
Bagaimana?" Tanya Sander.
"Alhamdulillah untuk serangan malam ini bisa kami halau dengan baik." Jawab Uwo-uwo.
"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih telah melindungi Aruni dari bahaya semacam ini." Ucapku sambil bersujud dilantai.
"Bola api tadi cukup kuat, hampir saja aku dan Cong-cong gagal menghalaunya. Untung saja eyang Gitarja sigap memusnahkan bola api itu." Jelas Uwo-uwo.
"Pantas saja, hampir setengah jam kalian berada diluar. Apakah eyang juga sedikit merasa kesulitan ya?" Ucap Sander.
"Entahlah, yang terpenting sekarang bola api itu sudah musnah. Aku sangat bersyukur kepada Allah, terimakasih ya teman-teman atas bantuan kalian." Ucapku pada ketiga teman gaibku.
"Tidak perlu sungkan Aruni, menjagamu sudah menjadi tugas kami semenjak kamu menerima kami sebagai teman gaibmu." Jawab Uwo-uwo.
"Benar, selagi kami bisa dan mampu kami akan selalu berada disampingmu. Menjagamu dari semacam bahaya seperti ini." Timpal Cong-cong.
"Aku bersyukur memiliki kalian." Ucapku.
"Dan kau pasti lebih bersyukur bisa berteman denganku. Ganteng, imut, bule lagi." Ujar Sander.
"Iya, tetapi tengil." Jawabku sinis.
"Hahaha, kau dengar itu Sander. Sudahlah Aruni lebih baik sekarang kamu pergi tidur, sudah mau tengah malam juga." Ucap Uwo-uwo.
"Baiklah Wo, aku tidur dulu ya. Kalian juga jangan lupa istirahat. Aku tahu aksi kalian tadi menghabiskan cukup tenaga. Selamat malam." Ucapku sambil menarik selimut menutupi tubuhku.
"Selamat malam Aruni." Jawab ketiga teman gaibku.
***
Alif menggebrak meja yang ada didalam kamar khususnya, ia membuang dan membanting semua barang yang ada didekatnya. Kegagalan pertama saat ia mengirimkan santet pada seseorang, membuat emosinya memuncak.
"Akhhh siall, bagaimana bisa gagal seperti ini. Aku tidak pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya, tapi kenapa ini. Akhh!! aku tidak akan pernah memaafkanmu gadis itu." Kesalnya sambil mengacak-acak rambutnya.
Tiba-tiba bau busuk datang menyeruak ke seluruh penjuru kamar khusus milik Alif, Ki Braha datang.
"Bagaimana bisa kau gagal Alif." Ucap Ki Braha dingin tetapi menakutkan.
"Maaf Ki, saya juga tidak tahu kenapa santet itu gagal memasuki tubuh Aruni." Jawabnya lirih sambil menghadap ke bawah.
"Kau berbicara dengan diriku atau dengan kakiku." Ujar Ki Braha.
"A a ampun Ki, saya berbicara dengan Aki." Ucap Alif sambil menatap wajah mengerikan Ki Braha.
__ADS_1
"Sepertinya aku tahu kenapa santet itu bisa musnah sebelum masuk ketubuh gadis itu."
"Kenapa Ki?" Tanya Alif penasaran.
"Itu semua karena bantuan dari sesepuh desa ini dan juga keturunan Bahrat beserta teman-temannya." Jawab Ki Braha lantang.
"Eyang Gitarja?" Gumam Alif.
"Ya, sesepuh desa ini juga memiliki sedikit keturunan dari Keraton Jawa sama seperti gadis itu." Ujar Ki Braha.
"Kenapa saya baru tahu, sebentar Ki. Tadi aki bilang ada bantuan dari keturunan Bahrat dan juga teman-temannya, siapa teman-teman itu Ki?" Tanya Alif.
"Gadis itu tidak hanya memiliki satu teman gaib, tetapi dia memiliki tiga teman gaib. Salah satunya adalah keturunan Bahrat." Jawab Ki Braha.
"Sial, kenapa aku tidak menyelidikinya terlebih dahulu sih." Gerutunya pada diri sendiri.
"Kau memang bodoh, melakukan sesuatu tetapi tidak berfikir panjang." Cibir Ki Braha.
"Lantas kenapa aki tidak memberitahu saya." Ucap Alif tak mau kalah.
"Kau menyalahkan ku? mau kubuat tidak bisa bangun dari tempat tidur selama satu minggu?" Ancam Ki Braha.
"Bukan begitu maksudku Ki, jadi jin kok sensi banget sih." Alif memelankan suaranya.
