MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Pergi Ke Alam Jin


__ADS_3

Aku membuka perlahan mataku, badanku terasa sakit dan lemas, kepala ku terasa sangat berat, begitu pula dengan perutku, entah mengapa terasa sangat perih.


Kulihat sekeliling bangunan yang sekarang aku tempati, asing. Ya, itulah kesan pertama saat aku membuka secara sempurna kedua bola mataku.


"Aku dimana?" Ucapku lirih.


Entahlah, aku sedikit tidak ingat dengan apa yang terjadi kepadaku sebelumnya, yang aku ingat hanyalah aku sedang membaca novel diteras rumah. Tetapi mengapa tiba-tiba aku ada disini?


"Akh, Sebenarnya aku ini berada dimana?" Aku memegangi perutku yang terasa begitu perih.


Dan tiba-tiba saja...


"Hahaha, sudah siuman rupanya dirimu. Selamat datang gadis kematianku, kau sekarang sedang berada di sebuah istana yang amat megah. Dipenuhi dengan emas, perak, dan berlian. Dimana lagi kalau bukan dikerajaanku, kerajaan jin Ki Braha, hahaha."


Ki Braha muncul dengan tiba-tiba didepanku.


"K-kamu, bagaimana bisa? Ah aku baru ingat, jadi kau yang melempar bola itu padaku, dasar jelek curang sekali kau tiba-tiba menyerangku dan membawaku ke istana jelekmu ini, hah!" Aku mencoba bangkit dari kursi yang ku duduki tadi.


"Sudah mmengingat semuanya? Apa katamu, istana jelek?! Beraninya kau mencaci istana megah dan meeah seperti ini, hah!" Emosi Ki Braha mulai memuncak.


"Ck, dasar hantu tua. Aku baru mengatakan hal seperti itu saja sudah dibawa perasaan. Jangan terlalu baper, jelek." Kataku tepat berada didepan wajah berbulu Ki Braha.


"KAU!!!!"


"Apa, tidak terima? Memang nyatanya kok kalau istana mu ini jelek, bahkan sangat jelek." Aku mengedengakan tanganku dipinggang.


"Ck, dasar gadis bau kencur. Sepertinya kau sama sekali tidak takut padaku, ya."


"Takut, padamu? Sama sekali tidak, jelek. Sebenarnya apa maumu membawaku kemari hah? Kau itu sudah mengganggu waktu santai ku, tau." Aku memicingkan mataku pada Ki Braha.


"Tentu saja aku menginginkan kematianmu, Aruni. Aku tidak akan membiarkan dirimu menghancurkan kejayaanku ini. Tidak akan pernah!" Ki Braha menggebrak meja yang ada disebelahnya.


Karena terkejut aku memejamkan mataku saat Ki Braha menggebrak meja.


"Hahaha kau takut, hah?" Ki Braha tertawa saat melihatku.


Aku hanya bisa terdiam mendengar pernyataan yang Ki Braha lontarkan padaku.


Jujur, sebenarnya di dalam hati kecilku aku merasa sangat takut. Aku manusia seorang diri di alam gaib kerajaan Ki Braha, Aku takut jika aku tidak selamat berada disini.


Eyang Gitarja dan teman-teman gaibku, aku sangat membutuhkan kalian disini, tolong selamatkan aku, bawa aku pergi dari alam gaib ini. Meskipun aku sudah terbiasa melihat hal gaib, tetap saja jin disini membuatku merinding. Terlebih ditambah dengan bau busuk yang mereka keluarkan, dan juga bentuk tubuh dan wajah yang hancur.


***

__ADS_1


Tak lama kemudian, Sander dan Kukun sudah kembali lagi ke rumah Eyang Gitarja setelah menyelesaikan tugas dari Eyang untuk memberitahu dan memanggil Genta dan Alif ke rumah Eyang Gitarja.


"Apa semuanya sudah siap?" Sander duduk disamping Cong-cong.


"Hanya tinggal menunggu kopi hitam yang sedang dibuatkan oleh Eyang putri." Jawab Cong-cong.


Eyang datang dengan membawa nampan berisi kopi hitam pekat. "Bagaimana, sudah kalian beritahukan Genta dan Alif kan?" Eyang duduk bersilah dihadapan teman-teman gaib Aruni.


Sander dan Kukun mengangguk. "Sudah Eyang, sebentar lagi pasti mereka akan datang."


Tak lama kemudian, ada suara ketokan pintu dari luar. Setelah Eyang putri buka, ternyata Genta dan Alif yanh datang. Mereka kemudian masuk ke dalam kamar dimana Eyang Gitarja akan masuk ke dunia gaib.


"Assalamualaikum Eyang." Ucap kedua pemuda itu.


"Waalaikumsalam, duduklah disamping teman-teman gaib Aruni."


Genta dan Alif duduk berderet dengan teman-teman gaib Aruni, sedangkan Eyang putri duduk disebelah sang suami.


