
"Sepertinya memang benar dugaanku, kalau dirimu itu memang sudah jatuh hati pada gadis itu. Kau sudah ingkar janji denganku, bodoh." Marah Ki Braha.
Alif yang emosi dan sudah tidak dapat terkontrol pun meluapkan isi hatinya.
"Ya memang benar, aku memang jatuh hati pada Aruni. Aki mau apa? aku ini manusia Ki, aku ingin memiliki pasangan untuk hidup. Apa hak mu melarangku hah?! Dan perlu kau ingat Ki, aku sudah muak dengan segala perintahmu. Jujur, aku menyesal pernah mengenal dan mengikuti ajaran iblis mu itu. Aku muak, aku muak denganmu Braha!!!!" Teriak Alif.
Teriakan Alif membuat amarah Ki Braha semakin memuncak hingga pada akhirnya ia melemparkan sebuah bola api kepada Alif.
Tetapi Alif yang tau apa yang akan dilakukan oleh Ki Braha berhasil menghindari serangan amarah Ki Braha tersebut. Hal itu membuat Ki Braha semakin marah.
"Baji**an kau dasar penghianat, berani-beraninya kau mengatakan itu padaku hah! bisa-bisanya kau jatuh hati pada gadis pembawa sial itu. Enyahlah kau bedebah!!!" Ucap Ki Braha sambil melemparkan kembali bola api.
Tetapi bola api yang kedua ini lebih besar, sehingga Alif tidak dapat menghindarinya. Alif pun terkapar dilantai dengan darah yang mengalir dari mulutnya.
"Uhuk uhuk"
"Masih berani menghianatiku hah!? aku memberimu waktu semalam untuk memikirkan kembali tawaranku tentang serangan untuk gadis tengil itu. Pikirkan matang-matang atau kau akan menyesal Alif." Ujar Ki Braha.
Alif bangkit dari lantai dengan memegangi dadanya yang sakit karena bola api tadi.
"Aku tidak akan pernah menyesal, asal kau tau satu-satunya penyesalan terbesar dihidupku adalah menjadi pengikut ilmu iblismu itu Ki." Ucap Alif.
"Jangan terlalu banyak bicara, aku kembali lagi besok malam. Pikirkan matang-matang, aku tidak pernah main-main dengan ancamanku. Dan aku pikir kau sudah tau akan hal itu." Kata Ki Braha sambil menghilang pergi dari kamar Alif.
"Uhuk uhuk sial, kenapa waktu bertaubat seperti ini malah mendapat bola api dari Aki jelek itu sih." Celetuk Alif sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.
Ia merenungi semua ancaman Ki Braha, tetapi tetap tekadnya sudah bulat untuk lepas dari jerat iblis Ki Braha. Ia hanya sedang bingung bagaimana caranya lepas dari jerat Ki Braha tanpa membuat Aruni dan orang-orang disekelilingnya terluka.
Alif sangat menyesal pernah berguru pada iblis Braha itu. Ia merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa ia berbuat bodoh seperti ini. Tetapi menyesal pun sudah tak berguna lagi, nasi sudah menjadi bubur.
"Bodoh, aku memang sangat bodoh. Sekarang bagaimana ini? aku tidak mau melihat Aruni terluka sedikitpun. Tetapi aku juga ingin sekali lepas dari jerat Aki jelek itu. Malu rasanya kalau aku meminta bantuan pada eyang Gitarja. Tapi jalan satu-satunya saat ini hanya dengan meminta bantuan beliau."
Pikirannya sangat kacau saat ini, ditambah dengan luka dalam akibat dari bola api yang tadi Ki Braha berikan.
"Baiklah, semua demi kebaikan. Bismillah aku akan meminta bantuan dari eyang saja. Besok aku akan menemui dan berbicara pada eyang."
•••
Pagi ini aku sudah membuat janji dengan mas Genta akan pergi mengunjungi eyang Gitarja.
"Jadi salah paham yang kamarin itu sudah selesai?" Tanya Kukun padaku.
"Hehe ya begitulah." Jawabku.
"Makanya jadi perempuan itu harus punya prinsip, punya pilihan. Kamu itu harus bisa memilih, jangan mau dua-duanya." Celetuk Sander.
__ADS_1
Aku menatap tajam pada Sander.
"Kau ini hantu kecil, tau apa kau tentang percintaan." Sahutku.
"Kau itu harusnya main saja sana, jangan ikut campur urusan orang dewasa." Timpal Cong-cong.
"Gayamu berbicara seperti itu, memangnya kau manusia hah?!" Ucap Sander pada Cong-cong sambil cemberut.
