MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Aruni Diculik!


__ADS_3

Aku mengangguk. "Eyang tidur disini kan? Jangan nekat pulang dini hari seperti ini, eyang."


"Tidak nduk, tadi ibu dan budhemu sudah menyiapkan kamar tamu untuk eyang. Lagipula eyang putri sudah diberi tau tadi kalau eyang menginap disini."


"Oh begitu, baiklah."


"Lalu dua pemuda ini mau tidur dimana?" Tanya Kukun.


"Disofa ini saja, masa iya mau tidur bersama dengan Aruni." Celetuk Sander.


"Sanderrr, kau ini!" Aku melirik tajam ke arah Sander.


"Hehe, pis bro."


"Iya Run, aku dan Alif tidur disofa ini saja." Ucap mas Genta.


"Ya sudah kalau begitu, nanti ku ambilkan bantal dan juga selimut."


"Terimakasih." Ucap mas Genta dan mas Alif bersamaan.


"Ingat loh ya, jangam bermesraan. Kalian itu sama-sama jeruk, masa jeruk minum jeruk!" Celetuk Sander.


"Hei sembarangan kau berbicara!" Sahut mas Genta tak terima.


"Iya, kami ini masih normal. Kami masih dan akan tetap mencintai wanita, bukan jeruk!" Timpal mas Alif.


"Iya, mencintai wanita yang sama, yaitu Aruni, hahaha." Ucap keempat teman gaibku sambil melesat ke arah kamarku.


Seketika wajah mas Alif dan mas Genta menjadi memerah karena malu dengan ucapan teman-teman gaibku. Sedangkan aku hanya menunduk dan menahan tawa.


Eyang menggelengkan kepala. "Ya sudah eyang ke kamar dulu ya."


"Iya eyang."


"E-em kalau begitu tunggu sebentar ya, ku ambilkan bantal dan selimutnya dulu." Aku bergegas menuju kamar untuk mengambil bantal dan selimut.


"I-iya." Mas Genta dan mas Alif terlihat gugup.


"Ini, selamat istirahat." Aku memberikan dua bantal dan dua selimut.


"Terimakasih, selamat beristirahat juga, Aruni." Jawab mereka berdua bersama-sama dan ku jawab dengan anggukan kepala.


***


Hari ini aku sudah mulai libur, karena semua rangkaian ujian telah selesai, hanya tinggal menunggu hasil ujian yang akan diumumkan minggu depan.


Ayah dan ibu sudah memberikan beberapa pilihan universitas untuk diriku, tapi entahlah aku sedikit tidak bersemangat untuk melanjutkan pendidikanku untuk saat ini. Bukan berarti tidak mau lanjut untuk kuliah, tetapi untuk saat ini aku sedang ingin menjernihkan otakku dari tugas hehe.


"Jadi bagaimana nduk, kamu mau pilih universitas yang mana?" Tanya ayah padaku.


Aku mendengus mendengar pertanyaan ayah. "Entahlah yah, Aruni belum memilih satu pun universitas yang sudah ayah dan ibu rekomendasikan."


"Loh kenapa nduk, kamu punya pilihan sendiri? Kalau kamu punya pilihan sendiri, ya sudah tidak apa-apa." Timpal ibu.


"Bukan begitu ibu, boleh tidak kalau Aruni kuliah tahun depan saja?"

__ADS_1


"Tahun depan? Tapi kenapa Aruni, ayah dan ibu sudah menyiapkan uang tabungan untuk kamu kuliah, jadi kamu itu nggak perlu khawatir tentang biaya." Ayah menatapku dengan tatapan tak biasa.


"Aruni tau, tapi ini bukan tentang biaya ayah, Aruni ingin istirahat saja sebentar dengan dunia pendidikan. Selama satu tahun ini, akan Aruni gunakan untuk merefresh otak dan juga fikiran."


"Terserah apa katamu lah nduk, bingung ayah sama jalan fikiran kamu!" Ayah beranjak pergi keluar rumah.


"Ibu.." Aku menoleh ke arah ibu meminta persetujuan.


Ibu mengangkat bahunya sambil menggeleng. "Sebenarnya ibu tau yang kamu pilih ini pasti yang terbaik untuk dirimu, tetapi semua tergantung ayah mu."


"Maka dari itu, ibu yakinkan ayah ya. Aruni mohon ibu." Aku menggenggam erat tangan ibu.


"Ibu usahakan, tapi tidak janji akan berhasil ya." Ibu mengelus rambutku kemudian pergi ke dapur meninggalkanku sendiri.


"Kalau apa-apanya tidak sesuai hati kan pasti mau jalanin aja males, lagian aku nggak bilang nggak mau kuliah kok, cuma menunda satu tahun saja. Kalau apa-apa dipaksa nanti malah nggak bakal jadi." Gerutuku didalam hati.


Tiba-tiba saja keempat teman gaibku muncul.


"Kau terlihat murung, ada apa?" Tanya Uwo-uwo.


"Hanya perbedaan pendapat dengan ayah."


"Begitu, oh iya tadi kami menemui eyang."


