MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Bimbang


__ADS_3

"Em jadi sekarang kau mau kerumah eyang?" Suara mas Genta memecah keheningan diantara kami bertiga.


"Iya mas, eh tadi kata mas Alif eyang pergi bersamamu. Lalu dimana eyang sekarang?" Tanyaku pada mas Genta.


"Ah iya, tadi aku memang pergi bersama eyang ke sawah. Eyang masih disana, sebentar lagi pasti pulang bersama eyang putri." Jawabnya.


"Yaudah kita tunggu eyang dibalai saja yuk." Ajak Anin.


Kami bertiga pun berjalan menuju balai rumah eyang, udaranya sangat sejuk disini.


"Huft udaranya panas sekali, duduk dibalai eyang memang terasa sangat nyaman." Celetuk Anin.


"Run, tentang sikap Alif..." Ucap mas Genta.


Aku menganggukan kepala "Aku sudah tau kau pasti akan menanyakan hal itu, aku juga merasa heran mas. Sejak tadi pagi sikapnya berubah baik kepadaku."


"Tapi aku rasa Alif bersikap seperti itu pasti karena ada maksud lain. Mana mungkin kan dia tiba-tiba seperti itu, sedangkan sikapnya kemarin-kemarin pada Aruni saja sangat cuek dan acuh." Sahut Anin.


Mas Genta memanggut-manggut setuju "Aku juga merasa seperti itu tapi kembali lagi, kita tidak boleh suudzon pada Alif. Siapa tau Alif memang sudah berubah, iyakan?"


"Entahlah mas, makanya tujuanku datang kesini untuk menemui eyang. Aku ingin bertanya pada eyang tentang mas Alif." Kataku.


Dari kejauhan tampak eyang yang sedang menggandeng eyang putri masuk ke halaman rumah dengan membawa tenggok yang berisi daun singkong dan sayur-sayuran yang dibawa dari kebun eyang.


"Eh kalian ada disini?" Sapa eyang putri.


Aku berjalan mendekati eyang dan eyang putri "Iya eyang."


"Aduh maaf ya jadi nunggu lama, tadi sekalian ngambil sayuran buat masak. Ayo masuk ke dalam." Ajak eyang putri.


Kamipun masuk ke dalam rumah eyang.


"Ada apa nduk, tumben sekali kesini? apa ada yang penting, hm?" Tanya eyang sembari duduk dikursi ruang tamu.

__ADS_1


"Dirumah sepi eyang, hanya ada Aruni dan Anin. Jadinya kami kemari hehe." Jawab Anin.


"Oalah begitu, bagaimana perkembangan tentang Raka? walaupun eyang rumahnya berdekatan tetapi eyang juga kurang memperhatikan mereka nduk." Tutur eyang.


"Em tadi pagi waktu Aruni dan Anin berangkat sekolah, kami tidak sengaja berpapasan dengan mas Alif yang. Aruni juga menanyakan kabar Raka, kata mas Alif dia baik-baik saja. Sangat aktif disekolah dan disekolah sepak bolanya." Jawabku.


"Alhamdulilah kalau begitu, eyang senang mendengarnya."


"Tapi yang, sikap mas Alif pada Aruni itu berbeda sekali sejak pagi tadi."


"Berbeda gimana nduk? " Tanya eyang.


"Dia menjadi sangat ramah dan tutur katanya pun menjadi lembut saat berbicara denganku. Padahal dulu waktu Aruni meminta izin padanya untuk membawa Raka jalan-jalan sikap mas Alif terkesan cuek dan acuh." Jelasku.


"Hem begitu rupanya, jadi kau itu menaruh rasa curiga dibalik sikap baiknya Alif padamu nduk? "


"Bukan curiga yang, tetapi kita itu lebih ke waspada saja." Celetuk Anin.


"Benar eyang, kami takut kalau dibalik perubahan sikapnya itu ada niat terselubung sendiri." Sahut mas Genta.


"Maaf eyang, bukan maksud Aruni berprasangka buruk terhadap mas Alif. Hanya saja.. "


Belum selesai aku berbicara, eyang sudah memotong pembicaraanku.


"Gini nduk, segala sesuatunya itu jangan terlalu dibawa serius. Kita berdoa saja, meminta sama Gusti Allah semoga Alif itu istiqomah dengan sikapnya sekarang ini dan yang paling penting dia itu benar-benar berubah. Jangan mikir yang aneh-aneh, sama saja dosa."


"Baik eyang."




Sepanjang perjalanan pulang aku terus melamun, mencerna semua nasehat eyang tadi yang diberikan padaku, Anin, dan juga mas Genta.

__ADS_1


Sebenarnya ada hal lain juga yang aku pikirkan, yaitu perasaan mas Genta. Aku yakin dia sangat tidak nyaman dengan sikap Alif yang seperti itu kepadaku, tetapi aku sendiripun tak bisa menolak seseorang mau bersikap baik kepadaku.


Sekarang aku benar-benar dibuat pusing dengan semuanya, aku harus menjelaskan apa pada mas Genta? Walaupun aku tau perasaan dia kepadaku dan juga sebaliknya, tetapi sampai sekarang antara kami berdua tak ada yang berani mengungkapkan perasaan tersebut.


"Jadi orang itu sukanya jangan melamun, untung saja yang mengendarai motor itu si cerewet Anin bukan dirimu." Celetuk Sander membuyarkan lamunanku.


"Ihh apasih, ngagetin aja kamu itu."


"Hah apa Run? aku nggak ngagetin kamu kok." Sahut Anin.


"Aku nggak bicara sama kamu, tapi sama Sander."


"Lagian aku juga bingung sama kalian berdua, sudah tau sama-sama suka kenapa tidak mengungkapkannya saja sih." Kata Cong-cong.


"Benar kata Cong-cong Aruni." Timpal Uwo-uwo.


"Memangnya kalian pikir aku ini perempuan macam apa? Masa seorang perempuan mengungkapkan perasaannya terlebih dulu sih!" Jawabku sedikit kesal.


"Terkadang kita sebagai wanita memang harus sedikit menggeser rasa egois dan gengsi Aruni. Kalau kita tidak bergerak dulu mau sampai kapan kalian saling tunggu? Yang ada malah nanti Genta diambil sama wanita lain, hehehe" Celetuk Kukun.


"Wanita lain? Kamu gitu contohnya?" Sindirku.


"Kau ini bagaimana si Run, sudah jelas-jelas Kukun itu bilangnya wanita bukan setan wanita." Sahut Sander.


Aku sedikit terkekeh mendengar Sander berbicara "Ah sudahlah, mau diambil wanita lain juga tidak apa-apa. Itu artinya mas Genta bukan jodoku, se simple itu kok." Jawabku.


"Sudahlah terserah kau saja, memang susah berbicara tentang hati kepada wanita. Maunya hanya ingin dimengerti saja." Kata Uwo-uwo.


🍂


🍂


🍂

__ADS_1


🍂


__ADS_2