
"Maaf eyang, maafkan Aruni. Aruni memang keras kepala. Lain kali Aruni tidak akan berbuat seperti ini lagi. Maaf eyang."
"Minta maaf juga pada teman gaibmu, ingat nduk lain kali kamu itu jangan ngeyel. Ini semua demi keselamatan kamu."
"Baik eyang Aruni mengerti, terimakasih sudah menolong Aruni. Dan teman-teman, aku minta maaf ya sudah membuat kalian khawatir dan cemas seperti ini."
"Sudahlah Aruni tak apa, yang terpenting lain kali jangan seperti ini lagi." Ucap Cong-cong.
"Kami sangat menyayangimu, dan kami tidak ingin Ki Braha menyentuh dan menyakitimu seperti ini. Maaf kalau kami terkesan cerewet, tapi ini semua kami lakukan karena kami tulus menyanyangimu, Aruni." Timpal Kukun.
"Hiks, iya benar. Kami itu sangat menyayangimu melebihi apapun, memangnya yang bisa menyayangimu hanya Genta dan Alif saja." Celetuk Sander sambil pura-pura menangis.
"Kau ini kenapa malah bawa-bawa Genta dan Alif." Sahutku dengan kesal.
"Sudah-sudah, ayo kita pulang sekarang. Pasti orang dirumah sangat khawatir karena kamu belum pulang-pulang." Ajak eyang Gitarja.
Aku mengangguk dan pulang bersama dengan eyang dan juga teman-teman gaibku. Tak sampai 5 menit, kamipun tiba dirumah dan disambut dengan ibu yang tengah menungguku didepan teras rumah dengan khawatir.
"Alhamdulillah ya Allah, kamu ini kemana aja si nak. Ibu daritadi khawatir banget loh, hampir satu jam. Padahal cuma ke warung Yu Darni. Loh kok kamu bareng eyang?" Tanya ibu bertubi-tubi.
"Ihh ibu itu kalau tanya satu-satu dong, Aruni jadi bingung jawabnya." Ucapku sambil memegangi perutku.
"Kan ibu khawatir sama kamu, itu kenapa perutnya dipegang seperti itu? Eyang sebenarnya apa yang terjadi?"
Suara ibu yang cukup keras membuat simbah, budhe Ratih, dan Anin keluar.
"Ada apa ini, kok rame sekali." Ucap simbah.
"Tadi Aruni diserang oleh Ki Braha." Ujar Eyang Gitarja.
"Apa?!"
"Beruntungnya dia hanya terluka sedikit karena salahsatu teman gaib Aruni yang memberitahuku melalui kontak batin. Saat aku datang, Aruni sudah terkapar ditanah dan Ki Braha sedang mencoba menyerang teman-teman gaib Aruni." Sambung eyang Gitarja.
"Astagfirullahaladzim, tapi kamu tidak apa-apa kan nduk?" Tanya simbah padaku.
"Alhamdulilah simbah Aruni tidak apa-apa, hanya saja tadi sempat terkena dibagian perut dan punggung." Jawabku.
"Nanti biar eyang obati, hanya luka sedikit." Ujar eyang.
"Baik eyang, terimakasih."
__ADS_1
"Ini bagaimana ceritanya sih Run, sampai-sampai kamu diserang sama Ki Braha. Bukannya seharusnya ada teman gaibmu yang menjagamu ya?" Tanya Anin.
"Saat aku pergi ke warung Yu Darni, mereka tidak bersamaku."
"Wah parah, penjagaannya lengah banget. Untung kamu hanya terluka sedikit seperti ini." Omel Anin.
"Kalau tidak tau kebenarannya tidak usah menuduh, dasar cerewet, ingin sekali ku olesi mulutmu itu dengan sambal." Sewot Sander.
Aku menahan tawaku mendengar Sander yang sewot.
"Ih jangan berbicara begitu, memang aku yang meminta mereka untuk berjaga saja dirumah. Karena aku berfikir hanya ke warung Yu Darni saja, jadi tidak perlu penjagaan dari mereka. Tapi ternyata aku salah, hehe." Ucapku sambil tersenyum.
Ibu menggelengkan kepalanya mendengar penuturanku.
"Ingat ya nduk, lain kali jangan seperti itu lagi." Ucap Ibu.
"Benar, jangan suka menyepelekan hal-hal seperti itu!" Timpal simbah.
Aku tertunduk. "B-baik ibu, simbah. Aruni salah, Aruni minta maaf."
***
Hari ini tepat sepekan Uwo-uwo bersemedi di dalam gua yang ada digunung Keramat untuk mendapatkan senjata yang dulu kakeknya, Ki Bahrat gunakan untuk mengalahkan Ki Braha, yaitu sebuah keris pusaka yang telah dikeramatkan selama ratusan tahun lamanya.
