
"Titik kelemahan Ki Braha ada pada ubun-ubunnya, hal itu diketahui oleh teman gaib Aruni yang tak lain adalah cucu dari Ki Barhat, bangsa jin yang pernah berperang dengan bangsa Ki Braha. Dan untuk mengalahkannya, dibutuhkan keris pusaka yang dulu Ki Bahrat pakai saat menusuk ubun-ubun dari Ki Braha." Ucap eyang Gitarja.
"Oh jadi begitu, lalu dimana keris pusaka itu?"
"Keberadaanya dikeramatkan oleh Ki Bahrat, ada disebuah gua di gunung keramar dialas X. Dan untuk mendapatkannya, teman gaib Aruni harus bersemedi selama 40 hari."
"Cukup lama, aku harap Ki Braha tidak berbuat nekat selama keria itu belum berhasil didapatkan." Ucap mas Alif serius.
"Eyang juga berharap hal demikian, tetapi eyang selalu siap untuk hal-hal tak terduga yang akan diperbuat oleh Ki Braha."
"Maaf, karena perbuatanku dimasa lalu mengharuskan kalian semua mengalami masalah ini." Mas Alif tertunduk sambil mengaduk-aduk bubur ayamnya.
"Apa kau tidak bosan cah bagus, sudah berapa kali dirimu itu meminta maaf terus." Goda eyang Gitarja.
"Ah eyang bukan begitu, hanya saja saya masih merasa bersalah dengan semua kejadian ini."
"Sudahlah Lif, jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu. Ini semua sudah menjadi garia takdir Allah. Kau tak perlu merasa seperti itu lagi." Ucap mas Genta sambil menepuk pundak mas Alif.
"Iya, terimakasih ya Ta. Kamu baik banget sama aku, sama Raka juga. Pokoknya saya mengucapkan banyak terimakasih untuk kalian semua."
"Iya-iya sama-sama Alif, lagian Raka itu sudah ku anggap seperti keponakan sendiri kok."
"Lihat Run, dua orang yang suka denganmu itu akrab sekali. Aku jadi penasaran bagaimana reaksi salahsatu diantara mereka ketika kamu memilih antara mas Alif atau mas Genta, hahaha." Bisik Anin padaku.
"His kau ini jangan berbicara seperti itu, nanti mereka bisa mendengarnya." Kataku pelan.
"Makanya pilih dong salah satu, jangan digantung terus seperti itu. Memangnya jemuran baju apa, jemuran saja kalau lama digantung bisa hilang, apalagi hati." Celetuk Sander.
"Hihihi kali ini aku mendukungku Sander, ucapanmu memang benar." Sahut Kukun.
"Satu atau dua pilih Alif atau Genta yang engkau suka." Goda Cong-cong.
"Kok aku dengernya kaya lagu ya Cong." Ujar Sander.
"Kalian bisa diam tidak, kalian lupa ya kalau mas Alif dan mas Genta itu bisa melihat dan mendengar kalian, huh menyebalkan sekali kalian ini." Kataku sedikit kesal.
"Entah siapa yang salah, ku tak tau.. nah kalau yang ini aku nyanyi sih." Celetuk Sander.
****
Hari ini aku masih berada dirumah, karena keadaan mas Alif yang semakin membaik. Mungkin sore nanti aku akan berkunjung lagi kesana bersama dengan Anin dan teman-teman gaibku.
Dan tentang serangan yang dulu mas Alif lakukan padaku, keluargaku pun sudah mengetahui semuanya. Awalnya memang kecewa, terlebih ibu. Beliau merasa sangat kecewa pada mas Alif, tetapi ibu dan juga seluruh keluargaku sekarang sudah memaafkan mas Alif.
Bagaimana pun juga sekarang mas Alif sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik, jadi kenapa tidak untuk memaafkan perbuatannya dimasa lalu.
"Jadi bagaimana kondisi Alif sekarang Run? apa sudah jauh lebih baik?" Tanya simbah.
"Alhamdulillah simbah, kondisinya sudah jauh lebih baik. Hanya memarnya saja yang masih harus rajin untuk dikompres." Jawabku.
__ADS_1
"Syukur kalau begitu, kasihan Raka pasti dia sangat khawatir dengan kondisi Alif."
"Iya mbah benar sekali, apalagi waktu kemarin itu. Raka nangis tidak berhenti-berhenti, Anin sampai bingung gimana caranya buat dia berhenti nangis." Timpal Anin.
"Ya nggak apa-apa, sekalian itung-itung latihan buat nanti kalau kamu sudah jadi ibu dan punya anak. Belajar gimana caranya nenangin anak yang lagi nangis seperti itu." Ujar Budhe Ratih.
"Halah ibu, SMA saja belum selesai kok sudah ngomongin anak."
"Kan ibu bilangnya latihan cah ayu." Ucap budhe Ratih sambil mencubit pipi putrinya.
"Kamu kapan kerumah Alif lagi Run?" Tanya ibu.
"Nanti sore bu, memangnya kenapa?"
"Nggak apa-apa, nanti ibu mau buatkan makanan lagi buat dia. Kasihan lagi kondisi seperti ini pasti dia tidak mungkin masak kan."
"Iya sih bu, terimakasih ya ibuku cantik." Ucapku sambil mengedipkan-ngedipkan mata.
"Halah bisa saja gombalnya kaya ayah, ya sudah sana ibu minta tolong belikan sayuran diwarung Yu Darni." Pinta ibu sambil memberikan selembar kertas berisi catatan apa saja yang akan dibeli.
