
Mas Alif mengangguk "Raka sudah makan belum, maaf ya om sedang ada sedikit urusan jadi daritadi tidak keluar kamar."
"Sudah om Raka tadi sudah makan kok. Om kalau lagi banyak kerja jangan sampai lupa makan ya, nanti om sakit. Kan om yang sering bilang gitu ke Raka, kok malah om sendiri nggak kaya gitu sih." Ucap Raka sambil cemburut.
Alif mengusap rambut Raka "Iya-iya terimakasih ya Raka, nasi goreng buatan kamu emang paling enak."
Selesai makan, Alif menyuruh Raka untuk tidur karena sudah malam. Sedangkan dirinya kembali ke kamar. Ia termenung di ranjang sambil memikirkan Aruni.
"Jika kedekatan kita kemarin harus verakhir sekarang, aku ikhlas, aku terima Aruni. Aku ucapkan banyak terimakasih padamu, walaupun hanya sebentar tetapo kau sudah membuatku sangat bahagia. Bersamamu, aku merasakan tulusnya kasih sayang. Semua ini memang salahku, sangat wajar jika kau marah dan kecewa padaku. Maafkan aku Aruni..."
Saat ia termenung, ia kembali teringat akan suatu hal, bahwa malam ini Ki Braha akan datang menemuinya untuk menanyakan tawaran semalam. Alif bingung, ia tak tau harus melakukan apa.
Lalu ia memutuskan untuk menemui eyang Gitarja dan menceritakan tentang kehadiran Ki Braha malam ini.
Sebelum pergi menemui eyang, Alif menengok ke arah kamar Raka. Terlihat sang keponakan sudah tertidur pulas dengan miniatur dinosaurus kesayangannya yang masih tergenggam ditangannya.
Alif mengambil miniatur dinosaurus tersebut dan meletakannya dimeja, ia menyelimuti tubuh Raka dengan benar dan mencium kening sang keponakan.
Setelah itu, Alif bergegas menemui eyang Gitarja sebelum si jelek Ki Braha datang menemuinya. Dengan langkah terburu-buru ia datang ke rumah eyang.
"Aku harap eyang belum tidur." Ucapnya.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum, eyang.."
Tak lama kemudian eyang putri membuka pintu.
"Lho Alif, malam-malam begini ada apa?" Tanya eyang putri.
"Em itu yang, saya ingin bertemu eyang Gitarja. Apa beliau sudah tidur?" Jawab Alif.
"Belum, ya sudah ayo masuk." Pinta eyang Putri.
Tak lama kemudian eyang Gitarja datang dari arah dalam rumah.
"Ada apa Lif, malam-malam datang kesini. Apakah ada yang penting?" Tanya eyang Gitarja.
"Maaf sebelumnya menganggu istirahat eyang, jadi begini, Alif baru teringat kalau malam ini Ki Braha akan datang untuk menanyakan tawaran semalam pada saya yang."
"Tawaran, tawaran apa?"
"Tawaran untuk tetap setia menjadi pengikutnya dan menyerang Aruni, atau berhenti menjadi pengikutnya dan dia akan menghabisi semua orang terdekat saya." Jelas Alif sambil tertunduk.
__ADS_1
Eyang Gitarja menarik napas panjang "Jadi kamu mau eyang bagaimana?"
"Saya ingin meminta eyang untuk mencegah dia melakukan tindakan itu."
"Gini lho Lif, Braha itu iblis. Semua keinginannya ya harus terpenuhi, eyang nggak bisa langsung mencegah dia, karena itu pasti tidak mungkin. Kita akan melakukannya secara bertahap."
"Bertahap bagaimana yang?" Tanya Alif tak mengerti.
"Malam ini jika dia datang menemuimu, kau katakan saja yang sebenarnya. Jika dia mengancam melakukan hal yang dia katakan sebelumnya, kita akan sama-sama menghadapinya. Aku butuh satu malam penuh untuk mengisi tenagaku Lif."
"Begitu eyang, saya ikut saja apa kata eyang. Saya yakin itu yang terbaik."
Eyang mengangguk sambil tersenyum "Dan belum ada sejarah kan, kalau kejahatan itu akan menang dalam menghadapi kebaikan."
Alif mengangguk.
"Jadi kau tak perlu khawatir, terus berdoa. Aku dan teman-teman gaib Aruni akan berusaha."
"Baik eyang, terimakasih."
"Iya, sudah sana pulang. Sebentar lagi dia akan datang, jangan sampai dia tau kau baru saja menemuiku." Ucap eyang.
Aku mengangguk "Baik eyang, saya pamit dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab eyang.
***
Bau busuk yang datang diiringi dengan suara lalat hijau yang beterbangan disekeliling tubuh tinggi besar berbulu itu. Alif sudah bisa menebak, bahwa yang datang adalah mantan guru yang dulu ia puja-puja.
