MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Berperang


__ADS_3

Tak lama setelah itu, benar saja apa yang dikatakan oleh Eyang Gitarja, satu persatu mulai muncul ketukan pintu dengan suara orang-orang terdekat mereka. Mulai dari suara ibu Aruni, simbah, bahkan suara Raka.


Saat Alif akan bangkit, Genta mencegahnya. "Kau lupa ya, itu bukan Raka, itu makhluk halus tau. Kan tadi Raka sudah kau titipkan dirumah simbah."


"Astagfirullahhaladzim, aku lupa Ta. Untung saja kau mengingatkanku."


Genta menggelengkan kepalanya.


"Suaranya mirip sekali ya." Ucap Eyang putri.


"Memang seperti itu Eyang putri, namanya makhluk halus jahat, sudah pasti licik." Jawab Genta.


"Ta, Lif. Aku dan Kukun akan pergi kedepan ya untuk mengusir mereka." Ucap Sander.


"Sudahlah kalian disini saja, sesuai dengan perintah Eyang." Ucap Genta.


"Benar apa kata Genta, kalau nanti ada kesalahan fatal bagaimana?" Timpal Alif.


"Ya sudahlah kalau begitu." Sander menekuk wajahnya.


Suara-suara makhluk halus yang menyerupai orang-orang terdekat Eyang pun semakin menjadi, bahkan ada yang menangis kesakitan agar mendapat simpati dari orang yang ada didalam rumah, agar bisa membuka pintu untuk mereka masuk.


"Suaranya sangat menyayat hati, untung saja Eyang kalian sudah memberiku pesan seperti tadi. Kalau tidak, aku sudah membuka pintu itu dari tadi." Ucap Eyang putri.


"Tidak mungkin Eyang tidak memberi pesan itu pada Eyang putri." Ucap Alif sambil tersenyum.


***


Eyang Gitarja dan Uwo-uwo sudah berada dialam gaib, tepatnya dikerajaan jin Ki Braha. Eyang harus sangat berhati-hati disini, karena aroma manusia Eyang yang berbeda dengan yang lain.


Ketika Eyang dan Uwo-uwo sedang mencari dimana letak kerajaan Ki Braha, sepanjang perjalanan semua pasang mata jin-jin tersebut tak berhenti menatap Eyang dan juga Uwo-uwo. Eyang mencoba menghiraukan mereka, karena fokusnya saat ini adalah membawa pulang kembali Aruni ke alam dunia dengan selamat.


"Wo, kira-kira dimana letak kerajaan Ki Braha itu?" Eyang terus berjalan menyusuri jalan setapak itu.


"Entahlah Eyang, akupun baru pertama kali mengunjungi kerajaan Ki Braha. Apa coba aku tanyakan saja ya pada jin setempat?"


"Ya, coba kau tanyakan saja pada jin itu." Eyang menunjuk jin berkepala miring dengan darah yang mengucur dimata dan juga mulutnya.


"Baiklah, Eyang tunggu sebentar disini, ya." Uwo-uwo melesat menghampiri jin itu.


"Permisi, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Sapa Uwo-uwo pada jin itu.

__ADS_1


Jin itu menatap Uwo-uwo dari atas sampai ke bawah. "Siapa kau?"


"Aku Genderuwo dari alam manusia, aku disini sedang mencari letak kerajaan Ki Braha, bisakah kau memberitahuku dimana letaknya?"


"Ada urusan apa kau ingin bertemu dengan raja kami?"


"Aku teman lamanya, hanya ingin bertemu saja. Sudah lama kami tak saling menyapa."


"Oh, kau lurus saja nanti belok ke kanan. Sepanjang jalan itu sudah masuk area kerajaan raja kami." Ucap jin itu.


"Baiklah, terimakasih sudah memberitahuku." Uwo-uwo kembali melesar menghampiri Eyang Gitarja.


"Bagaimana, apakah dia mau memberitahu?" Tanya Eyang.


Uwo-uwo mengangguk. "Iya Eyang, dia mengatakan kita jalan lurus saja lalu nanti belok ke arah kanan. Nah, sepanjang jalan setelah belok kanan itu sudah area dari kerajaan Ki Braha." Jawab Uwo-uwo.


"Baiklah, ayo kita bergegas kesana. Aku takut Braha sudah melakukan hal yang tidak-tidak pada Aruni."


"Iya Eyang."


Sementara didalam kerajaan Ki Braha, Aruni diikat dengan tali gaib oleh Ki Braha disebuah kursi. Tali gaib itu memang termasuk salah satu tali gaib yang kuat, tidak sembarang orang ataupun jin lain bisa terlepas dari jeratan tali gaib itu.


Didepan Aruni, Ki Braha berjalan bolak-balik sambil tertawa terbahak-bahak melihat Aruni terlihat sedikit kesakitan karena jerat tali gaib itu. Ki Braha juga beberapa kali melemparkan bola api pada Aruni. Meskipun tidak berdampak terlalu parah pada Aruni, karena kekebalan tubuh seorang keturunan dari Keraton Jawa.