"Ya bukan, tapi aku kan berbicara tentang Aruni." Ujar Cong-cong tak mau kalah.
"Sudahlah kalian ini terlalu berisik, lihatlah Uwo-uwo. Coba seperti dia yang diam saja, bisa kan?" Ucap Kukun.
Aku menoleh ke arah Uwo-uwo dan mengerutkan keningku. Tak biasanya ia terdiam seperti itu, ada apa gerangan?
"Ada apa denganmu Wo, kenapa kau daritadi hanya diam?" Tanyaku.
"Aku sedang memikirkan Alif, Run." Jawabnya.
"Ada apa dengannya?"
"Entahlah, belakangan ini kalau aku mencium auranya terlihat seperti ada kecemasan dan ketakutan yang mendalam pada dirinya. Tetapi aku tidak tau kecemasan dan ketakutan apa itu."
"Aku setuju denganmu Wo, aku juga merasakan hal demikian." Timpal Cong-cong.
"Apa kau tidak merasakan juga Run?" Tanya Kukun.
"Ih apaansi bercanda aja kerjaannya. Tapi Wo, kulihat dari sorot matanya pun demikian." Ucapku.
"Kenapa tidak kau tanyakan saja Run?" Tanya Uwo-uwo.
Aku menggeleng "Aku tidak berani, takutnya itu adalah masalah pribadinya."
"Benar, setiap orang punga privasi. Dan tidak selamanya kan kita harus menceritakan semua masalah kita pada orang lain." Timpal Cong-cong.
"Mungkin juga Alif memendam itu semua sendiri karena dia bingung, siapa yang akan dia jadikan tempat untuk bercerita dan meluapkan keluh kesahnya. Iya kan?" Ucap Kukun.
Kami semua memanggut-manggut setuju pada Kukun.
•••
Saat ini aku sedang menuju rumah eyang bersama dengan mas Genta dan juga diiringi teman-teman gaibku yang melayang diatas kami.
Sudah lama aku tidak pergi berdua seperti ini dengan mas Genta, aku akui waktuku belakangan ini hanya berpusat pada Raka dan tentunya juga mas Alif.
"Sudah lama ya mas kita tidak pergi berdua seperti ini." Ucapku.
__ADS_1
Mas Genta mengangguk "Terakhir kali satu bulan yang lalu." Kata mas Genta.
"Ih mas Genta kok ingetnya spesifik banget sih."
"Hahaha semua tentang dirimu aku selalu mengingatnya dengan baik Aruni."
"Halah mas Genta bisa aja."
Dirumah eyang Gitarja ternyata ada mas Alif disana.
"Tumben kesini, ada yang penting Lif?" Tanya eyang sambil menyeruput kopi hitamnya.
"Anu yang, aduh Alif sebenarnya malu mau mengatakannya. Alif malu yang." Jawab mas Alif tertunduk.
Eyang Gitarja tersenyum, terlihat jelas diraut wajah mas Alif jika ia sedang memendam kecemasan dan ketakutan yang mendalam.
"Tarik nafas dulu, tidak usah malu-malu cah bagus. Cerita sama eyang, eyang lihat kamu itu sedang memendam sesuatu. Jangan dipendam sendiri, kalau eyang bisa bantu pasti eyang bantu." Ucap eyang Gitarja.
"Tapi Alif malu yang, Alif malu dengan perlakuan Alif ke eyang dulu dan juga ke keluarga Aruni, Genta."
"Tidak apa-apa, sudah ceritakan saja."
"Bu.." panggil eyang Gitarja pada eyang putri.
Eyang putri datang dari dalam "Kenapa kangmas?"
"Tolong buatkan Alif ini teh hangat dulu ya."
"Nggih kangmas."
"Gimana, jadi cerita sekarang?" Tanya eyang pada mas Alif.
"Aduh bagaimana ini, aku merasa sangat tidak enak hati jika meminta bantuan eyang Gitarja. Tapi jika aku tidak meminta bantuan eyang, bagaimana bisa aku lepas dari jerat Ki Braha. Dan bisa-bisa nyawa Aruni terancam." Ucap mas Alif dalam hati.
Mas Alif menghela nafas panjang "Jadi begini yang, sebenarnya dulu.."
Belum selesai mas Alif berbicara, aku dan mas Genta sampai dirumah eyang Gitarja.
"Assalamualaikum." Ucapku dan mas Genta bersama-sama.
Sontak membuat eyang dan mas Alif menoleh ke arah pintu depan.
🍂
🍂
__ADS_1
🍂