeluk bagian tubuh sang suami yang belum hangus menjadi abu. Aruni, Eyang Gitarja, dan Uwo-uwo berjalan mendekat ke arah Nyi Rekso setelah semua bagian tubuh Ki Braha hangus menjadi abu.


"Maaf." Ucap Aruni.


Nyi Rekso membalikkan tubuhnya, ia bangkit sambil menyeka air mata berwarna merah itu. "Tidak perlu meminta maaf seperti itu gadis cantik, kau tidak bersalah tentang semua ini." Ucap Nyi Rekso.


"Kemusnahan suamiku itu sudah diramalkan oleh Mpu kepercayaan kami belasan tahun yang lalu, jadi semua ini sudah garis takdir."


Nyi Rekso berjalan ke arah depan membelakangi Aruni, Eyang, dan Uwo-uwo. "Ramalan itu mengatakan, bahwa akan ada seorang gadis keturunan Keraton Jawa yang memusnahkan dan menghancurkan kejayaan suamiku. Setelah Kangmas tau semua tentang Aruni, dia menyipkan segala strategi agar bisa membunuh Aruni. Aku selalu mengingatkannya, kalau semua yang ia lakukan akan menjadi sia-sia. Tapi itulah kangmas Braha, ia selalu saja keras kepala, tak mau mendengarkan siapapun, termasuk diriku, istrinya."


"Jadi semua ini sudah menjadi garis takdir?" Ucapku lirih.


Eyang menepuk pundakku. "Seperti yang Eyang pernah katakan padamu, nduk."


"Sekarang, kau kembalilah ke alammu, nduk. Tidak terlalu baik jika sukma mu dan sukma Eyang mu berlama-lama di alam jin ini. Karena bau kalian akan semakin tercium oleh para jin disini, dan itu akan mengundang kejahatan." Nyi Rekso memegang kedua tangan Aruni dengan tersenyum.


"Nyai tidak marah kepadaku, karena sekarang nyai tidak memiliki suami lagi?" Tanyaku.


Nyi Rekso tersenyum. "Sama sekali tidak, kembali lagi ke pernyataanku tadi, semua ini sudah garis takdir."

__ADS_1


"Baiklah Rekso, kami pamit untuk pergi dari alam gaib ini. Aku ucapkan terimakasih dan juga permintaan maaf. Satu pesanku padamu, ikutilah apa kata hatimu, aku yakin kau tau mana yang terbaik untuk dirimu sendiri." Ucap Eyang Gitarja.


"Terimakasih atas pesannya Eyang, berhati-hatilah dijalan nanti." Nyi Rekso menunduk hormat pada Eyang Gitarja.


"Saya pamit, Nyai." Ucap Uwo-uwo dan dibalas dengan anggukan oleh Nyi Rekso.


Aruni, Eyang Gitarja, dan Uwo-uwo berjalan keluar istana kerajaan Ki Braha. Mungkin karena keberadaanku dan Eyang yang sudah lumayan lama membuat para jin disini menyoroti kami terus. Benar kata Nyi Rekso, berlama-lama dialam jin untuk manusia memang tidak baik.


"Nduk, ingat ya nanti waktu dijalan pulang, jangan sekali-kali dirimu menoleh ke belakang, samping kanan dan kirimu. Dan jangan dengarkan suara-suara yang selalu memanggil dirimu, sekalipun itu suara dari ibu, ayah, simbah, dan orang-orang terdekatmu. Karena sejatinya itu hanyalah tipu daya jin, teruslah menghadap kedepan fokus pada tujuanmu, yaitu kembali pulang ke alam manusia." Ucap Eyang pada Aruni.


"Baik Eyang, Insyaallah Aruni akan fokus dan akan menghiraukan suara-suara itu. Tapi Eyang juga harus mengingatkan Aruni ya jika Aruni lengah."


Eyang mengangguk. "Kuncinya ada pada dirimu sendiri."


Sampailah mereka bertiga diperbatasan dunia jin dan dunia manusia, sebeĺum melangkah Aruni membaca doa.


"Siap?" Tanya Uwo-uwo.


Aruni mengangguk dengan mantap. "Ya, aku siap."


Aruni melangkahkan kakinya dengan cepat sesuai dengan perintah Eyang, ia berada didepan, disusul dengan Eyang dan terakhir adalah Uwo-uwo. Dan benar saja, sepanjang perjalanan itu, banyak sekali suara-suara orang terdekat Aruni yang memanggil-manggil namanya.


"Aruni, nduk... tega sekali kamu meninggalkan ibu dan ayah disini, nduk.." (suara ayah dan ibu.)


"Nduk, sini nduk temani Simbah disini. Jangan tinggalkan simbah sendirian, simbah susah untuk berdiri.." (suara simbah.)


"Run, tunggu aku Run, jangan pergi. Tunggu, aku mau ikut kamu." (suara Anin.)


"Fokus nduk terus fokuskan dirimu, jangan pernah menengok sedikitpun. Percepat langkahmu, sebentar lagi kita akan sampai." Ucap Eyang mengingatkan Aruni.


"Baik Eyang."


🍂

__ADS_1


🍂


🍂


__ADS_2