Aku mengeryitkan dahiku. "Kenapa kesana tidak bilang-bilang?"


"Hehe tidak sempat, tadi eyang yang memanggil kami melalui kontak batin." Jawab Cong-cong.


"Memangnya ada apa?" Tanyaku.


"Sepertinya eyang memiliki firasat kalau Ki Braha akan mulai menyerangmu kembali, Run. Maka dari itu kami diminta untuk lebih waspada dan ketat saat menjaga dirimu." Jawab Uwo-uwo.


"Apa mungkin itu salah satu tanda-tanda dari Ki Braha?" Tebak Sander.


"Memangnya bisa begitu?" Ucap Kukun ragu.


"Yakan aku bilangnya mungkin."


"Yang pasti kita harus lebih waspada sekarang, dia bisa muncul kapan saja. Tapi menurutku, kemungkinan besar dia menyerang Aruni saat Aruni sedang seorang diri."


"Benar, kau Run, jangan coba-coba pergi sendirian tanpa pengawalan dari kami. Jangan ngeyel seperti waktu itu, kami jadi kecolongan kan!" Cong-cong berbicara dengan wajah yang serius.


"Iya Cong iya, waktu itu aku memang ngeyel. Maaf, lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi, kok."


"Baguslah kalau begitu, kau ini sudah mau dewasa jadi jangan semau mu sendiri, Run." Ucap Sander.


"Memang kapan aku pernah semau ku sendiri hah?!" Aku melipat kedua tanganku didada.


"Waktu si jelek Braha tiba-tiba menyerangmu, apa itu namanya kalau bukan semau mu sendiri, hah?"


Aku memicingkan mataku.


***


Malam harinya aku duduk diteras rumah sambil membaca sebuah novel yang tempo hari aku beli bersama dengan Anin. Udara malam yang syahdu ditambah dengan suara jangkrik yang bersahut-sahutan satu sama lain, menambah kesan nyaman berlama-lama diteras rumah.

__ADS_1


Sedangkan teman-teman gaibku sedang berada di gudang belakang, entah apa yang mereka lakukan, akupun tidak mengetahuinya. Saat aku sedang membaca novel kira-kira sepertiga dari keseluruhan, tiba-tiba saja bulu kudukku meremang.


Entahlah, sudah lama aku tidak merasakan hal semacam ini. Biasanya jika ada makhluk halus yang mendekatiku, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Kecuali saat aku berada didekat, oh tidak!


Slub!


Tiba-tiba saja ada sebuah cahaya yang datang masuk kedalam tubuhku dan sontak membuatku tak sadarkan diri. Sesaat sebelum itu...


"Akhhhh tolong!!"


Uwo-uwo, Cong-cong, Sander, dan Kukun sontak saling memandang, memastikan suara yang mereka dengar itu benar atau tidak.


"Aruni?!" Ucap kompak mereka berempat.


"Astaga, apa yang terjadi padanya?" Uwo-uwo bergegas melesat menuju arah teras dan diikuti oleh Cong-cong, Sander, dan Kukun.


"Sial!!" Teriak Uwo-uwo.


"Ada apa Wo, dimana Aruni? Bukankah tadi dia ada disini membaca novel?" Ucap Sander.


Uwo-uwo menggeleng. "Kita kecolongan lagi."


"Maksud mu apa?" Cong-cong menatap Uwo-uwo dengan serius.


"Aruni diculik!" Ucap Uwo-uwo lirih.


"Apa?! Bagaimana bisa?"


"Bau Ki Braha masih tercium olehku, aku yakin tadi dia yang melakukan ini."


"Lalu dimana Aruni berada sekarang?" mata Kukun berlinang air mata bercampur darah.


"Dugaanku, dia membawa Aruni ke alam jin."


"Tunggu apa lagi, ayo kita selamatkan Aruni sekarang." Ucap Sander.


"Jangan terburu-buru, kita temui Eyang Gitarja dulu. Kita harus memberitahunya." Usul Uwo-uwo.


Keempat teman gaib Aruni pun bergegas terbang melesat menuju kediaman eyang Gitarja. Sepeninggal mereka berempat, ibu Aruni keluar teras bermaksud memanggil sang putri untuk makan malam bersama.


Namun kenyataannya, sang putri tidak ada diteras rumah. Hanya ada sebuah novel yang tergeletak diteras yang tadi Aruni pegang.


"Loh dimana dia, kenapa novelnya dibiarkan jatuh sembarangan diteras sih." Ibu Aruni mencari disekeliling rumah.


Merasa putrinya tidak ada diarea rumah membuatnya panik, ia khawatir terjadi apa-apa dengan putri semata wayangnya.


"Mas, mas Sena. Ibu, mbak Ratih.." Teriak ibu Aruni saat memasuki rumah sambil membawa novel.


"Ada apa denganmu, kenapa kau terlihat begitu khawatir?" Tanya ayah Aruni.


"Aruni, Aruni tidak ada mas. Aruni hilang!!" Ibu Aruni menangis sesegukan.


"APA?!"


🍂

__ADS_1


🍂


🍂


__ADS_2