"Siap baginda ratu, Aruni pamit dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, mau ditemani nggak?" Tawar Anin.
"Nggak usah, bisa sendiri."
Aku berjalan menuju halaman rumah, karena letak warung Yu Darni yang tidak terlalu jauh, aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Sekalian olahraga, hehe.
"Tidak perlu Sander, hanya ke warung Yu Darni saja kok. Lebih baik kalian menjaga orang rumah saja ya. Lagipula hanya sebentar."
"Kau yakin Run?" Tanya Cong-cong serius.
"Iya Cong-cong." Kataku menyakinkan mereka.
"Tapi kita tidak mau kecolongan dengan ulah si jelek Ki Braha, Aruni. Kau tau itu kan?"
"Iya Sander, aku mengerti akan hal itu. Tenanglah aku akan baik-baik saja, hanya pergi ke warung Yu Darni. Tidak jauh, sudah ya aku pergi dulu. Kasihan ibu lama nunggu belanjaannya, sudah mau dimasak ini."
"Tidak habis pikir dengan wanita, sikapnya dari dulu memang selalu saja seperti itu. Keras kepala, huh menyebalkan." Gerutu Cong-cong.
"Eits curhat bang."
***
Setelah selesai membeli bahan-bahan makanan yang akan dimasak untuk mas Alif diwarung Yu Darni, aku segera menuju pulang kerumah. Takutnya ibu menunggu terlalu lama, sebenarnya jarak dari rumah ke warung Yu Darni tidak terlalu jauh. Tetapi tadi harus antri dulu dengan ibu-ibu yang ingin berbelanja juga.
Aku berjalan menyusuri jalan setapak, aneh tidak biasanya sepi seperti ini. Padahal tadi waktu berangkat masih rame kok, anak-anak bermain dihalaman rumah, kok mendadak sepi seperti ini.
Saat aku berada ditengah perjalanan, tiba-tiba saja angin berhembus kencang. Pandanganku kabur karena debu dan daun-daun yang beterbangan akibat angin itu.
__ADS_1
"Uhuk-uhuk, kenapa tiba-tiba anginnya besar sekali? apa mau hujan ya?"
Tetapi angin kali ini yang aku rasakan berbeda, bulu kudukku meremang secara tiba-tiba. Perasaanku mendadak berubah menjadi tidak enak, aku merasa ada sepasang mata yang tengah mengawasiku. Beberapa kali muncul sekelebat banyangan hitam tinggi besar disekelilingku.
"Siapa itu, jangan main-main ya kamu. Keluar kalau berani, jangan seperti ini." Tantangku.
Tiba-tiba saja bau busuk datang menyengat diiringi dengan lalat hijau yang beterbangan, sesosok genderuwo dengan perawakan tinggi besar dan gigi yang tajam serta bola mata yang nyaris keluar dialiri dengan darah yang baunya sangat anyir.
"Hahaha, akhirnya kita bertemu gadis Keraton Jawa." Ucap Ki Braha.
"S-siapa kamu?"
"Rupanya dirimu tak mengenaliku ya, atau kau pura-pura tak mengenaliku, hm?" Ucapnya sambil mendekat ke arahku.
"Berhenti, jangan mendekat. Bau mu membuatku ingin muntah, tau." Kataku sambil menunjuk ke arah tubuh Ki Braha.
"Hahaha, kalau aku ingin tetap mendekat bagaimana?" Goda Ki Braha sambil tersenyum evil.
Ki Braha mengeluarkan kekuatan untuk menyerang Aruni, tetapi sialnya serangan itu terpental saat mengenai tubuh Aruni. Padahal dia bertapa selama beberapa hari untuk mengumpulkan kekuatan itu, bagaimana bisa perjuangannya selama beberapa hari ini musnah dengan begitu gampangnya.
"Sial, bagaimana bisa?" Ucap Ki Braha tak percaya.
"Oh aku tau sekarang, jadi kau yang namanya Ki Braha? Cih, lebih jelek dari yang ku bayangkan. Jadi sebenarnya apa maumu dari diriku ini makhluk tua jelek." Tantang Aruni.
"Beraninya kau mengatakan itu padaku gadis bau kencur!! Ya aku adalah Braha, raja jin yang paling berkuasa. Dan yang aku inginkan darimu adalah kematianmu gadis bau kencur." Jawab Ki Braha dengan congkak.
"Kau menginginkan kematianku rupanya, tapi tidak semudah itu Aki jelek. Bahkan malah aku bisa menghabisimu terlebih dahulu." Ucapku tak mau kalah.
"Sialan dasar gadis pembawa sial!!"
Ki Braha melemparkan sebuah bola kecil yang tepat mengenai bagian perutku, anehnya aku langsung terpental dan terkapar ditanah. Rasanya sakit sekali, sampai aku meneteskan air mata.
"Ahkkkk sakit.." Rintihku sambil memegangi perut.
"Teman-teman gaibku, dimana kalian.. tolong aku, tolong aku..." Ucapku dalam hati.
***
Sander yang sedang duduk diatas pohon mangga simbah bersama dengan Cong-cong dan Kukun tiba-tiba mendapat firasat yang tidak baik dari Aruni.
Seperti kaca yang pecah terkena lemparan batu, itu tandanya Aruni sedang dalam bahaya. Sontak membuat ketiganya terkejut.
"Aruni?!" Ucap ketiganya secara bersama-sama.
"Astaga, kita pasti kecolongan. Bodoh memang, ayo cepat kita cari dimana Aruni." Perintah Cong-cong.
🍂
*🍂
__ADS_1
🍂*