
"Iya pak Karman, beristirahatlah dengan tenang. Saya akan sampaikan salam pak Karman untuk mas Alif dan Raka."
Pak Karman tersenyum, saat pak Karman akan pergi, wujudnya berubah sama seperti dulu dirinya masih hidup. Dengan memakai baju berwarna putih dan senyum yang terus mengembang, pak Karman berjalan menuju cahaya yang ada didepannya.
Saat sudah berada diujung cahaya, pak Karman membalikkan badannya menghadap ke arahku, dia tersenyum sambil melamaikan tangan sebagai tanda perpisahan antara kami. Perlahan tubuhnya menghilang diiringi dengan hilangnya cahaya tersebut.
Aku sangat terharu hingga air mataku jatuh, aku senang dapat membantu pak Karman. Dengan ini pak Karman dapat beristirahat dengan tenang.
"Beristirahatlah dengan tenang ya pak Karman dan juga istri, saya pastikan Raka akan tetap hidup dengan layak bersama dengan mas Alif. Saya akan menyayangi Raka dengan sepenuh hati, karena saya sudah menganggapnya seperti adik saya sendiri. Selamat jalan pak Karman." Ucapku dalam hati sambil mengusap air mataku.
"Kau menangis, Run?" Terdengar suara Sander, sontak membuatku menoleh ke arahnya.
"Ada apa? kenapa kau menangis, apa ada yang menyakitimu?" Timpal Cong-cong.
"Beritahu kami, beritahu kami." Ucap Kukun tak sabar.
Aku memutarkan bola mataku. "Bagaimana aku bisa menjawab, kalau kalian terus saja mencecarku dengan pertanyaan."
"Hehe maaf, silahkan bercerita apa yang sebenarnya terjadi."
"Tadi pak Karman berkunjung kemari, ia mengucapkan terimakasih padaku, dan juga pada kalian semua. Karena sekarang Raka sudah diasuh dengan baik oleh mas Alif."
"Oh begitu, jadi itu yang membuatmu menangis?" Tanya Kukun.
Aku menganggukkan kepala. "Aku sangat terharu ketika dia sudah mau pergi, aku senang bisa membantu dan menyempurnakan jasad pak Karman."
"Semuanya sudah ditakdirkan, kau memang gadis yang baik, Aruni. Tetaplah berbuat baik pada siapapun, entah itu manusia atau pada hantu seperti kami ini." Cong-cong menatapku dalam-dalam.
"Terimakasih ya, ini semua juga berkat bantuan dari kalian. Tanpa kalian aku juga pasti akan sangat sulit untuk melakukan semua ini."
"Sama-sama Aruni, kami semua sangat sayang padamu. Maka dari itu kami sangat sedih ketika kau harus berhadapan dengan raja jin jelek itu." Celetuk Sander.
Aku terkekeh. "Kau itu memang hantu shamming, ya."
"Bukan hantu shamming, tapi semua apa yang aku katakan itu fakta yagesya. Jadi stop bilang aku itu hantu shamming!" Sander melipatkan tangannya didepan dada.
"Halah, selalu saja mengelak. Faktanya ucapanmu itu memang menyakitkan, aku jadi curiga kau itu admin akun gosip dimedia sosial itu." Sindir Kukun.
"Aku hantu, mana bisa bermain ponsel, bodoh!"
Aku tertawa mendengar celotehan teman-teman gaibku, saking kerasnya aku terawa, ibu datang menemuiku dikamar.
"Nduk, kamu ini kenapa si tertawa keras seperti itu, itu simbah sudah tidur. Nanti kaget loh denger suara kamu." Ucap ibu ketika membuka pintu kamarku.
__ADS_1
"Hehe eh ibu, iya bu maaf."
Ibu menggelengkan kepala. "Memangnya kamu tertawa gara-gara apasi? sedang chat dengan Genta atau Alif?" Ibu duduk ditepi ranjangku.
Aku menggeleng. "Tidak keduanya, Aruni hanya sedang bercanda dengan teman-teman gaib Aruni, ibu."
Ibu melihat ke setiap sudut kamarku sambil berdecak takut. "Mereka ada disini, dimana?"
Aku terkekeh. "Ada disamping ibu."
"Astagfirullahhaladzim, kamu ini loh jangan nakut-nakutin ibu, Run!" Ibu sontak berdiri mendekatiku.
"Hahaha habisnya ibu ini lucu, ya sekalian saja Aruni becandain."
"Ah udah lah ibu mau tidur aja, kamu juga tidur loh jangan begadang."
"Baik ibu, selamat malam."
