
Beberapa minggu berikutnya sikap Alif terhadap Raka semakin baik, bahkan terhadap orang disekitaranya pun begitu.
Hari ini Raka sedang libur semester, jadi ia meminta untuk diantarkan ke rumah Aruni oleh Alif. Alif pun dengan senang hati mengiyakan permintaan sang keponakan.
Selain ingin membuat Raka senang, ia juga bisa bertemu dengan Aruni hehe. Semakin lama perasaannya terhadap Aruni semakin besar, hingga ia melupakan sebuah misi dari Ki Braha.
"Om, Raka bosen nih. Ke rumah mbak Runi saja yuk." Ajak Raka.
"Emang mau ngapain kesana?"
"Ya nggak papa sih, Raka cuma bosen aja disini. Lagian kita disini hanya berdua kan." Ucapnya sambil menopangkan dagunya dimeja sambil cemberut.
Alif tertawa melihat tingkah sang keponakan "Hahaha, yaudah iya. Sudah sana siap-siap dulu."
"Beneran om mau?"
"Iyaa, sudah sana cepet siap-siap." Perintah Alif.
"Siap bos." Serunya sambil berlari ke kamar untuk bersiap.
Alif sendiri pun berasa senang karena sudah tiga hari ia tidak bertemu Aruni, walaupun ia menyukai Aruni tetapi ia tidak berani mengungkapkan perasaannya.
Ia masih bimbang, ia kembali teringat akan pesan Ki Braha tempo hari. Ki Braha memintanya untuk segera mengirimkan serangan kembali, namun sampai sekarang Alif tidak berani melakukannya.
Mana mungkin ia mengirimkan santet pada orang yang ia sukai, sungguh saat ini dirinya benar-benar ada diposisi yang sangat sulit.
Terus-menerus dikekang oleh Ki Braha, lama kelamaan membuat Alif jenuh dan kesal. Keinginan untuk lepas dari jerat Ki Braha pun semakin membulat.
Tetapi ia sadar, tidak semudah itu jika ingin lepas dari jerat iblis seorang Ki Braha. Ingin sekali rasanya ia meminta bantuan eyang Gitarja, tetapi ia merasa malu jika harus meminta bantuan eyang. Mengingat bagaimana sikapnya terhadap eyang dulu.
Saat Alif sedang melamun memikirkan masalah Ki Braha, lamunannya dibuyarkan oleh Raka yang sudah siap untuk pergi ke rumah Aruni.
"Om Alif, Raka sudah siap nih. Ayo pergi sekarang." Ajak Raka.
"Ommm ihhh." Sewot Raka sambil menggoyangkan tubuh Alif.
"Eh iya-iya, sudah siap ya? Ya sudah ayo berangkat." Jawab Alif.
"Ih om sedang ada yang dipikirkan ya? sampai-sampai melamun seperti tadi." Tanya Raka.
"Enggak Raka, tadi om hanya melamum biasa aja kok. Sudah ayo berangkat.
Alif dan Raka pun berangkat ke rumah Aruni yang jaraknya cukup jauh, membutuhkan waktu hampir satu jam karena berbeda desa.
Tak lupa Alif pun singgah sebentar ke sebuah toko roti brownis sebagai buah tangan bertamu ke rumah Aruni.
Keluarga Aruni yang sudah mengetahui perubahan sikap Alif pun merasa sangat senang, dan sudah tidak menaruh curiga dan kesal lagi terhadap Alif.
•••
__ADS_1
Sementara dirumah, aku dan Anin sedang mengobrol santai bersama simbah, ibu, dan budhe.
"Liburan semester seperti ini enaknya liburan ke mana ya?" Celetuk Anin sambil memandang langit.
"Halah so-soan banget mikirin liburan, mandi saja kamu malas kok." Sahutku.
"Yakan kalau kita punya rencana liburan aku jadi semangat mandi." Ucapnya.
"Apa kamu nggak mau liburan ke tempat ayah kerja nduk?" Tanya ibu kepadaku.
"Memangnya ditempat ayah kerja ada wisata apa bu?"
"Ya nggak tau ibu juga, siapa tau kamu kangen sama ayah." Ucap ibu.
"Kangen ayah si pasti, tapikan kalau Aruni kesana paling hanya celingak-celinguk nggak jelas. Mending disini aja lah." Kataku.
"Iya disini saja, kan disini ada Genta dan juga Alif yang bisa membuat harimu semakin berwarna." Goda budhe Ratih padaku.