"Hanya bercanda Ki, hehe." Ujar Alif sambil tersenyum menampilkan deretan gigi-giginya.
***
Pagi harinya aku merasa tubuhku segar setalah istirahat dari kejadian semalam, beruntung santet itu tidak menyentuh tubuhku sama sekali.
"Selamat pagi Aruni." Sapa Sander yang sedang berjingkrak-jingkrak tidak beraturan.
"Pagi, kamu sedang apa seperti itu?" Tanyaku yang melihat tingkah Sander.
"Tentunya olahraga pagi, agar aku bisa lebih kuat menjagamu kalau nanti ada serangan seperti semalam." Jawab Sander.
"Cih, dia fikir yang semalam bekerja keras itu siapa. Bukannya dia hanya duduk sambil menjaga Aruni yang fokus membaca Al Qur'an." Cibir Cong-cong yang datang dari arah luar.
"Setidaknya kan aku juga membantu." Ucap Sander tak mau kalah.
Aku terkekeh "Sudahlah, kalian ini pagi-pagi sudah bertengkar saja. Aku mau mandi dulu, hari ini aku berangkat sekolah."
"Ya silahkan mandi, baumu sangat menyengat dari tadi." Celetuk Sander yang langsung mendapat tatapan tajam dariku.
__ADS_1
"Bercanda, hehe." Timpalnya.
Aku dan Anin berjalan menuju meja makan, disana sudah ada simbah, budhe, dan juga ibu. Sedangkan ayah sudah kembali bekerja di pinggiran kota, karena proyek itu harus sudah selesai dalam jangka waktu 3 bulan.
"Ayah sudah berangkat bu?" Tanyaku sambil menarik kursi meja makan.
"Sudah, jam 4 pagi ayah berangkatnya. Sengaja nggak pamitan sama kamu, soalnya pasti kamu belum bangun kan. Apalagi semalam kamu begadang." Jawab ibu.
"Bagaimana nduk, apa semalam lancar-lancar saja? simbah khawatir banget sama kamu. Tapi karena eyang Gitarja yang membuat kami serumah jadi tidur, simbah jadi tidak tahu tentang kejadian semalam." Ucap simbah.
"Simbah tidak usah terlalu khawatir seperti itu, Alhamdulillah serangan semalam bisa diatasi eyang dan juga teman gaib Aruni dengan baik. Jadi, serangan itu tidak dapat menyentuh tubuh Aruni sama sekali." Jawabku sambil tersenyum.
"Kira-kira siapa ya, orang yang tega berbuat seperti itu sama kamu nduk? budhe nggak habis fikir sama orang itu." Ujar budhe.
"Sudahlah budhe, Aruni juga tidak tahu siapa pelaku dibalik serangan tadi malam. Aruni juga tidak mau suudzon sama orang, yang penting Aruni nggak kenapa-kenapa." Jawabku.
"Kenapa kamu tidak menanyakan hal itu pada eyang Run." Usul Anin.
"Eyang kemarin bilang, walaupun dia tahu siapa pelakunya dia tidak akan memberitahuku. Aku fikir itu akan lebih baik, cukup eyang saja yang tahu siapa orangnya." Jelasku pada Anin.
"Tapi aku yakin, teman-teman gaibmu pun pasti tahu siapa pelakunya. Iyakan?" Tebak Anin.
Aku menoleh ke arah teman-teman gaibku, dan kompak mereka hanya tersenyum penuh arti. Dan aku tau maksud dari senyuman mereka itu.
"Iya mereka tahu, dan akupun tidak akan pernah menanyakan hal itu kepada mereka ataupun eyang." Ucapku.
"Memangnya kamu nggak penasaran?" Tanya Anin.
"Enggak, kalau aku tahu orangnya mungkin itu hanya akan membuat rasa benci dan dendam saja. Dan aku tidak mau hal itu terjadi." Jawabku.
"Sudah-sudah sarapan dulu, nanti kalian telat sekolahnya kalau terus ngobrol seperti itu." Ujar budhe yang melihat aku dan Anin terus saja mengoceh dari tadi.
"Saudaramu itu memang sangat cerewet, tidak bisa berhenti bertanya. Aku semakin jengah dengannya." Celetuk Sander.
Aku terkekeh "Kau tidak boleh seperti itu Sander, walaupun begitu dia itu tetap saudara sepupu kesayanganku." Sahutku dalam hati.
🍂
🍂
🍂
Jangan lupa like, komen, dan bunganya jugaa 🍅🍓
__ADS_1
SALAM SERAM MANJA DARI AUTHOR <3