"Selamat malam anak ibu yang cantik." Kecup ibu dikeningku.
Ibu pun keluar dari kamarku.
"Ah manisnya, aku juga ingin dikecup. Dulu ketika aku mau pergi tidur, mami selalu mengecup keningku. Hiks, tapi sekarang sudah tidak bisa lagi." Sander yang sedang duduk dijendela kamar tertunduk.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana terpukulnya perasaan kedua orangtua Sander kala itu, karena kelalaian mereka dalam menjaga anak, mengakibatkan mereka harus kehilangan buah hati yang amat mereka sayangi.
"Aduh kasihan sekali kau ini, mau kukecup?" Kukun memonyongkan bibirnya didepan Sander.
"Menjauhlah, kalau aku dikecup kamu, bisa-bisa keningku penuh dengan darah, tau!" Ucap Sander kesal.
Aku terkekeh, sembari naik ke ranjang kasurku. "Apa kau sampai sekarang belum bisa bertemu dengan kedua orangtua mu, Sander?"
"Entalahlah Aruni, akupun tak tau keberadaan mereka sekarang dimana." Jawab Sander lirih.
"Tapi papi mami kamu sudah pasti meninggal kan?" Celetuk Cong-cong.
"Ya sudahlah bodoh, kau fikir ada manusia yang bertahan hidup sampai sekarang dimasa kolonial dulu. Waktu aku meninggal saja, usia mereka sudah 30 tahunan." Sahut Sander kesal.
"Eits kalem brader, kan i cuma tanya."
"Apa kau yakin, Sander?" Tanyaku.
"Yakin Aruni, sangat yakin. Terlebih dulu papi itu memiliki penyakit bawaan, dan yang ku dengar semenjak kematianku, kondosi papi semakin hari semakin melemah hingga akhirnya pada saat perang dengan penduduk pribumi papi terbunuh. Tetapi yang aku masih belum mengerti sampai sekarang, kenapa aku tidak bisa bertemu dengan mami dan papi." Jawab Sander.
__ADS_1
Aku memanggut-manggut. "Sepertinya kita harus menanyakan hal ini pada eyang Gitarja, semoga saja eyang tau apa penyebabnya. Dan semoga kau bisa segera bertemu dengan mami dan papimu."
"Ik hoop het ook, ik mis ze zo erg." ( Aku harap juga begitu, aku sangat merindukan mereka.)
"Heh apa yang dia katakan?" Cong-cong kebingungan mendengar Sander berbicara bahasa Belanda.
Aku terkekeh. "Hihi, dia itu sedang berbicara bahasa Belanda, Cong."
"Ah begitu, apa nder artinya?" Tanya Cong-cong.
"Aku harap juga begitu, aku sangat merindukan mereka." Jawab Sander.
"Asekk gw bisa privat sama lo nih nder, kali aja dapet pocong Belanda." Celetuk Cong-cong.
"Ngawur, yang ada pocong Belanda nggak selera sama pocong lokal kaya kamu!" Sahut Kukun.
"Jangan salah, lokal pride nih, pocong unggulan kuatilas super, tau." Cong-cong tak mau kalah.
"Kalian berdua itu berisik, wajah penuh luka dan darah kaya gitu aja sok mau dapet hantu bule, huek." Ucap Sander.
"Becandanya nggak ramah, bintang satu." Cong-cong merajuk.
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar keributan ketiga teman gaibku ini.
"Hust Aruni jangan keras-keras, nanti simbah bangun dan ibumu akan kemari lagi." Kukun mengingatkan ku.
Sontak aku menutup mulutku dengan kedua tangan. "Hehe ups, kelepasan. Lagian kalian sih, bisa banget bikin mood aku naik. Berasa lagi nonton film horor komedi, tau."
"Aku kan memang lucu, menggemaskan. Tidak seperti mereka berdua ini, menyeramkan, wajanya jelek."
"Wah parah, sekali lagi kamu hantu shamming sama kita, tidur digudang satu minggu!" Kesal Cong-cong.
"Mana bisa begitu, memangnya siapa kau membuat aturan-aturan seperti itu, hah?" Ucap Sander tak terima.
"Aruni, lihatlah dia sangat menyebalkan." Cong-cong mengadu padaku.
"Haha, sudah-sudah jangan begitu Sander. Tidak baik, lebih baik sekarang kalian diam, aku mau tidur. Sudah hampir larut." Aku menutup mataku perlahan.
"Baiklah, selamat tidur dan mimpi yang indah, Aruni." Ucap kompak ketiga teman gaibku.
🍂
🍂
__ADS_1
🍂