"Ih budhe itu ngomong apasi, nggak gitu budhe." Ucapku tersipu malu.
"Tapi kamu itu harus milih diantara mereka Run, kan nggak boleh kalau wanita itu mempunyai dua orang suami. Iyakan mbah?" Celetuk Anin.
Aku memukul bahu Anin karena kesal "Sembarangan aja kalau ngomong." Sabutku sambil memicingkan mata.
"Hahaha sudah-sudah sekolah dulu diselesaikan, setelah itu baru milih mau Genta atau Alif." Kata simbah.
"Ih simbah kok malah ikut-ikut budhe Ratih sih." Ucapku kesal.
"Hm siapa tuh, aku si yakin antara mas Genta kalau nggak ya mas Alif hahaha." Celetuk Anin.
"Ih diem deh." Sahutku.
Beberapa saat kemudian terlihat mas Alif datang bersama dengan Raka menggunakan sepeda motor sportnya itu.
Tersenyum manis ke arah kami.
"Kan benar apa kataku." Kata Anin tak mau kalah.
"Kamu ini seneng banget kalau godain Aruni." Ujar budhe Ratih.
"Anin memang begitu budhe, huuu." Ucapku sambil berdiri menghampiri mas Alif dan Raka.
"Mbak Runi..." Teriak Raka selepas turun dari sepeda motor.
"Hati-hati nanti jatuh." Tutur mas Alif yang melihat antusias sang keponakan.
Akupun membentangkan tanganku yang langsung direspon oleh Raka.
"Haii, padahal rencananya sore nanti mbak mau kerumah Raka loh. Malah Raka datang kesini dulu." Ucapku sambil melepaskan pelukan dari Raka.
__ADS_1
"Hehe, om Alif yang mengajak Raka kesini. Katanya kangen sama mbak Runi." Ucap jahil Raka.
Mas Alif yang mendengar itupun kaget dan gelagapan.
"Eh nggak gitu Run, kan tadi Raka yang bilang pengen main kesini katanya bosan dirumah cuma mas om Alif. Kok malah om Alif yang dituduh sih." Ucap Alif sedikit malu.
Raka hanya tertawa dan aku tersenyum manis.
"Kalau kangen beneran juga nggak papa Lif." Goda simbah.
"Halah simbah ini, sehat mbah?" Tanya mas Alif sambil menyalami tangan simbah, ibu, dan budhe.
"Alhamdulillah sehat, Raka sini sama simbah." Panggil simbah.
"Oh iya Run, ini tadi pas kesini mampir ditoko brownis depan hehe." Ucap mas Alif sembari memberikan paper bag berwarna pink.
"Kok malah repot-repot Lif, kamu dan Raka kesini saja kita udah seneng banget kok." Celetuk Ibu.
"Tidak apa-apa budhe, hanya brownis saja kok." Sahut mas Alif.
Ibu tersenyum manis. "Terimakasih ya, Run buatkan minum dulu sana buat Alif sama Raka."
"Baik bu, mau minum yang panas atau dingin mas?" Tanyaku.
"Dingin mbak, Raka haus banget." Celetuk Raka.
"Oke, tunggu sebentar ya."
Akupun bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman untuk mas Alif dan Raka.
"Cie diapelin lagi nih." Goda Sander.
"Enak ya kalau cantik, banyak yang suka." Timpal Kukun.
"Tapi kamu juga cantik kok Kun." Celetuk Uwo-uwo.
"Huu, orang sedang membahas siapa malah nyambung ke siapa." Sahut Cong-cong.
"His kalian ini berisik sekali. Sepertinya kau semakin jatuh hati pada Kukun ya Wo." Godaku pada Uwo-uwo.
Uwo-uwo tidak menjawab tetapi dia salah tingkah seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta.
"Ih lihatlah dia, tidak sadar umur. Bisa-bisanya berlagat seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta." Cibir Cong-cong.
"Berhenti seperti itu Wo, aku ingin muntah melihatnya." Timpal Sander seolah-olah ingin muntah.
"Ah dasar kalian ini, iri." Kata Uwo-uwo.
Sedangkan Kukun hanya terdiam dan tersenyum.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Dasar kalian, sudahlah aku mau mengantar ini dulu kedepan." Ucapku sambil melangkah pergi meninggalkan teman-teman gaibku didapur menuju ke teras depan.