MEREKA SEMUA TEMANKU

MEREKA SEMUA TEMANKU
Anak yang kuat


__ADS_3

Pagi harinya aku dan Anin sudah bersiap untuk pergi ke sekolah, tak lupa kami juga sarapan bersama sebelum berangkat ke sekolah. Aku merasa sangat senang pagi ini, karena ayah sudah bisa berkumpul lagi bersama kami walaupun lusa ayah harus segera pergi kembali untuk meninjau proyek yang ia tangani.


"Anin mana Run? kok ndak bareng keluarnya?" Tanya budhe yang melihatku keluar kamar sendiri tanpa Anin.


"Anin sebentar lagi keluar budhe, katanya bukunya ada yang belum dimasukan."


"Oalah, ya sudah nih sarapan dulu." Budhe menyodorkan sepiring nasi goreng sosis dengan telur ceplok diatasnya,ini adalah menu sarapan favoritku dan Anin.


Beberapa saat kemudian Anin keluar dari kamar dan segera bergabung bersama kami dimeja makan.budhe pun segera mengambilkan sarapan untuk putri semata wayangnya tersebut.


"Wihh nasi goreng sosis ditambah telur ceplok, mantep." Celetuk Anin sambil menarik kursi untuk duduk.


"Eh eh eh berdoa dulu, anak perawan kok kaya gitu sih." Ujar budhe yang melihat Anin menyantap sarapannya tersebut tanpa membaca doa.


"Hehe maaf bu, Bismillahirrahmanirrahim." Ia langsung menyantap sarapan favoritnya tersebut.


Setelah kami selesai sarapan, aku dan Anin pun berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Sedangkan ayah tetap dirumah, karena ia mengambil cuti 3 hari. Saat akan berangkat sekolah ayah menawarkan diri untuk mengantar aku dan Anin ke sekolah.


"Run, ayah antar pakai mobil ya." Tawar ayah saat aku menyalami punggung tangannya.


"Lho memangnya ayah hari ini nggak kemana-mana?"


"Tidak, sekalian ayah jalan-jalan. Mau ya?" Bujuk ayah


Aku menoleh ke arah Anin "Gimana nin?"


"Aku sih ayo aja, lumayan hemat bensin hehe." Jawabnya sambil tertawa.


"Tapi nanti pulangnya gimana yah?" Tanyaku lagi.


"Ayah jemput lagi lah, pulangnya jam berapa?"


"Jam 12." Jawabku dan Anin bersamaan.


"Ya sudah nduk mau saja, jarang-jarang lho ayahmu mau antar jemput kaya gitu." Ucap ibu yang sedang mengelap jendela.


"Ya sudah,ayo yah."


Akhirnya kami pun berangkat ke sekolah diantar oleh ayah menggunakan dengan mobil. Sepanjang perjalanan semua pasang mata melihat ke arah mobil kami, karena memang di desa Simbah ini hanya beberapa orang saja yang memiliki mobil. Meskipun jaman sudah modern, rata-rata warga disini enggan membeli mobil. Mereka lebih suka mengembangkan pertanian mereka.


15 menit kemudian kami sudah sampai di sekolah, dan lagi-lagi semua teman-teman melirik ke arahku dan Anin karena kami berangkat diantar ayah menggunakan mobil.


"Ayah, Aruni sama Anin sekolah dulu ya. Nanti jam 12 jangan lupa dijemput lho." Aku menyalami punggung tangan ayah.


"Iya ayah nggak lupa kok, kalian belajar yang bener."


"Enggih pakde, Assalamualaikum." Pamit Anin.


"Waalaikumsalam."


*

__ADS_1


*


Bel istirahat sudah berbunyi, aku dan Anin pun segera menuju kantin untuk jajan. Diikuti juga oleh ketiga teman gaibku.


"Tumben sekali kau tidak nongkrong di toilet sekolah, Sander." Tanyaku dalam hati pada Sander.


"Ah males, masa ke toilet terus sih."


Aku duduk di kursi pojok kantin sambil menunggu Anin memesan batagor dan juga es teh. Saat aku sedang memainkan ponselku, tiba-tiba ketiga temanku duduk didepanku dengan tertawa terbahak-bahak.


"Astaghfirullah, kalian ini kenapa suka sekali membuatku terkejut!!" Teriakku pada ketiga temanku.


Hal itu sontak membuat seluruh siswa yang sedang berada di kantin menoleh ke arahku dan menatapku dengan penuh kebingungan.


"Eh,maaf." Mereka semua hanya menggelengkan kepala.


Anin menghampiriku dengan membawa makanan pesanan kami. "Kamu kenapa sih, teriak-teriak kaya gitu?"