Aruni mendengus kesal. "Menjauhlah dari wajahku, bau badan dan bau mulutmu itu seperti selokan, tau. Jorok!"


"BERANINYA KAUUUU!!!"


Ki Braha melemparkan sebuah bola api Bratasena, jajaran bola api terkuat dialam gaib. Jika Aruni terkena bola api itu, bisa dipastikan Aruni akan terkapar tak berdaya seperti Alif dulu.


Aruni memejamkan matanya saat melihat Ki Braha mengambil ancang-ancang untuk melempar bola api, Tetapi setelah beberapa saat Aruni memejamkan mata, ia tak merasakan apa-apa. Ia membuka bola matanya, tidak diduga Eyang Gitarja dan Uwo-uwo sudah berada didepan tubuhnya untuk menghalau serangan bola api Bratasena itu.


"Eyang, Uwo-uwo?" Mata Aruni berbinar-binar saat melihat Eyang dan Uwo-uwo ada didepannya.


Eyang dan Uwo-uwo memutar kepalanya ke belakang, mereka berdua mengulas senyuman pada Aruni.


"Tenanglah, sudah ada Eyang dan teman gaib mu disini, nduk." Ucap Eyang.


"Akh sial, bagaimana bisa kalian sampai kemari hah?! Bukankah didepan kerajaan ku itu banyak sekali pengawal dan penjaga, bagaimana bisa kalian melewati mereka!!" Raut wajah Ki Braha memerah karena marah.


"Ck, itu yang kau sebut pengawal dan penjaga? 1000 makhluk seperti mereka pun bisa kuhadapi hanya dengan hitungan menit." Uwo-uwo memberikan senyuman evil pada Ki Braha.

__ADS_1


Ki Braha menggebrak meja yang ada disebelahnya. "Jangan banyak bicara kau keturunan Bahrat! Maju kau lawan raja jin ini, akan kupastikan kau mati ditanganku, genderuwo jelek."


"Eyang bantu melepaskan tali gaib yang melilit Aruni saja, urusan Ki Braha biar aku yang mengatasi." Bisik Uwo-uwo pada Eyang.


"Kau yakin, Wo?"


Uwo-uwo mengangguk. "Sudah ada keris pusaka, jadi Eyang jangan khawatir."


Kedua genderuwo itu memasang kuda-kuda dan saling berhadapan, Ki Braha mulai menyerang Uwo-uwo namun serangan itu dapat ditepis oleh Uwo-uwo. Ki Braha menendang bagian perut Uwo-uwo dengan kakinya, yang membuat Uwo-uwo sedikit tersungkur dilantai.


"Wo, berhati-hatilah!" Teriakku.


"Tenang, teman gaib mu sudah membawa senjata ampuh." Ucap Eyang Gitarja.


Uwo-uwo bangkit dari lantai, ia berlari ke arah Ki Braha dan mendaratkan pukulan diwajah, namun pukulan itu dapat ditepis, Ki Braha menekuk kedua tangan Uwo-uwo kebelakang dan membenturkan tubuhnya ke tembok yang membuat Uwo-uwo terkapar lemah tak berdaya. Karena saat Ki Braha membenturkan tubuh Uwo-uwo ia membacakan sebuah mantra rahasia penakluk musuh.


"Hahaha, hanya seperti itu kekuatan mu wahai keturunan Bahrat." Ejek Ki Braha.


Uwo-uwo masih terdiam tak bergerak dilantai, Ki Braha membalikkan badannya menghadap Eyang dan Aruni yang sudah terlepas dari tali gaib. Sambil berjalan dengan angkuh, ia berkata.


"Lihat, teman gaib yang kau percaya itu sudah terkapar. Sekarang hanya tinggal ada dirimu dan kakek tua ini, hei kakek tua majulah kau, sekaranh giliranmu." Tunjuk Ki Braha pada Eyang Gitarja.


Eyang menuruti permintaan Ki Braha, sementara itu Aruni menahan tangan Eyang agar tidak mendekat.


"Jangan Eyang." Aruni menggeleng.


Eyang mengusap pundak Aruni. "Tidak perlu khawatir, kau diam saja disini."


Eyang dan Ki Braha saling beradu kekuatan, sempat alot persaingan antar keduanya, sempat lengah Eyang sedikit terkena sabetan tali gaib milik Ki Braha. Yang membuat lengan atas tangan sebelah kirinya terluka, dan sudah pasti dirumah Eyang, raga Eyang mengeluarkan darah dari lengan atas tangannya.


"Akh.." Eyang sedikit merasa sakit pada lengannya.


Ki Braha mendorong sukma Eyang hingga Eyang tersungkur dilantai, saat itu juga Ki Braha mengeluarkan bola api Bratasena untuk Eyang. Aruni menutup kedua matanya, ia tidak tega melihat kejadian itu.


"AKHHH SAKITTT!!!! PANAS... PANAS..."


"Eyanggg!!!!!" Teriak Aruni saat mendegar teriakan itu.


Aruni membuka matanya, ia sungguh terkejut melihat kejadian yang ada didepan matanya.


🍂

__ADS_1


🍂


🍂


__ADS_2