
"Nanti kita tanyakan saja pada eyang, tentang sikap Alif pagi tadi." Sahut Anin.
"Kau benar, eh kita kerumah eyang yuk. Sekalian mampir ke rumah pakde Wijaya hehe." Ucapku malu-malu.
"Halah bilang saja ingin bertemu mas Genta, sok-sokan bilang mau kerumah eyang." Cibir Anin.
"Biarin we." Ucapku sambil menjulurkan lidahku pada Anin.
Aku dan Anin segera menuju ke desa simbah menggunakan sepeda motor.
"Kau mau pergi kemana?" Tanya Kukun saat melihatku sedang bersiap-siap.
"Ke rumah eyang." Jawabku.
"Eyang siapa?" Tanyanya lagi.
"Ya eyangnya dia lah, kau ini lama-lama mirip seperti sepupunya Anin ya. Banyak sekali bertanya." Celetuk Sander.
"Aku bertanya pada Aruni bukan kepadamu bule pucat!" Sahut Kukun sedikit kesal.
"Apa kau bilang? aku bule pucat? sudah jelas-jelas aku ganteng dan imut seperti ini bisa-bisanya kau berbicara seperti itu." Ujar Sander tak mau kalah.
"His kalian ini, kenapa suka sekali membuat kepalaku pusing sih. Sudah diam jangan bertengkar lagiii!!" Ucapku melerai perdebatan mereka berdua.
"Maaf Aruni, dia yang memulai terlebih dahulu." Ujar Kukun sambil menunjuk ke arah Sander.
"Apa ak... " Ucapan Sander terhenti saat Uwo-uwo menghentikannya.
"Sudah diam kau tidak dengar tadi Aruni bilang apa hah? jangan membuatnya kesal seperti itu." Ucap Uwo-uwo.
"Baiklah Wo, Aruni maafkan aku." Ucap Sander sambil tertunduk.
"Iya sudah aku maafkan, kalian mau ikut aku kerumah eyang kan?" Tanyaku.
"Sudah pasti kami akan ikut denganmu, mana mungkin kami membiarkanmu pergi tanpa pengawalan dari kami semua." Jawab Uwo-uwo.
Aku mengangguk dan tersenyum "Dimana Cong-cong?"
"Ada diatas pohon mangga simbah belakang rumah." Jawab Kukun.
"Sedang apa dia disana? tidak mau ikut pergi?" Ujarku.
"Entahlah, biar aku pergi untuk memeriksanya." Ucap Sander.
Sander pun segera menuju belakang rumah untuk menemui Cong-cong yang sedang berada diatas pohon mangga. Terlihat raut wajah Cong-cong sedang sedih, walaupun hampir seluruh wajahnya hancur dan bersimbah darah.
"Hei kau sedang apa melamun sendiri diatas sana." Celetuk Sander.
__ADS_1
Cong-cong yang tidak menyadari kehadiran Sander pun sedikit terkejut.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang menikmati udara dari atas pohon ini saja. Terasa sejuk dan damai." Sahutnya sambil memandang ke arah langit.
"Terserah kau mau menjawab apa, yang aku tahu pasti sekarang ini kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku." Ucap Sander.
"Aku? menyembunyikan sesuatu darimu? mana mungkin Sander." Jawab Cong-cong sembari merubah raut wajahnya agar Sander tidak curiga.
Sander memandang penuh selidik pada Cong-cong.
"Kau yakin tak ada yang kau sembunyikan?" Tanya Sander.
Cong-cong menganggukkan kepalanya "Hem, aku yakin." Jawabnya.
"Baiklah kalau begitu, Aruni akan pergi ke rumah eyang sekarang. Semuanya sudah siapa hanya tinggal menunggumu saja."
"Ah begitu, maaf aku tidak tahu dan membuat kalian menunggu. Baiklah ayo kita pergi sekarang."
**
Sesampainya didesa eyang, Aruni dan Anin segera menuju kerumah eyang Gitarja. Tetapi saat hampir sampai dirumah eyang, mereka berdua bertemu dengan Alif. Dan lagi-lagi sikap Alif membuat Aruni dan Anin bingung, Genta yang melihat Alif terlihat sangat asyik berbincang dengan Aruni pun sedikit merasa kesal.
"Wah baru tadi pagi bertemu, sekarang sudah bertemu lagi." Celetuk Alif disamping Aruni.