"Kenapa aku datang kau tak memberi penghormatan bagiku? Bahkan kau malah membelakangiku seperti ini" Ucap Ki Braha dengan nada sinis.
"Itukan hanya dilakukan oleh pengikutmu saja."
"Lalu kau fikir, kau bukan pengikutku hah?" Tanya Ki Braha sedikit marah.
"Kau fikir saja sendiri, sepertinya kau bisa menilai sendiri dengan bagaimana sikap yang aku tunjukan padamu." Jawab Alif.
"Cih dasar manusia yang tidak tau terimakasih."
"Ada apa kau menemuiku?" Tanya Alif malas.
"Aku datang kemari untuk menanyakan keputusanmu tentang tawaran yang ku ajukan padamu semalam. Jadi bagaimana, apakah kau akan menerimanya? Aku yakin jawabanmu tak akan membuatku kecewa dan marah, Alif."
"Ya kau benar, jawabanku selama ini memang tidak pernah membuatmu marah dan kecewa. Tetapi malam ini sepertinya aku ingin melihatmu marah dan kecewa." Ucap Alif sambil tersenyum penuh arti.
"Apa maksudmu?!"
__ADS_1
Terlihat raut wajah Ki Braha sudah sangat memerah dan itu menunjukan bahwa ia sedang marah besar.
"Oh ayolah Braha, aku fikir kau tak sebodoh itu. Kau bisa menyimpulkan sendiri kata-kataku tadi itu artinya apa." Ucap Alif dengan santai.
"Kurang ajar, jadi maksudmu kau menolak tawaranku hah?!" Bentak Ki Braha.
"Yaa bisa dibilang begitu, dan perlu kau tau aku sudah sangat muak denganmu. Dan dengan ini pula aku nyatakan aku ingin berhenti menjadi pengikut iblismu itu, Braha."
"Kurang ajar, dasar penghianat. Hanya karena gadis itu kau ingkar janji padaku hah?! Rasakan ini dasar manusia bodoh!!"
Ki Braha melemparkan sebuah bola api besar pada Alif, tak sempat mengelak Alif pun jatuh terkapar dilantai kamarnya dengan darah segar yang mengalir dari mulutnya.
Ia mencoba bangkit, dengan sedikit ilmu yang ia miliki dari ajarannya dulu dengan Ki Braha, ia mencoba untuk balik menyerang Ki Braha. Namun ternyata hal itu tidak berhasil, dan membuat Ki Braha semakin tersulut amarah.
Ia mengangkat tubuh Alif hingga ke atap kamar lalu membantingkan dengan kasar tubuh Alif ke lantai, tak cukup dengan itu, ia kembali menyeret tubuh Alif dan melemparkan bola api padanya.
Tubuh Alif semakin lemas, darah segar semakin deras mengalir dari mulut dan dari hidungnya. Ia jatuh terkapar tak sadarkan diri dilantai kamar samping rangjangnya.
"Ck, dasar bodoh, manusia lemah. Berani-beraninya dia mengatakan ini padaku. Aku merasa sangat terhina, dan dengan ini aku akan memutuskan untuk menyerang sendiri gadis keturunan Keraton Jawa itu. Aku akan membuat dirimu dan orang-orang terdekatmu menderita, kau lihat saja Lif. Jangan pernah main-main denganku, raja iblis ini tak akan pernah memaafkan siapapun yang sudah berkhianat." Ucap Ki Braha sambil menghilang dari kamar Alif.
***
Pagi harinya, Raka bangun dari tidurnya dan menuju ruang keluarga. Tetapi ia tak melihat sang paman ada disana, biasanya pagi-pagi seperti ini sang paman sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Om om Alif... om Alif dimana sih?" Teriak Raka.
Setelah berkeliling rumah dan tak menemukan keberadaan sang paman, ia memutuskan untuk melihat ke kamar sang paman. Siapa tau dia ada didalam.
"Aku cek ke kamar aja deh, siapa tau om ada disana."
Betapa terkejutnya Raka ketika melihat sang paman jatuh terkapar tak sadarkan diri dengan darah yang masih mengalir dari mulut dan hidungnya.
"Akhhhhh om Alifffffff...."
Ia langsung menghampiri sang paman, tetapi tak ada respon apapun darinya.
"Om om Alif bangun dong, jangan kaya gini huhuhu...."
"Katanya om janji tidak akan meninggalkan Raka sendirian, hiks kenapa om seperti ini." Ucapnya dengan tangis yang tersedu-sedu.
Ia menyeka air matanya "Om bertahan ya, Raka panggilkan eyang dulu agar bisa membawa om ke rumah sakit."
Ia pun berlali keluar kamar untuk menemui eyang Gitarja, Raka berlari dengan panik dan isakan tangis menuju rumah eyang Gitarja.
🍂
🍂
__ADS_1
🍂