MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Menentukan Pilihan~ END


__ADS_3

"Heh ini kenapa malah ribut-ribut sih, nduk, itu Genta sudah datang. Katanya mau pergi ke pasar malam, sudah sana berangkat, jangan bikin Genta menunggu." Ucap ibu.


"Oh iya bu, sebentar lagi Aruni keluar. Nanggung, hanya tinggal pakai lipcream, daritadi Anin ganggu terus sih." Aku melirik ke arah Anin yang sedang menatapku dengan tajam.


"Enak aja malah aku yang disalahin, dasar labil." Anin beranjak dari kursi dan pergi keluar kamar.


"Anin kenapa sih?" Tanya ibu.


"Sensi bu, nggak ada yang ngajakin ke pasar malam, hahaha."


"Hust kamu itu, sama saudara sendiri jangan gitu loh."


"Hanya bercanda bu, ya sudah Aruni pergi dulu ya bu. Sekalian salim deh, hehe." Aruni mencium punggung tangan ibu.


"Ya sudah, hati-hati ya. Ingat loh, pulangnya jangan terllau larut malam."


"Iya ibuku sayang."


Aruni berjalan keluar kamar dan menemui mas Genta yang sedang menunggu diteras sambil memainkan ponselnya.


"Mas.." Sapaku pada mas Genta.


"Eh iya, sudah siap?" Mas Genta mendongak ke arahku dengan senyum manisnya.


Aku mengangguk. "Sudah, yuk berangkat. Aku tadi udah pamit juga ke ibu."


"Iya, ayo."


Aku dan mas Genta pergi dengan mengendarai sepeda motor menuju taman desa, dan ternyata teman-teman gaibku mengikuti kami. Huft, kebiasaan.


"Wah ngajak rombongan nih, ceritanya." Celetuk mas Genta.


"Hehe, aku nggak ngajak mereka kok. Aku juga nggak tau, kenapa mereka tiba-tiba ikut." Sahutku.


Mas Genta tertawa kecil. "Sudah, tak apa. Mungkin hantu juga butuh hiburan."


"Ada ya, hantu yang seperti itu." Ucapku.


"Ada, itu buktinya teman-teman gaib mu."


"Kami mendengarnya!" Ucap Sander.


Aku dan mas Genta hanya menggeleng sambil tersenyum. Setelah beberapa saat, kami berdua pun sampai ditaman kota yang menjadi tempat dimana pasar malam itu berada. Memang ramai sekali kalau ada pasar malam didesa ini, karena kehadirannya yang selalu ditunggu-tunggu oleh para penduduk desa, mungkin hanya dua kali dalam satu tahun.

__ADS_1


"Yuk." Mas Genta menggenggam tanganku sambil berjalan masuk ke pasar malam.


Hatiku berdegup kencang, malam ini aku harus sudah siap untuk menentukan pilihanku, antara mas Genta atau mas Alif. Aku harap siapapun yang ku pilih nantinya, aku masih bisa berhubungan baik dengan keduanya sebagai seorang sahabat.


Aku dan mas Genta berhenti disebuah kursi taman setelah membeli jagung bakar, posisinya sangat strategis, karena didepan kami ada bianglala dengan hiasan lampu kelap-kelip nya yang sangat indah.


"Enak?" Mas Genta menatapku yang terlihat sangat asyik memakan jagung bakar.


Aku mengangguk "Banget, sudah lama loh aku nggak makan jagung bakar, hehe."


"Berarti harus bilang terimakasih nih, ke aku."


Aku mengernyit dahiku. "Terimakasih, untuk apa?"


"Membelikan kamu jagung bakar." Ucapnya sambil menggigit jagung bakar.


"Iya deh iya, terimakasih ya mas Genta yang baik hati."


Mas Genta tersenyum. "Sudah? kaya gitu aja nih ucapan terimakasihnya?" Ucap mas Genta sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Ih mas Genta apaansi, aku itu perempuan baik-baik ya!" Jawabku.


Mas Genta tertawa. "Hahaha, Aruni-Aruni, pikiran kamu itu terlalu negatif. Kamu masih ingat kan pertanyaanku saat Alif sakit? Tentang siapa diantara kami yang akan kau pilih?"


"I-iya aku masih ingat kok."


Aku menghela nafas panjang. "Ya, aku sudah ada jawaban tentang pertanyaan itu. Sebenarnya sangat sulit menentukan pilihan ini, karena kalian berdua adalah orang baik, kalian berdua selalu ada di sampingku ketika Ki Braha ingin mencelakai diriku. Meskipun awalnya mas Alif yang memulai semua ini, tetapi dari pengakuannya itu lah yang membuatku semakin yakin kalau dia benar-benar berubah dan dia adalah orang yang baik."


"Jadi, bagaimana? Aku atau Genta yang kau pilih?" Suara mas Alif datang dari arah belakang.