Aruni yang terkejut menoleh ke arah samping kanan
Alif tersenyum "Sepertinya rumah eyang sedang kosong, tadi aku melihat eyang pergi bersama Genta. Dan eyang putri sedang membantu acara hajatan didesa sebelah." Jelas Alif panjang lebar.
"Hilih padahal kita tidak menanyakannya, kenapa dia s terlihat semangat sekali memberitahu kami." Cibir Anin lirih.
Aruni menyenggol sikut Anin "Kamu ini."
"Oh begitu ya, terimakasih loh mas sudah memberitahu kami. Oh iya Raka dimana mas?" Tanyaku pada Alif.
"Tadi selepas pulang sekolah dia langsung pergi ke sekolah sepak bolanya. Kebetulan hari ini jadwalnya untuk kesana Run." Jawab Alif sambil tersenyum.
"Ah begitu sayang sekali ya,padahal Runi ingin bertemu Raka."
"Lain kali kalian bisa mengajak Raka jalan-jalan lagi seperti kemarin." Tawarnya.
"Kau serius mas?" Celetuk Anin.
Alif menganggukkan kepalanya "Ya."
"Baiklah kapan-kapan kami akan mengajaknya jalan-jalan lagi, terimakasih sudah memberi izin untuk kami bisa bersama Raka." Ucapku.
"Sama-sama, toh dulu kalian kan juga dekat dengan Raka. Kalau Raka senang aku juga pasti akan senang." Ucap Alif.
__ADS_1
"Kata-katamu tadi sangat menyentuh hatiku mas, andaikan saja kau memang benar-benar tulus menyayangi dan menjaga Raka pasti aku akan sangat kagum akan dirimu. Tetapi perilaku dan kata-kata manis mu itu sangat berbeda, aku harap kau cepat mendapatkan hidayah dari Gusti Allah." Ucapku dalam hati.
Tampak dari kejauhan seorang pemuda gagah sedang memandang kurang suka terhadap obrolan dua manusia tersebut, sepertinya dia cemburu hehe.
"Eh mas Genta." Celetuk Anin.
Sontak aku langsung menoleh ke depan "Hai mas." Sapaku pada mas Genta.
"Hai Runi, Anin. Kenapa kalian kesini tidak mengabariku terlebih dahulu? kalau tahu kau akan kesini aku kan bisa menjemputmu Aruni." Ujar mas Genta.
Aku tersenyum "Tidak perlu repot-repot mas, aku dan Anin hanya sedang bosan saja dirumah karena tidak ada orang. Jadi kami berdua pergi kemari." Jawabku.
"Hanya bosan? bukannya tadi kau yang mengajakku kemari sekalian untuk pergi kerumah pakde Wijaya ya?" Celetuk Anin.
(Pakde Wijaya itu ayahnya mas Genta gengs wkwk)
Aku mencubit pinggang Anin "Ahahaha mungkin kau salah mendengar Nin, aku tidak mengatakan itu." Sahutku dengan penuh rasa malu.
Mas Genta hanya tersenyum.
"Kau disini Lif?" Sapa mas Genta pada Alif.
"Iya, saat akan pulang kerumah tidak sengaja bertemu mereka berdua, jadi aku berhenti disini." Jawab Alif.
"Oh begitu."
"Ehem, satu dua rambut dicukur kayaknya ada yang cembukur." Goda Anin pada mas Genta.
"Kamu ini apa sih, ada-ada saja." Elak mas Genta.
Alif menggelengkan kepalanya "Kalau begitu saya permisi." Ucapnya sambil menyalakan motornya.
Aruni menganggukkan kepala "Hati-hati mas."
Alif mengangguk dan tersenyum.
"Panas banget sih ini, kaya ada yang kebakar aja." Goda Anin sambil mengipas-ngipas tangannya.
***
Jangan lupa LIKE, KOMEN, DAN FAVORITKAN novel ini ya readers 🍅🍓
SALAM SERAM MANJA DARI AUTHOR
Hai gengs, sebelumnya author mau minta maaf nih dari malam takbir sampai sekarang author baru bisa update lagi huhu. Tapi emang sebulan ini author lagi sibuk banget sama urusan sekolah, maklum namanya mau kenaikan kelas ke kelas 12 dan sekolahnya pun swasta pula.
Jadilah ada kegiatan ujian tentang PKL, ujian kenaikan kelas aja 2 minggu,belum lagi yang lain-lain.
__ADS_1
Sekali lagi author minta maaf yaa, insyaallah setelah ini bakalan bisa update lagi 🙏🏻❤️