
Hari ini Aruni berencana mengunjungi mas Genta untuk meminta maaf akan sikapnya pada mas Genta tempo hari.
Sebenarnya Aruni malu, bagaimana bisa dia bersikap seperti itu pada mas Genta. Mungkin kemarin dia sangat tersulut emosi, hingga tak sadar sudah bersikap seperti itu.
Sebelum pergi, Aruni membuatkan sarapan untuk mas Genta. Ya walaupun hanya roti dengan selai coklat, hehe.
"Oke sudah siap, aku akan minta maaf dan memberikan kotak sarapan ini untuk mas Genta." Ujarku dengan penuh semangat.
"Cie, udah ngga kesel lagi nih ceritanya." Goda Cong-cong.
"Paling nanti juga kesel lagi Cong, kita lihat saja." Celetuk Sander.
"His kau ini jahat sekali, jangan berbicara seperti itu." Sahut Kukun.
"Sander memang begitu, sangat menyebalkan." Timpalku.
"This is fakta bro." Ujar Sander.
"Aku kurung lagi ya kamu di gudang sendirian." Ancamku.
Sander tertawa "Hehe, jangan dong. Tadi kan aku hanya sedang bercanda saja, hidup jangan dibawa terlalu serius kawan."
"Memangnya kau masih hidup?" Celetuk Uwo-uwo.
"Tidak sih." Sahut Sander sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Aku menggelengkan kepala "Sudahlah aku mau pergi menemui mas Genta dulu, kalian mau ikut atau tidak?" Tanyaku.
"Tentu saja kami ikut." Jawab keempat teman gaibku kompak.
Aku sengaja datang ke sawah pakde Wijaya, karena aku yakin mas Genta pasti sedang berada disini untuk memantau secara langsung para pekerja yang sedang memanen.
Kulihat seorang pria sedang duduk disaung kecil yang ada ditepi sawah sambil memperhatikan beberapa pekerja. Walaupun hanya memakai kaos dan celana pendek, pesona mas Genta tak berkurang sedikitpun. Ku akui dia memang pria yang nyaris sempurna dimataku, hehe.
Mas Genta tidak menyadari akan kehadiranku rupanya, saat aku memanggil namanya pun ia sedikit terkejut.
"Mas Genta." Sapaku sambil melambaikan tangan dari jarak 50 meter.
"Aruni?!"
Mas Genta tersenyum dan segera bangkit dari saung.
"Hai, pagi-pagi sudah disawah saja." Ucapku.
Mas Genta mengangguk "Ya seperti ini kalau posisi sawah sedang panen dan bapak sedang diluar kota. Makanya aku jarang menghubungimu."
Aku tersenyum malu "Hehe, maafkan aku mas."
__ADS_1
"Tidak masalah, sini duduk."
Kami berdua pun duduk disaung, pemandangan desa dipagi hari memang sangat indah. Terlebih lagi kalau dilihat dari daerah persawahan, angin berhembus diiringi dengan kicau burung yang bersahut-sahutan.
"Aruni, Genta kami mau kesana saja ya. Kami tidak mau mengganggu kalian." Ucap Uwo-uwo.
"Hem, baiklah Wo." Jawabku.
"Tumben pagi-pagi kesini, ada hal penting Run?" Tanya mas Genta memecah keheningan diantara kami.
"Em itu mas soal kemarin, aku mau minta maaf. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu kepadamu, itu benar-benar diluar kendaliku mas."
Mas Genta tersenyum "Tanpa kau meminta maaf pun aku sudah memaafkan mu, Aruni. Ya walaupun kemarin aku sempat kecewa dengan sikapmu, tapi aku sadar kau seperti itu karena emosimu sedang memuncak. Dan aku mengerti akan hal itu."
"Terimakasih ya mas, maaf sebelumnya sudah membuat mas kecewa. Sekali lagi aku minta maaf."
"Iya-iya sudah aku maafkan."
Aku tersenyum "Oh iya, ini tadi aku buatkan kamu sarapan. Tapi maaf ya, aku cuma bisa buat roti hehe."
Aku memberikan kotak bekal sarapan itu pada mas Genta.
"Wah kamu ini sampai repot-repot, tapi terimakasih loh kebetulan aku belum sarapan. Tadi subuh langsung kesini."
