
"Aruni, kenapa sekarang kau terlihat semakin dekat dengan Alif itu?" Tanya Uwo-uwo.
"Dekat bagaimana? aku dan dia tadi hanya jalan-jalan saja kok."
"Tapi kalau terus-menerus seperti itu ya dekat namanya." Celetuk Kukun.
"Benar, apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Gentong?" Sahut Sander
"Gentong, siapa Gentong?" Tanya Cong-cong.
"Ya Genta lah siapa lagi." Jawab Sander.
"Ish nama orang bagus-bagus kaya gitu malah sembarangan diganti jadi Gentong." Kesalku.
"Hehe maaf, lalu bagaimana?"
"Sudahlah biarkan saja toh kalau dia marah atau cemburu aku dan mas Alif dekat, apa hak dia? pacar juga bukan kok cemburu sih." Aku berbicara sedikit kesal.
"Bukankah kau dan Genta itu saling menyukai satu sama lain?" Tanya Uwo-uwo.
"Ya memang benar, tapi sampai sekarang saja nggak jelas kan hubunganku sama dia. Ya bebas lah aku mau dekat dengan siapa mau jalan-jalan sama siapa itu juga hak aku. Kecuali mas Genta sudah menjadi kekasihku, wajar kalau dia marah dan cemburu."
Uwo-uwo menggelengkan kepala "Aruni-aruni ya sudahlah terserah dirimu saja. Lagipula aku juga heran denganmu, bagaimana bisa kau mulai dekat dengan Alif seperti itu. Apa kau lupa dengan tujuan kita yang mau membebaskan Raka dari jeratan Alif?"
Aku mendengus kesal "Bukan seperti itu Wo, aku tidak lupa dengan tujuan kita untuk membebaskan Raka. Tapi kalian ingat kan apa nasehat eyang? kita tidak boleh selalu berprasangka buruk sama mas Alif. Justru aku yang heran sama kalian, orang berubah menjadi lebih baik bukannya bersyukur malah dicurigai terus."
"Wajar kami curiga dengannya Run, kami tau bagaimana sikap dia kepadamu diawal kalian bertemu. Sikap dia pada Raka, sangat tidak manusiawi." Cong-cong sedikit terseulut emosi.
"Sudah cukup, aku tidak mau lagi mendengar kalian mencurigai mas Alif. Sekarang aku minta kalian pergi dulu ke gudang, aku ingin sendiri." Kataku dengan kesal.
"Kau mengusir kami? hanya karena laki-laki itu? baiklah jika itu maumu." Ucap Sander yang juga kesal dengan sikap Aruni.
"Maafkan aku teman-teman, aku tidak bermaksud mengusir kalian. Tapi aku tidak suka kalian selalu menjelekkan dan mencurigai mas Alif. Meskipun sampai sekarang aku belum percaya penuh pada mas Alif tapi rasanya aku tidak suka kalau ada yang menjelekkan dia." Kataku dalam hati.
Tidak terasa air mataku menetes, entahlah ketika perasaanku sedang berkecamuk satu-satunya hal yang dapat menenangkan hatiku hanya dengan menangis.
Aku juga tidak tau mengapa aku terhanyut dalam sikap manis mas Alif kepadaku, aku bingung dengan semua ini.
Tetapi tujuan utamaku untuk bisa memastikan Raka benar-benar diurus dengan baik oleh mas Alif tetap akan aku lanjutkan, entah bagaimanapun nanti hasil akhirnya.
__ADS_1
•••
Sementara digudang, the ghost genk terutama Sander sedang kesal pada Aruni. Bisa-bisanya hanya karena Alif dia marah dan mengusirnya beserta teman-teman ke gudang. Sebelumnya mana pernah Aruni bersikap seperti ini.
Berbagai spekulasi pun mulai bermunculan, terutama ya Sander. Istilah anak jaman sekarang, dia lah yang paling overthinking dengan sikap Aruni, hehe.
"Aku tidak habis pikir dengan Aruni, bisa-bisanya dia bersikap seperti itu kepada kita." Ujar Cong-cong.
"Tenanglah, dia itu tadi hanya sedang tersulut emosi. Kau tau kan kalau ada api jangan dibalas dengan api, tapi harus ada air untuk bisa memadamkan api tersebut." Kata Uwo-uwo.
