
"Sial!!" Teriak Uwo-uwo.
"Ada apa Wo, dimana Aruni? Bukankah tadi dia ada disini membaca novel?" Ucap Sander.
Uwo-uwo menggeleng. "Kita kecolongan lagi."
"Maksud mu apa?" Cong-cong menatap Uwo-uwo dengan serius.
"Aruni diculik!" Ucap Uwo-uwo lirih.
"Apa?! Bagaimana bisa?"
"Bau Ki Braha masih tercium olehku, aku yakin tadi dia yang melakukan ini."
"Lalu dimana Aruni berada sekarang?" mata Kukun berlinang air mata bercampur darah.
"Dugaanku, dia membawa Aruni ke alam jin."
"Tunggu apa lagi, ayo kita selamatkan Aruni sekarang." Ucap Sander.
"Jangan terburu-buru, kita temui Eyang Gitarja dulu. Kita harus memberitahunya." Usul Uwo-uwo.
Keempat teman gaib Aruni pun bergegas terbang melesat menuju kediaman eyang Gitarja. Sepeninggal mereka berempat, ibu Aruni keluar teras bermaksud memanggil sang putri untuk makan malam bersama.
Namun kenyataannya, sang putri tidak ada diteras rumah. Hanya ada sebuah novel yang tergeletak diteras yang tadi Aruni pegang.
"Loh dimana dia, kenapa novelnya dibiarkan jatuh sembarangan diteras sih." Ibu Aruni mencari disekeliling rumah.
Merasa putrinya tidak ada diarea rumah membuatnya panik, ia khawatir terjadi apa-apa dengan putri semata wayangnya.
"Mas, mas Sena. Ibu, mbak Ratih.." Teriak ibu Aruni saat memasuki rumah sambil membawa novel.
"Ada apa denganmu, kenapa kau terlihat begitu khawatir?" Tanya ayah Aruni.
"Aruni, Aruni tidak ada mas. Aruni hilang!!" Ibu Aruni menangis sesegukan.
"APA?!"
Semua orang mendadak lemas ketika mendengar berita Aruni hilang, terlebih simbah, asma beliau kembali kambuh mendengar sang cucu kesayangannya hilang entah kemana.
"Apa kau yakin mba kalau Aruni hilang? Siapa tau dia sedang pergi dengan Alif atau Genta." Budhe Ratih mencoba menenangkan simbah.
"Yakin, kalau memang Aruni pergi dengan Genta atau Alif, sudah pasti dia akan meminta izin terlebih dulu padaku."
"Apa jangan-jangan Aruni diculik Ki Braha ya?" Celetuk Anin.
Sontak semua mata tertuju padanya, mereka tidak berfikir demikian. Tetapi bisa saja hal itu terjadi, mengingat betapa bencinya Ki Braha pada Aruni.
__ADS_1
"Nduk, coba kau hubungi kangmas Gitarja. Beri tahu dia tentang hal ini." Simbah memerintah pada ibu.
"Baik bu."
***
"Eyang, eyang ada dimana?" Teriak Sander.
Eyang Gitarja yang sedang berdzikir dikamar pun sontak menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara Sander.
"Kenapa, ada apa kalian datang kemari malam-malam? Kalau kalian semua kesini, lantas siapa yang menjaga Aruni dirumah?" Eyang mencecar pertanyaan pada teman-teman gaib Aruni.
"Begini Eyang, kedatangan kami kemari menyangkut masalah Aruni." Balas Uwo-uwo.
"Ada apa dengannya?"
"Aruni diculik." Celetuk Sander.
"APA?! Bagaimana ceritanya Aruni bisa diculik? Siapa yang melakukan itu pada Aruni?" Sahut Eyang Gitarja dengan wajah panik.
"Aruni hilang saat sedang membaca novel diteras rumah Eyang, sedangkan kami sedang berada di gudang belakang. Saat kami mendengar suara teriakan Aruni, kami langsung bergegas menuju teras rumah, namun kenyataannya sudah terlambat. Aruni sudah tidak ada diteras, dan disaat itu pula saya masih sedikit mencium bekas aroma tubuh dari Ki Braha." Jelas Uwo-uwo.
"Jadi dia yang menculik Aruni? Sudah pasti dia membawa Aruni ke alam gaib. Sial, lagi-lagi kecolongan."
"Maafkan kami eyang, kami kembali gagal menjaga Aruni dengan baik." Cong-cong tertunduk lesu.
