MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Serangan pertama


__ADS_3

"Akhirnya aku bisa mendapatkannya. Aruni, bersiaplah untuk malam ini sayang hahaha." Ujar Alif dengan tawa evil nya.


***


"Sudah?" Tanya mas Genta saat aku masuk kedalam mobilnya.


Aku menganggukkan kepala "Sudah, kita ke rumah eyang sekarang ya. Sekalian mau ngasih kue titipan budhe."


"Baiklah."


Sesampainya didepan rumah eyang, mas Genta mengetuk pintu sembari memberikan salam.


"Assalamualaikum." Ucap mas Genta.


"Waalaikumsalam." Jawab eyang putri dari arah dalam.


"Eh kalian, tadi kesini ya? maaf ya, tadi eyang pergi ke hajatan tetangga." Ucap eyang saat membuka pintu.


"Iya eyang, nggak papa kok. Eyang Gitarja ada yang?" Tanyaku.


"Ada didalam, yuk masuk dulu nanti eyang panggilkan." Ajak eyang putri.


Kamipun masuk kedalam dan duduk di kursi ruang tamu.


"Eh cucu-cucu eyang rupanya." Ucap eyang Gitarja saat keluar dari dalam ruangan.


Kami menyalami punggung tangan eyang Gitarja.


"Eyang sehat?" Tanya Anin.


"Sehat nduk, kalian ada apa kesini?" Jawab eyang.


"Lho, cucunya datang kok malah ditanya seperti itu si kangmas." Ujar eyang putri sambil menepuk pundak eyang Gitarja.


Eyang terkekeh. "Bukan begitu maksudku."


"Tadi kami baru saja pulang jalan-jalan dengan Raka eyang, lalu kami mampir sebentar kesini." Jelas mas Genta.


"Eyang, ini ada titipan dari budhe Ratih." Ujarku sambil memberikan paperbag berisi kue tersebut.


"Waduh terimakasih lho, ibumu ini Nin pakai repot-repot segala." Ucap eyang putri.


"Nggak papa eyang, hanya kue saja." Jawab Anin sambil tersenyum.


"Eyang, sebenarnya Aruni kesini juga mau membicarakan sesuatu kepada eyang." Ucapku pada eyang Gitarja.


"Tentang mimpi simbahmu kan?" Tebak eyang Gitarja.


"Eyang sudah tahu?" Tanya Anin.


Eyang terkekeh "Tadi simbah kalian menelfon kemari, dia menceritakan tentang mimpinya."


"Jadi maksud dari mimpi itu sebenarnya apa yang?" Tanyaku penasaran.


"Memang ada yang berniat jahat kepadamu nduk, tetapi kamu tenang saja. Eyang akan menjaga kamu dari sini dengan dibantu teman-teman gaibmu." Ujar eyang Gitarja.


"Apakah hal itu sudah pasti akan terjadi eyang? sampai-sampai eyang sudah berjaga-jaga seperti itu?" Tanya mas Genta.


"Feeling eyang mengatakan malam ini akan ada yang bertamu ke rumah Gentari. N**duk, malam ini kamu bersiap ya." Ucap eyang Gitarja serius.

__ADS_1


Mendadak tubuhku lemas seketika mendengar penjelasan dari eyang, apa salahku hingga ada orang yang tega berbuat jahat seperti itu kepadaku.


"Tenang Run, semuanya akan baik-baik saja." Ucap mas Genta menguatkanku.


"Aku syok mas, kenapa sampai begini. Akuntidak pernah berbuat jahat kepada orang." Ucapku dengan air mata yang mengalir dikedua pipiku.


Mas Genta mengusap air mataku "Percaya sama aku, semuanya akan baik-baik saja. Kamu kan punya simbah, eyang, Sander, Uwo-uwo, Cong-cong, dan juga aku yang akan selalu menjaga kamu."


"Ngomong-ngomong tentang teman-teman gaibku, dimana mereka sekarang? dari tadi ditaman desa aku tidak melihat mereka sampai sekarang." Tanyaku.


"Kami disini Aruni." Ucap Uwo-uwo yang datang dari arah luar bersama Sander dan Cong-cong.


"Kalian, kenapa bisa ada disini?" Tanyaku kepada ketiga teman gaibku.


"Eyang yang menyuruh mereka kemari nduk, untuk persiapan penjagaan nanti malam." Jawab eyang.


"Maaf kami pergi tidak pamit kepadamu." Ucap Cong-cong.


Aku tersenyum "Tidak apa, aku takut kalian tadi nyangkut di pohon hehe."


"Lihatlah dia, dalam situasi seperti ini pun masih bisa dia bercanda." Ujar Sander.


Aku terkekeh mendengar ucapan Sander.


"Sudah-sudah, nduk lebih baik kamu pulang." Ujar eyang Gitarja.


"Eyang ngusir Runi?" Tanyaku sedikit memelas walaupun aku hanya bercanda.


"Bukan begitu nduk, persiapkan diri kamu untuk malam ini. Dan ingat, jangan lupa sholat, dzikir, baca Al Qur'an. Minta perlindungan kepada Gusti Allah." Ujar eyang Gitarja.


"Iya eyang, insyaallah Aruni tidak akan melupakan semua nasehat eyang. Tapi Runi sedikit khawatir." Ucapku lirih.


*


*


Malam menjelang perasaan Aruni semakin tidak karuan,ia khawatir tentang 'tamu' yang akan datang malam ini sesuai perkataan eyang Gitarja.