"Hehe iya sama-sama, dihabiskan ya."
•••
Dilain tempat, Alif sedang membantu Raka bersiap untuk sekolah. Satu minggu ini sikap Alif memang sudah berubah penuh pada Raka, dan yang penting Alif memang tulus akan hal itu. Entah apa yang membuatnya berubah.
Tapi untuk masalah misi dari Ki Braha, sebenarnya Alif sudah tidak mau lagi melanjutkannya karena jujur ia mulai jatuh hati pada Aruni. Mana mau dia melukai dan mencelakai gadis yang ia cinta.
Tapi sekali lagi, ini adalah perintah dari Ki Braha, sangat mustahil untuk Alif menolak permintaannya tersebut. Ia ingin sekali lepas dari jerat iblis Ki Braha, tapi apalah daya Alif. Dia sangat berharap suatu hari nanti, dirinya bisa terbebas dari Aki Braha.
"Oke sudah siap, tidak ada yang tertinggal kan?" Tanya Alif pada keponakannya.
"Em sepertinya tidak om." Jawab Raka.
"Baiklah kita berangkat sekarang, takut nanti sekolahmu telat. Om panasin motor dulu ya."
"Oke om."
Saat Alif beranjak keluar, Raka memanggilnya.
"Om." Katanya
Alif menoleh "Ada apa?"
__ADS_1
"Terimakasih ya sudah baik sama Raka, asal om tau Raka sayang sekali sama om. Karena hanya om yang Raka punya didunia ini, Raka mohon sama om jangan tinggalkan Raka ya seperti ayah dan bunda." Ucap Raka sambil menangis.
Hati Alif terenyuh mendengar menuturan Raka, Ia kembali teringat akan perilakunya selama ini pada sang keponakan.
Alif berjongkok didepan Raka sambil menangkup kedua wajah Raka "Lihat om, denger ya Raka, om tidak akan pernah ninggalin Raka sendirian. Om akan selalu menemani Raka sampai Raka besar nanti. Om minta maaf ya sama kamu, selama ini ok bersikap jahat sama kamu."
"Om janji ya sama Raka?"
"Iya om janji, sudah jangan nangis lagi. Kan mau sekolah, masa nangis sih. Inget kata ayah, anak laki-laki nggak boleh cengeng." Ucap Alif sambil mencubit hidung Raka.
Raka tertawa "Hahaha siap bos." Jawabnya sembari hormat pada Alif.
Alif mengusap kepala sang keponakan.
"Yaudah yuk berangkat."
Saat Alif sudah selesai memanasi sepeda motor sportnya, eyang Gitarja yang melihat Alif dan Raka pun menghampiri mereka.
"Assalamualaikum." Sapa eyang.
"Waalaikumsalam, eyang?" Jawab Raka dan Alif.
"Raka mau pergi sekolah ya?" Tanya eyang pada Raka.
"Iya eyang Raka mau pergi sekolah diantar sama om Alif." Jawab Raka dengan penuh semangat.
Eyang Gitarja tersenyum pada Alif "Syukur kamu sudah berubah, istiqomah ya cah bagus." Kata Eyang pada mas Alif sambil menepuk pundaknya.
Mas Alif mengangguk dan tersenyum "Insyaallah, terimakasih yang."
Eyang Gitarja tersenyum.
"Kami pamit dulu, takut Raka telat sekolahnya. Mari yang, Assalamualaikum." Pamit Alif.
"Waalaikumsalam, hati-hati dijalan."
Alif mengangguk dan melajukan sepeda motornya.
Eyang memandangi kepergian Alif dan Raka sambil tersenyum haru.
"Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Aruni, Alif sudah benar-benar berubah. Aku harap dia bisa istiqomah dengan ini, agar Karman bisa pergi dengan tenang. Tapi aku melihat seperti ada kecemasan diraut muka Alif, ada apa dengan dirinya ya?" Gumam eyang.
"Nantu coba aku bicarakan ini pada Aruni dan Genta, agar mereka bisa menanyakan sendiri pada Alif. Aku yakin, Alif itu pemuda yang berhati baik. Hanya saja kala itu dirinya sedang tersulut emosi."
🍂
🍂
__ADS_1
🍂