
Sepulang dari sekolah aku berbincang santai dengan Anin diteras rumah, ya beginilah kalau dirumah hanya ada aku dan Anin. Simbah, ibu, dan budhe masih satu minggu lagi dirumah saudara yang sedang ada hajatan.
Sedangkan ayah masih sibuk dengan proyek kerjanya. Entah kapan proyek ayah selesai, sudah dua minggu ini ayah belum pulang lagi kerumah. Katanya sih minggu depan kalau tidak ada halangan, ayah akan pulang.
"Nin, nanti temenin aku ke rumah mas Alif ya." Ucapku.
"Mau ngapain kamu kesana? mau bikin mas Genta cemburu lagi, hah?" Goda Anin.
"Ih engga, aku sudah lama tidak mengunjungi Raka kan. Aku ingin melanjutkan misi kita."
"Ah iya benar, bagaimana kalau nanti kita meminta izin ke mas Alif untuk membawa Raka jalan-jalan?" Ajak Anin.
"Aku juga berpikir begitu, ya sudah ayo siap-siap."
Aku dan Anin pun bersiap untuk pergi ke rumah mas Alif, sekalian nanti mampir ke rumah eyang.
Dan tentu saja keempat teman gaibku selalu ikut, ingin menjagaku dari bahaya katanya, hehe. Meskipun terkadang mereka itu membuatku kesal tapi mereka itu sangat manis perlakuannya kepadaku.
Aku sangat beruntung memiliki teman gaib seperti mereka, tak kusangka akan seperti ini. Padahal waktu awal-awal aku bisa melihat mereka aku merasa sangat takut.
Memang benar kata-kata "tak kenal maka tak sayang" hehe.
•••
Aku sudah sampai dijalan depan rumah mas Alif, Anin tidak ikut ke rumah mas Alif. Ia langsung ke rumah eyang Gitarja karena ingin ke toilet. Katanya malu kalau harus menumpang toilet dirumah mas Alif.
Aku berjalan kerumah mas Alif, kulihat dia sedang mencuci sepeda motor sportnya bersama dengan Raka sambil bermain air dengannya.
Aku yang melihat adegan itupun sangat terkejut, ternyata memang benar mas Alif sekarang sudah bersikap lebih baik terhadap Raka.
"Sepertinya dia terlihat tulus sekarang pada Raka." Celetuk Uwo-uwo.
Aku terkejut mendengar suara Uwo-uwo, bagaimana bisa dia mengikutiku ke rumah mas Alif. Padahal aku sudah memintanya untuk menunggu dirumah eyang saja.
"Astaga Wo, kenapa kau kemari. Sudah sana cepat kembali ke rumah eyang, jangan sampai mas Alif menyadari kehadiranmu. Cepatlahh." Sahutku sedikit panik.
"His, aku hanya ingin memastikanmu saja. Ya sudah aku pergi dulu."
Uwo-uwo pun melesat meninggalkanku menuju rumah eyang Gitarja.
Aku tersenyum penuh haru melihat kedekatan Raka dan mas Alif sekarang.
"Assalamualaikum mas." Sapaku pada mas Alif.
Mas Alif yang sedang bermain air dengan Raka pun menoleh ke arahku sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam, Aruni?"
"Mbak Runiiii." Raka berjalan menuju arahku penuh antusias.
"Raka jangan seperti itu, kasihan nanti baju mbak Runi jadi basah." Kata mas Alif saat Raka akan mendekat padaku.
"Hehe iya om, maaf mbak." Jawab Raka.
__ADS_1
"Eh nggak papa mas, Raka main air kaya gini nanti masuk angin loh." Kataku sambil mencubit hidung Raka.
"Enggak, Raka kan anak sehat dan kuat. Jadi nggak bakalan masuk angin." Ujarnya sambil membusungkan dadanya.
"Halah, udah sini selang airnya. Sudah cukup main airnya, sekarang mandi dulu ya." Perintah mas Alif.
"Ah om Alif padahal Raka kan masih ingin main air." Pinta Raka.
"Kan sudah daritadi Raka, lagian ada mbak Runi kesini kok malah main air." Bujuk mas Alif.
"Iya bener kata om Alif, nanti kalau kelamaan main air jadi sakit. Udah yuk mandi dulu, mbak Runi mandiin deh." Timpalku.
"Bener ya mbak, mbak Runi mandiin Raka?"
"Iya sayang." Kataku sambil mengelus rambut Raka.
"Terimakasih Run, jadi merepotkan. Nggak mau sekalian mandiin aku, hehe." Goda mas Alif.
"Ih mas Alif ngomong apasih. Ada Raka kok ngomong seperti itu." Kataku malu.
"Haha hanya bercanda."
"Ih om aku genit." Celetuk Raka.
Aku dan mas Alif pun tertawa mendengar celetukan Raka.