Aku menoleh ke belakang dengan sedikit heran, bagaimana bisa mas Alif ada disini.


"Jangan terkejut, kami sudah merencanakan ini, bahkan pertanyaan itu pun adalah kesepakatan dari kami berdua. Tujuannya, agar kami tidak saling berselisih lagi." Ucap mas Genta.


"Ah begitu ya, baiklah. Lebih bagus kalau disini juga ada mas Alif, jadi semuanya bisa jelas. Jujur, aku merasa nyaman ketika berada didekat kalian berdua, tetapi aku sudah mengenal lebih lama mas Genta dibanding dengan mas Alif. Bahkan kami dulunya sewaktu kecil adalah teman bermain, dan jujur dari terakhir kali aku dan mas Genta bertemu, mungkin itu waktu kami masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Aku sudah jatuh hati pada mas Genta, dan sampai sekarang perasaan itu tidak berubah meskipun aku nyaman ketika berada didekat mas Alif. Maaf ya mas Alif, setelah kurang lebih satu bulan mas Genta memberiku waktu untuk memikirkan matang-matang tentang ini, aku merasa rasa sayangku sama mas itu hanya sebatas kakak dan adik saja. Tapi tidak dengan mas Genta, karena memang dari awal aku sudah jatuh hati. Jadi, yang aku pilih diantara kalian berdua itu, mas Genta." Ucapku panjang lebar.


Mas Alif terlihat sedikit kecewa mendengar pernyataan ku, terlihat air mata ingin sekali menetes dipipinya. Tetapi ia tahan.


"Baiklah, tidak apa-apa. Aku mengerti akan hal ini. Puncak tertinggi mencintai seseorang itu ketika melihatnya bahagia, walaupun bahagia itu tidak bersama dengan kita. Jadi, apapun yang bikin kamu bahagia, aku juga ikut bahagia, Aruni. Ta, titip Aruni ya. Jangan sesekali kamu buat Aruni menangis!" Ucap mas Alif.


"Waduh bro, terimakasih ya. Aku janji, aku tidak akan membuat Aruni menangis, kecuali tangisan bahagia. Dan aku yakin, kamu pasti bisa menemukan perempuan yang sesuai diluar sana, semangat bro ku." Ucap Mas Genta sambil memeluk mas Alif.


"Aduh, kok malah jadi yang laki-laki nya sih yang peluk-pelukan. Yang baru aja jadian malah diem-diem bae." Celetuk Sander.

__ADS_1


"Ini itu pelukan persahabatan, tau." Sahut mas Alif.


"Iya deh iya, si paling sahabat. Paling-paling nanti pas pulang nangis-nangis dikamar, galau." Ejek Uwo-uwo.


"Wo, ih kau itu. Mas Alif terimakasih ya karena sudah ada untuk Aruni disaat-saat terberat Aruni. Kita masih bisa bersahabat kok, tetap menjaga tali persaudaraan ini ya mas." Ucapku.


"Iya Run, pasti. Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Raka dirumah sendirian, tadi nitip minta dibelikan bakso katanya." Pamit mas Alif.


"Hati-hati ya." Ucapku dan mas Genta bersamaan.


"Cie yang baru aja jadian, cie.." Goda Sander.


"Cie yang ternyata udah naksir dari jaman SMP, cie." Timpal Cong-cong.


"Cie, cie..." Ucap Kukun dan Uwo-uwo.


"Kalian diem deh." Ucapku.


"Oh ternyata udah suka dari jaman SMP ya, kalau begitu sama dong." Ucap mas Genta sambil memegang kedua tanganku.


"Masa sih?" Tanyaku sambil tersenyum.


"Masa nggak percaya sama pacar sendiri, hahaha."


"Iya deh iya percaya."


Mas Genta menarikku masuk kedalam pelukannya, hangat, itulah yang aku rasakan. Ternyata jatuh cinta memang seindah ini ya.


Aku merasa beruntung sekali dengan semua yang Allah berikan padaku, terlebih tentang kelebihanku yang bisa melihat makhluk tak kasat mata. Dengan ini aku bisa mendapatkan keempat sahabat gaib yang sangat-sangat sayang padaku, dan tentu saja bisa membuatku lebih mengenal sosok lelaki yang sudah aku sukai dari dulu.


🍂


🍂


🍂


"Run, kita harus sampai menikah ya." Ucap mas Genta padaku saat perjalanan pulang ditengah jalan.


Aku terkekeh mendengar permintaan mas Genta.


"Ih kok malah ketawa sih." Rengek mas Genta.


"Iya-iya, insyaallah ya mas. Bismilah kita jalankan hubungan ini dengan tujuan yang baik."

__ADS_1


"Siap, i love you, Aruni."


"I love you more, mas." Jawabku sambil mengeratkan pelukanku dipinggang mas Genta.


__ADS_2