"Kaget aku Nin, tiba-tiba tiga teman gaibku datang sambil ketawa cekikikan. Siapa yang nggak kaget coba?" Aku menyeruput es teh milikku.


"Ya nggak harus gitu juga, nanti mereka ngiranya kamu itu punya gangguan mental." Ucapnya sambil tertawa.


"Huuu sembarangan aja kalo ngomong." Aku memukul pundak Anin.


"Oh iya Run, katanya kan semalam itu salah satu teman gaibmu mengintai rumah mas Alif. Gimana hasilnya?"


"Dapat informasi sih, tapi ada yang sedikit kacau."


"Ya Uwo-uwo berhasil mengintai tapi ditengah-tengah pengintaiannya, dia sedikit tersulut emosi karena melihat perlakuan Alif kepada Raka. Hal itu membuat Alif tahu tentang Uwo-uwo yang sedang mengintai rumahnya." Jelasku sambil memakan batagor.


"Ya Allah, terus bagaimana kalau dia sudah mengetahui tentang Uwo-uwo?" Tanya Anin penuh khawatir.


"Ya aku juga tidak tahu, semoga saja Alif tidak mengetahui uwo-uwo itu mengintai disuruh sama siapa."


"Tetapi aku tidak yakin kalau mas Alif tidak mengetahui siapa yang menyuruh uwo-uwo mengintai rumahnya."


Mendengar perkataan Anin sontak membuatku tersedak batagor "Uhuk-uhuk, sial kenapa aku tidak memikirkan hal itu." Umpatku kesal.


"Hati-hati deh kalo makan, nih minum dulu." Anin memberikan es teh kepadaku.


"Makasih Nin."


"Iya sama-sama, udah enakan kan?" Tanya Anin.


Aku menganggukkan kepala "Kalo Alif tau Uwo-uwo itu temanku gimana ya? aku takut rencana kita besok membawa Raka pergi jalan-jalan akan gagal."


Anin menghela nafas panjang "Bismilah saja, semoga dia mengizinkan kita. Tapi aku juga nggak yakin sih, hehe."


Tet... tet... tet....


Bel tanda masuk berbunyi, aku dan Anin pun segera menghabiskan batagor kami dan pergi menuju ke kelas untuk mengikuti dua mata pelajaran terakhir.

__ADS_1


*


*


*


Alif sedang gusar memikirkan rencana untuk memberi efek jera kepada Aruni yang mencoba ikut campur urusan pribadinya.


"Sial, aku harus apa!" Ia mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Sepertinya aku harus keluar sebentar untuk menghirup udara segar, siapa tahu setelah itu otakku jadi lebih mudah untuk berfikir." Ia keluar kamar mencari keberadaan Raka.


Raka berada diruang tengah, ia sedang menyetrika pakaian milik Alif. Meskipun dia masih kecil,ia selalu mengerjakan semua hal yang Alif perintah dengan baik dan benar.


"Heh setrika yang bener ya, awas jangan sampai ada yang bolong.om mau pergi dulu, kamu jangan coba-coba kabur dari rumah ini!" Ancamnya pada Raka.


Raka menunduk takut "I i iya om."


Alif segera pergi keluar dari rumahnya.


Raka memang selalu menurut semua perkataan dan perintah Alif. Meskipun kadang ia tidak bisa melakukannya, ia berusaha semaksimal mungkin agar terhindar dari amarah dan amukan sang paman.


"Ya Allah dulu kata ayah Raka harus selalu nurut dan baik sama om, agar om Alif juga baik sama Raka. Tapi kenapa kadang om Alif suka memukul Raka?" Ia berbicara kepada dirinya sendiri.


Menjadi yatim piatu diusia yang masih kecil dan harus tinggal bersama seorang paman kejam seperti Alif membuat Raka tumbuh menjadi anak yang kuat.


"Raka,kamu harus kuat. Kamu nggak boleh nangis,kata ayah anak laki-laki kan nggak boleh cengeng." Ia menghapus air matanya dan tersenyum sambil memandang fotonya bersama dengan kedua orangtuanya.


Hal itu selalu ia lakukan untuk menguatkan dirinya.


"Ayah, bunda maafkan Raka yang selalu mengeluh seperti ini. Meskipun om Alif sering marah dan pukul Raka, Raka sayang banget sama om Alif. Karena hanya om Alif yang Raka punya di dunia ini."


🍂


🍂


🍂


🍂


Alhamdulillah bisa up lagi,stay tune ya readerskuuuuu 💗💗💗


Follow Ig author yaa @putriirzkaa kalau mau difollback DM aja xixi


Jangan lupa like, komen, dan bunganya jugaa 🍅🍓


Vote juga jangan lupa


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan ya 🙏🏻❤️


SALAM SERAM MANJA DARI AUTHOR >3

__ADS_1


__ADS_2