"Sebentar lagi sukma ku akan pergi ke alam gaib untuk menyelamatkan dan membawa Aruni kembali bersama kita."


"Apa Eyang akan pergi sendirian?" Tanya Genta.


"Tentu tidak, Uwo-uwo akan pergi bersamaku. Tugasnya nanti akan mrnancapkan keris pusaka itu pada ubun-ubun Braha." Jawab Eyang.


Eyang mengangguk sambil tersenyum, lalu memandang ke arah istrinya, Eyang putri.


"Oh iya bu, nanti selama sukma ku pergi, kau tetaplah berada disini bersama Genta dan Alif. Dan ingat jangan buka pintu maupun jendela saat sukma ku pergi, biarpun orang yang mengetuk pintu itu suaranya mirip dengan orang-orang terdekat kita atau bahkan suara ku sendiri. Jangan sekali-kali kau buka pintu atau jendela ya bu." Eyang memegang tangan istrinya.


"Memangnya kenapa kangmas?" Tanya Eyang putri.


"Ketika sukma ku pergi, ragaku ini kosong. Maka dari itu, hal ini akan mengundang para makhluk halus jahat yang ingin mengisi ragaku ini."


"Benar Eyang putri, terlebih raga ini milik Eyang. Seorang sesepuh desa, sudah pasti akan menjadi rebutan para mahkluk halus jahat." Timpal Alif.


"Ah begitu, baiklah. Eh tapi bukannya tadi kangmas bilang kalau keluarga Aruni akan kemari, lalu bagaimana caraku membedakannya kangmas?" Ucap Eyang putri.


"Aku tadi sudah memberitahu Sena untuk tidak usah datang dulu kemari sebelum aku yang menghubunginya." Jawab Eyang Gitarja.


"Baiklah kalau begitu kangmas, saya akan mengingat-ingat pesan kangmas."


"Dan satu lagi bu, jika nanti bagian tubuh saya mengeluarkan darah atau terluka, mungkin saya terkena serangan dari Braha. Tidak perlu panik, kau kompres saja ya nanti." Ucap Ki Braha.


Eyang putri menghembuskan nafasnya berat. "Ya diusahakan jangan sampai terkena serangan darinya, kangmas."

__ADS_1


Eyang tersenyum. "Iya pasti. Lif, Ta, saya titipkan Eyang putri pada kalian ya."


"Baik Eyang." Jawab keduanya kompak.


"Baiklah kalau begitu, Wo kita pergi sekarang." Ajak Eyang pada Uwo-uwo.


"Baik Eyang, eyang duluan saja."


Eyang mengangguk, kemudian ia memantapkan posisi bersilahnya, sambil menyeruput kopi hitam yang tadi dibuat oleh Eyang putri. Kini posisi Eyang sudah seperti orang yang sedang bertapa, ia memejamkan kedua matanya lalu membacakan doa agar bisa pergi ke alam jin.


Cukup lama mulut Eyang membacakan doa, setelah sukmanya berhasil keluar dari raganya, Eyang dan Uwo-uwo segera pergi ke alam jin.


Tak lama setelah itu, benar saja apa yang dikatakan oleh Eyang Gitarja, satu persatu mulai muncul ketukan pintu dengan suara orang-orang terdekat mereka. Mulai dari suara ibu Aruni, simbah, bahkan suara Raka.


Saat Alif akan bangkit, Genta mencegahnya. "Kau lupa ya, itu bukan Raka, itu makhluk halus tau. Kan tadi Raka sudah kau titipkan dirumah simbah."


"Astagfirullahhaladzim, aku lupa Ta. Untung saja kau memgingatkanku."


Genta menggelengkan kepalanya.


"Suaranya murip sekali ya." Ucap Eyang putri.


"Memang seperti itu Eyang putri, namanya makhluk halus jahat, sudah pasti licik." Jawab Genta.


"Ta, Lif. Aku dan Kukun akan pergi kedepan ya untuk mengusir mereka." Ucap Sander.


"Sudahlah kalian disini saja, sesuai dengan perintah Eyang." Ucap Genta.


"Benar apa kata Genta, kalau nanti ada kesalahan fatal bagaimana?" Timpal Alif.


"Ya sudahlah kalau begitu." Sander menekuk wajahnya.


Suara-suara makhluk halus yang menyerupai orang-orang terdekat Eyang pun semakin menjadi, bahkan ada yang menangis kesakitan agar mendapat simpati dari orang yang ada didalam rumah, agar bisa membuka pintu untuk mereka masuk.


"Suaranya sangat menyayat hati, untung saja Eyang kalian sudah memberiku pesan seperti tadi. Kalau tidak, aku sudah membuka pintu itu dari tadi." Ucap Eyang putri.


"Tidak mungkin Eyang tidak memberi pesan itu pada Eyang putri." Ucap Alif sambil tersenyum.


🍂


🍂


🍂

__ADS_1


__ADS_2