"Sudahlah, sekarang bukan saatnya untuk saling menyalahkan dan meminta maaf. Sekarang yang terpenting kita harus bisa membawa Aruni kembali ke alam manusia dengan utuh dan selamat."
"Lalu bagaimana dengan keluarga Aruni, apakah mereka sudah tau tentang hal ini?" Tanya Eyang Gitarja.
"Saya rasa mereka sudah mengetahuinya, Eyang." Jawab Uwo-uwo.
Kring kring kring...
Eyang Gitarja mengangkat telepon miliknya yang berdering, dari ibu Aruni rupanya.
Perbincangan di telepon (Eyang dan Ibu Aruni)
" Ada apa nduk, kenapa kamu menangis sesegukan seperti ini?"
"Eyang, hiks Aruni Eyang Aruni... Aruni hilang."
"Kau sudah tau rupanya nduk."
"Eyang sudah mengetahui ini terlebih dahulu?"
"Teman-teman gaib Aruni yang memberitahuku, sudah sekarang tenangkan dirimu dan juga ibumu itu. Aku akan berusaha menyelamatkan putri semata wayangmu, nduk."
__ADS_1
"Tapi Eyang, saya sangat khawatir. Apa Eyang tau siapa yang menculik Aruni?"
"Ki Braha, dia yang menculik putrimu. Dan kemungkinan besar dia membawa Aruni pergi ke alam gaib. Maka dari itu sukma ku akan pergi ke kerajaan Braha untuk membawa Aruni pulang ke alam manusia."
"Apa?! Jadi benar kalau Aruni diculik Ki Braha."
"Tenangkan dirimu nduk, Berdoa dan selalu meminta perlindungan kepada Allah untuk putrimu. Aku akan berusaha menyelamatkan Aruni."
"Baik Eyang terimakasih atas bantuannya."
"Aku akan persiapkan semuanya, kalau hatimu tak tenang. Kau boleh datang kemari bersama semua orang dirumah, sekalian menemani istriku saat sukmaku berkelana di kerajaan Braha."
"Baik Eyang, sebentar lagi saya dan yang lain akan datang ke rumah eyang."
Perbincangan selesai.
"Kun, Nder, kalian berdua aku tugaskan untuk memberitahu kabar ini pada Alif dan Genta. Sedangakan Uwo-uwo dan Cong-cong akan disini bersamaku untuk membantu menyiapkan keperluan untuk sukmaku pergi." Perintah Eyang Gitarja.
"Baik Eyang, mohon pamit pergi sebentar." Ucap Kukun dan Sander bersamaan.
***
Aku membuka perlahan mataku, badanku terasa sakit dan lemas, kepala ku terasa sangat berat, begitu pula dengan perutku, entah mengapa terasa sangat perih.
Kulihat sekeliling bangunan yang sekarang aku tempati, asing. Ya, itulah kesan pertama saat aku membuka secara sempurna kedua bola mataku.
"Aku dimana?" Ucapku lirih.
Entahlah, aku sedikit tidak ingat dengan apa yang terjadi kepadaku sebelumnya, yang aku ingat hanyalah aku sedang membaca novel diteras rumah. Tetapi mengapa tiba-tiba aku ada disini?
"Akh, Sebenarnya aku ini berada dimana?" Aku memegangi perutku yang terasa begitu perih.
Dan tiba-tiba saja...
"Hahaha, sudah siuman rupanya dirimu. Selamat datang gadis kematianku, kau sekarang sedang berada di sebuah istana yang amat megah. Dipenuhi dengan emas, perak, dan berlian. Dimana lagi kalau bukan dikerajaanku, kerajaan jin Ki Braha, hahaha."
Ki Braha muncul dengan tiba-tiba didepanku.
"K-kamu, bagaimana bisa? Ah aku baru ingat, jadi kau yang melempar bola itu padaku, dasar jelek curang sekali kau tiba-tiba menyerangku dan membawaku ke istana jelekmu ini, hah!" Aku mencoba bangkit dari kursi yang ku duduki tadi.
"Sudah mmengingat semuanya? Apa katamu, istana jelek?! Beraninya kau mencaci istana megah dan meeah seperti ini, hah!" Emosi Ki Braha mulai memuncak.
"Ck, dasar hantu tua. Aku baru mengatakan hal seperti itu saja sudah dibawa perasaan. Jangan terlalu baper, jelek." Kataku tepat berada didepan wajah berbulu Ki Braha.
"KAU!!!!"
🍂
__ADS_1
🍂
🍂