"Kau benar Wo, kita tidak boleh terpancing emosi saat Aruni sedang seperti itu. Kau ini memang yang paling dewasa dan bijak diantara kami." Puji Kukun.
Pujian Kukun membuat Uwo-uwo sedikit salah tingkah, ia menggaruk-garuk kepalanya yang berbulu. Hingga kutu dan belatung pun berjatuhan, Sander yang melihat itupun langsung bergidik dan mencibir tingkah Uwo-uwo.
"Wajarlah Uwo-uwo terlihat bijak dan dewasa, dia kan makhluk ribuan tahun yang lalu. Bisa dibilang dia itu sesepuh kan. Kau juga Wo, sudah tau badan besar berbulu ada belatung dan kutunya. Jangan seperti anak abg yang jatuh cinta, lihat itu belatung dan kutumu berjatuhan seperti itu." Cibir Sander.
"Berani-beraninya kau berbicara seperti itu anak kecil!" Kesal Uwo-uwo.
"His kalian ini sudah diamlah, jangan bertengkar. Kau juga Sander jaga ucapanmu." Ujar Cong-cong.
"Ya ya ya baiklah."
"Tapi baru kali ini aku melihat Aruni sekesal itu kepada kita." Celetuk Kukun.
"Sikap Aruni seperti ini yang membuatku tak berhenti mencurigai Alif, bisa saja kan Aruni itu terpengaruh oleh energi dari Alif?" Kata Sander.
"Ah iya, kenapa aku tidak berpikir sampai kesitu ya? tapi kita juga tidak boleh menyimpulkan semuanya sendiri. Harus ada bukti yang kuat juga kan." Timpal Cong-cong.
"Benar kata Cong-cong, kita tunggu saja sampai emosinya Aruni mereda." Ujar Uwo-uwo.
Mereka pun berdiam diri digudang, sudah lama mereka tidak tinggal digudang. Karena Aruni sendiri yang tidak mau membiarkan teman-teman gaibnya tinggal digudang. Ia lebih memilih membiarkan teman-teman gaibnya tinggal dikamarnya dan Anin.
•••
Sore harinya tanpa disangka-sangka saat Aruni sedang menyirami tanaman bunga simbah, tiba-tiba saja Genta datang dengan membawa martabak telor dan beberapa makanan kesukaan Aruni dan Anin.
Karena Genta tau, simbah, budhe Ratih, dan ibu Aruni sedang tidak berada dirumah untuk beberapa hari. Jadi ia berinisiatif membawakan beberapa makanan untuk makan malam Aruni dan Anin.
"Hai Run." Sapa mas Genta.
__ADS_1
Aruni yang paham betul suara itupun lantas menengok ke sumber suara.
"Eh mas Genta?"
"Lagi sibuk ya, aku ganggu nggak?" Tanya mas Genta sambil melepas helm miliknya.
"Nggak kok mas, sudah selesai juga. Yuk masuk."
Kami berdua pun duduk diteras rumah.
"Mau minum apa?" Tanyaku.
"Nggak usah, ini aku bawakan makanan dan martabak telor untukmu dan Anin."
Mas Genta menyerahkan beberapa kantong plastik kepadaku.
"Halah malah jadi merepotkan, lain kali nggak usah kaya gini mas."
"Nggak papa Run."
"Ya sudah terimakasih, em ngomong-ngomong lagi nggak sibuk ya? sampai sempat mampir kerumah."
Walaupun aku berbicara biasa tapi mas Genta sedikit merasa gerogi saat menjawab.
"Ah iya, maaf kalau beberapa hari ini aku tidak menghubungimu. Sawah bapak sedang panen, jadi ya aku harus membantu. Bapak juga sedang diluar kota, jadi ya aku harus bertanggung jawab sepenuhnya." Jelasnya padaku.
"Oh begitu, pantas saja sudah tiga hari mas Genta nggak ada kabar."
"Bahkan sampai makanan pekerja pun aku yang urus, seperti tadi siang aku saat aku sedang membeli makan siang untuk para pekerja diwarung bakso, aku tak sengaja melihatmu dan Alif." Kata mas Genta sambil tersenyum.
Deg, apa mas Genta melihatku?
"Mas Genta melihatku?" Tanyaku.
Mas Genta mengangguk "Sepertinya akhir-akhir ini kau terlihat dekat ya dengan Alif."
Aku tersenyum kecut mendengar pernyataan mas Genta.
🍂
__ADS_1
🍂
🍂