Kami bertiga pun masuk kedalam rumah mas Alif, ini pertama kalinya aku masuk ke dalam rumahnya. Walaupun dari luar terlihat biasa, ternyata didalamnya sangat nyaman dan minimalis. Terlihat dari desain dan juga furniturnya.
Aku menuju ke kamarmandi bersama Raka untuk memandikan dirinya, ia terlihat sangat senang.
Aku tersenyum mendengar ucapan Raka. "Jadi nanti Raka manggilnya bukan mbak Runi lagi dong, tapi bunda Runi hahaha." Kataku.
Raka tertawa terbahak-bahak, aku lihat dari tawanya sekarang lebih lepas daripada dulu sewaktu aku mengajaknya jalan-jalan.
Aku harap sekarang Raka benar-benar bahagia dan mas Alif akan bersikap baik seperti itu pada Raka.
Saat aku sedang mengeringkan tubuh Raka, mas Alif datang menghampiri kami berdua dan mengatakan ingin pergi keluar sebentar untuk membeli makanan.
"Run, aku titip Raka sebentar ya. Mau keluar dulu beli makanan." Kata mas Alif.
"Oh iya mas." Jawabku.
"Raka mau makan apa?" Tanya mas Alif.
"Sate ayam om. Tapi jangan yang pedes ya." Jawab Raka.
"Oke, Runi mau makan apa?" Tanya mas Alif kepadaku.
"Eh nggak usah repot-repot mas." Tolakku.
"Nggak repot, hanya makanan saja."
"Em samain aja deh sama mas Alif." Kataku.
__ADS_1
Mas Alif mengangguk dan tersenyum "Baiklah, aku pergi dulu. Assalamualaikum." Pamitnya.
"Waalaikumsalam." Jawabku dan Raka kompak.
Setelah selesai mengeringkan tubuh Raka aku menuju kamarnya untuk membantunya berganti pakaian.
"Kamar Raka dimana?"
"Itu yang didepan." Jawab Raka.
Aku mengambilkan setelan baju untuk Raka dan meembantunya untuk memakainya, aku tau dia pasti sangat merindukan sosok bundanya.
Siapa yang mau ditinggal oleh kedua orangtua disaat usia masih sangat kecil untuk selama-lamanya.
"Em Raka mbak Runi mau tanya boleh? tapi dijawab jujur ya." Ucapku.
"Tanya apa mbak?"
"Sebenarnya om Alif itu baik nggak sih sama Raka?" Tanyaku sambil memakaikan celana padanya.
Raka berfikir sejenak "Mbak minta Raka jujur kan, sebenarnya dari awal-awal ayah meninggal dan Raka tinggal sama om Alif. Om Alif jahat sama Raka, bahkan Raka nggak boleh pergi sekolah sama om. Raka disuruh bersih-bersih rumah mbak." Jawabnya.
"Bersih-bersih rumah, Raka serius?"
"Iya mbak, kalau ada yang kurang pasti Raka dimarahin terus dihukum dikurung digudang sana. Raka sedih banget."
"Kenapa Raka nggak bilang sama eyang?"
"Nggak mau mbak, Raka nggak mau nanti om dimarahin sama eyang. Kata ayah dan bunda waktu dimimpi Raka juga begitu."
Aku mengerutkan dahiku "Ayah dan bunda, mereka bilang apa dimimpi Raka?"
"Kata mereka bagaimanapun sikap om Alif sama Raka, Raka harus selalu sayang sama om. Karena sekarang Raka hanya punya om didunia ini, gitu kata ayah sama bunda." Ucapnya.
Aku mengelus rambut Raka "Raka memang anak baik, anak hebat, dan anak yang kuat. Terus sekarang om Alif gimana ke Raka?"
"Nah ini yang buat Raka makin sayang sama om Alif, satu minggu ini om baik banget sama Raka. Antar jemput Raka sekolah dan SSB mbak. Om juga sudah janji sama Raka." Katanya dengan wajah sumringah.
"Om janji apa ke Raka?"
"Om janji nggak akan pernah ninggalin Raka seperti ayah dan bunda. Om bakalan nemenin Raka sampai Raka besar dan jadi tentara." Jawabnya.
Aku tersenyum penuh haru mendengar pengakuan Raka, tak terasa air matapun menetes.
"Loh kok mbak Runi nangis sih." Protes Raka.
"Enggak kok, cuma kelilipan. Sudah yuk keluar kamar, sebentar lagi pasti om pulang bawa sate buat Raka." Ucapku.
"Ternyata benar apa kataku, mas Alif memang sudah benar-benar berubah. Maafkan aku mas sempat curiga dan suudzon terhadap perubahan sikapmu. Meskipun dulu sikapmu terhadap Raka kasar, tidak ada kata terlambat untuk memulai dan memperbaiki semuanya. Aku bangga sama kamu mas, terimakasih sudah mau berubah. Aku berharap kamu akan selalu seperti ini." Ucapku dalam hati.
🍂
🍂
__ADS_1
🍂