"Sudahlah tidak perlu terlalu khawatir, eyang sudah memagari rumah simbah dengan pagar gaib. Dan tentunya ada aku, Sander, dan Cong-cong yang akan siaga malam ini menghadapi serangan itu." Ujar Uwo-uwo saat melihat Aruni yang berjalan kesana-kemari didalam kamarnya.


"Ya tetap saja Wo, perasaanku tidak enak." Jawabku.


"Daripada kamu bolak-balik seperti setrika rusak lebih baik ambil wudhu dan membaca Al Qur'an, minta perlindungan dari Allah." Perintah Cong-cong.


"Cong-cong benar, tamu itu tidak akan musnah hanya karena kamu mondar-mandir seperti setrika rusak." Timpal Sander.


"His cantik-cantik seperti ini dibilang setrika rusak. Iya deh aku ambil wudhu dulu ya, biar hatiku juga tenang." Sahutku.


"Sander, kau temani Aruni ke kamar mandi ya." Pinta Uwo-uwo.


"Iya-iya baiklah." Jawab Sander.


Setelah berwudhu aku segera memakai mukena ku dan duduk di karpet yang sudah aku siapkan dikamar sambil membaca Al Qur'an. Tak lupa juga ketiga temanku yang sudah menjadi jin muslim ikut membaca Al Qur'an bersamaku.


*


*


Sementara dirumah, Alif sedang mempersiapkan segala keperluan untuk memulai aksinya malam ini. Apalagi kalau bukan mengirim santet kepada Aruni, gadis yang ia benci karena sudah berani ikut campur urusan pribadinya.

__ADS_1


"Bersiaplah untuk malam ini gadis cantik." Ucap Alif yang sudah duduk bersila didepan alat-alat ritualnya.


Pertama-tama Alif menuliskan nama panjang Aruni diselembar kertas, lalu ia tempelkan pada tubuh boneka vodo yang didalamnya sudah ada potongan rambut Aruni yang ia dapatkan dari Raka, sang keponakan.


Dengan mantra yang sudah ia perlajari dari Ki Braha, ia memulai aksinya. Mulut Alif tak berhenti komat-kamit sambil menusukkan jarum ke tubuh boneka vodo tersebut. Hingga menurutnya aksinya cukup, ia menghentikannya sembari tertawa penuh kemenangan.


"Aku ingin tahu, seberapa kuat gadis keturunan Keraton Jawa itu. Hahaha." Ucapnya sambil tertawa evil.


*


*


Dirumah simbah, Aruni masih tetap membaca Al Qur'an hingga waktu menunjukan pukul sepuluh malam.


"Cong, Nder sepertinya sebentar lagi dia akan datang. Aku dan Cong-cong berjaga di depan sedangkan kau disini menemani Aruni." Perintah Uwo-uwo.


"Baiklah Wo, aku percayakan semuanya kepadamu." Jawab Sander.


Uwo-uwo dan Cong-cong segera menuju ke halaman depan rumah untuk menghalau serangan dari seseorang yang sampai saat ini belum diketahui identitasnya.


"Ada apa?" Tanyaku saat melihat kedua teman gaibku pergi.


"Tidak apa-apa, tamu itu akan segera datang. Kau teruskan saja bacaanmu, ada aku disini." Jawab Sander.


Meskipun saat itu hatiku tidak karuan aku tetap melanjutkan membaca Al Qur'an hingga aku mendengar suatu bisikan, dan aku tahu siapa pemilik suara itu.


"Terus baca Al Qur'an mu nduk, fokuskan fikiranmu dalam beribadah. Jangan hiraukan suara-suara aneh didepan rumah, tetaplah fokus pada ibadahmu. Agar kamu tidak terluka sedikitpun. Sebentar lagi,bersiaplah." Ucap eyang Gitarja dalam bisikan yang Aruni dengar.


Tak berapa lama semenjak bisikan dari eyang, kudengar suara ledakan dari arah luar rumah. Aku masih berusaha untuk tetap fokus pada bacaan Al Qur'an ku.


"Tetap fokus Aruni, jangan hiraukan bunyi ledakan itu." Ujar Sander yang melihatku sedikit gelisah.


Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Sementara diluar rumah Uwo-uwo dan Cong-cong sedang berusaha menghalau datangnya bola api dari arah depan menuju ke rumah Simbah.


"Dia datang Cong, bersiap."


Uwo-uwo dan Cong-cong menyatukan kekuatan mereka dan membuat seperti tembok agar bola api itu tidak dapat masuk ke area rumah. Beberapa kali bola api itu mencoba menembus tembok gaib yang dibuat Uwo-uwo dan Cong-cong, hingga percobaan ketiga bola api itu akhirnya meledak karena bantuan dari eyang Gitarja.


"Alhamdulillah." Ucap Uwo-uwo dan Cong-cong bersamaan.


Setelah dirasa aman Uwo-uwo dan Cong-cong kembali ke kamar Aruni.


"Bagaimana?" Tanya Sander.


"Alhamdulillah untuk serangan malam ini bisa kami halau dengan baik." Jawab Uwo-uwo.


"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih telah melindungi Aruni dari bahaya semacam ini." Ucapku sambil bersujud dilantai.


Apakah Alif akan mengirim tamu lagi untuk Aruni?🤔


🍂


🍂


🍂


Jangan lupa like, komen, dan bunganya jugaa 🍅🍓

__ADS_1


SALAM SERAM MANJA DARI AUTHOR <3


__ADS_2