Sebelum pergi untuk bersemedi, Uwo-uwo sudah terlebih dulu menemui kakeknya, Ki Bahrat untuk memberitahunya tentang masalah yang tengah Aruni hadapi. Tentu saja Ki Bahrat dengan senang hati mengizinkan cucunya tersebut untuk mengambil keris pusaka yang ratusan tahun lalu ia keramatkan.
"Assalamualaikum, kek." Sapa Uwo-uwo pada Ki Bahrat.
"Waalaikumsalam, cucuku rupanya yang kemari. Sudah lama dirimu tidak mengunjungiku, dan sepertinya kau sudah menjadi muslim?" Ucap Ki Bahrat dengan senyum mengembang diwajahnya.
Tentu saja beliau ini senang, karena terakhir bertemu dengan cucunya, Uwo-uwo masih belum menjadi jin muslim dan menjadi jin yang membantu manusia untuk mendapatkan harta dunia, ya bisa dibilang sebagai media penglaris.
"Alhamdulillah kek, aku bertemu dengan seorang gadis indigo, dan dia keturunan Keraton Jawa. Dia yang meyakinkan hatiku untuk mantap menjadi jin muslim."
"Gadis yang baik, aku akan sangat berterimakasih pada gadis itu. Karena telah membuat cucuku memilih jalan yang benar, ngomong-ngomong kau ada keperluan apa kemari, cucuku?"
"Begini kek, ini tentang sahabat manusiaku tadi, Aruni namanya."
Uwo-uwo menceritakan semua hal yang dialami oleh Aruni, berawal dari Aruni yang ingin membantu menyelesaikan kasus pak Karman hingga mendapat serangan dari mas Alif dan menjadi sasaran serangan juga dari Ki Braha.
"Braha.. dia kembali berulah rupanya. Aku kira dengan kekalahan waktu itu, akan membuatnya berubah menjadi lebih baik lagi. Jadi apa yang kau inginkan, cucuku?"
__ADS_1
"Kakek dulu pernah mengatakan kalau kekalahan pada Ki Braha itu karena keris pusaka yang kakek tancapkan di ubun-ubun Ki Braha kan?"
"Iya kau benar, lalu?"
"Aku meminta izin dari kakek untuk mengambil keris pusaka itu. Agar aku bisa mengalahkan Ki Braha dan membebaskan Aruni beserta keluarganya dari jerat serangan Ki Braha." Pinta Uwo-uwo.
"Begitu rupanya, aku izinkan dirimu untuk mengambilnya, cucuku. Tapi kau tau sendiri kan, mengambil keris itu tidak mudah, karena itu adalah benda pusaka. Segala sesuatunya pasti membutuhkan perjuangan, begitu juga dengan keris pusaka itu."
"Apa yang harus aku lalukan untuk mendapatkan keris pusaka itu, kek?" Tanya Uwo-uwo.
"Tidak terlalu sulit, cucuku. Kau hanya perlu bersemedi selama 40 hari untuk mendapatkannya."
"Hanya itu, kek? itu mudah bagiku." Ucap Uwo-uwo penuh dengan percaya diri.
Ki Bahrat tersenyum "Ya, hanya bersemedi. Tetapi kau harus memilih waktu yang pas untuk bersemedi, agar nanti waktunya genap 40 hari bertepatan dengan bulan purnama."
"Ah kakek ini, yang benar saja, lalu kapan bulan purnama itu terjadi?" Rengek Uwo-uwo.
"Sepertinya keberuntungan berpihak padamu, cucuku. Bulan purnama akan terjadi dibulan depan, mulailah untuk bersemedi besok agar waktunya pas." Ucap Ki Bahrat dengan tersenyum.
"Huft, syukurlah. Tapi kek, apa kakek yakin hanya bersemedi selama 40 hari saja?" Tanya Uwo-uwo ragu.
"Pertanyaanmu itu akan terjawab nanti ketika dirimu tengah bersemedia digua itu, aku yakin kau pasti bisa melaluinya, cucuku." Jawab Ki Bahrat sambil menepuk pundak berbulu cucunya tersebut.
"Ahh kakek ini, daridulu selalu saja seperti ini."
"Hahaha sudah-sudah jangan seperti itu, sekarang lebih baik kau siapkan dirimu untuk perjalanan besok ke gunung keramat itu dan untuk bersemedi selama 40 hari."
"Huft baiklah kek, terimakasih sudah mengizinkan aku untuk mengambil keris pusaka itu."
Ki Bahrat mengangguk dan tersenyum "Semoga semuanya berjalan dengan lancar, ya Wo. Kakek selalu berdoa yang terbaik untukmu."
"Terimakasih kek, kalau begitu aku pamit untuk kembali ke alam manusia." Pamit Uwo-uwo.
"Iya, kembalilah. Kapan-kapan kau ajak sukma sahabat manusiamu kemari, kakek ingin mengenalnya."
Uwo-uwo mengangguk "Setelah semua ini selesai, aku akan mengajak sukma Aruni kemari untuk bertemu kakek. Ya sudah kek, aku pamit, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
🍂
__ADS_1
🍂
🍂